Sakitnya dikhianati pria yang dicintainya, membuat Amanda Adelia menjadi frustasi, ia pergi ke club malam dan tidak sengaja tidur dengan seorang pria bernama Brian Marcelino Bramasta. Namun, tidak disangka-sangka pria itu justru paman dari mantannya, Reno Bramasta.
Bagaimana kisah mereka?
follow akun IG othor Marica-Author
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marica, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Suamiku Ceo Muda
Di tempat yang penuh formalitas, Amanda melihat sosok Brian. Tatapan Amanda terhenti sejenak, membeku di tempat saat mengetahui siapa pria yang berada di ujung sana. Penampilan pria itu sangat berbeda dari biasanya. Jika sebelumnya Amanda melihat Brian selalu memakai kaos, celana, jeans, dan juga jaket kulit, kini pria itu terlihat sangat memukau dengan setelan jas berwarna hitam, rambutnya yang tertata begitu rapi, membuatnya semakin terlihat berwibawa.
Amanda masih diselimuti rasa tidak percaya, rupanya pria yang selama ini hidup dalam benaknya adalah suaminya sendiri. Jika saja ia mengetahui itu sejak awal, maka dirinya akan mengurungkan niatnya untuk datang.
Di saat yang bersamaan, tiba-tiba Brian menoleh, mempertemukan pandangan mereka. Amanda terlonjak saat Brian menatapnya dengan tajam, dingin, dan seakan ingin memangsa. Merasa dalam bahaya, Amanda memilih untuk menunduk dan membungkuk seperti yang lain.
Setelah Brian melewati dirinya, Amanda menghela napas panjang dan kembali menegakkan tubuhnya.
"Ganteng banget, 'kan? Masih single lagi," kata Hana, yang berdiri di sampingnya nyaris tidak terdengar.
Amanda tersenyum dengan menunjukkan deretan giginya. Alih-alih merasa senang, ia justru merasa ngeri, membayangkan kemungkinan yang akan terjadi padanya selanjutnya.
"Dia milikku."
Amanda dan Hana spontan menoleh ke asal suara. Keduanya melihat Jolie datang dari arah belakang mereka. Jolie berdiri di hadapan mereka dengan melipat tangannya di depan dada, dengan menatap Amanda dan Hana dengan remeh. "Pak Brian itu milikku. Kalian jangan macam-macam!"
Amanda menatap Jolie dengan senyuman sinis, seolah sedang mengejek rekan kerjanya itu.
"Apa kamu lihat-lihat?" kata Jolie, tidak suka dengan tatapan Amanda.
"Jangan ngarep Pak Brian itu suka sama perempuan modelan kaya kamu," balas Amanda.
"Apa maksud —"
"Yuk, Han. Kita pergi! Nggak usah peduliin dia." Amanda langsung menukas ujaran Jolie, tidak memberikannya kesempatan untuk menyelesaikan ucapannya.
"Awas kamu, Hana!"
Setelahnya, Amanda menarik Hana pergi meninggalkan Jolie, tidak memperdulikan kemarahan wanita itu.
Keduanya mengayunkan langkah, bersiap untuk melakukan pekerjaan mereka. Sepanjang perjalanan, keduanya pun mengobrol akrab untuk mengisi kekosongan.
"Kamu masih belum baikan sama Jolie?" tanya Hana. "Dulu kamu sama dia dekat banget, lalu kenapa sekarang kalian udah kaya petasan dan korek api," imbuhnya.
"Kami nggak akan pernah deket kaya dulu," kata Amanda. "Aku dulu bodoh percaya sama dia. Ternyata dia hanya berpura-pura baik sama aku. Setelah dia mendapatkan apa yang dia mau, sekarang dia kembali ke setelah pabrik, menyebalkan!" jelas Amanda.
Hana tertawa ringan, menanggapi pernyataan Amanda. "Oh iya kemarin Lisa —"
Hana menghentikan ucapnya saat Amanda tiba-tiba menghentikan langkahnya. Keningnya mengerut saat Amanda tidak lagi berada di sampingnya, rupanya temannya itu tertinggal.
"Amanda," panggil Hana.
