Pernikahan yang diawali dengan perjodohan dan tak saling cinta, biasanya berakhir dengan sebuah cinta diantara keduanya. Namun ternyata apa yang Salma alami berbeda dengan kisah romansa pada umumnya.
Dua puluh tahun menikah dengan Aidil dan dikaruniai dua orang putra ternyata tak membuat Aidil bisa membuka hatinya untuk Salma. Hingga di suatu malam, akhirnya Salma mengetahui jika suaminya memiliki wanita idaman lain dalam pernikahan mereka.
Manakah yang akan Salma pilih? Bertahan demi anak-anaknya atau memilih berpisah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pinkanmiliar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21. Membingungkan
Aidil terbangun di pagi buta dan mengerjap pelan. Ia menuju ke kamarnya dan melihat Salma sedang membereskan barang-barangnya.
"Sayang..." panggilnya pelan.
Salma menoleh dan melihat Aidil yang sepertinya tidak bisa tidur nyenyak. Jelas terlihat dari raut wajahnya yang masih lelah.
"Aku hanya memilah barang apa saja yang akan aku bawa ke apartemen," jawab Salma datar.
"Sayang, kau bilang tidak ingin anak-anak tahu soal kita. Jika kau begini maka ... Mamih bisa saja memberitahu mereka."
Salma berdiri dan berhadapan dengan Aidil. "Cepat atau lambat mereka akan tahu, Mas. Lagipula mereka tidak pernah melihat kita bertengkar. Mereka pasti bisa mengerti dengan keputusanku ini."
Aidil menghela napas. "Lalu kau akan bilang apa pada mamih?"
"Untuk sementara aku tidak akan bicara apapun pada mamih. Kau carilah alasan saja dulu."
"Kapan kau akan pindah?"
"Secepatnya!"
Aidil mengangguk paham. Salma menatap Aidil dengan rasa iba.
"Apa kau tidak tidur dengan baik, Mas? Kau terlihat lusuh. Kau juga memiliki kantung mata. Sekarang mandilah! Aku akan buat sarapan."
Salma keluar dari kamar meninggalkan Aidil yang berdiri mematung.
#
#
#
Salma bersiap diri untuk membereskan apartemen yang dulu dibelikan Aidil untuknya. Tadinya apartemen itu disewakan. Namun sudah setahun ini belum ada penyewa lagi.
Salma memanfaatkan itu untuk dipakainya sendiri. Ketika keluar dari kamar, Salma bertemu dengan Evita. Beruntung Salma sudah menaruh barang-barangnya di bagasi mobilnya.
"Mih, aku pergi dulu ya! Ada urusan sebentar!" pamit Salma.
"Tunggu! Lalu, bagaimana dengan makan siangku? Kau pasti akan pergi lama kan?"
"Mamih tenang saja. Aku sudah meminta temanku datang dan memasak untuk mamih."
"Heh?! Temanmu siapa?" Evita nampak kebingungan.
"Nanti mamih juga tahu!" Salma segera melenggang pergi. Ia tak mau Evita bertanya terlalu banyak padanya.
Siang harinya, seorang tamu datang ke rumah keluarga Pramudya. Evita menduga itu adalah orang yang di kirim Salma untuk memasak di rumahnya.
"Selamat siang, Tante," sapa orang itu.
"Selamat siang. Jadi, kau temannya Salma?" tanya Evita.
"Benar, Tante. Perkenalkan, namaku Marko." Pria itu mengulurkan tangannya.
Evita menyambutnya. "Apa kau akan langsung memasak?"
"Eh? Iya, Tante. Karena jadwal saya juga cukup padat." Marko tersenyum.
Evita memutar bola matanya malas. "Sombong sekali dia! Tapi, dia tampan juga. Aku baru tahu kalau Salma memiliki teman yang tampan seperti ini," batin Evita.
"Dapurnya ada disana. Ikut aku!"
Marko mengikuti langkah Evita. Sebenarnya ada sedikit rasa kesal ketika Salma menghubunginya dan memintanya memasak menggantikan dirinya. Tapi Marko tak memiliki pilihan lain. Ia sendiri yang bilang pada Salma jika ia siap jika Salma meminta bantuan. Namun ternyata permintaan dari Salma sangatlah tidak terduga.
"Sesuai arahan dari Salma, saya harus memasak makanan sehat untuk Tante," ucap Marko sambil memakai apronnya.
"Hah! Baiklah. Kupikir aku bisa makan enak, tapi tetap saja perempuan itu membatasi makananku."
Marko menggeleng dengan sikap Evita. Ia jadi membatin, "bagaimana Salma bisa tahan hidup dengan mertua seperti itu selama bertahun-tahun?"
#
#
#
Salman merenovasi sedikit gedung berlantai dua pemberian Aidil. Ia akan membuka praktek sendiri disana.
Kini Salman sedang sibuk untuk mengurus perizinannya. Tentu saja dengan bantuan Aidil yang memiliki banyak koneksi.
Salman sudah resign dari rumah sakit karena harus fokus mengurus bisnis barunya ini.
"Aku harus bisa membuat mbak Salma bangga."
Ketika sedang asyik berbenah, seseorang mengetuk pintu. Itu adalah Jihan, yang datang untuk mengunjungi sang kekasih.
"Wah, tempatnya cukup luas juga ya!"
