NovelToon NovelToon
REVENGE; The Mad Twin'S

REVENGE; The Mad Twin'S

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Kembar / Identitas Tersembunyi / Keluarga / Teen School/College / Crazy Rich/Konglomerat / Dendam Kesumat
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: QueenBwi

Ketika Arbiyan Pramudya pulang untuk melihat saudara kembarnya, Abhinara, terbaring koma, ia bersumpah akan menemukan pelakunya. Dengan menyamar sebagai adiknya yang lembut, ia menyusup ke dalam dunia SMA yang penuh tekanan, di mana setiap sudut menyimpan rahasia kelam. Namun, kebenaran ternyata jauh lebih mengerikan. Di balik tragedi Abhinara, ada konspirasi besar yang didalangi oleh orang terdekat. Kini, Arbiyan harus berpacu dengan waktu untuk membongkar semuanya sebelum ia menjadi target berikutnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon QueenBwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20

Malam itu, hujan masih turun tanpa henti— rintik tapi menusuk. Udara juga terasa dingin disekitar karena hujan yang tidak berhenti sejak tadi pagi. Langit seolah sedang ikut berduka, seperti hati Biyan. Ia berdiri menghadap gedung Rumah Sakit, menatap papan nama yang diterangi cahaya kecil lampu. Gedung itu nampak dingin, terlalu tenang untuk sebuah tempat yang baru saja "Membunuh" setengah dari jiwanya.

Ia melangkah masuk, masih dengan menggenggam ponsel Abhi erat ditangan kanannya. Benda itu kini terasa berat di genggamannya seolah sedang memikul besi ribuan ton.

Aroma khas rumah sakit yang dipenuhi antiseptik langsung menghantam inderanya. Tapi ia tetap melangkah masuk dengan langkah pasti. Koridor rumah sakit tampak begitu lenggang, mungkin karena hari sudah malam juga hujan deras yang tidak berhenti seharian ini. Perasaan janggal itu membuatnya tidak tenang. Pasti ada sesuatu yang terjadi dan sesuatu itu mungkin lebih besar dari dugaannya.

Biyan masuk ke dalam lift kosong dan memencet angka 7 dimana ruang kamar VIP berada. Sekali lagi, ia memutar Video Abhi diponsel itu. Jari-jarinya gemetar ketika video itu diputar sekali lagi. Wajah Abhi yang ketakutan, suara samar langkah kaki, lalu bisikan halus yang seperti memanggil namanya—semuanya terulang seperti mantra jahat yang menghantui pikirannya. Kali ini telinganya ia tajamkan agar bisa mendengar suara asing di belakang layar.

Suara itu jelas-jelas memanggil nama "Abhi". Bahkan raut wajah adiknya langsung berubah pucat ketika matanya memandang ke sosok tersebut.

Siapa?

Siapa sosok yang membuat adiknya ketakutan seperti itu?

Tidak mungkin Bagaskara dan kelompoknya karena mereka sudah di amankan polisi.

Apa masih ada orang lain yang terlibat yang tidak ia ketahui?

Apa ada yang ia lewatkan?

"Kalau memang ada yang terjadi dan disembunyikan, aku akan menemukannya untukmu, Abhi," gumam Biyan pelan seolah ia berjanji pada dirinya sendiri.

Pintu lift terbuka dilantai 7, ia keluar dan tidak mendapati siapapun di lorong lantai itu. Kakinya melangkah cepat ke arah kamar rawat Abhi yaitu kamar dengan nomor 2016. Ketika tepat di hadapan pintu kamar rawat itu, tiba-tiba saja Biyan merasa takut. Bagaimana jika memang telah terjadi sesuatu?

Tangannya mengepal, ia menarik napas dalam-dalam lalu membuka pintu kamar rawat itu dan masuk ke dalam. Ia tidak menyalakan lampu ruangan, meski begitu matanya masih bisa melihat dengan jelas setiap sisi ruangan karena pantulan cahaya bulan dari luar yang masuk ke dalam.

Keningnya mengerut.

Tempat tidur di tengah ruangan rapi—terlalu rapi. Tidak ada bekas pecahan kaca, tidak ada tanda kekacauan seperti yang dijelaskan dokter. Tapi jendela di sisi kiri... diganti baru. Masih terlihat segel pemasangan di bingkainya.

Memang benar sebelum kejadian ada terdengar suara pecahan kaca. Tapi kenapa tetap saja ada yang terasa aneh?

Biyan mendekati jendela untuk melihat lebih jelas. Menelusuri setiap sudut jendela, lalu melihat keluar. Tujuh lantai— lantai paling atas— siapapun yang terjatuh dari ketinggian ini, tidak akan selamat. Benar-benar langsung tewas ditempat.

Tiba-tiba saja Biyan bisa membayangkan raut wajah Abhi yang berdiri di kusen jendela dengan kaca yang sudah pecah. Tangan kurus itu menggenggam pinggiran jendela kuat seolah ia takut terjatuh. Tubuh kecil itu gemetar dengan isakkan yang terdengar lirih.

Lalu ketika wajah itu menoleh seolah melihat ke arahnya, Biyan tercekat dengan kedua mata membelalak. Ada raut ketakutan di mata adiknya— seolah meminta tolong agar diselamatkan.

"A-Abhi ...."

"Kak, tolong aku."

