Sanaya Oktavia Pradifta terlahir di keluarga Pradifta. Mempunyai papa, mama, dan seorang adik tiri perempuan. Hari-harinya dipenuhi luka dan tangisan oleh keluarganya. Hingga suatu hari saat dirinya tertabrak mobil dan meninggal ia malah terbangun dengan situasi, kondisi, dan dunia yang berbeda.
Yah dirinya TERJEBAK DI DUNIA NOVEL yang pernah ia baca di kamar lama mamanya. Dan bagaimana caranya ia menghindari ending tragis di novel ini?
Tapi dibalik itu semua Sanaya akan mengetahui siapa jati dirinya yang sebenarnya. Semua rahasia didunia novel ini akan terungkap serta kedatangan dirinya yang dinantikan oleh bangsa fairy.
Penasaran? Yuk buruan baca ceritanya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elhery_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21. Kado Ulang Tahun
Drans menatap sayu punggung perempuan yang baru dikenalnya itu. Hatinya tidak ingin perempuan itu pergi tapi tubuhnya berkata lain. Ia hanya bisa menatap kepergian perempuan itu dalam diam.
Di belakangnya muncul sosok laki-laki berjubah hitam yang masuk dari jendela ruangan.
Sosok itu berkata. "Pangeran sudah saatnya anda kembali ke kerajaan. Yang mulia raja dan ratu sepertinya tau jika pangeran keluar istana tanpa sepengetahuan mereka."
Drans, laki-laki yang dipanggil dengan sebutan pangeran itu berbalik dan menatap orang kepercayaannya yang saat ini sedang menunduk.
Dia tersenyum sinis pada bawaannya. "Untuk apa aku kembali ke tempat yang cocoknya disebut neraka itu, heh?"
"Maaf pangeran, tapi sebaiknya pangeran kembali pulang ke istana. Jika tidak yang mulia raja akan menghukum pangeran."
Drans diam tidak menjawab. Iris merahnya melihat ke arah jendela.
"Saya mohon pangeran sebaiknya pangeran segera kembali ke istana. Anda adalah seorang pangeran kerajaan Alvair dan pangeran tidak pantas memakai baju rakyat biasa itu. Jika yang mulia raja tau maka pangeran akan mendapat masalah nantinya."
Drans menoleh melihat bawahannya yang sangat keras kepala itu.
"Kau tau Rio, ada seorang perempuan yang mengatai ku pangeran tidak beruntung. Dia bahkan menjelek-jelekkan diriku di hadapan ku." Katanya mengingat ucapan perempuan asing yang tadi berbicara dengannya.
Mendengar itu bawahannya langsung menegakkan kepalanya. Rahangnya mengeras mendengar pengakuan tuannya.
"Katakan pangeran, katakan pada ku siapa yang berani mengatai seorang pangeran kerajaan Alvair! Aku akan menghabisinya dengan tangan ku sendiri pangeran." Ucapnya dengan wajah marah.
Tapi dirinya langsung terkejut saat melihat tuannya terkekeh pelan. Dia tidak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini. Dihadapannya sekarang ia melihat dengan mata kepalanya sendiri, pangerannya menunjukkan ekspresi selain kebencian dan kesedihan. Pangerannya sedang tertawa sekarang. Dan itu membuatnya takjub.
Benarkah ini pangeran Felix? Astaga aku tidak menyangka pangeran akan melakukan hal mustahil di dunia ini. Barusan pangeran Felix tertawa!
"Kau tidak boleh menghabisinya......." Drans menoleh ke arah bawahannya dengan mata yang berkilat marah.
Hingga sebuah ucapan yang terucap dari mulut tuannya membuat bawahannya terdiam tak percaya.
"....... Aku menyukainya dan takdir harus mempertemukan ku dengannya." Sebuah senyum menawan hadir di wajahnya. Hatinya menghangat saat mengucapkan kata-kata itu. Ia melihat sinar dalam diri perempuan itu. Dan impiannya terwujud sekarang, ia menemukan sebuah sinar harapan dalam dunia yang gelap ini.
