Warning!
(Kram perut yang disebabkan membaca cerita ini tidak ditanggung BPJS, Jika gejala berlanjut hubungi Otor)
Bianca Nataniasunny seorang gadis mandiri dan sedikit arogan harus menjalani pernikahan tanpa cinta dengan seorang pria bernama Skala Prawira yang tak kalah arogan seperti dirinya. Kedua mahkluk itu sama-sama mengincar warisan dari keluarga mereka dan sepakat untuk melakukan kerjasama.
Menikah tidak membuat mereka lantas dengan mudah saling mencintai. Pertengkaran yang berujung kekonyolan menjadi santapan mereka sehari-hari.
"Kalau gue Anaconda loe Piranha Amazon," ~ Ska.
"Hah...ogah gue sehabitat sama loe," ~ Bian.
Tanpa Skala dan Bianca sadari jeratan takdir masa lalu telah mengikat keduanya.
_
_
_
Note :
JANGAN PLAGIAT ATAU TAMBAL SULAM!
INGAT AZAB
Carilah Rezeki yang halal dengan mencari ide sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adinasya mahila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21 Undangan Arisan
Rumah dua lantai yang dibeli Ska memiliki tiga kamar di bawah dan tiga kamar di atas, dimana satu kamar di lantai bawah seharusnya digunakan untuk pembantu rumah tangga, tapi pasangan suami istri itu sepakat untuk tidak memiliki pembantu, mereka memilih untuk memakai jasa pembersih rumah harian lepas jika diperlukan.
Skala berdiri menatap pintu kamar utama rumahnya bersama Bian yang juga sedang berada tepat di sebelahnya.
"Kita bisa tidur terpisah mulai sekarang, kamar loe sebelah kanan, kamar gue sebelah kiri dan ini markas kita." Skala memberi penjelasan sambil menunjuk setiap kamar yang dia maksud.
"Maksud loe markas? kayak gembong tero.ris aja pakai markas segala," oceh Bian.
Skala mengepalkan tangannya di atas kepala istrinya gemas, "Mulai malam ini kita tidur terpisah, jangan tinggalin barang pribadi di kamar kita masing-masing, semua barang pribadi taruh di sini, di markas," tegas Skala.
"Oh jadi maksud loe, ini kamar pura-pura kita gitu?" tebak Bian.
"Pintar, jadi kita tidur berdua di markas kalau ada orang yang nginep di rumah, selebihnya kita tidur di kamar masing-masing."
Skala mengeluarkan tangannya yang dari tadi ia masukkan ke dalam kantong celananya, tangannya meraih handle pintu dan meminta istrinya untuk masuk ke dalam.
"Gue mau ambil sesuatu di bawah dulu!" ucapnya.
Bian memandangi punggung sang suami sampai menghilang dari tangga, perlahan gadis itu masuk ke dalam kamar, melihat-lihat kamar yang disebut Skala adalah markas tadi.
Kamar itu cukup luas dengan ranjang king size, satu set sofa, walk in closet, dan juga jacuzzi berukuran besar di dalam kamar mandi.
"Gila, kayaknya Skala beli rumah seisinya," gumam Bianca.
"Kenapa?" Skala yang datang mengagetkan istrinya yang sedang melongok melihat kamar gantinya, Bian yang kaget dengan cepat menoleh menghadap sang suami.
Alih-alih mencium pipi suaminya seperti di adegan telenovela, gadis itu malah membenturkan hidungnya ke dada berotot Skala, alhasil Bian meringis kesakitan sambil memegangi hidungnya.
"Sakit!" Pekiknya.
Skala hanya tertawa melihat kekonyolan gadis itu, menyingkirkan tangan Bianca berusaha untuk melihat hidungnya.
"Aduh kasihan tambah pesek," ledeknya.
Bian hanya bisa mencebik kesal, mengekor Skala yang terlihat berjalan mendekat ke arah sebuah dusty bag berwarna hitam, membuka tas berbahan tipis itu yang ternyata berisi foto pernikahan mereka.
"Loe mau pasang foto itu disini?" tanya Bian penasaran.
"Iya, kan lumayan muka loe bisa buat nakut-nakutin biar ga ada tikus di kamar."
"Dasar badak Afrika," umpat Bianca.
Ska yang mendengar dirinya dikatai hanya tersenyum geli, "Ga ada badak Afrika seganteng gue." Ia membela diri.
Bian mengkerucutkan bibirnya, memandangi Ska yang masih sibuk memasang foto pernikahan mereka ke tembok, tiba-tiba samar terdengar suara bel rumah mereka berbunyi. Ska yang masih sibuk dengan bingkai foto berukuran besar itu menatap Bian dengan mimik wajah heran.
"Tamu?" tanyanya.
Bian hanya mengedikkan kedua pundaknya menandakan dia juga tidak tahu, "Bukain sana!" titahnya ke sang suami.
"Ogah, loe aja sana! ga lihat gue masih sibuk pasang ini!"
Dengan malas Bian turun ke lantai bawah menuju pintu rumahnya untuk melihat siapa gerangan tamu yang datang ke rumah barunya yang belum ada delapan jam dia tempati.
Perlahan dan hati-hati Bian membukkan pintu, matanya membelalak lebar melihat wanita berbadan agak tambun berada tepat di hadapannya menggunakan setelan baju bermotif harimau. Oh bukan, motif cheetah lebih tepatnya.
"Permisi, benar mba Bianca ya?" tanya wanita dengan bando bermotif belang di atas kepalanya itu.
"Iya benar, siapa ya?" kening Bian mengkerut terheran-heran.
"Perkenalkan mba saya Karnati tapi biasa dipanggil Barbie, saya pembantu rumah tangga Bu Dewan," ucap wanita bernama Barbie yang lebih mirip boneka mampang itu.