Amanda tidak merespon panggilan dari Hana. Ia tiba-tiba merasa pusing dan juga mual. Tanpa mengatakan apa pun, Amanda berjalan secepat yang ia bisa menuju toilet sembari menutupi mulutnya, seolah menahan sesuatu yang memaksa untuk keluar. Hana yang merasa cemas pun memilih untuk menyusul Amanda.
"Amanda, tunggu!" panggil Hana, tetapi tidak direspon olehnya.
Amanda sendiri terus melangkah dengan tergesa-gesa, memegangi perutnya juga menutup mulutnya. Ia tidak memperdulikan sekitar, yang ia pikirkan saat ini hanyalah segera sampai di toilet.
Saat pintu toilet sudah dekat, Amanda mengulurkan tangannya, memegang handle pintu lantas menekannya, pintu terbuka dan memberikannya akses untuk masuk.
HOEK HOEK
Suara itu menggema di dalam ruangan yang sunyi dan dingin itu.
Amanda kini berdiri setengah membungkuk di depan meja wastafel. Ia kembali berkutat dengan rasa mualnya.
Tidak berselang lama, Hana datang dengan kecemasan tergambar jelas di wajahnya, napasnya pun sedikit terengah-engah. Ia lantas berjalan mendekat ke tempat Amanda.
"Amanda ... kamu tidak apa-apa?" tanya Hana panik.
Amanda menggeleng, merespon pertanyaan Hana tanpa suara.
Hana yang panik, mencoba membantu Amanda dengan memijat tengkuk wanita itu, berharap bisa membuat Amanda merasa nyaman.
Selang beberapa saat rasa mualnya mereda, tarikan napasnya pun mulai stabil. Amanda lantas menyalakan keran, membersihkan mulutnya dengan air. Tangannya kemudian terulur, menarik beberapa lembar tisu untuk mengeringkan bibirnya, kemudian membuangnya tisu bekas itu ke tempat sampah. Rasanya begitu sangat lelah terus mual seperti itu.
Amanda menarik napas dalam-dalam sebelum berbalik, berdiri membelakangi meja wastafel.
"Amanda kamu beneran baik-baik saja?" tanya Hana lagi, ekspresi wajahnya masih menunjukkan rasa cemas.
"Ya, aku hanya ...?" Amanda menggantungkan ucapannya, sibuk mencari alasan lain, tidak mungkin dirinya mengatakan pada Hana tentang kehamilannya.
"Amanda," panggil Hana membuat lamunan Amanda buyar.
"Oh itu, Han. Perutku sakit, kayaknya ada masalah sama pencernaan," jawab Amanda cepat.
"Ck, Amanda. Itu pasti gara-gara kemarin kamu makan nasi padang banyak banget," kata Hana.
Amanda kembali menyunggingkan senyum lebar, dengan menunjukkan deretan giginya dan tersenyum, senyuman yang terkesan dipaksakan. "Kemungkinan iya deh."
"Ya udah mending kamu pulang, terus istirahat. Surat izinnya masih aman kok," saran Hana, segera dibalas anggukkan oleh Amanda. Ia diam-diam bersyukur karena Hana memperdulikannya.
Keduanya lantas keluar dari toilet, tetapi langkah mereka dihadang oleh Jolie, suasana seketika berubah, mulai ada ketegangan di sekeliling mereka. Suasana hati Amanda yang sedang buruk pun bertambah buruk lantaran melihat siluman rubah itu.
"Dari tadi aku lihat kamu mual-mual. Jangan-jangan—" Jolie belum menyelesaikan ucapannya dan sudah dipotong oleh Amanda.
"Jangan-jangan apa?" tukas Amanda.
Jolie tersenyum sinis lalu maju satu langkah ke hadapan Amanda, "Jangan-jangan kamu hamil lagi."
Mata Amanda membulat sempurna sesaat setelah Jolie bicara. Ia sempat khawatir, tetapi Amanda berhasil menyembunyikannya.
"Eh, Jolie, kamu jangan ngomong sembarangan ya! Amanda itu bukan kamu yang mau dipegang-pegang sama laki-laki sembarangan," balas Hana tajam.
"Diam kamu! Jangan ikut campur urusanku dengan Amanda!" ucap Jolie.
"Diam kalian semua!"
Seruan seseorang membuat ketiganya menoleh. Terlihat Dila, atasan mereka sedang berjalan mendekati ke tempat mereka dengan wajah serius.
