Nadia anak kandung yang di abaikan, keluarganya lebih memilih anak orang lain ketimbang anak kandung,,,Nadia bahkan mau di singkirkan oleh ibunya sendiri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34 masa lalu
Bab 34
“Paman tahu ibu ku?” tanya Nadia. Dadanya bergemuruh, bukan karena rindu, melainkan karena ingin mendapatkan sebuah kepastian. Kenapa ibu kandungnya meninggalkannya? Dan kenapa menyerahkannya kepada ayah yang tidak pernah benar-benar menyayanginya?
“Lidia,” kata Johan. Matanya berkaca-kaca saat menyebut nama itu. Suaranya terdengar serak, seolah menanggung beban yang sangat berat.
Nadia memperhatikan ekspresi kepala pelayan itu.
“Lidia adalah nama ibu kandungmu. Dia adalah adikku,” ucap Johan. Pandangannya mengarah ke danau, tetapi tatapannya kosong, seakan sedang menatap masa lalu yang kelam.
Nadia tersentak. Lidia. Nama ibu kandungnya. Sebuah nama yang baru saja ia dengar. Yang lebih mengejutkan lagi, wanita itu ternyata adik dari kepala pelayan keluarga Wijaya.
“Kenapa, Paman? Kenapa Paman baru cerita sekarang? Kenapa dia membuangku? Apa dia juga tidak menginginkanku? Di mana dia sekarang?”
Rentetan pertanyaan Nadia terus menghantam Johan hingga pria itu meneteskan air mata. Ia segera menyekanya.
“Lidia sudah meninggal, Nak,” ucap Johan. Ia mulai terisak menangis.
Nadia tertegun. Baru saja mengenal nama ibu kandungnya, dan ternyata wanita itu sudah meninggal.
“Kapan meninggalnya, Paman?”
“Lidia meninggal saat melahirkan kamu, Nak.”
Air mata kembali menetes membasahi pipi Johan, membuat dada Nadia terasa sesak. Ternyata ibu kandungnya meninggal karena melahirkannya.
“Berarti dia meninggal karena aku?” kata Nadia pelan, hampir tak terdengar, terbawa angin semilir taman.
“Enggak, Nak. Dia meninggal bukan karena kamu, tapi karena pilihannya,” jawab Johan.
Johan beberapa kali menarik napas. Rahangnya mengeras. Nadia melihat pria itu mengepalkan tangan, menahan amarah yang tak bisa disalurkan.
“Dia memilih mempertahankan kamu, Nak,” kata Johan lirih.
“Awalnya Lidia itu sekretaris Tuan Rangga. Hingga akhirnya, tiba-tiba dia bilang ingin mengundurkan diri dan hidup di desa. Waktu itu Paman, sebagai kakaknya, tentu saja mengizinkan karena kehidupan di kota itu keras. Namun, seminggu kemudian Paman kehilangan kontak dengannya. Kata teman-teman paman yang ada di desa, Lidia tidak pernah pulang ke desa.
Saat itu Paman juga sangat sibuk dengan agenda Tuan Johan. Paman sering diajak ke luar negeri oleh Tuan Rangga. Hingga suatu hari, tiba-tiba rumah sakit menelepon Paman. Pihak rumah sakit mengatakan kalau ibu kamu sudah meninggal setelah melahirkan.
Saat itu kebetulan Paman sedang menunggu persalinan Nyonya Rani. Dan ternyata Lidia melahirkan di rumah sakit yang sama dengan Nyonya Rani. .”
Johan terisak-isak. Air mata membasahi pipinya. Nadia mendengarkan dengan penuh perhatian, menunggu kelanjutan cerita itu.
“Paman melihat Ibu kamu tubuhnya kurus sekali. Dia hampir melahirkan di jalan. Relawan kemanusiaan menemukan dia di trotoar. Ibu kamu melahirkan di IGD tanpa kamar rawat inap. Padahal dia mengandung seorang anak konglomerat, mengandung nama besar Wijaya.”
Nadia masih menyimak tanpa ekspresi. Namun, tangannya mengepal erat. Ternyata nasib ibunya jauh lebih tragis daripada hidupnya sendiri.
Meski begitu, ada satu hal yang masih mengganjal.
“Dari mana Paman tahu kalau Lidia mengandung anak Rangga Wijaya?” tanya Nadia.
Johan mengeluarkan sebuah surat hasil tes DNA yang sudah dilaminasi, seolah menjadi barang bukti paling berharga yang ia miliki.
“Ini adalah hasil tes DNA saat dia mengandung kamu. Hasilnya identik dengan Tuan Rangga,” jawab Johan.
Nadia memegang erat kertas itu. Matanya menelusuri setiap huruf dengan perasaan yang bergejolak. Ternyata orang yang selama ini ia anggap ayah adalah seorang pria yang begitu kejam. Dadanya terasa panas. Tangannya mengepal semakin erat.
