Seraphina Lim kembali ke Jakarta dengan label yang memalukan — anak haram keluarga konglomerat Lim.
Dibuang sejak kecil, dibesarkan oleh keluarga lain, dan kini dipanggil pulang hanya untuk dijadikan bidak politik. Saudari tirinya yang menggantikan posisinya selama 20 tahun menganggapnya sampah. Ayah kandungnya ingin menjodohkannya dengan putra keluarga paling korup di Jakarta.
Tapi Seraphina bukan gadis lemah yang bisa diinjak.
Di malam pertamanya di Jakarta, takdir mempertemukannya kembali dengan Reynard Hartono — pewaris tunggal Hartono Group, pria paling berkuasa dan paling berbahaya di kota ini. Dingin, posesif, dan tak pernah tersentuh oleh wanita manapun...
...kecuali dia.
"Kau adalah hartaku yang paling berharga."
Reynard sudah menunggunya selama empat tahun. Dan kali ini, dia tidak akan melepaskannya — tidak peduli berapa banyak musuh yang harus dihancurkan.
Identitas palsu. Cinta obsesif. Balas dendam yang manis.
Ketika rahasia terbesar keluarga Lim terbongkar, seluruh Jakarta akan tahu — gadis yang mereka injak-injak selama ini, justru adalah pewaris sejati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Kembang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 9
Bab 009
Lingkaran Jakarta
Seraphina akhirnya pergi ke Teluk Mutiara malam itu.
Sup yang disiapkan Reynard benar-benar masih hangat ketika ia tiba. Sup ayam kampung dengan jahe, jamur, dan sedikit goji berry, rasa yang terlalu lembut untuk malam yang baru saja membuatnya muak. Reynard tidak banyak bertanya. Ia hanya meletakkan mangkuk di depannya, lalu duduk di seberang meja sambil membaca dokumen Astoria yang sudah ia tandai dengan catatan kecil.
Itu yang membuat Seraphina lebih sulit bertahan.
Ia bisa menolak pria yang memaksa. Ia bisa melawan pria yang merendahkan. Namun Reynard tidak melakukan keduanya. Ia hanya hadir, menyiapkan makanan, lalu membiarkan ia bernapas.
Dua hari kemudian, kehadiran itu berubah bentuk menjadi undangan.
Jason Halim mengirim pesan lewat nomor yang diberikan Reynard.
Sera, datang ke acara kecil keluarga Halim malam ini. Jangan panik, kecil menurut kami artinya cuma separuh Jakarta. Ko Jason janji akan menyelamatkanmu kalau ada tante-tante bertanya kapan menikah.
Seraphina membaca pesan itu dua kali.
"Temanmu terlalu berisik bahkan lewat teks," katanya kepada Reynard saat mereka sedang membahas draft kerja sama Hartono-Astoria lewat video call.
Reynard tidak mengangkat wajah dari dokumen. "Itu versi hematnya."
"Aku harus datang?"
"Tidak harus."
"Tapi?"
"Kalau kau ingin mengenal lingkaran yang sedang berusaha memakanmu, lebih baik datang saat aku ada di ruangan."
Malam itu, Seraphina datang ke sebuah acara amal keluarga Halim di kawasan Kebayoran Baru. Bukan pesta besar, kata Jason. Namun halaman rumah Halim dipenuhi mobil mewah, lampu gantung dipasang di bawah tenda transparan, dan pelayan membawa nampan minuman seperti arus yang tidak berhenti.
Jason muncul lima menit setelah Seraphina masuk.
"Akhirnya!" Ia tersenyum lebar, tampan dengan cara yang terlalu sadar kamera. "Selamat datang di kebun binatang versi konglomerat."
Seraphina menatapnya datar. "Aku mulai paham kenapa Reynard sering terlihat lelah."
Jason memegangi dada. "Aduh, baru kenal sudah menusuk. Cocok jadi temanku."
Ia lalu menunjuk dengan gelas jus di tangannya, memperkenalkan dunia Jakarta seperti pemandu wisata yang terlalu menikmati pekerjaannya.
"Di sana, kelompok Lim. Banyak senyum, banyak rahasia. Di pojok dekat panggung, Wijaya. Jangan dekat-dekat kalau tidak mau dicatat sebagai properti negara. Sebelah kiri, Halim, yaitu keluarga paling menyenangkan karena ada aku. Dan yang tidak perlu diperkenalkan, Hartono. Kalau mereka masuk ruangan, semua orang tiba-tiba ingat cara berdiri tegak."
