PLAK!!
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Ervano. Pria itu memegangi pipinya yang terasa panas sambil melihat pada Naima. Gadis itulah yang sudah memberikan tamparan tadi. Mata gadis itu menatap nyalang pada Ervano. Dia sama sekali tidak menyangka pria yang dekat dengannya bisa melakukan hal yang melecehkan harga dirinya sebagai wanita.
“Ima, maafin aku.. aku..”
“Aku ngga nyangka, bang. Serendah itu pikiran abang sama aku!!”
“Ngga, Ima. Ngga begitu. Aku… ngga sengaja. Aku khilaf, maaf.”
“Laki-laki yang baik adalah laki-laki yang bisa menjaga pandangan dan tidak menyentuh yang bukan miliknya. Terima kasih, bang. Aku cukup tahu kelakuan abang seperti apa. Mulai sekarang, lebih baik kita ngga ketemu lagi. Aku tidak membenci abang, tapi bukan berarti aku bisa terus berteman dengan abang.”
Setelah mengatakan itu, Naima segera pergi meninggalkan Ervano dengan perasaan marah, kecewa sekaligus malu. Ervano hanya bisa memandangi kepergian Naima tanpa bisa melakukan apapun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ichageul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mengakui Kesalahan
Sebuah mobil pabrikan Jerman berhenti di depan kediaman Farel. Dari dalamnya turun Ervano. Pria itu sudah bertekad untuk bertemu dengan Farel. Selain untuk mengakui kesalahannya, dia juga ingin mengutarakan niat baiknya, mempersunting Naima. Jawaban apapun yang diberikan Farel, pria itu memasrahkan semuanya pada takdir.
Dengan langkah pelan, Ervano memasuki pekarangan rumah Farel. Mobil pria itu sudah berada di sana, pertanda kalau ayah dari Naima itu sudah pulang ke rumah. Nampak pintu yang menghubungkan teras dan ruang tamu masih terbuka. Ervano melangkahkan kakinya ke sana.
“Assalamu’alaikum.”
“Waalaikumsalam. Eh Vano, ayo masuk.. masuk..”
Farel langsung mempersilahkan pria itu untuk masuk. Ervano lebih dulu mencium punggung tangan pria itu, baru kemudian masuk ke dalam mengikuti langkah Farel. Dia mendudukkan diri di sofa yang ada di ruang tamu. Tak lama kemudian Ara datang. Wanita itu juga terkejut melihat kedatangan Ervano. Sejak pria itu membuat Naima kecewa, dia memang tidak pernah mengunjungi lagi Naima di rumah.
“Vano.. kemana aja? Lagi sibuk ya?” sapa Ara.
“Ya begitulah, tante,” Ervano berdiri sebentar untuk mencium punggung tangan wanita itu.
“Mau ketemu Ima? Nanti tante panggilkan dulu.”
“Eh ngga usah, tante. Niatku ke sini mau ketemu om dan tante.”
“Ketemu kami?” tanya Farel memastikan.
“Iya, om.”
“Bi.. tolong buatkan minuman buat Vano,” seru Ara.
Sejenak suasana menjadi hening. Ervano menarik nafas panjang lebih dulu sebelum mengatakan maksud kedatangannya. Naima keluar dari kamarnya. Dia hendak turun ke bawah untuk mengambil minum. Baru saja dirinya sampai di pertengahan tangga, telinga menangkap suara pria yang dikenalnya.
“Ehmm.. begini, om. maksud kedatanganku ke sini, pertama-tama untuk minta maaf pada om dan tante.”
“Minta maaf untuk apa?”
“Aku mau minta maaf karena aku udah berbuat kurang ajar pada Ima.”
“Maksud kamu apa?” Ara bertambah bingung, pasalnya sang anak tidak menceritakan apapun soal Ervano padanya.
“Begini, om..”
Secara jujur Ervano menceritakan masalah yang terjadi antara dirinya dan Naima. Sikap spontannya yang didorong oleh rasa sayang malah membuat jurang antara dirinya dengan gadis itu. Sampai sekarang Naima belum mau memaafkannya. Pelan-pelan Naima turun untuk mendengarkan lebih jelas pembicaraan di ruang tamu.