“Sebelum meninggal, Lidia membuat wasiat untuk Paman.”
Johan mengeluarkan selembar kertas dari buku tulis Sinar Dunia. Tulisan tangannya rapi, dan kertas itu juga sudah dilaminasi.
“Dear Abang...”
“Bang, kalau Abang membaca surat ini, kemungkinan aku sudah meninggal.
Bang, aku memilih melahirkan anakku. Anak yang aku pertahankan dengan nyawaku. Rangga yang menghamiliku, Bang, tetapi dia menyuruhku menggugurkan bayi ini.
Aku menolaknya, Bang. Namun, dia terus mengancamku. Aku takut, Bang. Takut Abang marah dan takut merepotkan Abang. Aku pergi untuk menghindari Rangga yang terus mengincar bayiku.
Bang, selama hamil aku jadi pemulung, kadang jadi pengemis. Aku tidak menetap di satu tempat karena orang-orang Rangga selalu mencariku.
Aku juga tidak pernah memeriksakan kandunganku, Bang.
Abang sayang, aku tinggalkan hasil tes DNA anak yang aku kandung bersama Rangga.
Abang, aku tidak tahu anak ini laki-laki atau perempuan. Kalau laki-laki, beri nama dia Bima. Kalau perempuan, beri nama dia Nadia, Bang.
Abang, kalau aku sudah tidak ada, tolong bawa anak ini ke Rangga. Tunjukkan hasil tes DNA ini dan bilang kepadanya kode 30414.
Abang, aku sayang Abang.”
Nadia beberapa kali menghela napas setelah membaca surat itu. Bahkan ibunya tidak pernah sempat mengenalnya. Wanita itu memilih mempertaruhkan nyawanya demi melahirkannya.
Untuk pertama kalinya, Nadia merasa bersalah karena selama ini pernah berpikir buruk tentang ibu kandungnya.
“Kenapa Paman hanya diam melihat adik Paman diperlakukan seperti itu?” gigi Nadia gemertak menahan kesal.
“Nadia, Paman bisa apa? Coba, dia punya uang banyak. Andai saja kalau bukan kode 30414, mungkin kamu sudah dibuang sama Tuan Rangga. Paman berharap Tuan Rangga akan memperlakukanmu dengan baik, namun nyatanya tidak. Bahkan saat kamu menjadi juara olimpiade saja, bukannya mendapat pengakuan, kamu malah diusir dari rumah.”
Johan menarik napas dalam. “Maafkan Paman, Nadia. Harusnya Paman bawa saja kamu pergi hidup berdua sama kamu. Ini semua salah Paman, salah Paman karena lemah. Andaikan Paman punya kekuatan, Paman pasti akan balas dendam.”
“Aku yang akan membalas dendam, Paman. Tuan Johan sudah menyiksa ibu kandungku. Dia harus membalas setiap rasa sakit yang dirasakan oleh ibu kandungku,” kata Nadia.
“Benar, Nak. Sudah terlalu lama kita diam. Mungkin inilah saatnya kita harus membalas dendam pada Tuan Rangga,” ucap Johan penuh tekad.
Nadia mengepalkan tangan. Terdengar suara azan Asar. Hari mulai sore. Angin dingin menerpa, sepertinya akan hujan, membawa kesejukan alami, namun tidak dengan perasaan Nadia yang kian panas membara dan dalam kepalanya sudah penuh tekad untuk menghancurkan Rangga, pria brengsek penyebab ibunya menderita sampai meninggal.
“Nak, mari berziarah ke makam ibu kamu,” ajak Johan.
Nadia menganggukkan kepala. Johan membonceng Nadia ke Pemakaman Umum Karet Bivak. Setelah memberi air dan beberapa bunga, mereka melangkah menyusuri makam-makam hingga sampailah di sebuah batu nisan baru yang bertuliskan Lidia binti Marzuki.
Johan berjongkok dan mengelus batu nisan. “Ini adalah makam ibu kamu, Nak.”
Nadia melihat batu nisan itu dengan tajam. Tidak pernah mengetahui sosok ibu kandungnya, setelah tahu, ibu kandungnya sudah bertahun-tahun ditimbun tanah.
“Lidia, aku datang bersama anak kamu, Nadia. Ya, Nadia sesuai amanah kamu. Nadia anak cantik dan pintar, Lidia....”
Nadia mengepalkan tangan. Tujuannya semakin kuat.
'Menghancurkan Rangga Wijaya.'
karna rani yg suruh org membunuh nadia
pasti yulia yg keponakkan johan
julia sdh kerja sama dgn johan menjebak nadia 🤭
dania yg ank rani 🤭