NovelToon NovelToon
Rumah Di Tengah Sawah

Rumah Di Tengah Sawah

Status: tamat
Genre:Romantis / Misteri / Horor / Tamat
Popularitas:3.7M
Nilai: 4.9
Nama Author: bung Kus

Selama 19 tahun, aku dan keluargaku mendiami rumah ini. Rumah di tengah sawah. Rumah nyaman khas pedesaan, jauh dari hingar bingar kota. Udara sejuk, malam yang tenang membuat aku betah berlama-lama di rumah.
Hingga akhirnya, kejadian-kejadian aneh menimpaku. Semakin lama kehidupanku semakin terusik. Ditambah lagi kisah asmaraku yang tidak semulus pipi Erni, gadis pujaanku. Ah, apa yang sebenarnya terjadi? Semua masih misteri.
Semua akan terbuka dan kalian akan menemukan satu persatu jawaban dari misteri yang ada, jika kalian mengikuti kisahku dari awal sampai akhir . . .

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bung Kus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Erni yang menjauh, Febi yang mendekat??

Akhirnya mata kuliah sosiologi kelar juga. Satu setengah jam berasa satu setengah abad. Kumis ku serasa memanjang sepuluh senti saking lamanya. Bukan karena mata kuliahnya ngebosenin atau dosennya garing. Melainkan karena satu setengah jam duduk di samping Erni dan dia tidak menggubrisku sama sekali. Seakan aku ini tidak ada.

"Err. . .emmm, bisa ngomong sebentar?" aku masih mencoba membangun obrolan dengan Erni sambil merapikan buku di mejaku.

"Lain kali ya Dann, aku lagi ada perlu hari ini", jawab Erni tanpa sedikitpun melihatku. Erni segera beranjak dari tempat duduknya dan pergi.

Kulihat Hasan beberapa bangku di depanku. Aku ingin menanyainya, dapat darimana dia foto aku berboncengan dengan Febi. Saat aku hendak memanggil Hasan, tiba-tiba Febi menepuk lenganku.

"Heii, jadi nraktir bakso nggak?", tanya Febi, masih dengan senyum manisnya.

"Ahh. iya. . .oke, gas lahh. .", jawabku sedikit tergagap.

Aku tunda mengintrogasi Hasan, aku harus memenuhi janjiku nraktir Febi dulu. Bagaimanapun aku berhutang budi padanya. Aku dan Febi berjalan meninggalkan ruang kelas, menuju kantin. Febi memesan bakso jumbo super pedas, sementara aku yang sebenarnya nggak mood untuk makan, memesan bakso campur biasa. Aku masih kepikiran dengan Erni. Erni terasa menjauhiku. Bukankah akhir-akhir ini dia terasa mendekat padaku? Bagaimana jika dengan gosip aku dengan Febi dia menutup dirinya untukku? Aahhhh, aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal.

"Dan? Daniii?? Heeiii. . .kamu kenapa?", Febi bertanya padaku sambil menguncang-guncangkan tanganku.

"Hehee. .nggak pa pa Feee. .", jawabku cengengesan.

"Lha kamu, makan sambil bengong, kesambet nanti susah aku", Febi menggerutu.

"Sorry Fee. . .lagi nglamun aja, soalnya tadi anak-anak sibuk nge gosipin kita, aku jadi nggak enak", aku menjelaskan sambil mengaduk ngaduk mangkok bakso ku.

"Haallllaaahh. . .gitu aja kok mbok pikirin, cepet tua cepet jelek lho dirimu nek kayak gitu terus", jawab Febi cuek.

"Iya juga sih. . .tapi emang e kamu nggak ke ganggu digosipin kayak gitu?", aku bertanya, masih mengaduk-aduk mangkok baksoku.

"Biasa aja", jawab Febi singkat.

Aku menyuapkan kuah bakso ke mulutku.

"Aku malah seneng kok di gosipin sama kamu", lanjut Febi, yang membuat aku tersedak. Terasa panas tenggorokanku, juga dadaku.

