Apa salah jika memiliki kakak yang super posesif, ini tidak boleh itu tidak boleh?
Bahkan Papa dan Mama juga tidak pernah membatasi apa yang kulakukan. Hampir semua laki-laki yang mendekatiku akan mundur secara perlahan karena kakak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Biru Blerina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Possessive Brother| 21
Kupu-kupu yang terbang bebas kesana-kemari itu, Aletha ingin sepertinya. Terbang melambaikan sayapnya dengan tenang menghampiri teman-temannya, hinggap di bunga yang sudah mekar.
"Andai aku seperti kupu-kupu, tetapi sayangnya aku seperti kucing rumahan.Dimanja tetapi terkurung". Gumamnya lembut penuh harapan, sejak selesai ujian gadis itu hanya diam dirumah dengan buku-buku tebal yang diberikan oleh Elang dan ayahnya.
Hari ini, Aletha berencana untuk pergi jalan-jalan. Mungkin hanya sekedar pergi ke taman kompleks, mengusir kebosanan. Sampai hari ini, Elang belum juga bertanggung jawab dengan ponselnya yang dibanting. Ia ingin sekali bertemu dengan Arka, bagaimanapun dia sahabat satu-satunya yang Aletha punya. Sudah sekitar tiga minggu, ia tidak tahu kabar Arka.
Jika saja ponselnya tidak dibanting oleh Elang, mungkin ia akan sering bertemu dengan Arka. Bukan hanya berteman dengan tumpukan buku-buku yang membosankan, atau mengintip kemesraan kedua orangtuanya.
"Loh kamu mau kemana?", Renata yang bertanya. Putrinya terlihat rapi, dan membawa tas kecil. Aletha tersenyum manis, ia berniat untuk merayu ibunya agar diperbolehkan pergi sendiri. Lebih baik menyendiri di taman.
"Itu ma, Aletha mau ke taman kompleks. Boleh ya? Bosen ma dirumah terus."
"Iya, kamu sendiri?".
Aletha mengangguk, dan menyalami ibunya. "Papa mana ma?".
"Dikamar lagi istirahat, berangkat aja tidak apa-apa. Nanti mama kasih tau papa".
"Makasih ma", gadis itu berlalu. Taman kompleks yang Aletha maksud adalah sebuah lahan kosong yang hampir setiap pinggirannya ditanami bunga, taman yang dulu pernah menjadi saksi pertengkarannya dengan Elang. Setiap datang Aletha akan memilih tempat duduk yang paling dekat dengan bunga pukul empat, sepertinya kali ini ia juga akan kesana. Ia memandangi kupu-kupu yang terbang bebas, gadis itu termenung, ia ingin sekali sebebas kupu-kupu. Hinggap di mahkota bunga yang warna-warni indah dan dapat pergi sesuka hati, tanpa harus mengkhawatirkan dimarahi atau dihukum oleh kakaknya.
"Ini kamu kan Al?".
Gadis itu menoleh, mengedarkan pandangannya untuk mencari sumber suara yang tadi ditangkap oleh indera pendengarannya. Aletha sangat hapal dengan suara berat itu.
"Arka, kamu ngapain disini?". Laki-laki itu menggaruk kepalanya dan tersenyum kikuk, ada yang berubah dari penampilan Arka sekarang. Ia terlihat lebih dewasa dengan setelan suit yang membungkus tubuhnya, dan Aletha suka itu.
"Arka!."
Setelah memandanginya cukup lama, kini gadis itu berlari dan langsung menubruk dada laki-laki yang ia rindukan. Memeluknya dengan erat, seakan tidak ingin berpisah dengan sahabatnya itu. Arka pun melakukan hal yang sama , mengangkat tangannya dan merapatkan tubuhnya dengan Aletha. Sudah tiga minggu lamanya mereka tidak saling jumpa, ada rasa rindu yang begitu menggebu ketika berhasil memeluk gadis yang selalu ia temani saat sekolah.
Katakanlah jika dirinya pengecut kali ini, hanya berani menunggu gadis itu datang ke taman yang hampir setiap sore ia datangi. Arka tidak ingin membuat Aletha semakin terkekang oleh kakaknya yang super galak itu. Jadi, lebih baik ia menunggu Aletha datang dengan sendirinya ke tempat ia menunggu, apalagi nomor ponsel Aletha juga sudah tidak bisa dihubungi lagi.
"Nungguin tuan putri datang kesini, nggak taunya baru hari ini. Aku sudah nunggu hampir setiap hari loh, Al". Katanya dengan santai, lalu ikut duduk di bangku yang berada disebelah Aletha.
"Aku kangen kamu, Ka. Kenapa nggak ke rumah?".
