Seorang dokter tampan yang jatuh cinta pada pandangan pertama ke gadis kampung dengan usia yang beda jauh ??
Bagaimana kisah cinta mereka? Ikuti terus cerita ini sampai tamat, oke ...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alarice, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tinggal pilih
Hari minggu tiba. Seperti janjinya kemarin, hari ini Andhara mengajak ibu dari Julio untuk berjalan – jalan mengelilingi desa. Bu Lestari nampak sangat senang berkeliling dengan Andhara karena Andhara selalu bisa membuatnya tertawa lepas. Mulai dari perkataan – perkataan absurdnya, pecicilannya, dan masih banyak lagi yang lainnya.
“ Jadi selama ini, ibu kamu selalu manggil kamu entong ? “ tanya Bu lestari sambil terkekeh.
Andhara mengangguk sambil cemberut. “ Kebangetan kan ya bu ? “
“ Bunda jadi pengen ketemu sama ibu kamu. Pengen kenalan. Emang gimana ceritanya kok ibu kamu selalu manggil kamu entong ? Padahal anaknya cantik gini loh. “ ujar Bu Lestari sambil mengusap rambut Andhara.
“ Dulu emak ngidam pengen punya anak laki, bu. Eh, nggak kesampaian. Lahirnya malah Dhara. “ ujar Andhara.
“ Oh, jadi begitu… “ sahut bu lestari sambil manggut – manggut.
“ Oh, iya. Bunda jadi lupa. “ ucap bu lestari saat ia teringat akan sesuatu. “ Bunda mau tanya deh sama Dhara. “
“ Tanya apa bu ? Kalau mau tanya – tanya sama Dhara teh tanya aja. Apapun pasti Dhara jawab. Asalkan ibu tanyanya bukan soal trigonometri. Dhara nyerah, bu. Susah. “ sahut Andhara sambil geleng – geleng kepala. Dan Bu lestari menyambutnya dengan kekehan renyahnya. Selalu saja anak itu bisa membuatnya tertawa.
“ Kamu tenang saja. Bunda bukan mau nanya soal pelajaran. Bunda juga dulu waktu sekolah nggak begitu suka sama matematika. Susah. Rumusnya kebanyakan. Dulu kalau ada PR pasti di kasih contekan sama ayahnya Julio. “ cerita bu lestari flashback.
“ Loh, jadi bapak sama ibu, teman saat masih sekolah ? “ tanya Andhara.
“ He em. “ sahut Bu lestari sambil mengangguk. “ Kami pacaran sudah mulai semenjak SMA kelas 2. Pacaran lumayan lama. Sampai kami lulus kuliah S1, terus nikah deh. “ ceritanya sambil menerawang pada jaman dulu. Iapun tersenyum mengingatnya.
“ Wuahhh… Ibu sama bapak hebat. Dhara acungin jempol buat kesetiaan kalian berdua. Dhara juga jadi berharap, besok kalau ketemu jodoh, pengen awet kayak bapak sama ibu. “ sahut Andhara sambil tersenyum dan berangan-angan.
“ Amiin. Ibu doa’in selalu buat kamu, sayang. “ sahut Bu lestari sambil membelai puncak kepala Andhara. “ Oh iya, ibu mau tanya. “ Bu lestari menjeda omongannya untuk mengambil nafas. “ Kamu… suka sama anak bunda Julio ? “ tanya beliau dengan hati – hati.
Andhara tersenyum tipis sambil menunduk. “ Siapa sih bu, yang tidak suka sama pak dokter? Semua perempuan kalau di tanya pastilah jawabannya sama. Semua pasti suka sama pak dokter. “ jawab Andhara sambil menengok ke arah Bu Lestari dan tersenyum.
“ Pak dokter Julio itu udah ganteng, mapan, pokoknya idola deh bu di kampung sini. Cuma satu aja sih yang kadang bikin keki. Orangnya dingin kayak gunung himalaya. “ kekeh Andhara.
“ Kalau misalnya kamu berjodoh sama dia gimana ? Kamu mau nggak ? “ tanya bu lestari.
Andhara kembali tersenyum. “ Siapa juga sih bu yang dengan bodohnya menolak berjodoh dengan laki – laki setampan pak dokter? “ jawab Andhara yang memang usianya yang masih labil, dan melihat sosok lawan jenis hanya dari wajah tampannya saja.
“ Tapi Dhara cukup tahu diri kok bu. Kan terlalu tinggi tuh kalau bermimpi berjodoh sama pak dokter. Pak dokter itu terlalu tinggi dan jauh untuk Dhara raih. Pak dokter kan nggak mungkin tuh bu, suka sama Dhara. Apalagi sampai berjodoh sama Dhara. Dhara mah apa atuh bu? Cuma anak piyik, dekil, ndeso, kampungan. “ kekeh Andhara terdengar getir.
Andhara tahu diri sih. Dirinya memang menyukai Julio. Tapi setelah ia melihat sosok Karen, ia yang awalnya rasa percaya dirinya setinggi gunung Selamet, tiba – tiba merosot sampai ke dasar jurang yang terdalam. Sakit sih memang. Tapi mau bagaimana lagi. Daripada ia harus kembali terjatuh sampai ke dasar lautan . Makin sakit kan tuh. Udah engap lagi nggak bisa berenang.
