NovelToon NovelToon
Kisah Yang Belum Tuntas

Kisah Yang Belum Tuntas

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda
Popularitas:12.1k
Nilai: 5
Nama Author: Nuryanthi Sudarma

Pertemuan tak di sengaja di sebuah pesta menjadi jalan dua anak manusia menyelesaikan masalah yang pernah terjadi di antara mereka. Sayangnya pihak perempuan alias Luna merasa enggan untuk berurusan kembali dengan Adnan. Dia berusaha menjauh tapi Adnan tidak pernah membiarkan itu terjadi. Sebab apa yang ada di tangan Luna adalah sebuah anugerah yang dia tunggu selama ini.

Akankah kisah mereka berkahir manis atau tragis? Silahkan baca dan kasih komentarnya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuryanthi Sudarma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21

Seorang ibu akan melakukan yang terbaik untuk anak-anaknya. Tak peduli jalan yang ia tempuh akan begitu terjal demi membahagiakan mereka. Kadang mereka lupakan semua keluh kesah dari perjuangannya yang penting putra putri mereka tersenyum. Tak sekalipun dia mengeluh meski banyak tenaga dan air mata yang dikorbankan. Bibirnya selalu menyunggingkan senyum tulus padahal raganya terasa remuk redam. Semua mereka lakukan demi anak yang mereka besarkan.

Kadang anak-anaknya berpikir omelannya adalah bentuk rasa tidak sayang dari mereka. Menganggap mereka tidak adil, menganggap mereka pilih kasih. Mereka tidak melihat betapa banyaknya pengorbanan seorang ibu. Bahakan tak sedikit anak yang berani membentak, memarahi, memaki, mengusir, lebih parahnya membunuh hanya karena menganggap mereka adalah beban.

Begitu juga dengan Luna yang ditemani Adnan untuk menemukan putra mereka. Hari sudah gelap, adzan isya pun sudah lewat namun masih belum ada kabar daru orang-orang yang Adnan bayar. Dengan mereka memang akan sulit berkomunikasi saat dalam tugas. Katanya itu sangat mengganggu tapi hasilnya selalu memuaskan.

Meski begitu Adnan masih berkomunikasi dengan pihak kepolisian setelah Aas bersama suaminya membuat laporan.

Mobil Adnan berganti di sebuah rumah makan. Setelah mematikan mesin dia menolah pada perempuan yang sejak tadi diam namun air mata tak berhenti menetes di matanya.

Luna menoleh saat merasa Adnan tengah menatapnya.

"kita belum makan dari siang, berhenti dulu di sini gak papa kan?"

"Ya gak papa. Maaf ya aku membuat jadwal kamu berantakan."

"Hey," panggil Adnan lembut, "siapa yang ingin kena ujian seperti ini. Tidak ada. Tapi apa yang terjadi hari akan jadi sebuah pembelajaran untuk kita sebagai orang tua. Aku akan lebih aware lagi untuk membantu menjaga Vano."

"Turun yuk makan dulu, kamu juga pasti belum makan."

Kerasnya hati kadang akan luluh setelah mendapat ujian. Sadar sesama manusia saling membutuhkan, Luna mencoba berdamai dengan Adnan.

"Makan yang banyak, kita butuh tenaga untuk mencari Vano." Adnan geser makanan yang sudah dipesan sehingga lebih dekat dengan Luna.

Adnan benar, meski tak berselera tubuh tetap membutuhkan asupan tenaga. Kalau hanya meratap hingga lupa makan, bagaimana dia akan mencari Vano.

"Kenapa? makanannya gak enak? Mau pesan yang lain?" tanya Adnan saat Luna berhenti menyuapkan makanan.

"Aku takut Vano belum makan," balas Luna lemas.

"Kita merasakan hal yang sama, Luna. Semoga Allah selalu melindunginya."

Tak dipungkiri bahwa rasa cemas itu juga menyusup di hati Adnan. Hanya saja laki-laki lagi lebih pandai menutupinya.

***

Di tempat lain, sepasang manusia tengah berbaring bersisian mengatur nafas yang masih tersenggal. Sama-sama menatap langit-langit kamar.

"Jadi rencana untuk anak itu gimana? Apa kita akan meminta tebusan. Menukarnya dengan harta mereka?" tanya si pria.

"Itu terlalu mudah untuk mereka, aku yakin Adnan akan melakukan apa pun termasuk merelakan hartanya. Tapi itu tidak membayar rasa sakitku. Aku ingin mereka merasakan yang sama." Perempuan itu menoleh dan tersenyum sinis.

"Jadi?"

"Kita jual anaknya."

