Yang dikejar tak akan pernah lari. Walaupun tidak di cari namun ia akan hadir sendiri. itulah Jodoh!!
Siapakah yang akan menjadi jodoh Mila?
Dengan siapakah dia berdiri di pelaminan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shakar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ARISAN KELUARGA
Mila selalu tertidur ketika menunggu Gilang pulang dari kantornya. Gilang memang sudah beberapa hari ini lembur bahkan di hari sabtu ini karena dia sedang menyusun rancangan untuk proyek terbaru, ia ingin membuktikan bahwa rancangannya bisa terpilih oleh pihak investor dengan seadil-adilnya.
"Kenapa mamah ngebiarin Mila tidur di sofa sih?" tanya Gilang pada mamahnya.
"Siapa yang ngebiarin? orang dianya yang kekeh" jawab Bu Riris. "Udah sana bawa keatas kasian nanti badannya pegal"
Gilang kemudian mengangkat tubuh Mila yang tertidur di sofa untuk meletakkannya di tempat tidur. Setelah itu dia membersihkan diri dan mengganti pakaiannya dengan pakaian tidur lalu kembali turun untuk mengisi perutnya yang lapar.
"Kamu mau makan Gilang?" tanya Bu Riris seketika melihat Gilang turun menuju dapur.
"Iya aku gak sempat makan tadi" ucap Gilang melas.
"Untung masih ada lauk, mamah angetin dulu ya!!"
Gilang hanya menggangguk, sambil memeriksa pesan hapenya dari Mila yang belum sempat dibaca. Setelah kesepakatan kemarin mereka memang jadi intens saling mengirim pesan layaknya pasangan pada umumnya.
Setelah mengambilkan nasi, Bu Riris ikut duduk dan posisinya berhadapan dengan Gilang.
"Gilang" panggil mamahnya pelan mengingat dia masih mengunyah makanannya.
"Hm?"
"Mila tadi ngomong katanya gak usah mensahkan dulu pernikahan kalian nunggu 8 bulan lagi, mamah gak ngerti deh sama kalian? kesepakatan apa lagi sih kalian ini? kemarin gak ada sentuh fisik sekarang malah mau nunggu 8 bulan" ucap Bu Riris, Gilang ini ketika ada kesempatan selalu bercerita pada sang Mamah.
"Biarin aja mah, kita kan gak tau kedepannya kalo kita jodoh maka bagaimanapun kita pasti bakal tetap sama-sama kalau tidakpun ya berarti memang bukan jodoh" ucap Gilang sambil terus memakan makanannya.
"Sebenernya perasaan kamu gimana sih Gilang?" tanya mamahnya lagi penasaran.
Mendapat pertanyaan itu Gilang menghentikan gerakan mengunyahnya dia sebenarnya juga tidak tau perasaan seperti apa yang dia miliki untuk Mila. Dalam hatinya Gilang mengakui kalau dia sayang sama Mila, dia sakit hati kalo ada yang menyakiti Mila, akan tetapi apakah perasaannya ini layaknya perasaan sayang pada saudara atau hanya perasaan seorang sahabat lama atau memang Gilang menyayanginya sebagai wanita. Yang jelas kalo mengingat dalam 8 bulan kedepan Mila bisa saja pergi , ada perasaan sedih dan tak diterima yang tak bisa dijabarkan alasannya. Dan Gilang hanya mengangkat kedua bahunya sebagai jawaban atas pertanyaan sang Mamah.
"Laaah perasaan sendiri enggak tau, coba deh kamu sering pergi, jalan berdua untuk mencari tahu perasaan masing-masing, mamah rasa kalian berdua hanya belum tau dan mengerti hati kalian sendiri"
"Memangnya seperti itu yang mamah liat?"
Bu Riris mengangguk, "Ya gitu lah" ucapnya kemudian yang membuat Gilang malah tidak menjadi tidak yakin.
"Hemmmmm....gak jelas lagi aja" Gilang meletakkan sendok pada piring yang kosong, dia sudah menyelesaikan makannya. Kemudian berdiri hendak pergi ke kamar.
Setelah beberapa anak tangga yang dia lewat mamah yang masih berada di dapur kemudian berkata setengah berteriak "Besok ada acara arisan keluarga jadi jangan bikin janji, jangan kemana-mana"
"Tante Sonya juga datang?" tanya Gilang yang menghentikan langkahnya sebentar melongok ke arah dapur.