"Aku tau. Kamu nya saja susah dihubungi sudah seperti tuan putri saja. Kalau ke rumahmu, palingan yang ku dapat hanya bogeman dari kakakmu itu". Aletha meringis, ternyata Arka sudah begitu hapal dengannya. Tetapi bagaimanapun yang dikatakan Arka itu tepat sekali, apalagi sekarang sudah tidak bisa keluar rumah untuk alasan belajar kelompok.
"Haha, tapi kamu? Sejak kapan seorang Arka jadi penakut?".
"Bukan takut namanya, tapi strategi!". Aletha tertawa geli, ia tahu yang dikatakan Arka hanyalah sebuah alibi. Tidak mungkin seorang badboy seperti Arka akan takut dengan satu bogeman dari Elang, sementara hampir setiap hari dimasa sekolahnya ia beradu tinju dengan musuh-musuhnya.
"Eh ada satu lagi, kamu keliatan beda banget deh Ka!".
"Iya dong, tambah cakep kan?", Arka tersenyum singkat, dengan lagak sombongnya ia berdiri menampilkan ketampanannya yang sekarang. Rambutnya sudah dipotong rapi, tidak awut-awutan seperti biasanya. Berwarna hitam legam, bukan dicat merah yang tampak seperti api dan satu lagi tidak dibiarkan memanjang.
"Tapi tetap saja narsis, dipuji dikit langsung sombong juga".
"Itu namanya ciri khas seorang Arkan Atmadja tau!".
Mereka berbagi cerita tentang masa liburan yang begitu panjang dan membosankan itu, Aletha yang harus belajar ekstra untuk ujian masuk universitas. Sedangkan, Arka harus mulai belajar menjadi seorang pemimpin diperusahaan ayahnya.
_____________________________________________
Rapat yang kesekian kalinya membuat Elang seperti akan mati kebosanan itu, berakhir dengan keputusan Elang yang sepakat dengan para orangtua yang saling berdebat. Sejak Gean memukulnya karena wanita yang sangat tidak disukai oleh Elang, ia harus menghadiri rapat atau acara pertemuan lainnya sendiri. Gean sepertinya sengaja memanfaatkan situasi kemarahannya dengan membuat Elang mengerjakan pekerjaannya sendiri, Gean bahkan tidak segan memberikan tugas yang lebih banyak lagi.
"Pak, rapat yang dua jam lagi. Dengan perusahaan milik Atmadja".
"Astaga, apakah tidak bisa ditunda lagi?".
Reza sekretarisnya menggeleng pelan, membuat Elang geregetan. Sepertinya ia ingin segera mengakhiri hari ini, hanya duduk diam dan mendengarkan para orangtua berbicara membuatnya jenuh.
"Anda sudah dua kali menundanya pak, mereka tidak bisa menunggu lagi".
"Hah, baiklah-baiklah. Pesankan aku makan siang, jangan sampai terlambat!".
Elang pergi kembali ke ruangannya, ternyata tanpa Gean ia akan sangat kacau. Tumpukan berkas-berkas yang masih belum ia periksa, juga kumpulan e-mail yang Reza kirimkan. Mungkin jika terus seperti ini, Elang akan cepat tua. Belum lagi sekarang ia lebih sering lembur dan kehilangan waktu untuk bertemu dengan Aletha.
"Awas saja Gean, akan ku balas nanti."
Laki-laki itu duduk di kursi kuasanya, ingin sekedar melepas penat. Ia meraih ponselnya miliknya lalu menekan ikon panggilan pada nama 'kelinci kecil' yang tertera pada layar ponselnya, sudah beberapa kali tetapi tidak bisa tersambung. Membuatnya semakin gemas, sebelum ia berhasil membanting ponselnya yang sama sekali tidak bersalah itu. Ia teringat jika dirinya belum sempat mengganti ponsel Aletha yang waktu itu ia rusak.
"Astaga, bagaimana aku bisa lupa dengan ponsel baru Aletha. Pantas saja tidak bisa tersambung!".
Akhirnya ia menghubungi Reza melalui telepon yang berada diatas meja, menyuruh Reza untuk segera datang ke ruangannya yang selalu terlihat rapi dan bersih tanpa noda kecil pun.
Bunyi ketukan pintu mengalihkan perhatian Elang yang sibuk dengan kertas-kertas mengesalkan itu, setelah Elang berdeham barulah Reza muncul dari balik pintu.
"Ada apa pak?".
"Pergilah beli ponsel keluaran terbaru, sekalian dengan kartu perdana juga. Dan, jangan barang kw!".
Reza mengangguk patut dengan segala perintah atasannya, sementara Elang memakan makan siangnya yang baru saja diantarkan oleh Reza juga. Sementara waktu Elang akan memanfaatkan sekretarisnya yang sangat bisa diandalkan, selagi ia memikirkan cara untuk membalas saudara kembarnya yang sangat menyebalkan itu.
jangan ada pelakor lah....
tak masuk di akal????
ini aku yg bodoh apa thoor nya yg ngelantur????