“Begitu ceritanya, om.. tante. Aku minta maaf karena udah berbuat kurang ajar. Tapi aku benar-benar ngga bermaksud melecehkan Ima. Itu spontanitas dariku aja. Dan aku benar-benar menyesal. Menyesal bukan karena sudah membuat Ima marah saja, tapi juga menyesal karena tahu apa yang kulakukan itu salah.”
Cukup lama Farel terdiam setelah mendengar pengakuan Ervano. Sebagai ayah Naima, tentu saja dia kesal mendengar perlakuan pria itu pada anaknya. Tapi di satu sisi, dia salut pada Ervano yang mau mengakui kesalahannya secara jujur. Bisa saja dia tetap bungkam, toh Naima juga tidak mengatakan apa-apa padanya. Tapi pria itu memilih untuk berkata jujur. Dan kejujuran ini yang dihargai oleh Farel.
Naima yang mendengarkan diam-diam juga sebenarnya merasa kagum akan keberanian Ervano mengakui kesalahannya. Namun begitu, dia masih belum bisa memaafkan pria itu sepenuhnya. Gadis itu takut kalau Ervano melakukan kesalahan yang sama di kemudian hari.
“Sebenarnya om kecewa mendengar pengakuan kamu. Bagaimana pun juga antara kamu dan Ima belum ada ikatan apa-apa. Wajar saja kalau Ima marah sama kamu. Kamu memang sudah melecehkan Ima dengan melakukan hal itu Tapi… om hargai keberanianmu mengakui ini semua. Om harap kamu bisa mengambil pelajaran dari ini semua.”
“Iya, om. Sekali lagi, maafkan aku.”
“Jadi ini yang buat Ima ambil keputusan buat berhijab?” gumam Ara pelan tapi masih bisa terdengar oleh Farel dan Ervano.
“Apa maksudmu, sayang?”
“Ima waktu kutanya alasannya tiba-tiba ingin berhijab, katanya untuk mencegah pelecehan seksual. Pasti gara-gara kejadian dengan Vano yang memicu di mengambil keputusan berhijab.”
“Selalu ada hikmah dibalik semua masalah yang terjadi. Apa yang kamu lakukan mendorong Ima mengambil keputusan untuk menutup auratnya. Om tidak membenarkan apa yang kamu lakukan. Tapi akibat dari yang kamu lakukan ternyata memberikan keberanian bagi Ima untuk melakukan hal yang sejak dulu selalu om minta, berhijab.”
“Ima gadis baik, om. Tanpa aku melakukan itu, pasti dia sudah memikirkan kapan untuk menutup auratnya.”
Hanya anggukan kepala saja yang dilakukan oleh Farel, membenarkan apa yang dikatakan oleh Ervano. Merasa sudah cukup mendengarkan pembicaraan kedua orang tuanya dengan Ervano, Naima memilih naik kembali ke kamar. Dengan langkah pelan, gadis itu menaiki anak tangga dan kembali ke kamarnya.
Sementara pembicaraan di ruang tamu terus berlanjut. Setelah mengakui perbuatannya dan meminta maaf, kini saatnya Ervano mengatakan tujuan keduanya menemui Farel dan Ara.
“Om.. tante.. sebenarnya ada hal lain yang mau kubicarakan,” lanjut Ervano.
“Soal apa?”
“Begini, om. Aku sudah kenal Ima cukup lama. Di mataku Ima adalah gadis yang solehah, pintar dan menyenangkan. Aku memberanikan diri untuk melamar Ima pada om dan tante.”
Sontak Farel dan Ara saling berpandangan. Untuk kedua kalinya mereka dibuat terkejut oleh cucu hasil kolaborasi keturunan Juna dan Jojo ini. Farel melemparkan senyumnya. Sebenarnya dia sudah curiga dengan kedekatan anaknya dengan Ervano. Pasti ada udang dibalik bakwan.
“Kalau secara pribadi, om sih tidak keberatan. Om tahu kamu adalah anak yang baik dan bertanggung jawab. Tapi masalah sekarang ada di Ima. Dia masih marah sama kamu. Menurutmu apa dia mau menerimamu?”
“Yakin ngga sih, om. Tapi aku mau usaha aja dulu. Aku mau mendekati Ima lagi. Pertama untuk mendapat maaf darinya, kedua supaya dia mau menerima lamaranku. Aku janji om, kejadian kemarin ngga akan terulang lagi.”
