Kakek Abraham mempunyai cara licik untuk menjodohkan cucu ketiganya sekaligus cucu perempuan satu-satunya, Zemira Pieters.
Ia pura-pura mengajak Zemira taruhan. Taruhannya adalah jika Zemi bisa hidup tanpa fasilitas dari Kakek Abraham selama setahun, maka Kakek Abraham tidak akan lagi memaksa Zemi untuk menikah. Tapi jika Zemi tidak bisa, maka Zemi harus menikah dengan laki-laki pilihan Kakek Abraham.
Padahal tujuan sebenarnya Kakek Abraham membuat taruhan adalah untuk mendekatkan Zemi dengan laki-laki pilihan Kakek Abraham.
Tapi ternyata laki-laki yang ingin Kakek Abraham adalah laki-laki yang pernah menolak Zemi waktu SMA.
Akankah rencana Kakek Abraham berhasil?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Na_Les, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Briefing
Keesokan harinya.
Pukul 16.00
Seperti yang di perintahkan Tuan Abraham pada kedua cucu laki-laki, bahwa mereka harus sampai di kediaman Tuan Abraham sebelum jam tujuh malam, kedua kakak laki-laki Zemi kini sudah sampai di kediaman Tuan Abraham.
"Selamat datang Tuan Zander dan Tuan Zayden." sapa kepala pelayan.
"Kakek mana?" Tanya Zander.
"Tuan Abraham ada diruang baca, Tuan." jawab kepala pelayan.
Zander dan Zayden pun berjalan menuju ruang baca, wajah mereka terlihat tegang sekali, tegang bukan karena lelah dalam perjalanan melainkan tegang karena cemas, cemas kalau adik bungsu mereka membuat masalah yang besar.
"Apa Tuan Zander dan Tuan Zayden ingin minum teh? Atau kopi?" tanya kepala pelayan sembari mengikuti Zander dan Zayden dari belakang.
"Teh saja." jawab Zander.
"Aku ice kopi." jawab Zayden.
"Baik Tuan. Kalau cemilan?" tanya kepala pelayan lagi.
"Tidak usah." jawab Zander.
"Aku kripik kentang." jawab Zayden.
"Baik Tuan." jawab kepala pelayan.
Kepala pelayan pun berbelok ke arah dapur sedangkan Zander dan Zayden terus melangkah menuju ruang baca.
Sampailah Zander dan Zayden di depan ruang baca. Tanpa mengetuk pintu terlebih dulu, Zander langsung membuka pintu ruang baca.
Tuan Abraham yang ternyata sedang mengisi TTS sambil menunggu kedatangan kedua cucu laki-lakinya sontak menoleh kearah pintu.
Cepat-cepat Tuan Abraham menutup buku TTS nya dan menyelipkannya di dalam buku ensiklopedia.
Warbiasaaaah memang kakek yang satu ini.
"Haish kalian berdua ini, apa tidak bisa mengetuk pintu dulu sebelum masuk! Sudah tau jantung Kakek lemah." dumel Tuan Abraham.
"Masa hanya karena kami tidak mengetuk pintu, Kakek bakal terkena serangan jantung, sedangkan mendengar Zemi buat masalah jantung Kakek baik-baik saja." balas Zayden.
"Kau ini! Tidak ada bedanya dengan Zemi! Makanya adik mu seperti itu karena dia meniru mu!" balas Tuan Abraham.
"Setidaknya aku tidak pernah buat masalah, Kek." balas Zayden.
"Sudah, sudah, tidak usah meributkan hal yang tidak penting. Sebenarnya ada apa Kakek memanggil kami kesini? Masalah apa yang sebenarnya Zemi buat kali ini?" tanya Zander.
"Ah... iya, apa kalian berdua tahu kalau beberapa waktu lalu adik kalian itu pergi ke klub malam?" tanya Tuan Abraham.
Mata Zayden membulat lebar. Sedangkan Zander wajahnya memang terlihat datar tapi tangannya sudah mengepal dan tidak sabar ingin menjitak kepala adik bungsunya itu.
"Untuk apa dia ke klub malam? Apa dia mabuk-mabukan disana lalu membuat kerusuhan?" tanya Zander.
Tuan Abraham menggeleng.
"Lalu?" tanya Zayden.
"Entah, Kakek juga tidak tahu. Kakek juga tidak pernah bertanya pada dia tentang masalah ini." jawab Tuan Abraham dengan santainya.
"Apa karena Zemi pergi ke klub malam jadi berbuntut panjang dan berimbas ke perusahaan?" tanya Zander masih menebak-nebak.
"Tidak. Masalah itu sudah beres." jawab Tuan Abraham tanpa dosa. Padahal kedua cucu laki-lakinya sudah tegang, apalagi Zander yang emosinya sudah sampai di leher.
"Lalu apa gunanya Kakek memberitahu kami masalah ini?" kesal Zayden.
"Kakek hanya ingin cerita. Kalian berdua kan kakaknya jadi kalian berdua harus tau yang adik perempuan kalian lakukan." jawab Tuan Abraham.
"Kalian berdua tahu, waktu dia ke klub malam ada tiga orang mabuk yang mencoba melecehkan adik kalian, tapi kalian tahu kan setelah itu bagaimana nasib ketiga orang itu?" Tuan Abraham mulai bercerita.
