Davin seorang pimpinan perusahaan yang ganteng dan dingin mendapatkan seketaris yang ya g di rekomendasikan oleh sang om karena gadis itu tak lain adik ipar sang om. Namun setelah bertemu dengan gadis itu Davin di buat kaget karena ternyata gadis itu, gadis tiga tahun lalu yang pernah dia tiduri atas permintaan teman sekaligus sahabat ya g saat ini menjadi rivalnya di dunia bisnis. Davin ya g selama tiga tahun ini di bayangi dengan rasa bersalah atas kejadian itu bahkan berusaha mencari informasi tentang gadis itu, namun kini dia di buat terkejut setelah tahu bahwa gadis itu adik ipar sang om.
Namun gadis itu tidak mengingat dengan Davin karena memang Alma tidak terlalu mengenal Davin. Alam pun bersikap biasa saja.
Apakah Davin bisa menebus kesalahannya pada Alma?
Apa yanga kan di lakukan Alma setelah tahu laki-laki ya g telah menodainya adalah bosnya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Astri Reisya Utami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terciduk mesum
Alma sedang fokus pada kerjaan nya dan tiba-tiba Davin mengagetkan Alma.
"Abang ih, ngagetin saja" omel Alma dan Davin hanya tersenyum saja.
"Makan yu! " ajak Davin, Alma pun melihat jam di tangannya ternyata sudah hampir makan siang.
"Tar, bentar lagi" balas Alma pada Davin karena dia ingin membereskan kerjaannya yang tinggal dikit lagi.
"Ya sudah aku tunggu di bawah ya! " ucap Davin "Oke" jawab Alma dan Davin pun langsung melangkah pergi ninggalin Alma.
Setelah selesai Alma langsung beranjak dan pergi turun untuk mengejar Davin. Namun saat di lobi Alma melihat Sintia sedang berjalan dengan seseorang dan Alma merasa tak asing dengan wajah orang itu.
Alma pun langsung naik ke mobil dan Davin langsung tancap gas meninggalkan area kantor.
"Kita makan dimana bang? " tanya Alma karena belum sampai juga.
"Di restoran miliknya Ayu istri Dimas" jawab Davin dan Alma pun mengangguk.
Tak lama mereka sampai dan langsung masuk ke restoran. Dimas melihat Davin dan Alma datang langsung menghampiri.
"Cie pengantin baru" ledek Dimas membuat Alma tersenyum malu berbeda dengan Davin yang biasa saja.
"Makan apa ni? " tanya Dimas.
"Aku bisa" jawab Davin. Dimas melirik Alma dan Alma langsung menu bukan menu yang dia pilih.
"Oke tunggu bentar ya! " ucap Dimas lalu pergi meninggalkan Davin dan Alma.
Namun Davin beranjak "abang mau kemana? " tanya Alma melihat Davin bangun dari duduk nya.
"Kamu mau ikut? " tanya Davin ngerjain Alma.
"Kemana? " tanya Alma lagi.
"Kamar mandi" jawab Davin sambil tersenyum.
"Dih ogah, sana sendiri saja" balas Alma dengan mengangkat kedua bahunya.
Davin dia hanya tersenyum lalu pergi meninggalkan Alam duduk sendirian. Davin melangkah menuju dapur karena dia ingin bicara dengan Dimas.
"Dim" panggil Davin dan Dimas pun menengoknya. "Apa? " tanya Dimas.
"Gue pengen bicara" jawab Davin dan Dimas pun langsung mengajak Davin masuk ke ruang kerjanya.
"Ada apa? " tanya Dimas setelah mereka di dalam dan duduk berhadapan.
"Kemarin Niko datang ke kantor" beritahu Davin.
"Serius lo? " kaget Dimas karena dia gak pernah menyangka jika Niko berani temui Davin setelah hampir empat tahun kejadian itu.
"Serius gue, namun gue gak tau apa yang dia omongin dengan Alma karena kemarin sejak pulang sikap Alma berubah" ucap Davin membuat heran Dimas.
"Gini saja deh, nanti aku suruh Ayu buat bicara dengan Alma untuk mencari tahu" saran Dimas dan Davin setuju karena dia gak tau harus melakukan apa lagi.
Davin pun kembali ke meja dan ternyata makanan sudah datang dan dia pun langsung makannya bersama Alma.
Setelah selesai Davin minta struk pembayarannya dan langsung membayarnya.
"Kita kembali ke kantor? " tanya Alma dan langsung mendapat anggukan dari Davin.
Alma dan Davin langsung pamit dan mereka kembali ke kantor. Lagi dan lagi saat di lobi Alma melihat sosok pria yang bersama Sintia sedang bicara dengan salah satu karyawan kantor.