“Kalau kamu serius sama Ima, om akan kasih kamu kesempatan. Om sarankan kalau kamu mau bertemu dengan Ima, jangan sendiri. Ajaklah adikmu atau sepupumu. Pertama untuk mencegah kejadian kemarin terulang. Kedua, itu untuk mengembalikan kepercayaan Ima padamu dan mau memaafkan kamu.”
“Siap, om. Terima kasih untuk kesempatannya. Mulai besok aku mau kembali berjuang.”
“Ima itu anaknya sedikit keras kepala. Gengsinya juga besar. Pasti agak susah buat ngebujuk dia. Kalau kamu udah mentok, kamu datengin aja nenek Rena. Minta nenek bantuin kamu,” tutur Ara.
“Terima kasih, tante. Aku bakal ingat saran tante.”
“Kakekmu kan banyak idenya juga, Vano.”
“Waduh kalau kakek Abi, idenya agak ekstrim. Kadang aku takut sendiri kalau minta ide dari kakek. Kalau nenek Rena masih bisa ditolerir lah.”
“Hahaha…”
“Kalau begitu saya permisi dulu, om. Terima kasih untuk waktu dan kesempatannya.”
“Hati-hati, Vano. Jangan ambil jalan yang sepi. Sekarang banyak begal berkeliaran kalau malam.”
“Iya, om. Aku pulang dulu. Assalamu’alaikum.”
“Waalaikumsalam.”
Ervano bangun dari duduknya. Sebelum pergi, pria itu mencium punggung tangan kedua orang tua Naima. Setelahnya barulah dia keluar dan langsung masuk ke dalam mobilnya. Kendaraan roda empat tersebut segera meluncur pergi.
Sepeninggal Ervano, Ara naik ke atas. Dia bermaksud menemeui anaknya. Tadi dia sempat melihat Naima mendengarkan pembicaraannya dengan Ervano. Setelah mengetuk pintu, wanita itu segera masuk ke kamar anaknya. Nampak anaknya sedang duduk melamun di atas ranjang sambil memeluk guling.
“Ima..”
“Iya, ma.”
“Tadi Vano ke sini.”
“Masa? Mau ngapain?”
Ara tidak langsung menjawab. Dia hanya tersenyum saja melihat reaksi sang anak. Sudah diduga kalau Naima akan berpura-pura tidak tahu soal kedatangan Ervano. Padahal gadis itu tadi sudah jadi cicak putih yang menguping pembicaraan.
“Dia habis minta maaf sama mama dan papa. Minta maaf karena udah bersikap kurang ajar sama kamu. Udah berani cium bibir kamu.”
“Ooh..” hanya itu saja jawaban yang keluar dari mulut Naima.
“Mama salut sama dia. Dia berani mengakui kesalahannya pada mama dan papa. Apa kamu tidak mau memaafkannya?”
“Memaafkan bisa aja, ma. Tapi melupakan itu yang susah. Dia udah seenaknya aja cium bibir aku. Itu namanya mencuri ciuman pertamaku. Kan harusnya yang cium bibirku itu suamiku, ma.”
“Makanya dia mau bertanggung jawab soal itu.”
“Tanggung jawab gimana?”
“Dia mau melamarmu.”
“Hah? Terus mama sama papa bilang apa?”
“Semuanya kami serahkan padamu. Mau kamu menerima atau menolak, keputusan ada di tanganmu. Vano memang sudah melakukan kesalahan, dan dia dengan gentle mengakui kesalahannya serta meminta maaf. Harusnya ini jadi bahan pertimbangan untukmu. Vano itu laki-laki yang baik, berasal dari keluarga baik-baik juga, sudah bekerja dan sudah mampu menghidupi istri dan anak-anaknya kelak.”
“Mama lagi promo ya?” sindir Naima.
“Hahaha.. ngga, sayang. Mama sedang mengatakan fakta tentang Vano. Kamu pikirkan baik-baik. Jangan sampai kamu mengambil keputusan yang salah dan membuatmu menyesal.”
Setelah mengatakan itu semua, Ara keluar dari kamar anaknya. Sebelum pergi, dia melihat pada Naima sebentar. Gadis itu nampak termenung meresapi semua yang dikatakan olehnya. Sebuah senyuman tersungging di bibirnya. Pelan-pelan wanita itu menutup pintu kamar, lalu kembali ke bawah.
🍄🍄🍄
Sekarang kita simak kisah Ervano sama Naima dulu ya..