NovelToon NovelToon
Ancient Slayer

Ancient Slayer

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Misteri / Fantasi Timur / Kebangkitan pecundang / Epik Petualangan
Popularitas:104.7k
Nilai: 5
Nama Author: Wahyu Kusuma

Full Remake, New Edition 🔥🔥

Ini adalah perjalanan Iramura Tenzo, seorang pejuang yang dipanggil ke dunia baru sebagai seorang pahlawan untuk mengalahkan raja iblis.

Namun, dia gugur dalam suatu insiden yang memilukan dan dinyatakan sebagai pahlawan yang gugur sebelum selesai melaksanakan tugasnya.

Akan tetapi dia tidak sepenuhnya gugur.

Bertahun-tahun kemudian, ia kembali muncul, menginjak kembali daratan dengan membawa banyak misteri melebihi pedang dan sihir.

Ia memulai lagi perjalanan baru dengan sebuah identitas baru mengarungi daratan sekali lagi.

Akankah kali ini dia masih memegang sumpahnya sebagai seorang pahlawan atau mempunyai tujuan lain?

Ini adalah kisah tentang jatuhnya seorang pahlawan, bangkitnya seorang legenda, dan perang yang akan mengguncang dunia.

Cerita epik akan ditulis kembali dan dituangkan ke dalam kisah ini. Saksikan Petualangan dari Iramura Tenzo menuju ke jalur puncak dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyu Kusuma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21 Gedung Serikat

Ramez terjatuh dengan konyol dari kasurnya, mengaduh kesal sambil mengusap pinggangnya yang terasa nyeri. Sementara itu, Tenzo yang menyaksikan kejadian tersebut hanya bisa menggelengkan kepala, keheranan.

[Orang ini sungguh keras kepala.]

"Sial..."

Ramez merintih sambil memegang tangannya. "Sebenarnya, serangan macam apa yang kau lakukan? Aku bahkan tidak melihatmu bergerak, tapi tubuhku terasa aneh sejak tadi. Aku bisa merasakan dengan jelas... selama beberapa detik, tanganku benar-benar terpisah dari tubuhku."

Ia menggertakkan giginya, mengingat kembali kejadian semalam. Sensasi itu bukan hanya ilusi—dia benar-benar merasa dadanya ditembus oleh sesuatu yang tak terlihat. Rasa nyeri itu nyata.

Tenzo hanya terkekeh pelan. "Itu tidaklah penting. Yang terpenting sekarang adalah satu hal..."

Tatapan Tenzo tiba-tiba menjadi serius. "Apakah kau percaya atau tidak?"

Ramez mengernyit. "Hah?"

"Kalau tidak, aku akan mengikatmu dan membawamu ke tepi jurang."

"Apa!?"

Ramez tersentak. Nalurinya langsung berteriak untuk kabur. Ia berusaha bangkit dengan cepat, menekuk kakinya untuk melompat ke arah pintu. Namun, sebelum ia sempat bergerak lebih jauh—

SRET!

Sebuah sensasi tajam menyerang betisnya.

Mata Ramez melebar. Jantungnya berdebar keras saat otaknya mencoba memahami apa yang baru saja terjadi. Dalam sekejap, rasa dingin menjalari kakinya, diikuti oleh rasa nyeri menusuk. Dia merasa betisnya dipotong—seolah ada pedang tak kasat mata yang menebasnya dalam satu tebasan.

Tubuhnya langsung terjatuh ke lantai.

"Kau tidak bisa lari," suara Tenzo terdengar tenang, namun penuh tekanan. "Cepat jawab pertanyaanku."

Tersungkur di lantai, Ramez menggertakkan giginya. Ia sadar bahwa ia tidak memiliki pilihan lain.

"D-Dasar gila..." gumamnya sebelum menghela napas panjang. "Baiklah... aku percaya."

Begitu mendengar jawaban itu, Tenzo tersenyum tipis dan mengembalikan barang-barang Ramez, termasuk kartu identitasnya. Masih setengah waspada, Ramez memeriksa barang-barangnya satu per satu, memastikan tidak ada yang hilang.

Sementara itu, Tenzo memasukkan tangannya ke dalam saku dan berbicara dengan nada santai.

"Hei, Ramez, maukah kau menemaniku ke Gedung Serikat? Ada beberapa urusan yang perlu kuselesaikan, dan akan lebih mudah jika ada penduduk lokal sepertimu yang membantuku."

Mendengar permintaan itu, Ramez langsung mendongak dengan ekspresi penuh kecurigaan.

"Hah? Mengikutimu?" Ia mendecak kesal. "Maaf, tapi aku sudah cukup kapok berurusan dengan orang sepertimu. Aku lebih baik melupakan semuanya dan pergi dari sini."

Tenzo menghela napas pelan. "Heh, begitu ya... Padahal kalau kau ikut denganku, aku bisa menunjukkan rahasia dari teknikku."

