Elizabeth Stuart memiliki lukanya sendiri hingga enggan untuk membuka lembaran baru dalam hidupnya bersama lelaki lain. Kegagalan dalam rumah tangganya dengan sang mantan suami membuat Elizabeth memilih hidup sebagai orang tua tunggal.
Hingga suatu hari, apa yang telah ia rencanakan dan susun dengan baik hancur begitu saja dalam sekejap karena takdir berkata lain.
Hadirnya sosok lelaki yang hangat dan penuh cinta membuat Elizabeth perlahan mulai melupakan rasa sakitnya, dan belajar membuka hati.
Namun, lagi-lagi seolah takdir mempermainkan hidupnya. Sang mantan suami datang, dan memohon dengan penuh rasa cinta agar Elizabeth kembali bersamanya.
Elizabeth kini kini menjadi dilema, akankah ia lebih memilih sang mantan suami demi kebahagiaan kedua anaknya, atau justru ia lebih memilih lelaki baru yang membuatnya bangkit dan menjadi utuh kembali sebagai seorang wanita.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Canda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kau sombong
Keesokan harinya, Lizzy kembali mengunjungi Jacob di rumah sakit. Kali ini ia membawa serta kedua anaknya, karena mendengar kondisi Jacob yang sudah membaik dari mantan ibu mertuanya. Daniel masih menemaninya hari itu, karena ibunya hanya mengizinkan ia dan anak-anak mengunjungi Jacob jika Daniel ikut bersamanya.
Sampai di rumah sakit Jacob terlihat sedang duduk, baru saja selesai menyantap makan siangnya. Clara langsung menghambur untuk memeluk ayahnya.
"Ayah, ayah sakit apa? Kenapa tidak memberitahu kami? Kau sudah tidak ingat pada kami lagi ya," Clara menggerutu sambil menggelayut manja pada ayahnya.
Jacob memeluk putrinya dan mengecup pipi gadis kecilnya dengan gemas. Bayi mungil perempuan yang dulu selalu dia timang-timang kini sudah mulai beranjak remaja. Waktu terasa sangat cepat berlalu. Ada sedikit rasa tak rela, jika bayi kecilnya dulu telah tumbuh menjadi seorang gadis kecil dan beranjak remaja. Sepertinya ia ingin selamanya gadis kecilnya itu tetap menjadi seorang gadis kecil dan tidak beranjak remaja apalagi dewasa.
Tapi ia tahu, semua itu tak mungkin terjadi. Clara merupakan duplikat dari Lizzy. Keinginannya untuk memiliki anak perempuan secantik istrinya terkabul.
Hidupnya bertambah lengkap ketika anak keduanya lahir. Seorang bayi laki-laki dan memiliki perpaduan wajah antara dirinya dan Lizzy. Sungguh sempurna.
David dan Clara adalah pelengkap hidupnya setelah kehadiran Lizzy, kehadiran mereka bertiga membuatnya merasa menjadi seorang pria paling beruntung di dunia. Memiliki seorang istri yang nyaris sempurna, dan dua anak yang lucu. Dulu ia merasa ia tidak membutuhkan apa-apa lagi di dunia ini, namun semuanya hancur ketika kebodohan menguasai pikirannya.
Kini ia telah berjanji, ia hanya akan menatap Lizzy dengan matanya, hanya akan memikirkan dan mencintai wanita itu, dan hanya akan ada wanita itu dalam hidupnya. Mereka berempat harus hidup bahagia mulai sekarang.
David enggan mendekati sang ayah, ia hanya duduk pada sofa panjang yg berada di ruangan itu sambil melipat tangannya di dada. Tatapannya penuh dengan rasa kesal dan cemburu, bahkan nafasnya pun terdengar memburu. Daniel yang duduk di sebelahnya membelai kepalanya dengan lembut sambil menahan tawa karena mengerti situasi macam apa yang sedang terjadi.
Lizzy yang sedang duduk di sebelah Daniel hanya bisa menggelengkan kepalanya karena melihat tingkah laku sang putra, " David, kenapa kau hanya duduk di sana, sapa ayahmu."
Alih-alih berdiri dan menyapa ayahnya ia justru mendelik kearah ibunya, nafasnya semakin memburu. Daniel sudah tak bisa lagi menahan tawanya, ia tertawa dengan keras dan membawa David ke pelukannya, ia mengelus punggung David dengan lembut.
"Kenapa kau terlihat sangat kesal jagoan? Apa ada yang salah? Bicaralah, amarah itu tidak akan terasa nyaman jika kau tahan. Aku ada di sini untuk membelamu," Daniel berkata dengan lembut pada David.
