Cahaya tidak menerangi hidup seorang wanita yang terjebak dalam gelapnya kehidupan. Mati rasa mendeskripsikan kisah hidupnya.
Cahaya Jelita Jaharah harus hidup dipenuhi masalah demi masalah. Perjodohannya dengan putra bungsu keluarga Reynold menjadi satu-satunya jalan untuk mengungkapkan kematian sang ayah.
Berhari-hari ia harus hidup bersama jenazah ayahnya yang perlahan membusuk, memberikan bau menyengat.
"Ah~ inilah bau kematian." Itulah ucapan terakhir kali saat melihat ayahnya berada di dunia.
Sang ibu yang berselingkuh dengan tetua Raynold semakin menambah beban pada kehidupan Cahaya.
Zaydan Reynold seorang direktur di perusahaan Reynold adalah pria yang menjadi suaminya.
Mereka hidup bersama tanpa ada perasaan apa-apa, sampai kebenaran terungkap.
Keberadaan Fiona Ganezha yang merupakan tunangan Zaydan pun menjadi pelengkap cerita keduanya.
Bagaimana Cahaya mengungkapkan semuanya? Bisakah mereka jatuh cinta dan menghilangkan mati rasa itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agustine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAGIAN 21
Cahaya tidak menyangka jika permintaan sang suami menemaninya membeli pakaian, ternyata sekaligus membelikannya juga. Ia yang tidak biasa akan situasi tersebut, merasa canggung luar biasa, terlebih banyak pasang mata mengarah pada mereka.
Ia semakin dibuat tidak nyaman dan berusaha mengabaikan hal itu seperti biasa.
Para pegawai toko pakaian yang Zaydan pilih bahkan ikut dibuat senang dengan pasangan satu ini. Beberapa pembeli lain pun ikut senyum-senyum. Samar-samar Cahaya bisa mendengar bisikan demi bisikan orang-orang sekitar.
Mereka masih sama memuji dan mengatakan gemas akan kelakuan keduanya. Namun, di balik perlakuan Zaydan terhadap Cahaya hanyalah akal bulusnya saja.
Tidak ada cinta dalam ikatan pernikahan keduanya, seperti yang mereka katakan.
"Nona, pakaian itu sangat cocok sekali dengan Anda. Warna putih bisa dipadupadankan dengan apa saja. Seperti outer satu ini. Warna cokelat susu sangat pas disandingkan dengan gaun putih pilihan suami Anda, kan?" celoteh salah satu pegawai yang sedari tadi menemani keduanya berbelanja.
Cahaya yang masih bersitegang dengan Zaydan untuk tidak membelikan pakaian pun hanya melirik sekilas. Ia kembali mendongak mencari sepasang manik tengah memberikan tatapan hangat.
"Aku bilang, tidak usah membelikan pakaian apa pun," kata Cahaya kesekian kali dengan suara diredam.
Kedua matanya melotot sempurna sembari mendongak dan menahan kekesalan yang kian melanda.
"Sayang, jangan berkata seperti itu. Aku senagaja membelikan mu pakaian agar kita bisa pergi ke pantai bersama. Benar apa yang dikatakan pegawai ini, kalau gaun putih cocok dipadukan dengan outer apa pun," balas Zaydan senang menggodanya.
Cahaya mendelik tajam, tidak suka dengan panggilan dilayangkan Zaydan barusan.
Bahkan ia tidak segan merangkul bahu Cahaya layaknya pasangan sungguhan. Sang empunya hanya menghela napas lelah dan melirik serius suaminya.
"Anda bisa mencobanya dulu, Nyonya," tawar si pegawai menjulurkan pakaian tadi.
Tanpa mengatakan sepatah kata Cahaya menyambarnya cepat dan berjalan ke ruang ganti. Zaydan tersenyum lebar dan mengangguk pada pegawai wanita itu.
"Lihat, bahkan suaminya membelikan satu set pakaian dengan harga fantastis. Aku yakin pria itu pasti sangat menyayangi istrinya," celoteh salah satu pembeli yang sedari tadi menonton drama singkat tepat di depan mata.
"Benar, bahkan suamiku tidak seromantis itu... ah~ andai saja suamiku seromantis dia," jawab teman di sampingnya.
Zaydan yang tidak jauh dari keberadaan mereka kembali melebarkan sudut bibir. Ia merasa bangga pada diri sendiri, sebab sudah menyenangi hati istrinya.
Di ruang ganti, Cahaya termenung memandangi diri sendiri dari ujung kepala sampai ujung kaki di kaca besar tepat di depannya. Ia menghela napas lelah lalu mengalihkan perhatian pada gaun yang digantung tepat di samping kanan.
"Apa yang sedang pria itu mainkan? Apa dia mau main rumah-rumahan? Cih, sungguh kekanakan."
Meskipun celoteh demi celoteh terus keluar dari celah bibir ranumnya, Cahaya tetap mencoba memakai gaun yang dipilihkan sang suami.
Kurang lebih sepuluh menit kemudian, Cahaya keluar dari sana dan bertepatan langsung dengan Zaydan yang tengah duduk menunggu. Sedetik kemudian pandangan mereka saling bertemu satu sama lain menyelami keindahan bola mata masing-masing.
Bak ada magnet, kedua mata itu tidak beralih ke arah lain. Cahaya maupun Zaydan terpaku dan terus memandangi satu titik.
Adegan tersebut berlangsung beberapa detik, sampai pegawai yang membantu mereka menyadarkan lamunan.
"Wah, cantik sekali. Benar begitu kan, Tuan?" tanyanya pada Zaydan.