Matanya berbinar melihat ke arah jendela yang menampilkan sang surya yang mulai tenggelam oleh kegelapan.
"Aku menemukannya Rio...... Aku menemukan sinar itu." Gumamnya lirih.
..............................
Roselie turun dari kereta kudanya. Saat ia turun sudah ada tiga sosok yang berdiri di depan istana. Tiga sosok itu adalah Raja Edward, Edgar, dan Aland. Mereka bertiga menunggu Roselie pulang di depan pintu istana.
Melihat ketiga orang itu, Roselie dengan semangat berlari ke arah mereka dengan tangan yang terbuka lebar ingin memeluk. Edgar dan Aland mengira adiknya akan memeluk mereka. Karena itu mereka berdua tersenyum dan merentangkan tangan bersiap menerima pelukan hangat dari adik mereka.
Mereka tersenyum lebar saat Roselie hampir sampai, tapi senyum mereka pupus saat Roselie melewati mereka dan malah memeluk raja Edward yang ada dibelakang.
"Papaa...... " Roselie memeluk raja Edward dan dibalas pelukan oleh raja Edward. Dibalik pelukan itu Raja Edward memandang kedua putranya dengan senyum mengejek.
Sedangkan Roselie merasa ada sesuatu di belakangnya yang seperti menusuk punggungnya. Ia berbalik dan melihat wajah menyeramkan milik kedua kakaknya. Tampak sekali jika Edgar dan Aland kesal dengannya yang lebih dulu memeluk raja Edward.
Roselie tersenyum cengengesan ke arah mereka berdua. "Maaf kak," Ujarnya merasa bersalah.
"Oh begitu sekarang, kau lebih memilih papa kesayangan mu daripada aku yang lebih dulu mengenalmu." Kata Aland membuang wajahnya ke arah lain.
"Kau tau, aku menunggumu lebih dulu daripada dia tapi saat pulang malah dia yang dipeluk duluan." Gerutu Edgar kesal.
"Roselie minta maaf kak. Tadi Roselie tidak melihat ada kalian berdua disitu." Ucapnya memberi senyum lebar menampakkan deretan gigi putihnya.
"Ck, alasan." Sahutnya mendelik kesal.
Roselie mendekat kedua kakaknya yang tengah merajuk. Tapi sebelum itu terjadi Roselie sudah ditarik mundur oleh raja Edward.
"Eh."
"Masuk ke dalam Roselie. Kau pasti lelah setelah menyamar seharian, bukan?" Ucap raja Edward menarik Roselie masuk ke dalam istana. Dia sengaja menekankan kata menyamar dalam kalimatnya barusan.
Jangan kira ia tau apa yang dilakukan putri kesayangannya itu diluar sana. Walaupun ia sudah memerintah beberapa prajurit menjaga Roselie tapi ia telah memerintahkan prajurit khususnya untuk memantau dari jauh gerak-gerik putrinya. Dia sempat khawatir putrinya itu akan melakukan sesuatu yang tidak-tidak dan benar saja putrinya itu diam-diam menyamar menjadi rakyat biasa.
Roselie menelan ludahnya kasar mendengar kalimat raja Edward barusan.
Apa dia tau jika aku pergi ke perpustakaan dengan diam-diam menjadi rakyat biasa. Jika benar, habislah aku!
Roselie menoleh ke arah kedua kakaknya. Sorot matanya memohon ke arah kakaknya berharap mereka berdua menolong dirinya. Tapi bukannya mendapat pertolongan kedua kakaknya malah melewatinya dan masuk ke dalam istana dengan santai.
Awas saja kalian berdua!!! Batinnya berteriak kesal.
"Baiklah. Jadi apa ada yang ingin kau sampaikan putri yang nakal, hm?" Tanya raja Edward tersenyum pada Roselie.