"Kamu lihatin apa? " tanya Davin yang dari tadi melihat Alma melihat kearah dua orang pria yang sedang bicara.
"Abang kenal gak sama cowok yang pakai kemeja biru? " tanya Alma dan Davin langsung melirik ke orang yang di sebut Alma.
"Enggak, mang kenapa? " tanya Davin ingin tau.
"Aku kok merasa gak asing ya sama orang itu"jawab Alma.
Davin langsung mendekati kedua orang itu dan bertanya.
" Kalian bagian apa? "
"Saya bagian pasaran pak" jawab yang satunya.
Davin melirik pria itu dan pria itu menjawab "Saya bagian lapangan pak".
Alma pun mendekati mereka dan saat sampai Alma kaget ternyata pria itu tetangganya satu kampung.
" Kang Indra"sebut Alma dan membuat Davin dan kedua pria itu melirik Alma.
"Alma" kaget pria itu.
"Kamu kenal dia? " tanya Davin.
"Dia tetangga aku bang" jawab Alma.
Indra melirik pria yang di sebelahnya dan pria itu mengerti "bu Alma ini istri dari pak Davin" beritahu nya dan membuat kaget pria yang bernama Indra.
"Sekarang kamu udah gak penasaran kan, ayo naik" ajak Davin karena dia sedikit kesal melihat tatapan Indra pada Alma.
"Aku ke atas dulu ya kang" pamit Alma pada Indra dan langsung mendapatkan anggukan kedua pria itu.
Saat di lift Davin langsung menatap Alma dengan tatapan marah, membuat Alma bingung kenapa Davin marah.
"Abang kenapa? " tanya Alma bingung.
"Aku gak suka kamu bicara dengan pria lain" jawab nya.
"Loh kenapa?, terus kalau bicarakan kerjaan juga gak boleh? " tanya Alma yang polos dan tidak mengerti jika suaminya ini sedang cemburu.
Davin menarik nafas panjang karena dia di buat kaget dengan respon Alma.
"Alma sayang, bukan itu maksud abang, abang gak suka lihat Alma bicara dengan pria yang bernama Indra tadi" penjelasan Davin.
"Kenapa? " tanya Alam dengan polos.
Lift terbuka dan Davin langsung keluar begitu saja membuat Alam harus mengejarnya. Namun Davin melarang Alma masuk karena dia ingin menenangkan dirinya dulu.
Alma kembali ke meja kerjanya dan dia memasang wajah sedih karena sikap Davin yang tiba-tiba berubah. Alma tidka bekerja dia terus murung karena memikirkan Davin. Karena kesal akhirnya Alma masuk dan membuat Davin kaget karena dia sedang fokus bekerja.
"Kamu bisa gak ketuk pintu dulu? " tanya Davin sedikit kesal namun tiba-tiba nada bicaranya melemah saat melihat raut wajah Alma sedih.
"Kamu kenapa? " tanya Davin setelah mendekati Alma dan memegang kedua pipinya.
"Abang yang kenapa? " tanya balik Alma dengan air mata menetes.
"Aku gak apa-apa, tadi aku cuma.... " ucapannya terhenti membuat Alma semakin penasaran.
"Apa abang? " tanya Alma.
"Gini, jika kamu lihat aku dengan cewek kain, perasaan kamu gimana? " tanya Davin dan Alma diam berpikir namun tiba-tiba Alma tersenyum lalu memeluk Davin membuat Davin kaget.
"Al lepasin" pinta Davin karena gak bisa napas.
Alma pun melepaskannya dan membuat Davin bisa bernapas lega.
"Kang Indra itu memang mantan.. " ucapan Alma belum selesai langsung main porong saja.
"Mantan kamu?, aku pecat" ucap Davin hendak menghubungi HRD.
"Abang ih, aku belum selesai bicaranya" ucap Alma kesal.
Davin pun akhirnya mendengarkan Alma dan Davin tetap kesal karena ternyata Indra itu mantan gebetan Alma saat sekolah dulu.
"Pokoknya abang jangan cemburu karena saat ini cuman ada abang di hati ku" ucap Alma sambung tersenyum namun malah membuat Davin kesal karena merasa tidak sepenuhnya di cintai. Alma yang sadar dengan ucapannya langsung berusaha pergi namun langsung di kejar Davin dan membuat Alma ada di pelukan Davin.
Davin menatap Alma dan begitu pun Alma hingga membuat mereka hampir lupa diri jika saja Kian tidak masuk.
"Kalian mau ngapain? " tanya Kian membuat Alma langsung mendorong Davin.