Tubuh itu langsung terjatuh kedepan begitu saja membuat Biyan langsung refleks bergerak dengan cepat ke arah jendela. Seperti berusaha menahan tangan Abhi.

"Abhi!"

Namun realita kembali menyadarkannya ketika tangannya hanya meraih udara kosong. Tidak ada jendela yang pecah juga sosok Abhi disana. Diruangan yang gelap itu, hanya ada Biyan sendirian dengan seluruh perasaan bersalahnya.

Kemudian lampu tiba-tiba saja menyala dan membuat ruangan menjadi terang. Biyan mengerjap lalu menoleh ke arah pintu, mendapati seorang perawat perempuan yang berdiri di sana.

"Maaf, ruangan ini sudah di bersihkan tidak boleh ada yang masuk tanpa ijin."

Biyan mengerjap sejenak. "Saya keluarga pasien yang meninggal karena di duga melompat dari ruangan ini."

Si perawat nampak sedikit terkejut lalu mulai mengenali wajah Biyan sebagai kembaran si pasien diruangan ini.

"Ah, ya. Saya ingat anda. Saya turut berduka cita atas kehilangan anda."

Hanya sebuah ucapan bela sungkawa tapi kenapa rasanya lebih menusuk dari ribuan jarum? Atau mungkin karena Biyan masih belum rela dan menerima fakta bahwa Abhi sudah tiada.

"Terima kasih."

Hening sejenak sebelum Biyan kembali menatap si perawat yang masih berdiri di tempatnya.

"Apa anda bertugas di lantai ini?"

"Iya, saya beserta tiga orang teman saya."

Kedua mata Biyan langsung menatap serius. "Hari itu ... Apa ada sesuatu yang aneh? Apapun ... Misalnya ada pengunjung yang datang menjenguk yang tampak berbeda?" tanya Biyan hati-hati.

Si perawat menggeleng pelan. "Maaf, saat kejadian saya sedang ijin cuti selama 4 hari dan saya baru mulai masuk lagi hari ini."

Tanpa sadar Biyan menghela napas kecewa.

"Oh, Rina. Sedang apa berdiri disitu?" suara perawat lain terdengar dan menegur si perawat yang masih berdiri di depan pintu kamar.

"Ada keluarga pasien yang datang," jawab Rina pada temannya.

Perawat yang lain mengerut lalu melihat ke dalam ruangan, matanya langsung menangkap sosok Biyan yang masih berdiri di dekat jendela. Wanita itu hampir memekik kaget karena ia salah mengira wajah Biyan.

"Ya, Tuhan! Ba-bagaimana bisa—"

Seolah paham, Biyan langsung meluruskan dengan cepat. "Saya kakak kembarnya."

Helaan napas lega langsung terdengar dari si perawat. "Maaf, saya kaget karena wajah kalian mirip sekali."

"Oh, teman saya ini yang berjaga di hari kejadian. Mungkin ia tahu sesuatu," kata Rina tiba-tiba sambil menunjuk temannya yang nampak bingung.

"Eh? Ada apa?"

Biyan langsung mendekati mereka dengan cepat. "Sebelum kejadian, apakah ada sesuatu yang aneh? Apapun ... Mungkin teriakan? Suara benda jatuh? Atau suara hantaman? Apapun."

Si perawat itu mengerjap kaget karena di tanya dengan pertanyaan tiba-tiba. Tapi ia tetap menjawab.

"Tidak ada yang aneh di hari itu."

"Sama sekali?"

"Ya. Semua berjalan normal seperti biasa."

Kening Biyan mengerut. "Lalu apakah ada seseorang yang tampak tak biasa datang menjenguk?"

"Seringnya hanya keluarga pasien saja yang datang."

Ini jalan buntu. Biyan sampai mendesah frustasi.

Tapi dilihat dari sisi mana pun, ini terlalu rapi untuk kasus bunuh diri.

"Ah, saya ingat ada seorang pria dewasa yang datang dan masuk ke ruangan ini. Saya ingat karena wajah pria itu tampan sekali."

"Seorang pria?"

"Iya, ia mengenakan pakaian formal sepertinya dari kantor. Oh, ada sapu tangan merah di sakunya yang cukup menarik perhatian karena ia nampak berkharisma."

Biyan ingin bertanya lagi lebih lanjut tapi ponselnya berdering. Nama sang ibu tertera dilayar membuat Biyan langsung menjawab panggilan itu cepat.

"Iya, bu?"

"Biyan, ini aku, Dean. Bibi pingsan, cepatlah."

Kedua mata Biyan langsung membelalak syok. "Aku segera pulang."

Lalu ia berlari keluar begitu saja tanpa mengatakan apapun lagi. Meski begitu, Biyan yakin ada sesuatu yang terjadi.

Cepat atau lambat, ia akan menemukan jawaban yang sebenarnya.

1
Ryo gunawan
dabel up lah thor
Helmi Sintya Junaedi
beruntung abhi punya kakak yg sangat menyayanginya,,, cari pelakunya sampai dapat balas kn perbuatan nya,,
CutiePie
next! 😊
CutiePie
curiga sih mereka pelakunya 😡
CutiePie
heh 😂😂
CutiePie
bguss
CutiePie
Ini bagus sekali!
Tidak sabar untuk selanjutnya!
semangat ya!
CutiePie
😍😍
CutiePie
😭😭
CutiePie
semangat!
QueenBwi
💜💜
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!