Season 2 dari Aku Bisa Tanpamu 😘
Kehidupan pernikahan kedua Shofi yang semula berjalan begitu bahagia dan harmonis tiba-tiba diguncang dengan kecelakaan yang menimpa Awan, sang suami. Awan dinyatakan hilang dan belum bisa diketemukan dimana keberadaannya.
Tetapi Shofi dan keluarganya tidak pernah putus harapan. Mereka yakin bahwa dengan kuasa Allah SWT, Awan pasti bisa kembali dengan selamat dan rindu mereka akhirnya terobati.
Akankah kekuatan do'a dan keyakinan mereka benar-benar bisa membawa Awan kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iin Nuryati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21. Kuasa Allah Subhanahu Wata'ala
✉️: Assalamu'alaikum, Shofi. Maaf banget ya hari ini kakak nggak bisa nemenin kamu periksa kandungan ke dokter. Inara demam. Anaknya rewel nggak mau ditinggal. Tapi tadi Bang Langit udah bilang kok, kalau nanti dia bakalan nyusulin kamu setelah ngecek keadaan rumah makan sebentar. Jadi kamu tunggu sampai Bang Langit datang, ya. Pokoknya kamu jangan pulang sendiri. Awas aja kalau kamu nggak nungguin Bang Langit.
Aku tersenyum membaca pesan dari kakak iparku itu. Rasa hangat memenuhi relung hatiku. Semua perhatian dan kasih sayang Kak Jani juga Bang Langit membuatku merasa seperti memiliki kakak kandung sendiri.
Begitu juga dengan Papa Surya dan Mama Wulan. Mereka berdua bukan hanya sekedar mertuaku, tetapi mereka sudah seperti orang tua kandungku sendiri juga. Dalam hati aku sangat bersyukur kepada Allah Subhanahu wata'ala karena semua keluarga Mas Awan begitu perhatian dan menyayangi aku, Keinan, juga bayi yang sedang aku kandung saat ini.
Aku kemudian mengetikkan pesan balasan untuk Kak Jani.
✉️: Iya, Kak. Nggak pa-pa kok. Semoga Inara segera sembuh dan sehat kembali ya. Oke Kak, aku pasti nungguin Bang Langit datang dan nggak akan pulang sendiri. Aku janji 😊
Setelah membalas pesan dari Kak Jani itu, aku kemudian bergegas untuk turun ke bawah. Papa Surya, Mama Wulan, dan Keinan pasti sudah menungguku untuk sarapan pagi bersama.
🍁🍁🍁
"Beneran nggak usah Papa temenin, Shof?" tanya Papa Surya.
Setelah mengantarkan Keinan ke sekolahnya tadi, saat ini mobil kami yang dikemudikan oleh Pak Yanto itu sudah berhenti di depan rumah sakit, tempat dimana aku akan memeriksakan kandunganku ini.
"Nggak usah, Pa. Nggak pa-pa kok. Kan nanti Bang Langit juga nyusulin Shofi kesini," jawabku dengan tersenyum.
"Ya udah deh kalau gitu. Nanti kalau ada apa-apa dan Langit belum sampai kamu langsung hubungi Papa, ya. Pokoknya kamu nggak boleh pulang sendirian," pesan Papa Surya.
"Iya, Pa," balasku. "Ya udah, kalau gitu aku langsung turun sekarang ya, Pa."
Papa Surya menganggukkan kepalanya. Aku kemudian meraih tangan kanan Papa Surya kemudian mencium punggung tangan kanan beliau tersebut.
"Assalamu'alaikum, Pa," salamku
"Wa'alaikumsalam. Kamu hati-hati, ya," balas Papa Surya dengan berpesan kembali.
"Pasti, Pa. Mari Pak Yanto, assalamu'alaikum," pamitku kepada Pak Yanto juga.
"Iya, nak Shofi. Wa'alaikumsalam," balas Pak Yanto.
Aku kemudian turun dari mobil milik Papa Surya tersebut. Setelah melambaikan tangan sesaat, aku pun kemudian bergegas untuk segera masuk ke dalam rumah sakit dan menuju ke bagian poli kandungan.
Setelah melakukan daftar ulang di bagian administrasi aku pun kemudian menunggu di kursi tunggu yang sudah disediakan di depan poli kandungan rumah sakit ini. Menunggu sampai akhirnya nanti namaku dipanggil oleh perawat yang bertugas.
Aku melihat di sebelah kanan dan kiriku. Beberapa orang ibu hamil seperti diriku juga sedang menunggu giliran mereka untuk diperiksa oleh dokter. Dapat aku lihat kebahagiaan mereka yang sedang menunggu giliran periksa dengan ditemani oleh suami mereka masing-masing. Mereka nampak berbincang dan bercanda dengan suami mereka masing-masing saat ini.
Tanpa aku sadari air mataku sudah menetes begitu saja. Aku pun kemudian segera menghapus air mata di pipiku itu.
"Mas Awan. Kami semua merindukanmu," lirihku seraya mengusap perut besarku.