"Um... babak belur." jawab Zayden.
"Tepat sekali, Zemi dan tiga orang itu dibawa ke kantor polisi. Dan kalian tahu, untuk pertama kalinya Kakek tidak perlu datang ke kantor polisi untuk menjadi penjamin." kata Tuan Abraham lagi.
Zander mengernyitkan keningnya.
"Maksud Kakek, kali ini Kakek membiarkan Zemi staycation di kantor polisi?" tanya Zayden.
"Kalau adik mu benar-benar salah, sudah pasti Kakek akan membiarkannya, ini kan dia memukuli tiga pria mabuk itu untuk membela diri." jawab Tuan Abraham.
"Lalu siapa yang menjadi penjamin?" tanya Zander.
"Ravindra Ganesha." jawab Tuan Abraham sambil mencondongkan wajahnya ke arah Zander dan Zayden yang duduk dihadapannya.
"Siapa dia?" tanya Zander.
"Anak Tuan Ryan Ganesha." jawab Tuan Abraham.
"Ryan Ganesha? Maksud Kakek pemilik rumah sakit Royal Hospital dan yayasan jantung Royal? Serta pemilik perusahaan alat medis itu?" tanya Zander.
Tuan Abraham menganggukkan kepalanya.
"Apa hubungannya Zemi dengan anak Tuan Ryan? Sampai-sampai dia mau menjadi penjamin Zemi?" tanya Zander.
"Sudah pasti mereka punya hubungan spesial Kak." jawab Zayden.
"Benar sekali! Mereka memang punya hubungan yang spesial." timpal Tuan Abraham.
"Mereka berpacaran?" tanya Zander.
Tuan Abraham menganggukkan kepalanya.
"Itu makanya Kakek meminta kalian berdua datang kesini." ucap Tuan Abraham.
"Kakek mau kalian berdua mengetes mental Ravin." kata Tuan Abraham lagi.
"Astaga Kakek!!! Kakek menyuruh kami datang kesini hanya untuk melakukan hal yang tidak bermanfaat seperti itu? Apa Kakek pikir kami ini pengangguran, hah?!" omel Zayden.
"Justru kalau kau tidak datang kesini, maka Kakek akan membuat mu menjadi pengangguran." jawab Tuan Abraham.
Zayden menghela nafasnya kasar lalu menyenderkan punggungnya disandaran sofa.
"Tapi kalian juga jangan terlalu keras menguji mentalnya, karena sejujurnya Ravin itu adalah laki-laki terakhir yang ingi. Kakek jodohkan dengan Zemi." ucap Tuan Abraham.
Mendengar itu Zayden kembali menegakkan punggungnya.
"Jadi sebenarnya Kakek sengaja membuat taruhan dengan Zemi, kalau dia sanggup bertahan hidup tanpa fasilitas dari Kakek, Kakek berjanji tidak akan menjodoh-jodohkan Zemi lagi, tapi kalau tidak Zemi harus mau di nikahkan oleh laki-laki pilihan Kakek. Lalu Kakek mengirim CV Zemi ke perusahaan Ravin agar Zemi bisa bekerja disana, yah niatnya untuk mendekatkan Zemi dengan Ravin, tapi siapa sangka ternyata Ravin adalah cinta pertama Zemi waktu SMA." ucap Tuan Abraham.
"Sebenarnya sih sama saja, sekalipun Zemi tidak bisa menyelesaikan tantangan yang Kakek berikan, Kakek akan tetap menjodohkan Zemi dengan Ravin, hanya caranya saja yang Kakek buat beda. Yah bisa dibilang ini perjodohan berkedok taruhan lah." kata Tuan Abraham lagi.
Zander menghela nafasnya kasar sambil menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar pengakuan Kakek-nya. Ada-ada saja ide Kakek, begitulah yang ada di pikiran Zander.
"Lalu kenapa Kakek masih harus menyuruh kami menguji mental pria itu kalau pria itu adalah pilihan Kakek?" tanya Zayden.
"Menurut buku ensiklopedia yang Kakek baca, untuk mengetahui seberapa besar cinta laki-laki pada pasangannya, si laki-laki harus diberi cobaan. Kalau si laki-laki sanggup, itu berarti cinta si laki-laki untuk pasangannya infinity alias tak terhingga." jawab Tuan Abraham.
"Sejak kapan ada buku ensiklopedia yang mengatakan seperti itu?" celetuk Zayden sambil memutar bola matanya malas.
"Jadi bagaimana, kalian bisa kan melakukan tugas mulia dari Kakek?" tanya Tuan Abraham.
"Bisa." jawab Zander.
"Tidak bisa." jawab Zayden.
Sontak Zander menoleh kearah Zayden dan memberi pelototan tajam pada Zayden. Bukan hanya Zander saja yang melotot tajam, Tuan Abraham juga memberi pelototan tajam pada Zayden.
Mendapat pelototan tajam dari Kakek dan Kakaknya apalagi pelototan tajam Zander sangat menakutkan, mau tidak mau Zayden pun menyangggupi permintaan Kakeknya.
"Baiklah, baiklah." jawab Zayden.
💋💋💋
Bersambung...
😂😅
lucu bangat thoor
menarik sekali karya mu ini
aku sangat suka