Jacob masih memeluk Clara dengan sayang, saat dilihatnya betapa Daniel sangat sabar menghadapi putranya yang terkadang meledak-ledak itu. Sungguh ia merasa cemburu karena Daniel bisa memeluk David dengan mudahnya, karena sepengetahuannya David bukanlah anak yang mudah dekat dengan orang lain. Putranya persis seperti Lizzy yang selalu memasang tameng baja ketika berhadapan dengan orang asing.
"Aku membenci ayah," suara David terdengar kecil karena teredam pelukan Daniel.
Daniel semakin geli mendengar rajukan David. Ia masih memeluk David saat berucap, "Kenapa kau membencinya? Apa kau tahu, di luar sana banyak anak yang ingin memiliki ayah, mereka berdoa kepada Tuhan agar bisa memiliki ayah dan ibu sekaligus dalam hidup mereka. Kau masih memiliki keduanya David. Kau seharusnya mensyukuri itu."
"David, apa ayah punya salah padamu nak? Maafkan ayah jika ayah menyakiti hatimu," Jacob mencoba merayu anaknya, ingin rasanya ia berlari dan memeluk David, tapi tak mungkin dilakukannya, tubuhnya masih terasa lemas dan jarum infuspun masih menancap di tangannya membuatnya tak leluasa bergerak.
David yang mendengar pertanyaan ayahnya mengangkat wajahnya dan melepaskan pelukan Daniel. Ia menatap ayahnya dengan garang, "Kau sombong. Kau melupakan aku dan kakak, kau bahkan juga melupakan ibu," kini David tak bisa lagi menahan marahnya, air matanya pun sudah menggenang.
Lizzy yang mendengar jawaban sang putra merasakan ngilu di hatinya, ia lah yang menyebabkan semua kejadian ini, andaikan ia kemarin bisa lebih mengendalikan emosinya mungkin David dan Clara masih bisa bertemu ayahnya dengan rutin, Jacob tidak akan melukai dirinya sendiri dan mereka semua tidak akan duduk di ruangan ini.
Ia bangkit dari duduknya dan segera memeluk David dengan erat. Ia membelai kepala anaknya dengan lembut, dan membisikkan kata-kata lembut untuk menenangkan putranya. Setelah dirasanya sang putra sudah tenang, ia mengajak putranya untuk mendekati Jacob.
"Clara, ayolah berikan David kesempatan untuk memeluk ayahmu," Lizzy berucap pada putrinya.
Dengan enggan Clara melepaskan pelukan mereka dan menggeser posisinya. Lizzy menarik tangan David untuk mendekat kearah Jacob.
"David, peluk dan sapa ayahmu."
"Tidak. Aku tidak mau. Kenapa harus aku yang memeluknya? Kenapa bukan ayah yang memelukku?" putranya memprotes.
Jacob yang melihat Lizzy ingin memaksa anaknya memegang pergelangan tangan Lizzy untuk menarik perhatian wanita itu, saat Lizzy menatap kearahnya, Jacob menggelengkan kepalanya sebagai tanda tidak perlu, biar dia yang membujuk putranya. Lizzy menggangguk sebagai tanda setuju.
"Halo jagoan ayah, maafkan ayah. Ayah sudah lama tidak mengunjungimu dan kakak, ayah terlalu sibuk dengan pekerjaan ayah nak, sehingga belum bisa mengunjungi kalian. Ayah tahu ayah salah, tapi Tuhan telah memberikan teguran padaku karena melupakan kedua anakku. Lihatlah, sekarang ayah sedang duduk lemah tak berdaya karena Tuhan mangambil kekuatan ayah. David, maukah kau memeluk ayah untuk menyalurkan kekuatanmu pada ayah?" Jacob merentangkan kedua tangannya meminta di peluk oleh David.
David melirik sekilas kepada ibunya untuk meminta persetujuan. Lizzy mengangguk sebagai tanda setuju. Dengan segera David naik ke kursi di samping ranjang agar posisinya sejajar dengan sang ayah. Ia segera menghambur memeluk ayahnya. Pria yang sangat dirindukannya beberapa saat lalu, membuatnya berpikir jika ayahnya telah melupakannya dan juga sang kakak, karena tak kunjung datang untuk menemuinya. Padahal sekarang ia telah pindah ke rumah sang kakek, yang berarti lebih dekat dari kantor ayahnya.
Jacob balas memeluk David dengan sangat erat dan enggan melepaskannya. Harum aroma bayi masih terasa pada tubuh David, yang menjadi candu bagi indera penciumannya. Membuatnya merasa hangat dan bahagia pada saat yang bersamaan.
Semua orang yang ada di ruangan itu bisa melihat dengan jelas, seberapa besar rasa kerinduan yang dirasakan oleh sepasang ayah dan anak itu. Membuat mereka semua menitikkan air mata.