"Iya, kemarilah! Kau harus membantuku untuk menata ruang periksaku nanti." Salman menarik pelan tangan Jihan.
Jihan mengucap kata permisi ketika melewati beberapa pekerja yang ada disana.
"Aku bukan desain interior, Sal. Aku tidak bisa menata ruangan."
"Tapi kau seorang wanita. Biasanya wanita sangat ahli dalam menata ruangan."
"Baiklah. Tapi kau jangan menghukumku jika penataanku kurang bagus."
"Aku akan memberikan hukuman yang lain," bisik Salman.
Jihan memukul pelan lengan Salman. Kemudian mereka berdua tertawa bersama.
Dua jam sudah Jihan membantu Salman berberes. Sudah hampir selesai dan tempat itu siap untuk beroperasi.
"Apa kau lapar? Bagaimana kalau kita makan siang bersama?" ajak Salman.
"Hmm, boleh. Masih ada waktu 1 jam sebelum aku menjemput Keisya."
Salman dan Jihan makan di kafe tidak jauh dari gedung milik Salman.
"Alma, aku ingin bicara sesuatu." Salman memulai maksudnya.
"Bicara apa?"
"Aku ingin mengenalkanmu dengan keluargaku."
"Eh?!" Jihan menghentikan aktifitas makannya. Ia merasa gugup karena Salman membicarakan hal yang serius dengannya.
"Aku memiliki satu orang kakak perempuan. Aku sangat menghormatinya. Makanya, aku ingin kamu bisa mengenalnya."
Jihan tersenyum canggung. "Tapi, hubungan kita kan..."
"Aku tahu. Tapi aku sudah merasa nyaman denganmu. Aku menerima kondisimu apa adanya. Termasuk juga Keisya."
Jihan menatap Salman lekat. Sungguh hatinya memang menyukai Salman. Tapi ia juga masih takut untuk memulai hubungan yang baru.
"Jangan takut, kakakku adalah orang yang baik. Dan dia cukup terbuka dengan hubungan seperti ini. Aku sudah pernah bercerita tentangmu padanya." Salman menggenggam tangan Jihan.
Mereka saling menatap selama beberapa detik sebelum akhirnya Jihan menjawab.
"Baiklah. Aku bersedia. Kapan kita akan bertemu kakakmu?"
"Hmm, jam makan siang besok lusa. Bagaimana?" usul Salman.
"Baiklah."
#
#
#
Pagi itu sebelum Aidil berangkat bekerja, Salma mencegat Aidil. Salma memang sudah tidak bisa menarik keputusannya untuk berpisah dengan Aidil. Tapi demi dua keluarga, Salma rela mencoba bersabar dengan takdir yang akan dihadapinya.
"Mas, hari ini Salman mengundang kita untuk makan siang bersama. Dia ingin mengenalkan kekasihnya pada kita."
Aidil cukup terkejut mendengar Salman sudah memiliki kekasih. Ia masih bergeming dan tidak menjawab permintaan Salma.
"Kita harus menunjukkan jika kita baik-baik saja di depan Salman."
Suara Salma akhirnya menyadarkan Aidil. Pria itu mengangguk.
"Baiklah. Nanti siang aku akan menjemputmu."
Salma mengangguk setuju. Ia juga tidak ingin Salman berpikir yang tidak-tidak dengan hubungannya dan Aidil.
Pukul 11 siang, Salman dan Jihan sudah siap menunggu di sebuah restoran. Jihan terlihat gugup.
"Apa kau gugup?" tanya Salman sambil menyodorkan segelas air putih.
"Iya. Terima kasih." Jihan menerima gelas dari Salman lalu meneguknya.
"Salman, sepertinya aku perlu ke toilet lebih dulu."
"Hmm, baiklah. Kurasa kau perlu menenangkan diri sejenak."
Jihan bangkit dari duduknya lalu melangkah menuju ke toilet wanita.
Di luar resto, Salma dan Aidil baru saja tiba di parkiran. Salma turun diikuti Aidil.
Tidak ingin adiknya curiga, Salma melingkarkan tangannya di lengan Aidil. Pria itu tidak keberatan.
Mereka berjalan memasuki resto dan melihat Salman yang melambaikan tangan. Salman berdiri untuk menyambut kedatangan kakak dan kakak iparnya.
"Dimana kekasihmu?" tanya Salma.
"Oh, Alma sedang ke toilet. Sepertinya dia gugup karena akan bertemu kalian."
Tawa ringan pun pecah. Mereka bertiga duduk saling berhadapan. Salma bersebelahan dengan Aidil.
"Ah itu dia!" Salman menunjuk seorang wanita yang sedang menuju ke arah mereka.
Salma dan Aidil sontak menoleh ke arah wanita yang sedang berjalan menghampiri mereka. Mata mereka saling beradu dan bingung.
Benar! Saat ini situasinya sangat membingungkan.
"Mbak Salma? Mas Aidil?" gumam Jihan. Ekspresi wajahnya tak bisa lagi ia sembunyikan. Pucat pasi. Itulah yang terlihat.
"Kamu kenal dengan mereka?" Pertanyaan Salman membuat Jihan mati kutu.
dewasa banyak ilmu yg d dapat dr cerita ini tentang kesabaran kedewasaan dalam ambil sikap meski cerita nya sederhana
Tapi ya sudahlah jk mmg sdh hrs ending.Terima kasih utk ceritanya kak
Di tunggu next ceritanya..semangat