Sang direktur itu terperanjat dan mengangguk singkat mengiyakan.
"Em, cantik," balasnya singkat, entah sadar atau tidak satu kata itu keluar dua kali dari mulut seorang Zaydan untuk wanita lain.
Kini giliran Cahaya yang dibuat terkejut, dirinya sadar jika ucapan Zaydan barusan adalah tulus dari hati terdalam.
Tanpa mengatakan apa pun lagi, Cahaya kembali berbalik ke ruang ganti dan mulai melepaskan pakaiannya.
...***...
Drama singkat antara pasangan suami istri tadi, terhenti di tengah-tengah. Zaydan membeli beberapa set pakaian lagi untuk istrinya dengan perdebatan cukup panjang.
Hingga pada akhirnya Cahaya mengalah dan menerima semua pemberian sang suami. Karena bagaimanapun juga mereka adalah suami istri yang sah, jadi tidak salah jika Zaydan ingin memberikannya barang-barang. Namun, tetap saja bagi Cahaya itu adalah hal paling berat sepanjang hidup.
Saat ini mereka tengah berada di dalam mobil. Mulut keduanya kembali mengunci rapat dan sesekali Zaydan melirik pada Cahaya.
Kecanggungan atas kejadian beberapa saat lalu semakin kental terasa. Zaydan tidak menyangka jika candaannya tadi bisa berdampak sampai sekarang.
"Em... bagaimana kalau kita makan malam di luar? Sebagai-"
"Baiklah."
Cahaya menjawab perkataan Zaydan cepat membuat pria itu terkesiap. Ia pun membawa kendaraannya ke salah satu restoran mewah di pusat kota.
Ia senagaja membawa Cahaya ke sana untuk merasakan suasana berbeda.
Kedatangan mereka disambut hangat oleh para pelayan. Cahaya tidak menduga jika sang suami akan membawanya ke tempat ia bekerja.
Entah ada motif apa, Cahaya hanya mengikuti alur begitu saja. Ia tidak peduli dengan pandangan para pelayan nantinya.
"Silakan duduk."
Dengan sopan Zaydan menarik kursi untuk Cahaya. Diperlakukan dengan baik secara berkali-kali oleh pasangan hidup baru pertama kali ia rasakan. Meskipun begitu, tidak ada kebahagiaan yang Cahaya dapatkan, melainkan kekosongan belaka.
Eve yang pada saat itu tengah bertugas, terkejut melihat Cahaya bersama pria tampan nan rupawan. Ia langsung membawa buku menu dan mendekati keduanya.
"Silakan," ucap Eve meletakkan dua buku menu ke hadapan mereka.
Cahaya mendongak dan bertatapan secara langsung dengan rekan kerjanya. Eve mengangkat kedua alis singkat sembari tersenyum penuh makna.
"Saya pesan-"
Zaydan mengucapkan pesanan mereka di tengah-tengah Cahaya dan Eve saling pandang. Sadar ada pesanan, wanita bersanggul itu langsung menuliskan apa yang diinginkan sang pemesan.
Tidak lama kemudian, Eve meninggalkan meja mereka seraya membawa kembali buku menu. Cahaya memandangi kepergiannya dalam diam.
"Wanita itu pasti rekan kerjamu, kan?" tanya Zaydan sembari meneguk air putih.
"Em," jawab Cahaya singkat.
"Tenang saja, tidak usah khawatir. Kamu bisa mengatakan apa pun pada mereka tentang siapa aku bagimu. Aku tidak akan keberatan," ujar Zaydan menarik atensi Cahaya.
Sorot mata serius sang istri membuatnya terkejut.
"Tidak, aku akan mengatakan kalau kita hanya kebetulan bertemu dan tidak ada hubungan apa-apa. Karena bagaimanapun hampir semua karyawan di sini tahu, kalau kamu adalah pasangan dari aktor terkenal Fiona Ganezha."
Senyum pun terpendar di wajah cantik Cahaya. Sontak hal itu kembali membungkam Zaydan.
Ia berpikir, jika dirinya sudah salah mengatakan hal tadi. Di saat ia ingin menyela, makanan mereka pun datang.
Cahaya mencoba menikmatinya, walaupun ada perasaan tak nyaman menyapa diri. Ia merasakan tatapan semua orang, terutama para pelayan tepat mengarah padanya.
Berbanding terbalik dengan orang-orang di mall, di restoran itu tatapan menusuk begitu terasa. Sampai perkataan sarkas mereka pun samar-samar terdengar.
"Kamu lihat wanita itu? Bagaimana bisa dia makan di tempat seperti ini? Bukankah penampilannya sangat memalukan bagi pasangannya?"
"Wanita norak itu datang dari mana? Apa dia tidak tahu makan dengan elegan?"
"Sungguh kasihan, pasti prianya merasa terbebani."
"Apa yang dilakukan Cahaya di sana? Apa dia berlagak sok jadi orang kaya?"
Kini giliran suara salah satu pelayan terdengar jelas.
"Bagaimana bisa dia mengenal tamu VVIP kita?"
"Apa dia menggunakan semacam trik? Pasti seperti itu."
Semua kata-kata menyakitkan mereka hanya dibalas acuh tak acuh oleh Cahaya. Ia makan dengan lahap tidak peduli orang berkata apa.
Namun, sebaliknya Zaydan tidak suka mendengar semua perkataan mereka terhadap Cahaya. Dadanya seolah diremas tangan tak kasat mata membuat emosi kian menerjang.
lanjut thor /Ok//Ok//Good//Good/