Seketika, langkah Ramez terhenti.

"Rahasia dari teknikmu...?"

Pikirannya langsung berputar kembali ke kejadian semalam—ke serangan misterius yang bahkan tidak bisa dia lihat. Sensasi tubuhnya terpotong masih begitu jelas dalam ingatannya. Bagaimana bisa Tenzo melakukan itu?

[Itu masih membuatku penasaran. Lagipula... hanya menemaninya saja, kan? Itu bukan masalah besar, dan aku bisa mendapatkan sesuatu dari ini.]

Setelah menimbang-nimbang, akhirnya ia mengangguk.

"Baiklah," katanya dengan nada enggan, meski matanya berbinar dengan rasa ingin tahu. "Aku akan menemanimu ke Gedung Serikat."

Tenzo hanya tersenyum kecil.

Rencananya telah berhasil.

***

Matahari pagi masih menggantung rendah di langit saat Tenzo dan Ramez melangkah keluar dari penginapan. Udara terasa segar, meski jalanan kota mulai ramai oleh para pedagang dan warga yang sibuk dengan aktivitas mereka. Tujuan mereka jelas: Bangunan Serikat.

Perjalanan tidak memakan waktu lama. Hanya beberapa kilometer, dan kini mereka berdiri di depan bangunan besar yang menjulang di pusat kerajaan.

Di depan mereka, Gedung Serikat berdiri megah dengan arsitektur yang kokoh. Pintu masuk yang besar dikelilingi oleh ukiran khas kerajaan, sementara bendera dengan lambang Serikat berkibar tertiup angin. Suasana di sini begitu ramai—hampir semua yang hadir adalah petualang. Berbagai ras bercampur di satu tempat, dari manusia, elf, beastman, hingga dwarf.

Tenzo mengamati kerumunan dengan sedikit takjub. Ini bukan pemandangan biasa. Dulu, keramaian seperti ini hanya terjadi di area restoran atau saat ada kejadian besar yang melibatkan Serikat.

[Mungkin karena kerajaan ini sekarang menjadi tempat pengungsian bagi berbagai bangsa...] pikirnya.

Setelah beberapa saat, Tenzo akhirnya berbicara.

"Baiklah, kita sudah sampai," katanya santai. "Ngomong-ngomong, kau tahu kalau aku ingin mengerjakan misi, tapi aku juga ada keperluan lain."

"Hmm? Keperluan lain?" Ramez menoleh.

"Aku ingin mengganti kartu Identitas petualangku."

"Hah?!?"

Ramez langsung menatapnya dengan ekspresi syok. "Tunggu, tunggu. Apa aku tidak salah dengar? Kau ingin mengganti kartu Identitas? Itu berarti—"

"Ya, aku dulunya seorang petualang," jawab Tenzo, masih dengan nada santai. "Tapi banyak hal terjadi, dan sekarang aku lebih seperti seorang pengembara tanpa tujuan."

Tentu saja, dia tidak akan mengatakan bahwa dia dulunya anggota Party Pahlawan. Jika Ramez tahu, reaksinya mungkin akan lebih heboh lagi.

"Tapi mengganti kartu Identitas itu tidak mudah," kata Ramez sambil berpikir. "Kau butuh persetujuan langsung dari Ketua Serikat. Dan belum lagi, semua catatan prestasimu akan hilang. Apa kau benar-benar sudah mempertimbangkannya?"

"Tentu saja," jawab Tenzo dengan tenang. "Itulah yang aku inginkan—memulai dari awal lagi."

"Hmm..." Ramez menatapnya curiga. "Apa jangan-jangan... kau seorang kriminal berbahaya? Atau mungkin buronan tingkat tinggi? Ah! Jadi dugaanku benar—"

Bugh!

Tanpa menunggu Ramez menyelesaikan kalimatnya, Tenzo sudah memukul kepalanya dengan santai.

"Aduh! Apa-apaan sih?!" Ramez mengusap kepalanya kesal.

"Aku hanya mengusir pikiran aneh dari kepalamu," jawab Tenzo datar.

Ramez mendecak. "Tch. Yah, terserah. Lagipula, nanti para petugas Serikat yang akan memeriksamu."

Mereka akhirnya melangkah masuk ke dalam Serikat.

Di Dalam Gedung Serikat

Begitu memasuki bangunan, suasana di dalam tidak jauh berbeda dengan di luar. Petualang-petualang berkumpul di papan Quest, membaca daftar misi yang tersedia. Beberapa lainnya sedang berbincang sambil menikmati makanan di sudut ruangan. Antrian di meja resepsionis pun cukup panjang, menunjukkan betapa sibuknya tempat ini.

"Serikat ini cukup ramai, ya," gumam Tenzo, matanya melirik ke sekitar.

"Memang selalu begini," jawab Ramez santai. Dia lalu menoleh ke belakang dan memberi isyarat pada Tenzo. "Ayo, kita ke resepsionis."