Roselie tau senyum itu bukan lah senyum yang baik baginya. Itu adalah alarm pertanda waspada padanya.
"Em..... itu..... tadi.... Roselie.....tadi...." Roselie merutuki mulutnya yang malah bicara tergagap-gagap di depan raja Edward.
"Bicara yang benar Roselie, aku tidak akan menghukummu em..... tergantung jawaban mu. Jadi tenanglah."
Dia sedang menghiburku atau malah mengancamku sih?!
"Kenapa kau menyamar menjadi rakyat biasa?" Tanya raja Edward mulai menginterogasi Roselie.
"Itu karena Roselie tidak ingin jadi pusat perhatian. Lagipula dengan datang ke pusat kota sebagai seorang putri kerajaan pasti akan membuat para musuh dengan mudah menyerang Roselie. Yah walaupun papa sudah memerintahkan para prajurit untuk menjaga Roselie tapi itu tidak menutup kemungkinan musuh-musuh itu akan tetap menyerang."
Raja Edward mendengus mendengar jawaban putrinya.
TAKKK
"Awsss..... Kenapa papa menjitak keningku?" Ujarnya mengaduh kesakitan.
"Umurmu berapa Roselie?" Tanya raja Edward tak habis pikir dengan jawaban yang diberikan putrinya. Usianya baru 6 tahun tapi pikirannya sudah sangat waspada.
"Tentu saja umur Roselie 6 tahun pa." Balas Roselie sambil mengelus keningnya yang dijitak raja Edward.
"Papa maafkan kesalahan mu hari ini. Tapi ingat kau harus melakukan sesuatu harus dengan seizin papa. Kau mengerti?"
Dengan cepat Roselie mengangguk dan tersenyum lebar. Senang akhirnya selamat dari amukan papanya.
Dari samping Roselie melihat Edgar membawa sesuatu. Edgar menghampirinya dan mengeluarkan sesuatu dari balik bajunya. Sebuah kota persegi panjang berwarna merah muda.
"Itu kotak untuk siapa?" Tanya Roselie.
"Untuk mu." Jawab Edgar tersenyum.
"Tapi kenapa kakak memberikan Roselie hadaiah?"
Edgar berdecak kesal. "Ini adalah hadiah ulang tahun mu dari kakak. Maaf karena kakak terlambat memberikannya. Kau tau kan ada seseorang yang mengganggu ulang tahun mu saat itu," Ujarnya melirik raja Edward sekilas, sedang menyindir.
Raja Edward membuang wajahnya ke arah lain. Tau jika saat ini dirinya sedang disindir.
Roselie mengambil kotak tersebut dan tersenyum. Matanya berbinar saat membuka kotak hadiahnya.
"Ini..... ini indah sekali kak." Ucapnya dengan mata berbinar-binar saat memegang hadiah pemberian Edgar.
Itu adalah sebuah bunga mawar yang terbuat dari kristal. Bunga mawar itu terlihat indah dan berkilau. Sangat cantik.
Edgar tersenyum lega mendengar Roselie menyukai hadiahnya. Dia sempat ragu jika adiknya tidak akan menyukai hadiah pemberiannya.
"Syukurlah jika kau menyukaimu. Kakak tau jika kau sangat menyukai bunga jadi kakak memerintahkan seseorang untuk membuatkan itu untukmu. Kakak pilih bunga mawar karena tidak tau jenis bunga yang kau sukai. Kakak rasa kau menyukai semua jenis bunga." Kata Edgar.
"Roselie menyukainya kak. Terima kasih." Kata Roselie dengan senang.
"Emm.....Selamat ulang tahun yang ke-6 Roselie." Ucap Edgar sedikit kaku. Maklum saja dia tidak pernah mengucapkan selamat ulang pada seseorang.
Roselie yang mendengar itu tersenyum tulus dan tanpa semua orang duga, Roselie maju dan mencium pipi Edgar.
