Ketika cinta harus diakhiri karena syarat dari kedua orang tuanya yang mendambakan seorang menantu hafiz Al'quran.
Dan aku terpaksa menikah dengan perempuan lain yang tidak aku cintai karena hutang jasa.
Bagai mana kelanjutannya simak ceritanya di novel. CINTA TERHALANG 30 JUZ AL'QURAN.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pelangi senja11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 21. Sah
"Waalaikumsalam," Jawab Pak RT, Ariel dan jaga Fira.
Saat Fira menoleh pada dua orang yang memberi salam, dan terdengar tidak asing di telinganya.
"Ibuk, Bapak," Fira langsung berlari memeluk erat Ibuk Siti. "Ibuk, Fira sangat rindu pada Ibuk." Fira menangis tersedu didalam pelukan Ibunya.
Rasa takut dan gemetar kini sedikit hilang dalam kehangatan dekapan Ibunya.
"Ibu juga rindu sama kamu sayang, jangan menangis lagi, kalian kenapa sampai kerumah Pak RT?" tanya Ibuk Siti karena tadi Ariel tidak memberitahu masalahnya.
Safira tidak menjawab karena Pak RT mempersilahkan Pak Imran, Buk Siti, juga Ima dan suaminya.
"Mari, silahkan duduk, Pak, Buk."
Pak Imran dan semuanya duduk berhadapan dengan Pak RT.
"Pak RT, ada apa, kenapa Kedua Anak saya Samapi disini, apa yang terjadi ?" tanya Pak Imran belum tau apa sebabnya.
Pak Imran tadi hanya melihat banyak warga didepan rumah Pak RT, tapi dia tidak tau apa yang sedang terjadi.
"Begini Pak," Pak RT jeda sesaat karena dia tidak tau siapa nama Pak Imran dan Ibuk Siti.
"Imran Pak, ini istri saya, Siti, dan yang ini Adik ipar saya dan suaminya.
Pak RT mengangguk, mengerti.
"Baiklah, begini Pak, warga memergoki Anak Bapak sedang berbuat mesum, dan warga membawanya kesini untuk dinikahkan, tapi kata Nak Nazriel, mereka Adik Kakak, apa benar itu Pak?" tanya Pak RT ingin memastikan karena Pak RT juga heran pada Ariel dan Fira, jika Adik Kakak, kenapa berbuat mesum.
"Apa, berbuat mesum ?" Bukan Pak Imran saja yang terkejut, tapi Buk Siti, Ima dan suaminya juga.
"Tidak mungkin Pak, Putri saya tidak mungkin melakukan hal keji seperti itu." Bantah Buk Siti tidak percaya, dia sangat hafal watak Anak gadisnya.
"Apa benar itu Nazriel ?" Pak Imran hendak memukul Ariel karena emosinya tiba-tiba meluak.
Pak Imran sangat kecewa, Anak yang dia tolong dan rawat, tega berbuat seperti itu pada Putrinya.
"Pak jangan, mas Nazriel tidak bersalah, tuduhan mereka tidak benar." Ujar Fira membuat tangan Pak Imran berhenti di udara.
Sedangkan Ariel masih menunduk, dia sama sekali tidak gentar andai tangan Pak Imran menyentuh tubuhnya.
"Mereka beralasan, keduanya sudah sepakat, mana ada Adik kakak berpelukan mesra ditempat sepi." Ujar salah satu warga.
"Dia tidak punya identitas, mereka bukan Adik kakak, nikahkan saja keduanya, kalau Pak RT tidak bisa, biar kami yang ambil alih, kami akan mengarak keduanya keliling kampung malam ini juga." Ujar warga yang satu lagi.
"Itu benar, biar kami yang mengarak mereka keliling tanpa pakaian," Sahut warga lain lagi.
Mendengar warga akan mengarak Putrinya tanpa pakaian, Pak Imran dan Buk Siti tidak bisa berkutik lagi, mau tidak mau, Ariel dan Fira harus dinikahkan.
Pak Imran tidak bisa berbuat banyak, karena benar yang warga katakan kalau Nazriel tidak punya identitas.
"Pak RT, nikahkan saja mereka, aku tidak mau Putriku diarak tanpa pakaian, aku tidak ingin Putriku malu nantinya." Ujar Buk Siti yang takut kalau Putrinya akan diarak warga.
"Tapi Buk, bagaimana mereka menikah, kalau mereka Adik kakak ?" tanya Pak RT heran.
"Begini Pak RT, sebenarnya, Nazriel ini bukan Putra kami."Pak Imran lebih baik cerita jujur dari pada harus berbohong.