"Heemm, nggak usah pake keselek lah Dan, biasa aja, jangan dipikir serius", Febi mengelap bajunya yang terkena muncratan kuah bakso dari mulutku.

"Aku tahu kamu suka sama Erni, omonganku tadi becanda kok", Febi melanjutkan kalimatnya dengan sedikit terkekeh.

Aku mengelap mulutku.

"Sorry Fee nyemburr. . .duh, becandamu gak seru deh, sakit tenggorokanku, panas pedes", aku ngedumel, Febi tertawa.

Febi mengambil tissue dan dengan cepat, cekatan mengelap mulutku. Dadaku bergetar. Sial, apakah Febi sedang mempermainkanku?

"Aku bisa sendiri", aku mengambil tissue dan mengelap mulutku sendiri. Mungkin saat ini wajahku terlihat memerah.

"Eh Fee, ngomong-ngomong aku nraktir kamu hari ini, sebagai ucapan terimakasih karena sudah mengajakku ke tempat Lik Wo.

Berkat "pageran" Lik Wo uripku tentrem lagi iki. Nggak ada yang ganggu-ganggu lagi, nggak ada yang aneh-aneh lagi", ucapku kali ini dengan bersungguh-sungguh.

"Oke lah Dan, namanya temen itu memang harus saling bantu membantu, dan syukurlah sekarang mata mu iku nggak kayak panda lagi", Febi melingkarkan telunjuk dan ibu jarinya di kedua matanya. Aku tersenyum, sedikit tertawa.

Selesai makan, Febi pamit pulang lebih dulu, sementara aku ada jam siar di radio jam tiga nanti. Jadi aku masih malas beranjak dari kursi kantin, memandangi mahasiswa-mahasiswi yang berlalu lalang. Aku menarik nafas pelan dan menghabiskan sisa es teh ku yang terasa tidak manis lagi.

 

1
Alwa fikriah
ceritannya sangat bagus sekali,
Alexander
good job author.
Alexander
lalu bagaimana dengan nasib anak kembar wira yang perempuan ?
Alexander
ngasih sesajen itu juga wujud ketundukan kita pada kaum lelembut itu.
Alexander
kenapa malah jadi lagunya judika ??
Alexander
kalau mbah kadir adalah anak dari wira, bukankah seharusnya usianya masih di kisaran 58 tahun ?
Alexander
ternyata rumah tembok. dalam banyanganku rumah lek diran adalah rumah kayu.
Alexander
menuntut orang lain bersikap terbuka, dianya sendiri suka main kucing2an.
Alexander
tapi perjanjian seperti itu tidak bisa putus begitu saja. anak keturunannya punya dua pilihan. meneruskan persekutuannya dengan bangsa jin atau memutus mata rantai dengan rukyah dan taubat sungguh2.
Alexander
seperti perempuan saja, merajuk tanpa kejelasan alasan 😅
Alexander
perhatian seorang ayah itu dititipkan melalui istrinya. ibu dari anak2 nya.
Alexander
dan dani sempat melihat pak ndori melayani pelanggan dengan mobil merah kan ?
Alexander
titik terendah itu ada karena kamu sendiri yang menciptakannya. kok menyalahkan roda takdir.
Alexander
kaburnya pakai motor yang dibeli dengan uang bapaknya. hadeehh 😅
Alexander
pemeran utamanya berpikiran sempit. menyimpulkan segala sesuatu dari sudut pandangnya sendiri.
Alexander
tapi bukan dengan cara seperti itu kamu meminta penjelasannya. tidak punya tata krama.
Alexander
kalau yang sakit bukan erni, apakah dani tetap berpikir demikian ?
Alexander
paracetamol sirup ?
Alexander
kalau di sini hari keramatnya hari kamis wage malam jumat kliwon tolu. di novel sebelah hari rabu wage manahil seingatku.
Alexander
seharusnya masjid bisa jadi pilihan untuk beristirahat atau tidur, tapi banyak masjid yang sudah digembok selepas sholat Isya.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!