.
.
.
“ Yah, bunda kayaknya suka deh sama Andhara. Anaknya polos, baik, nggak suka neko – neko. Bunda beneran pengen punya anak perempuan kayak dia. Di dekat tuh anak, bunda berasa selalu pengen ketawa dan tersenyum. Dia tuh kayak multivitamin buat penambah imun. Bunda yakin nih, kalau Julio juga pasti akan bahagia punya istri kayak dia. “ ucap Bu lestari ke suaminya.
“ Mumpung kita masih ada di sini, gimana kalau sekalian aja kita lamar Dhara buat Julio ? Biar tuh anak nggak ngelak terus kalau di suruh nikah. “ usulnya.
“ Bunda, bukankah sebaiknya kita tanya dulu sama anak – anak ? Kan mereka yang mau jalaninnya. “ usul pak Siswo.
“ Bunda udah tanya ke Dhara. Dia juga suka kok sama anak kita. Dia juga berharap bisa berjodoh sama Julio. “ sahut sang bunda. “ Dan ayah juga udah denger sendiri Julio gimana. Kan dia sendiri yang ngenalin ke kita kalau Dhara itu calon istrinya. Berarti dia juga suka kan tuh sama tuh anak? Tunggu apa lagi yah ? Nunggu Julio berubah pikiran ? “ sungut Bu Lestari. “ Kalau bunda sih ogah. Bunda pengen gercep buat dapet mantu. “ lanjutnya.
“ Ya udah, besok kita belanja dulu. Masak iya, kita mau lamar anak orang buat jadi mantu kita, tapi kita datangnya dengan tangan kosong? “ ujar Pak siswo pada akhirnya.
Bu Lestari tersenyum, lalu mengecup pipi kanan Pak Siswo. “ jadi makin cinta deh sama ayah. “ ucapnya sambil mengerlingkan matanya.
“ Kalau ada maunya aja, ayah di sayang – sayang… “ protes pak Siswo.
“ Harus itu. Wajib! “ jawab Bu Lestari dan membuat Pak Siswo berdecak. “ Nanti sepulangnya Julio, ayah bicara sama dia tentang rencana kita. “
“ Assalamualaikum. “ sapa Julio.
“ Waalaikum salam. Wah, panjang umur nih anak. “ jawab Bu Lestari.
“ Kenapa emangnya bund ? Lagi pada ghibahin Julio ya. “ tanya Julio sambil menyalami tangan kedua orang tuanya.
“ Iya. “ jawab sang bunda. “ Yo, bunda sama ayah berencana besok mau ke rumah Dhara. “ lanjut beliau.
“ Mau ngapain bund ? “ yanya Julio.
“ Mumpung kita masih di sini, kita mau lamar Dhara buat jadi istri kamu secepatnya. “ jawab sang ayah.
“ Ha? Seriusan ? “ tanya Julio meyakinkan. Dan pak Siswo juga Bu Lestari mengangguk penuh keyakinan bersamaan.
“ Tapi yah, bund. Dhara masih sekolah. “
“ Bentar lagi juga lulus. Asalkan kamu bisa menahan diri buat nggak sentuh dia dulu, nggak masalah kalian nikah meskipun dia belum lulus sekolah. “ sahut bunda enteng.
“ Bund, nggak segampang itu. Kalau pihak sekolah tahu, gimana ? Dhara bisa di keluarkan dari sekolah loh. Kan kasihan. “ sahut Julio.
“ Tinggal kita rahasiain aja. Kalian nikahnya diam – diam. Cukup mengundang pak penghulu, lalu pak RT, lalu walinya si Dhara, terus kita bertiga. Udah, beres. “ sahut sang bunda.
“ Tapi bund – “
“ Jangan bilang kamunya yang nggak siap. Kemarin kamu sendiri yang mengenalkan Dhara sebagai calon istri kamu sama kita. “ kini sang ayah yang bersuara. “ Jadi, kamu harus mempertanggungjawabkan tiap omongan kamu. “ lanjut beliau.
Julio meraup wajahnya kasar. Niat hati kemarin menggoda Andhara. Eh, tak tahunya malah jadi kebablasan gini. Sekarang bagaimana coba ? kalau di tanya soal hati, Julio sih seneng – seneng aja di suruh nikahin Andhara. Tapi gimana sama Andharanya ? Apa anak itu juga mau menikah sama dia ? Apa anak itu juga punya perasaan yang sama seperti dia? Hati Julio di penuhi banyak pertanyaan.
“ Udah, nggak usah banyak mikir. Besok, ayah sama bunda mau ke kota yang dekat sini, mau belanja dikit buat buah tangan kita ke rumah Andhara. Kamu harus ikut. Sekalian kita tentuin tanggalnya. “ putus sang bunda.
“ Bunda – “
“ Kamu tinggal pilih, nikah sama Andhara, apa bunda nikahin kamu sama Karen ? “ ketus sang bunda.
bersambung
masih aktif kah di NT?
cowok gak ada komitmen & batasan Julio itu
coba kalau dhara yang kayak gt, pasti gak bakal terima
ketawa terus baca nya thor.../Joyful/