"Bu Dila," ucap Amanda lirih nyaris tidak terdengar.
Dila menatap satu persatu ketiga wanita itu secara bergantian, dan terhenti di wajah Amanda.
"Amanda, kamu ikut saya! Ada pekerjaan penting untukmu," perintah Dila.
Mendengar itu Hana langsung menyela, "Tapi, Bu. Amanda sedang sakit."
Dila kembali menoleh ke arah Amanda dengan kedua alis terangkat.
"Benar itu, Amanda?" tanya Dila disambut anggukkan pelan oleh Amanda. "Tapi tidak ada yang bisa menggantikan pekerjaan kamu ini. Pak Brian ingin seseorang membereskan ruangannya dan saya ingin kamu yang melakukannya."
"Saya saja, Bu," sela Jolie dengan antusias.
Dila tidak langsung merespon perkataan Jolie, ia melirik tenang dan juga tajam. "Jika saya harus memilih di antara kamu dan Hana, Saya akan memilih Hana. Tingkat kerapian kamu masih di bawahnya."
Mendengar itu, Amanda dan Hana nyaris tidak bisa menahan tawa. Keduanya sangat puas melihat ekspresi wajah Jolie yang seakan menahan rasa malu.
"Baiklah, Bu. Saya akan melakukannya," ucap Amanda pelan. "Tapi ... setelah saya merapikan tempat pak Brian, saya mohon izin pulang."
Dila menangguk, menyetujui permintaan Amanda.
"Baiklah, ayo ikut saya!" perintah Dila dibalas anggukkan pelan oleh Amanda. Ia lantas melangkah mengikuti Dila.
Meskipun sebenarnya Amanda merasa tidak enak badan, ia tetap akan melakukan pekerjaannya. Dari pada membiarkan Jolie mendekati suaminya, lebih baik dirinya menahan rasa sakit itu. Tetapi jika boleh jujur, ada hal yang tidak Amanda mengerti sendiri, kenapa dirinya merasa khawatir wanita itu akan menggoda Brian, seperti apa yang pernah Jolie pada Reno.
Amanda tidak tahu sejak kapan dirinya tidak rela ada wanita lain yang mendekati Brian, padahal sebelumnya ia tidak terlalu memperdulikan hal itu.
"Ini ruangannya," tunjuk Dila ketika mereka sampai di lantai paling atas hotel tersebut. "Ingat, bekerjalah dengan baik! Jangan membuat saya malu di hadapan beliau!"
"Baik, Bu," sahut Amanda.
"Baiklah, saya tinggal dulu," pamit Dila dibalas segera oleh Amanda dengan anggukkan pelan.
Setelah Dila pergi, hanya tinggal ia seorang. Amanda melihat sekeliling, tidak ada seorang pun selain dirinya di tempat itu, membuat Amanda merasa ngeri. Namun, ada hal lain yang membuat ia merasa takut. Apa yang sekiranya akan dilakukan oleh Brian padanya karena pergi tanpa izinnya.
Sesaat Amanda terdiam, menatap ragu pada pada pintu yang ada di hadapannya.
Masuk atau tidak?
Namun, tidak ingin semakin lama dalam kebimbangan, Amanda memutuskan untuk masuk, dan mempersiapkan kemungkinan buruk yang akan terjadi. Sebelum itu, Amanda menarik napas dalam-dalam kemudian mengangkat tangannya dan mengetuk pintu.
TOK TOK TOK
Tidak berselang lama pintu terbuka dari dalam, memunculkan seorang pria yang beberapa saat yang lalu ia lihat berjalan mengikuti Brian.
"Selamat siang," sapa Amanda.
Bukannya membalas sapaannya, pria itu justru bicara hal membuat Amanda tercengang.
"Silahkan masuk, Nyonya! Tuan sudah menunggu di dalam," ucap pria itu.
Eh?
Amanda spontan menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal, entah kenapa ia merasa sedikit sungkan saat pria di depannya memanggilnya dengan sebutan 'nyonya', ia sedikit kikuk.
"Silahkan, Nyonya." Pria itu bergeser ke samping, memberikan jalan pada Amanda untuk masuk.
rupanya hanya anak adopsi koq belagu banget🤣🤣🤣