Perempuan itu tertawa jahat. Lalu bangkit hendak memakai kembali pakaiannya.

"Jangan di pakai?"

"Kenapa?" Si perempuan memicingkan mata.

"Malam belum berakhir, Nona. Satu putaran itu tidak cukup. Aku yakin kamu juga begitu." Pria itu mengedipkan mata genit.

Baju yang hampir dipakai di lempar kembali ke lantai. Si perempuan kembali merangkak ke atas tempat tidur.

"Maksudnya kamu tidak akan menemui istrimu?" Perempuan itu menyodorkan bagian dada yang langsung diraup oleh si pria.

Pria itu terkekeh kecil, "aku lebih puas bermain denganmu. Lagi pula dia hanya senang menghabiskan uangku. Bukan bermain denganku."

"Oh nasib yang malang," balas si perempuan dengan suara memelas. "Oke kita akan bermain lagi. Tapi aku ingin melihat anak itu dulu." Si perempuan kembali bangkit namun tangannya ditarik kembali dan diraup bibirnya.

"Lihat dari ponsel saja. Aku sudah masang cctv yang disambungkan ke sini." Pria itu mengambil ponsel yang berada di atas nakas. membuka file lalu terlihat lah Vano yang terlihat bosan. Tidur sebentar kemudian bangun lagi duduk di sisi tempat tidur.

Vano mendekat ke jendela, menyingkap tirai dan menatap bingung.

"Kamu belum melakukan apa-apa kan ke anak itu?" tanya si perempuan.

"Aku nunggu perintah kamu, Nona."

"Anak ini aset. kita bisa menghasilkan uang banyak dari dia."

"Caranya?" Si pria memicingkan mata.

"Lihat dia, kulitnya bersih, wajahnya tampan juga manis. Mereka yang punya fetis terhadap anak kecil pasti menyukai anak menggemaskan seperti ini untuk memuaskan mereka. Kita akan lelang."

"wooohh ide yang brilian. Aku suka perempuan cerdas seperti ini. Tahu gimana cara bersenang-senang dan menghasilkan. Gak sia-sia aku memilih kamu sebagai partner. Kamu pintar dalam segala hal, Sayang." Ucapnya kembali menyentuh titik sensitif si perempuan. "Tapi kamu juga harus hati-hati, Adnan pasti tidak akan diam saja. Dia pasti mencurigai orang-orang terdekatnya."

"Aman. Karena bukan hanya aku yang dekat dengan dia. Ada asisten pribadi, ada dua sekertaris. Masih banyak yang lainnya. Kita bisa mengkambing hitamkan salah satunya."

Kejahatan tidak selalu dari orang yang tidak dikenal. Kejahatan dari orang terdekat jauh lebih menyeramkan. Sekalipun ada pepatah darah lebih kental dari pada air. Akan tetapi di jaman sekarang tak sedikit kejahatan terjadi di lingkungan keluarga. Adik kakak saling membunuh karena berebut pacar atau warisan. Anak perempuan dirudapaksa orang terdekat dan masih banyak lagi. Kemewahan serta keindahan dunia menjadi sihir yang menggelapkan hati nurani.

Di mata orang yang tidak menyukai kita, hal baik yang dilakukan pun tetap terlihat salah. Sebaik apa pun Adnan, seroyal apa pun dia, tak akan mempengaruhi pikiran buruk yang telah mendarah daging. Pengkhianat akan tetap jadi penghianat.

Adnan yang baru saja menerima telepon tiba-tiba teringat sesuatu.

"Kenapa?" Luna menoleh saat Adnan tak kunjung menyalakan mesin mobil.

"Menurut kamu ini kebetulan bukan sih? Di hari yang sama, aku kehilangan tender karena data proyek ada yang mencuri. Di hari yang sama juga anak kita diculik."

Luna menerawang ke arah depan kemudian mengangguk setelah cukup lama berpikir. "Mungkin gak ya kalau dalang di balik ini semua adalah satu orang yang sama?" tanya Luna

"Mungkin, tapi dia tidak bergerak sendirian. Pasti ada orang yang memiliki kepentingan di balik ini semua."

"Siapa saja orang yang bisa mengakses data penting perusahaan?"

"Selain aku tentu dewan direksi, serta beberapa direktur."

"Sekertaris?"

"Kamu mencurigai mereka?" Adnan mulai menjalankan mobil.

"Semua orang bisa dicurigai bukan?" Luna merapat kardigannya. "Uang bisa merubah akal manusia dalam tiga detik, Pak," kekeh Luna.

Bukan fokus pada apa yang dia dengar, Adnan justru fokus pada Luna yang terkekeh kecil.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!