CUP
Edgar terkejut saat pipinya dicium oleh adiknya. Matanya terlihat syok begitu juga dengan dua orang di sampingnya.
"Itu sebagai ucapan terima kasih Roselie untuk kakak." Ucap Roselie.
Beberapa detik kemudian Edgar tersadar dari rasa terkejutnya. Ia tersenyum lembut pada adik kecilnya. "Sama-sama," Balasnya.
"Cih, dasar pencari perhatian." Sinis dua orang yang daritadi melihat adegan kakak-adik itu.
"Sekarang giliranku memberi hadiah." Kata Aland. Ia memanggil dua orang pelayan yang membawa hadiah untuk adiknya.
Kotak Aland berukuran lebih besar kotak hadiah yang sebelumnya. Dalam hati Roselie bertanya-tanya apa isi kotak besar tersebut.
"Bukalah."
Mendapat persetujuan dari Aland ia pun segera membuka kotak tersebut. Matanya berbinar-binar saat tau isi kotak itu.
Sebuah pohon apel yang terbuat dari kristal. Buah apelnya berwarna-warni yang digantung di setiap dahan. Batang pohonnya berdiri indah dengan desain berwarna putih kristal.
Untuk menyentuh pohon itu Roselie bahkan terlihat sangat hati-hati. Takut jika salah sedikit pohon apelnya akan tumbang dan hancur.
"Kakak ini pohon apel yang sangat indah. Terima kasih." Ucap Roselie senang. Ia tidak menyangka di kehidupan ini dia akan diberikan kado ulang tahun oleh seseorang yang disebut keluarga.
"Sama-sama Roselie dan selamat ulang tahun." Balas Aland tersenyum melihat adiknya menyukai kado pemberiannya.
Tiba-tiba ucapan Roselie selanjutnya membuat tiga orang kaku dalam ruangan itu tertawa. "Tapi kak buah apelnya tidak bisa dimakan," Ujar Roselie menatap pohon apelnya sedih.
Ketika orang di ruangan itu langsung tertawa mendengar ucapan Roselie. Tentu saja itu tidak bisa dimakan karena buahnya terbuat dari kristal.
"Astaga sayang tentu saja kau tidak bisa memakannya. Buahnya dibuat dari kristal. Itu hanya untuk pajangan saja." Sahut raja Edward berhenti tertawa.
Roselie meringis malu saat semua orang menertawai nya. Ia keceplosan mengatakan itu.
Sama seperti Edgar tadi, ia juga mencium pipi Aland.
CUP
"Terima kasih kak." Aland tersenyum dan mengacak rambut Roselie gemas.
"Hadiah Roselie mana pa?" Tanya Roselie melihat papanya daritadi diam saja.
"Kemarilah." Ajak raja Edward menyuruh Roselie mendekatinya.
Roselie maju mendekati papanya. Setelah itu raja Edward mengeluarkan sebuah kotak berwarna biru dengan ukiran di setiap sisinya.
"Apa itu pa?"
Ia diam tapi tangannya bergerak membuka kotak tersebut. Sebuah liontin dengan bentuk hati yang diatasnya terletak mahkota. Kalung tersebut memiliki rantai yang terbuat dari emas murni dan terdapat bunga-bunga kecil di setiap rantai.
Raja Edward memakaikan liontin tersebut ke leher Roselie dan liontin itu terlihat sangat pas di lehernya.
Ini indah sekali. Batin Roselie kagum.
Roselie tidak menyangka raja Edward akan menyiapkan sebuah liontin berlian secantik ini untuknya.
"Papa teri........ " Ucapannya terpotong saat raja Edward mengucapkan sesuatu.
"Ini bukan dari papa tapi dari mama mu." Ucap raja Edward.
"Apa? Mama yang memberikan ini?" Tanyanya tidak percaya.