"Oh iya mba Barbie gimana?" Bian mengedipkan matanya berulang kali, masih tidak percaya dengan penampakan di hadapannya.
"Saya cuma mau menyampaikan pesan dari Bu Dewan kalau dress code arisan nanti sore adalah baju berwarna merah, arisannya jam lima."
"Makasih mba Barbie tapi saya tidak berniat un...," belum selesai Bian menolak undangan dari tetangganya, Skala berjalan mendekat sambil menjawab omongan si mba Barbie.
"Dia pasti datang, pasti!"
Bian menoleh ke arah suaminya yang terlihat sudah tersenyum manis, mulutnya tertekuk kesana kemari mengomeli Skala dalam diam, sementara itu mba Barbie yang mendengar sedikit melongok ke dalam rumah berusaha untuk melihat sang pemilik suara.
Skala masih tersenyum berjalan dari arah belakang sang istri, laki-laki itu agak melebarkan daun pintu untuk melihat siapa gerangan tamunya, raut mukanya berubah geli menatap wanita yang sedang berbincang dengan sang istri.
Sementara itu Mba Barbie terlihat melotot menatap wajah Skala, meraih paksa tangan laki-laki itu karena terlalu terpesona "MasyaAllah gantengnya," ucapnya.
Bian yang melihat entah kenapa menjadi risih, melepaskan secara paksa tangan sang suami dari tangan si mba Barbie.
"Iya nanti saya datang mba, merah kan ya dress code nya? sekarang saya mau beres-beres rumah dulu." Perlahan Bian mendorong tubuh Skala dengan pungungnya untuk masuk ke dalam, tangannya meraih daun pintu, menutupnya meskipun si pembantu rumah tangga Bu Dewan masih berada di sana dan terpaku karena keelokan wajah suaminya.
"Kenapa? loe cemburu?" goda Ska.
"Idih nggak bakal, kalau gue cemburu gara-gara lihat loe sama cewek lain, gue bersumpah akan makan makanan yang paling gue benci di depan muka loe! gue cuma kesel ngebayangin harus duduk berjam-jam sama emak-emak rumpi," lanjut Bian
Skala merasa senang mendapati istrinya kesal, ia membiarkan Bianca terus mengomel sambil mengekor gadis itu kembali menuju lantai atas.
***
"Wah jadi mba Bian pengantin baru, Wah hebat banget udah bisa beli rumah disini, suaminya kerjanya apa?"
Pertanyaan dari wanita bernama Bu Kimi itu membuat Bian sedikit tak enak hati, haruskah dia berkata yang sejujurnya? bagaimana jika dianggap sombong? gadis itu merasa serba salah, memutar otak untuk menjawab pertanyaan di depan ibu-ibu blok komplek rumahnya yang berjumlah sekitar dua belas orang itu.
"Suami saya kerja di pabrik Bu," jawabnya sopan.
"Apa jabatannya? kalau staff biasa mana kuat beli rumah disini? kecuali korupsi." Tetangga Bian yang lain terlihat tertawa cekikikan jelas sedang mengejek dirinya, tak mau kalah Bian menjawab pertanyaan wanita bernama Bu Ratih itu ketus.
"Direktur." Singkat padat dan jelas, Bian menatap Bu Ratih yang terlihat melotot ke arahnya tak percaya.
"Apa nama perusahaan atau pabriknya mba?" tanya Bu Dewan sang tuan rumah.
"PG Factory."
Semua yang ada disana terlihat saling pandang, tidak tahu perusahaan atau pabrik apa yang Bianca maksud. Melihat para emak-emak di hadapannya kebingungan, Bian mencoba menjelaskan dengan bahasa yang lebih gampang, menyebutkan beberapa produk makanan yang diproduksi perusahaan suaminya.
"Mikurame, kecap mantap?"
"Oh... Itu," bak paduan suara para ibu-ibu itu kompak menjawab ucapan Bian.
"Anak saya Dewa suka banget itu makan mikurame, sampai saya takut ususnya bisa jadi lebih panjang lho karena sering makan mi," canda Bu Dewan.
Bianca hanya tertawa, menyambar kue di meja kemudian menyesap teh dari cangkirnya.
"Suaminya ganteng banget lho Bu, kayak pangeran-pangeran yang ada di film itu lho," sela si mba Barbie sambil meletakkan suguhan untuk para tamu majikannya di meja.
"Ah masa sih?" Lagi-lagi mereka kompak menjawab.
"Alah, kalau ga ada bukti namanya Hoax," sambar Bu Ratih.
"Ya Tuhan, somebody help me please," teriak Bian dalam hati, ia berharap seseorang menyelamatkan dirinya dari sekumpulan emak-emak yang sedang dalam mode kepo itu.
Tiba-tiba terdengar suara sirine dan speaker dari mobil polisi yang kencang terdengar di komplek perumahan elite itu.
"Kasih jalan! kasih jalan!" suara sumbang dari speaker terdengar semakin kencang.
Semua ibu-ibu yang berada si rumah Bu Dewan berdiri lalu menghambur keluar pintu, mereka melihat dua mobil polisi mengawal beberapa mobil lain dan sebuah truk yang cukup besar dengan tulisan PG group di badan truk.
Kaget, Skala keluar dari rumahnya dan berdiri di depan gerbang hanya dengan mengenakan kaos berwarna navy, celana pendek dan sandal rumah.
"Mas ganteng," Pekik Mba Barbie sambil menggigit nampan kayu yang tengah dia pegang.
Mendengar ucapan si mba Barbie fokus ibu-ibu itu terbelah, antara melihat kedatangan polisi dan memandangi Skala, sementara Bian masih terheran-heran untuk apa ada truk PG group masuk ke komplek perumahannya.