Follow IG @Sensen_se
Tak kunjung hamil, Sofia harus menerima hinaan, cacian, gunjingan dari suami beserta keluarganya. Sofia tidak tahan, ia kabur setelah tepat dua tahun pernikahannya.
Reza Reynaldi—suami Sofia menganggap, wanita itu tidak akan pernah bisa bertahan dengan kerasnya hidup di luar sana. Karena selama ini, Sofia hanya menjadi ibu rumah tangga saja.
Siapa sangka, mereka dipertemukan lagi 8 tahun kemudian, dalam kondisi yang berbeda. Sofia menjadi wanita karir yang hebat didampingi seorang anak kecil berusia 7 tahun yang memiliki talenta luar biasa.
Penyesalan besar pun seketika merajai hati Reza, ketika tahu bahwa itu darah dagingnya. Ia bertekad untuk mengejar cinta Sofia lagi.
Akankah mereka bisa bersatu kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sensen_se., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21 : Cemburu
Belum sempat menjawab, derit pintu yang terbuka membuat mereka menoleh serentak. Melihat kedatangan Tama seketika membuat aliran darah Reza mendidih.
“Hai, Sof. Aku bawain makan malam nih,” ucap Tama membawa dua box makan malam.
“Harusnya nggak perlu repot-repot, Mas. Tadi siang aja masih kok,” sahut Sofia.
Tama mendudukkan diri di sebelah Sofia. Melemparkan tatapan permusuhan pada Reza yang juga tengah menatapnya tajam.
Sofia diapit dua lelaki tampan merasa sungkan, tetapi tidak tahu harus bagaimana. Apalagi, ia masih harus menyelesaikan pekerjaannya yang sempat tertunda hari ini.
“Makan malam dulu, nanti lanjut lagi kerjanya,” tutur Tama penuh perhatian. Merebut laptop di pangkuan Sofia dan menggantinya dengan box makanan.
“Mas, iih. Kurang dikit," protes Sofia.
“Iya, tahu. Kesehatanmu juga penting Sofia. Nanti siapa yang akan jaga Nino? Ayo makan dulu,” ajak Tama mengabaikan keberadaan Reza, yang sedari tadi menahan amarah.
Hatinya terasa panas melihat lelaki sok cari muka di depan istrinya. Namun saat ini, Reza belum berniat mengibarkan bendera peperangan. Karena memang masih pusing dan lemas.
Sofia hanya memakan sedikit, lalu kembali bekerja. Tama menanyakan perkembangan kesehatan Nino, Sofia menjawab seadanya.
“Sudah larut, Mas. Sebaiknya kamu pulang,” ucap Sofia pada Tama setelah lelaki itu terlihat mengantuk. Ia menguap beberapa kali.
“Aku mau nemenin kamu di sini,” elak Tama.
“Tidak perlu. Sudah ada ayah Nino di sini! Jadi silakan pulang saja," serobot Reza memicingkan mata.
"Mas, pulang ya. Besok kamu harus bekerja ‘kan? Terima kasih makan malamnya,” pinta Sofia lembut.
Dengan berat hati, Tama beranjak dan berpamitan pulang. Reza mendesah lega setelah kepergiannya.
“Makan, Mas.” Sofia menyodorkan kotak makannya pada Reza.
Reza membukanya, sekilas memang masih utuh. Pria itu menatap Sofia yang tampak serius berkutat dengan laptopnya.
Sofia terkejut saat ada sebuah sendok berisi makanan menyentuh bibirnya. Ia menoleh pada Reza yang mengangguk.
“Makan teratur, Sofia. Jangan sampai pekerjaan membuatmu abai dengan kesehatanmu. Kamu nggak mau ‘kan Nino sedih?” ucap Reza.
Sofia hendak merebutnya, tetapi Reza menjauhkannya. “Kamu bisa sambil kerja. Aku suapin,” sambung pria itu lembut.
Ditinggal seharian, memang membuat pekerjaan Sofia menggunung. Tak ingin banyak berdebat, ia pun menerima suapan demi suapan Reza, bergantian menyuap ke mulutnya sendiri. Hingga tanpa sadar, makanan pun habis.
Namun tak berapa lama, Sofia justru mengantuk. Ia menguap beberapa kali. Berniat beristirahat sejenak, menyandarkan punggung hingga wanita itu tertidur.
Reza meraih laptop di pangkuan Sofia perlahan, lalu merebahkan wanita itu agar posisinya nyaman. Sejenak memperhatikan Sofia yang terlelap. Rasanya ia semakin jatuh dalam pesona istrinya.
“Semoga suatu saat nanti, kamu bisa memaafkanku, Sofia,” gumam Reza duduk dilantai.
Ia mengamati kinerja Sofia. Mempelajarinya sejenak, lalu tangannya dengan terampil bergerak lincah di atas keyboard menyelesaikan pekerjaan wanita itu. Ya, karena memang ia sendiri menguasainya, jadi tidak begitu kesulitan.
...\=\=\=\=ooo\=\=\=\=...
Sayup-sayup suara cekikikan menyelusup pendengaran Sofia. Ia mengerjapkan mata ketika silaunya cahaya matahari menembus gorden yang menjuntai ke lantai. Ia tertidur lagi usai menjalankan ibadah subuh.
Sofia terdiam, mengumpulkan kesadarannya terlebih dahulu. Manik matanya menangkap Nino yang sedang bersenda gurau dengan Reza.
Pria itu sudah rapi dan tampak segar, bahkan sudah berganti baju. Di kedua tangannya, ada boneka yang seolah tengah memainkan peran untuk menghibur Nino. Ia memang keluar pagi-pagi sekali. Dan di rumah sakit tersebut ada minimarket yang buka 24 jam. Kebetulan menjual barang-barang lengkap.
“Nino, mau nggak main sama papa terus? Sesuai janji, nanti kalau kamu sembuh kita bakal kolaborasi lagi. Nanti Papa bawa pianonya ke sini,” ucap Reza.
Nino mengangguk bersemangat, “Mau, Pa!” serunya.
Tak berapa lama, Reza tampak sedang menerima telepon. Wajahnya terlihat serius.
“Iya, Ma. Udah, kemarin minta tolong dokter.”
“.....”
“Hasilnya nunggu satu sampai dua minggu lagi, Ma. Lagian buat apa si tes DNA segala? Nino itu memang benar anakku!” seru Reza.
Sofia mendecih, ia beranjak berdiri lalu mendekati Reza. Tatapannya terlihat begitu tajam. Hingga Reza mematikan telepon sepihak. Gugup dan panik nampak jelas dari raut wajah tampannya.
"Keluar sekarang juga!" titah Sofia menunjuk ke arah pintu.
Bersambung~
buah jatuh gakjauh dati pohon ny
itu orng stress yggaknerima kenyataan 😃😃😃
mirissssss
jijik melihat istri yg menutuo aurat ny.
maalah bangga dengan yg memperronton kan tubuh ny pada orang lain.