"Yah, mama mu menyiapkan liontin ini khusus untukmu. Dia berkata ingin memberikan liontin ini saat kau lahir nanti. Dan liontin ini sudah diberi sihir agar bisa menyesuaikan ukurannya dengan pemiliknya." Ucap raja Edward menjelaskan.
Roselie menggenggam liontin tersebut. Ia sungguh bahagia saat ini. Ia bahagia bukan karena hadiah dari mereka bertiga tapi ia bahagia karena bisa merasakan kasih sayang dari orang-orang terdekatnya. Baru kali ini seseorang memberikannya sebuah hadiah untuk memperingati hari ulang tahunnya. Dulu jangankan diberi hadiah diberi ucapan selamat ulang tahun saja tidak pernah.
"Selamat ulang tahun yang ke-16 putri nakal." Ucap raja Edward mengelus surai emas milik Roselie.
Tanpa sadar mata Roselie berkaca-kaca mendengar kalimat itu. Itu adalah kalimat yang ingin sekali ia dengar dari mulut papanya Arion.
"Kenapa kau menangis?" Tanya raja Edward, Edgar, dan Aland bersamaan. terlihat jelas mereka tidak suka Roselie menangis.
Raja Edward mengelap airmata putrinya yang tumpah dengan lancang. "Jangan menangis, papa tidak suka."
Roselie tidak menjawab dan malah memeluk papanya dengan erat. "Hikss....... terima kasih. Roselie hanya merasa senang sekarang."
Edgar dan Aland sama-sama menghela nafas lega.
Raja Edward melepaskan pelukan tersebut. "Sebagai hadiah ulang tahun mu, papa akan mengabulkan satu keinginan mu. Jadi, sebutkan permintaan mu," Ujar raja Edward.
Roselie menghapus air matanya. "Benarkah? Apapun itu papa akan mengabulkannya, bukan?"
"Ya apapun itu untuk mu. Sebutkan permintaan mu."
Roselie tersenyum senang lalu membisikkan sesuatu di telinga raja Edward. Edgar dan Aland memandang satu sama lain. Ingin tau apa yang dibisikkan oleh Roselie.
Raja Edward diam mendengar permintaan yang dibisikkan putrinya. Lalu sedetik kemudian, ia menganggukkan kepalanya. Roselie tersenyum dan kembali memeluk papanya.
"Terima kasih pa."
"Apapun untukmu sayang."
........................ ...
Sementara itu di sebuah kamar yang megah dan gelap. Seorang laki-laki bersurai merah sedang mengemasi pakaiannya. Di sampingnya bawahannya terlihat sedang mencemaskan suatu hal.
"Pangeran apa pangeran yakin ingin pergi ke kerajaan Ainsley?"
"Ya." Balas laki-laki itu yang tak lain adalah pangeran Felix.
"Tapi, apa pangeran sudah meminta izin pada yang mulia?"
"Kau pikir jika aku tidak diperbolehkan pergi apa aku bisa pergi, ha!" Tukas pangeran Felix berdecak kesal.
Bawahannya terlihat lega saat mendengar hal itu.
"Tapi pangeran kenapa tiba-tiba yang mulai raja memperbolehkan pangeran pergi? Tidak biasanya yang mulia raja seperti ini." Kata bawahannya penasaran sekaligus bingung.
Gerakan tangannya terhenti, ia menoleh pada bawahannya itu. "Karena yang mulia raja akan bertemu dengan sahabat lamanya. Raja Edward dari kerajaan Ainsley," Ujarnya.
.
.
.
.
.
.
.
.
**Vote dan dukung author dengan terus memberikan vote ya:)
Jangan lupa like di setiap chapter dan komen yang banyak. Komen kalian adalah alasan author untuk terus update cerita🤗
Sampai jumpa di chapter selanjutnya. Pertemuan si pemeran antagonis dan pemeran utama pria akan terjadi!!!! Bagaimana kelanjutan ceritanya?? Saksikan kelanjutannya di NovelToon.
Wkwkwk 🤣🤣🤣**