Seraphina mengikuti arah pandangnya.
Reynard berdiri tidak jauh dari pintu kaca, berbicara dengan dua pria berusia lebih tua. Setelan gelap, wajah tenang, postur rapi. Ia tampak seperti pusat gravitasi yang tidak perlu memanggil siapa pun, karena orang-orang akan datang sendiri.
Seolah merasakan tatapannya, Reynard menoleh.
Mata mereka bertemu.
Jason langsung menyeringai. "Oke. Aku tidak akan bertanya. Tapi ekspresi itu sangat mahal."
"Ekspresi apa?"
"Ekspresi Tuan Muda Hartono yang terlihat seperti ingin membakar ruangan karena kau berdiri tiga meter terlalu jauh."
Sebelum Seraphina sempat membalas, seorang perempuan bergaun hijau zamrud mendekat. Rambutnya pendek sebahu, lipstiknya merah tua, dan tatapannya tajam seperti sudah menilai seluruh ruangan lalu bosan.
"Jadi ini Seraphina Lim?" tanyanya.
Jason menghela napas dramatis. "Sera, ini Natasha Wibowo. Tasha, jangan menggigit dulu."
Natasha mengabaikannya. Ia menatap Seraphina dari wajah sampai sepatu, lalu berkata, "Kau bukan orang biasa. Matamu terlalu tajam untuk anak haram."
Udara di sekitar mereka berhenti.
Jason menutup mata. "Tasha."
Seraphina menatap Natasha.
Natasha mengangkat bahu. "Jangan tersinggung. Kalau aku mau menghina, kalimatnya lebih indah."
Entah kenapa, Seraphina justru hampir tertawa.
"Itu pujian?"
"Versi paling jujur." Natasha mengambil dua gelas dari nampan pelayan, menyerahkan satu kepada Seraphina. "Orang yang benar-benar lemah tidak punya mata seperti itu. Jadi, kalau ada yang memakai kata itu untuk merendahkanmu, balas saja dengan membuat hidup mereka tidak nyaman."
Jason menunjuk Natasha. "Dia begini sejak lahir."
"Dan kau tetap hidup karena aku baik hati," balas Natasha.
Seraphina memegang gelasnya. Untuk pertama kalinya di sebuah acara Jakarta, ia tidak merasa sendirian sepenuhnya.
Rasa itu bertahan sampai Tamara datang.
Perempuan itu dikenal Jason sebagai bagian dari lingkaran sosial Yolanda. Senyumnya manis, tetapi matanya langsung turun ke gaun krem Seraphina.
"Oh, ini kakaknya Yolanda ya?" Tamara berkata cukup keras untuk beberapa orang menoleh. "Aku dengar baru pulang dari Surabaya."
"Benar."
"Pantas. Gayanya... sederhana."
Natasha hendak maju, tetapi Seraphina menahan lengannya ringan.
Tamara mengangkat gelas red wine. "Maaf, aku lewat dulu."
Langkahnya sengaja terlalu dekat.
Isi gelas merah itu tumpah ke bagian depan gaun Seraphina.
Beberapa orang terkesiap. Lalu ada tawa kecil dari sudut dekat pilar. Tamara menutup mulutnya dengan pura-pura terkejut.
"Aduh, maaf! Aku benar-benar tidak sengaja."
Noda merah menyebar di kain krem seperti luka.
Seraphina menatap gaunnya. Tangannya tetap diam di sisi tubuh. Ia bisa mendengar bisik-bisik mulai bergerak, lebih cepat daripada pelayan yang datang membawa tisu.
Sebelum Natasha sempat membuka mulut, sesuatu yang hangat jatuh di bahu Seraphina.
Jas pria.
Aroma cedar dan amber langsung menutupi bau wine.
Reynard berdiri di belakangnya. Wajahnya dingin, tetapi tangannya yang menahan jas di bahu Seraphina sangat hati-hati.
Ruangan mendadak sunyi.
Reynard tidak melihat Tamara dulu. Ia menunduk sedikit, memastikan jas itu menutupi noda di gaun Seraphina. Baru setelah itu pandangannya bergerak menyapu seluruh area, dari Tamara, tamu-tamu yang tertawa, sampai pelayan yang gemetar memegang tisu.
Suaranya rendah, tajam, dan terdengar oleh semua orang.
"Siapa yang melakukannya?"