"Pasti, dia bahkan akan datang dari pagi"
Setelah mendengar ucapan sang mamah raut khawatir muncul diwajahnya, namun Gilang melanjutkan langkahnya, masuk kamar kemudian tidur disamping Mila.
Keesokan paginya, Mila sudah sejak subuh bangun membantu Bu Riris menyiapkan masakan bahkan ikut pergi ke pasar membeli bahan-bahan masakan dan juga bahan-bahan kue untuk acara arisan keluarga nanti siang.
Bu Riris sendiri yang memilih menu apa saja yang akan dimasak bahkan turun tangan langsung di dapur di bantu oleh beberapa asisten rumah tangga, bahkan membayar beberapa tukang masak di sekitar rumah untuk ikut membantunya karena harus memasak dalam porsi besar yang pastinya akan membuatnya kewalahan kalo tanpa meminta tenaga dari luar. Bisa saja Bu Riris memesan catering seperti yang diusulkan Pak Harja, tapi dia menolak dengan alasan lebih bangga dengan masakannya dan akan mendapat kepuasan tersendiri jika ada yang memuji masakannya.
Ketika jam menunjukkan pukul 9 pagi beberapa masakan juga sudah matang, tiba-tiba bel berbunyi.
"Gilang buka dong pintunya kita semua lagi sibuk" ucap mamah pada Gilang yang sedang duduk santai diruang keluarga.
Dengan berat hati dia pun beranjak dari duduknya segera menuju pintu, ketika pintu dibuka "Halo Gilang ponakan tante yang ganteng" yaaaa siapa lagi dia adalah tante Sonya.
"Halo tante" Gilang menyunggingkan senyumnya terpaksa. "Maaaah tante Sonya dah datang" teriaknya lalu sesegera mungkin untuk pergi meninggalkan tante Sonya yang entah membawa siapa disampingnya kemudian pergi menghampiri Mila dan Gladys yang sibuk menata kue dan buah-buahan.
"Siapa ka?" tanya Gladys ketika Gilang duduk disampingnya.
"Biasa tante Sonya" kata Gilang malas dan Gladys hanya beroh tanpa suara.
"Kenapa sih kalian kayak gak suka" tanya Mila yang penasaran pada tingkah kaka beradik ini setelah menyebut nama tante Sonya.
"Kamu pernah ketemu deh beberapa kali tapi belum pernah ngobrol kan? tar aja liat sendiri" ucap Gilang, Mila hanya memiringkan kepalanya karena bingung.
"Dia bawa siapa ka?" tanya Gladys lagi.
"Gak tau"
"Cantik" kata Mila dengan respon spontan ketika menoleh pada wanita muda yang duduk depan Bu Riris.
"Enggak ah biasa aja, menang putih doang" sangkal Gilang tak setuju.
"Iya, cantikan juga ka Mila" ucap Gladys yang membuat muka Mila bersemu merah karna malu.
"Apa sih, gak usah bohong deh jelas-jelas cantikan dia"
"Diiih beneran, menurutku lebih cantik ka Mila lebih enak diliyat manis gitu, iya kan ka Gilang?" tanya Gladys yang menoleh pada Gilang.
Gilang menjadi salah tingkah ketika kedua wanita itu menatapnya meminta jawaban. "Iya" ujar Gilang membuat Gladys tersenyum sedangkan Mila membelalakan mata tak percaya akan jawaban Gilang. "Cantikan Laudya Cintya Bela" lanjutnya kemudian.
Gladys yang awalnya tersenyum senang langsung cemberut ketika mendengar jawaban akhir dari Gilang begitu juga Mila.
Gak mungkin juga gue di puji, pikir Mila.
Gilang kemudian berdiri, "Dan kamu lebih cantik dari Laudya" ucap Gilang sambil berlalu pergi mengusap rambut Mila, membuat pipi Mila kembali bersemu merah karena malu.
"Cieeeeeeeeeeeee" sorak Gladys yang kegirangan sendiri mendengar kakaknya memuji kaka ipar didepannya, kemudian tertawa senang.
Disisi lain Gilang yang berjalan menuju ke belakang rumah bersandar dibalik tembok, "Sial gue yang muji gue yang deg degan" gumamnya sambil memegangi dadanya sendiri.
#SEMOGA BELUM BOSEN YAAAAK AMA CERITANYA,
TERIMA KASIH UNTUK YANG ME-LIKE TULISAN INI.