Beberapa saat kemudian namaku dipanggil oleh perawat yang bertugas di bagian poli kandungan rumah sakit ini. Akhirnya tiba giliranku untuk diperiksa oleh dokter. Karena Bang Langit masih belum datang juga, akhirnya aku pun masuk sendirian ke dalam ruang pemeriksaan dokter di poli kandungan tersebut.
Syukur alhamdulillah, Dokter Cahya mengatakan bahwa kondisi bayiku sehat. Semuanya normal dan perkembangannya juga sudah sesuai dengan yang semestinya. Aku sangat bersyukur dan mengucapkan terima kasih banyak kepada Dokter Cahya dan para perawat yang bertugas disana.
Setelah selesai diperiksa oleh dokter, aku pun kemudian menunggu obat dan vitamin di bagian farmasi.
Bang Langit ternyata mengirim pesan kalau dia sedang dalam perjalanan ke rumah sakit ini. Dia juga meminta maaf karena tadi tiba-tiba ada sedikit masalah di rumah makan, makanya Bang Langit jadi terlambat untuk menyusulku ke rumah sakit.
Aku kemudian segera mengetikkan pesan balasan untuk Bang Langit.
✉️: Iya, Bang. Nggak pa-pa kok. Ini aku udah selesai diperiksa, Bang. Sekarang lagi nunggu obat di bagian farmasi. Nanti Abang langsung nyusul kesini aja, ya.
Sesaat kemudian terdengar notifikasi pesan masuk dari ponselku. Ternyata pesan balasan dari Bang Langit. Aku pun kemudian membukanya.
✉️: Oke, Shofi. Sebentar lagi Abang sampai. Nanti Abang langsung nyusulin kamu ke bagian farmasi.
✉️: Iya, Bang.
Setelah mengirimkan pesan balasan tersebut aku pun kemudian menyimpan kembali ponselku ke dalam tas. Tidak lama kemudian,
"Ibu Shofiyyah Az-Zahra."
Terdengar namaku sudah dipanggil melalui pengeras suara. Pelan-pelan aku bangun dari dudukku kemudian berjalan maju ke depan, ke bagian pengambilan obat.
Aku menerima obat dan vitaminku juga mendengarkan instruksi pengonsumsiannya yang disampaikan oleh pegawai farmasi yang bertugas. Setelah mengucapkan terima kasih kepada pegawai yang bertugas tersebut, aku pun kemudian berbalik untuk meninggalkan bagian pengambilan obat.
Tetapi baru beberapa langkah aku meninggalkan bagian pengambilan obat tersebut, tiba-tiba saja ada seseorang yang tanpa sengaja menyenggolku sehingga membuat kantong plastik berisi obat dan vitamin yang aku pegang itu jadi terjatuh.
"Astaghfirullah hal adziim," pekikku sedikit kaget.
"Astaghfirullah. Maaf-maaf, Mbak. Saya nggak sengaja," ucap laki-laki yang tadi menyenggolku itu.
Laki-laki itu kemudian langsung berjongkok dan mengambilkan obat-obatanku yang terjatuh di lantai.
Aku mematung karena terkejut. Suara ini? Kenapa suara ini mirip sekali dengan suaranya Mas Awan?
Dan ketika laki-laki itu kembali berdiri kemudian menghadap ke arahku untuk mengembalikan obatku, aku seketika langsung membulatkan kedua mataku. Kedua mataku juga langsung berkaca-kaca begitu melihat sosok laki-laki di hadapanku itu.
"Ini obatnya, Mbak. Sekali lagi maaf, ya. Saya nggak sengaja," ucap laki-laki itu.
"Mas Awan?" ucapku dengan air mata yang sudah mengalir di kedua pipiku.
Aku seakan tidak percaya. Benarkah laki-laki yang sedang berdiri di depanku saat ini adalah Mas Awan, suamiku?
"Iya, saya Awan. Kamu,,," perkataan laki-laki itu terjeda, seakan sedang mengingat-ingat.
Senyumku seketika mengembang begitu mendengar pengakuan laki-laki tersebut bahwa dia adalah Mas Awan. Aku langsung menghambur dan memeluk tubuh Mas Awan, dengan air mata yang semakin deras mengalir di kedua pipiku.
"Subhanallah. Alhamdulillaah hirobbil 'aalamiin. Akhirnya Mas Awan kembali juga," ucapku begitu bahagia.
Aku melepaskan pelukanku. Aku tersenyum lebar. Aku merasa sangat bahagia saat ini. Akhirnya Mas Awan benar-benar kembali. Aku sangat bersyukur atas kebesaran kuasa Allah Subhanahu wata'ala ini.
Tetapi, entah kenapa, aku seperti melihat ada kebingungan di wajah Mas Awan saat ini.
"Ini aku Shofi, Mas. Istrimu," ucapku dengan memegangi kedua tangan Mas Awan.
"Shofi? Istriku?" ulang Mas Awan yang masih terlihat kebingungan.
"Iya, Mas. Aku Shofi. Istri Mas Awan," ucapku mempertegas.
"Shofi? Istriku?"
Kembali aku mendengar Mas Awan mengulang kata-kata itu. Seolah dia sedang bertanya kepada dirinya sendiri. Aku mengernyitkan keningku. Ada apa ini?