"Bukan Putar Bapak dan Ibuk, maksudnya gimana ni ?" tanya Pak RT bingung.
Pak Imran menceritakan dari pertama dia menemukan Ariel disungai dirawat hingga sembuh, dan sampai saat ini sudah di anggap seperti Anaknya sendiri.
Pak RT mengangguk mengerti sekarang, kalau Ariel dan Fira saat di bawa kemari mengklaim diri adalah Adik Kakak.
"Putri saya tidak dirumah, selama Nazriel bersama kami, karena Putri saya ini mengaji di pondok, dia baru hari ini pulang, tapi tidak disangka sudah terjadi seperti ini." Ucap Pak Imran lagi.
"Berarti, mereka bisa dinikahkan, karena sah-sah saja, mereka tidak punya ikatan darah." Ujar Pak RT lagi.
"Bagaimana, apa kamu mau menikah dengan Fira ?" tanya Pak RT.
"Apa aku bisa mengelak, kami dituduh melakukan apa yang tidak kami lakukan, kalau dengan menikahi Fira, bisa membuat kami lepas dari tuduhan warga, saya siap, tapi perlu semua warga tau, saya dan Fira tidak pernah melakukan apa yang mereka tuduhkan." Tegas Ariel keras agar semua warga mendengarnya.
Fira tidak berkat apapun, dia juga sama dengan Ariel, walaupun tidak ada cinta, Fira siap untuk dinikahkan, Ariel bagi Fira sangat tampan.
"Menikah dengan mas Nazriel, tidak buruk, dia tampan, sopan dan bertanggung jawab." Gumam Fira dalam hatinya.
Selesai berdiskusi, Pak RT meminta Ustadz setempat untuk untuk menjadi saksi, karena yang akan menikahkan Ariel dan Fira Pak Imran sendiri selaku wali sah Fira.
Dengan berbekal uang 500 ribu rupiah dan satu cincin yang diberi oleh Mamanya Ariel menikahi Fira.
"Saya nikah dan kawinkan engkau Nazriel dengan Safira Putri saya dengan mahar 500 ribu rupiah tunai." Ucap Pak Imran menjabat tangan Ariel.
"Saya terima nikah dan kawinnya Safira binti Imran wido kepada saya dengan mahar tersebut tunai." Jawab Ariel lantang.
"Bagaimana para saksi, sah ?" tanya Pak Ustadz pada saksi yang juga ada dua warga yang yang membawa Ariel dan Fira kesini.
"Sah, sah, sah," jawab semua saksi.
"Alhamdulilah," ucap Pak Ustadz dan kemudian membaca do'a untuk keberkahan dan langgeng dalam pernikahan, semoga sakinah, mawaddah, warahmah.
Ariel memasang cincin dijari manis Safira, dan kemudian mencium kening Safira.
Setalah itu Safira menangis, dia tidak menyangka kepulangannya dari pondok pesantren sudah bertahun-tahun, kini dia menjadi istri orang tapi dengan cara seperti ini.
Buk Siti memeluk Putrinya itu, dia mengusap punggung Safira menenangkan Putri kesayangannya itu.
Tidak lama setelah itu, Pak Imran dan semua keluarga izin pamit pada Pak RT dan Juga Pak Ustadz, untuk pulang kekampungnya didesa sebelah.
Saat sampai dirumah, Bibi Ima pulang kerumahnya, sedangkan Pak Imran, Buk Siti dan Safira masuk kedalam rumah.
Ariel berdiri diluar, dia sudah tidak berani masuk, mungkin Ariel takut sama Pak Imran, selain dia tidak amanah untuk menjemput Fira, dia juga merasa kalau Pak Imran marah padanya karena tuduhan warga.
Ariel duduk di kanebo tempat biasa duduk didepan rumah.
Sementara didalam rumah, semua orang tidak menyadari kalau Ariel tidak ikut masuk.
"Nak, kenapa sampai seperti itu, kenapa kalian melakukan hal yang dilarang dalam agama ?" tanya Buk Siti langsung memvonis, sepertinya Buk Siti percaya apa yang dikatakan warga kampung sebelah.
"Ibuk, Bapak, sumpah demi Allah, aku dengan mas Nazriel tidak berbuat seperti itu, kami difitnah, ceritanya tidak seperti itu."
Bersambung.
Jdi g' sabar liat si ustad itu bungkam,,
Tpi g' pa" jga sich lo mereka nikah kn mereka bkan saudara kandung
Semoga cepat ktmu y kesel aq ma ustad sombong itu..Apa ariel y pemilik kebun yg baru itu..