Tenzo mengangguk dan mengikuti Ramez. Mereka berjalan menuju salah satu meja resepsionis yang dijaga oleh seorang wanita elf. Rambutnya pirang berponi, matanya kebiruan, dan dia mengenakan seragam khas Serikat.

Begitu melihat mereka, wanita itu langsung tersenyum.

"Oh, Ramez! Kau datang untuk mengambil Quest hari ini?" tanyanya ramah.

"Hai, Eliana," balas Ramez. "Hari ini aku tidak mengambil Quest, tapi ada orang di belakangku yang ingin menanyakan sesuatu. Namanya Tenzo."

Eliana menoleh ke arah Tenzo, lalu tersenyum sopan. "Oh, salam kenal, Tuan Tenzo. Saya Eliana, salah satu resepsionis di sini. Apa yang bisa saya bantu?"

"Hmm..." Tenzo tampak ragu sejenak sebelum akhirnya bertanya, "Apakah aku bisa mengganti kartu Identitas petualangku di sini?"

Eliana mengangkat alis, sedikit terkejut. "Mengganti kartu Identitas? Bisa saja, tapi saya perlu melihat kartu Anda dulu untuk memeriksanya."

Tenzo mengeluarkan kartunya dan menyerahkannya dengan santai. "Tolong setelah ini jangan mengatakan apapun dengan keras."

Eliana menerima kartu itu dan mulai memeriksa isinya.

Beberapa detik berlalu.

Mata Eliana tiba-tiba melebar. Wajahnya yang semula santai berubah drastis.

Dia membaca ulang informasi di kartu itu, memastikan bahwa dia tidak salah lihat. Kemudian, dia menatap Tenzo dengan ekspresi penuh keterkejutan.

"Anu... Tuan Tenzo, apakah Anda benar-benar ingin mengganti kartu ini?" suaranya sedikit bergetar. "Peringkat Anda di sini... termasuk cukup tinggi."

Ramez yang berdiri di samping langsung menajamkan telinganya.

[Tunggu... Apa maksudnya dengan "peringkat yang tinggi"?]

Namun, Tenzo hanya menjawab dengan tenang, "Ya, aku yakin."

Eliana masih tampak ragu, tapi akhirnya mengangguk. "Baiklah. Tapi saya tidak bisa memutuskan hal ini sendiri. Ketua Serikat harus diberitahu lebih dulu. Bisa menunggu sebentar?"

"Tentu."

Eliana segera pergi ke bagian dalam kantor Serikat.

Sementara itu, Ramez masih terpaku di tempatnya. Dia mencoba menebak-nebak peringkat asli Tenzo. Dari ekspresi Eliana, ini bukan sekadar petualang biasa.

Mungkin peringkat B? A? Atau... bahkan peringkat S?

Dia melirik ke arah Tenzo, yang hanya berdiri tenang, seolah tidak peduli, namun dilubuk hatinya dia cukup penasaran.

[Siapa sebenarnya orang ini...?]

1
F~~
Kayaknya aku punya firasat soal Zerath ini
F~~
hahahaha, masih ada neraka lain menunggu. Kasian banget nasibmu Ramez
angin kelana
bagus thorr,lanjutkan..
Reza Orien
cihuyyy
F~~
Pelatihannya tidak main main
F~~
Oke Thor gkpp, yang penting rajin update aja
‎‎‎‎Wahyu Kusuma: sip, tenang aja bakalan rajin kalau kagak ada halangan. stok bab masih banyak
total 1 replies
angin kelana
siaaaap yg penting rutin update thorrr...
‎‎‎‎Wahyu Kusuma: oke akan diusahakan ritun soalnya sudah punya stok sampai bulan depan, doakan agar tidak terputus-putus 🙏 updatenya.
total 1 replies
angin kelana
satu tebasan..
angin kelana
lanjutkan duelnya...
F~~
lanjutkan
F~~
sheshhh sasuga Tenzo
F~~
Nooo Ramezzz
Kyurles Suga
Jejak
Kyurles Suga
menikmati
Ora Ora
.
F~~
Nah, sudah saya kira, rupanya emang si Diomas. Tapi mantap sekali update langsung 3 bab sekaligus. Bagus Thor pertahanin udpet beginian.
F~~
Ah, aku dah tebak siapa ini. pasti ... bacaselengkapnya
‎‎‎‎Wahyu Kusuma: husst, sebaiknya tidak usah diberitahu
total 1 replies
F~~
laki laki kalau sudah berbincang semalaman pasti bakal kemana mana tuh tema pembicaraannya
F~~
Gas lanjut thor
‎‎‎‎Wahyu Kusuma: Oke sebentar lagi bakalan update bab baru
total 1 replies
angin kelana
lanjuuut
‎‎‎‎Wahyu Kusuma: Okeee sebentar lagi bakalan update, ditunggu yah
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!