"Aku merindukanmu jagoanku. Sangat. Maafkan ayah karena belum mengunjungimu di kediaman kakek, ayah berjanji, jika nanti ayah sudah keluar dari rumah sakit, ayah akan sering-sering mengunjungimu dan juga kakak. Ayah minta maaf David," kini suara Jacob mulai terdengar bergetar.
"Aku merindukanmu ayah, sangat merindukanmu. Aku ingin bertemu denganmu, sangat. Tapi aku tak berani mengatakannya pada siapapun, bahkan pada ibu. Apalagi kemarin ibu sakit, dan kau tidak datang sedikitpun. Aku berpikir kau sudah tidak mencintai ibu dan kami lagi. Kau menelepon kami saja tidak. Aku benar-benar merasa sedih karena kupikir kau benar-benar meninggalkan kami bertiga ayah," David menangis tersedu sambil terus memeluk ayahnya.
Lizzy tak lagi kuasa mendengar tangisan anaknya, ia lebih memilih keluar ruangan dengan diikuti oleh Daniel.
Lizzy berdiri menghadap jendela kaca besar di lorong, berusaha untuk menutupi wajahnya yang memerah karena menangis. Daniel reflek membalikkan tubuh Lizzy dan memeluknya dengan erat, ia bahkan spontan mencium kepala Lizzy dengan sayang. Tangan kirinya memeluk tubuh Lizzy, dan tangan kanannya membelai kepala Lizzy dengan sayang.
"Menangislah Lizzy, jangan kau tahan lagi. Keluarkanlah semua beban di hatimu, aku ada di sini untukmu dan tidak akan meninggalkanmu."
Lizzy membalas pelukan Daniel, menghirup aroma parfum pria itu yang terasa menenangkan, membuatnya merasa nyaman.
"Aku merasa seperti seorang penjahat Daniel. Memisahkan kedua anakku dari ayahnya. Aku lupa Daniel, bagaimanapun darah lebih kental daripada air. Apa yang harus aku lakukan sekarang? Apa aku harus kembali bersama Jacob?"
Rahang pria itu mengeras mendengar ucapan Lizzy. Ia benci melihat wanita itu menangis, ia pun merasa sakit dan cemburu saat mendengar ucapan Lizzy yang ingin menyerah dan memilih kembali bersama Jacob. Entahlah, ia merasa mulai nyaman dengan kebersamaan mereka selama beberapa waktu ke belakang.
Lizzy sungguh telah mengajarkan banyak hal padanya. Mengajarkan bagaimana caranya bangkit dari sebuah keterpurukan. Belajar menghargai orang lain, belajar memaafkan orang lain meskipun itu berat, belajar untuk tidak memendam amarah terlalu lama, belajar untuk tidak menilai seseorang dari harta yang dimilikinya.
Lizzy tak pernah memandang dirinya rendah sedikitpun, apalagi melihat cara Lizzy memperlakukan kedua orangtuanya. Membuatnya berpikir, bahwa ibunya benar. Lizzy adalah wanita baik yang pantas dijadikan seorang ratu di hatinya. Meskipun status sosial mereka bagaikan langit dan bumi, tapi Lizzy tak pernah malu berjalan bersisian dengannya.
Lizzy, wanita cantik, nan lembut, kuat di luar namun rapuh di dalam. Kurasa aku sudah jatuh cinta padamu Lizzy, jatuh dengan begitu dalam. Tapi aku tak berani untuk memilikimu. Biarkan waktu yang akan bicara, asalkan kau tetap mengizinkanku di sisimu, aku tidak akan meminta lebih.
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Jacob masih memeluk David, tapi kini, Clara pun telah berada di sebelah kanannya sambil memeluk tubuh ayahnya saat Lizzy kembali masuk ke ruang rawat Jacob bersama Daniel. Daniel terlihat merangkul pundak Lizzy. Jacob yang melihat mereka berdua masuk, tersenyum lebar dan hangat, hingga cekungan di kedua pipinya terlihat.
Hatinya terasa seperti diremas, melihat tangan Daniel yang merangkul pundak Lizzy. Tapi ia tahu, ia tidak bisa lagi bertindak dengan gegabah sekarang, ia harus bisa mendapatkan Lizzy lagi dengan cara perlahan. Ia tidak mau membuat Lizzy kembali mengalami guncangan emosi seperti kemarin. Dan sebelum ia kembali mendekati Lizzy ia akan memastikan Maria Dolores tidak akan mendekatinya lagi, ia akan menyingkirkan Maria.
"Lizzy, bolehkah mereka berdua tetap tinggal di sini denganku? aku berjanji, aku akan minta dokter untuk pulang lebih cepat besok. Aku ingin mengajak anak-anak untuk menginap di rumah kita selama beberapa waktu. Aku yang akan mengantar jemput mereka sekolah. Izinkan aku untuk ikut mengurus mereka Lizzy," Jacob berucap dengan wajah memohon.
Lizzy reflek berjalan mendekati Jacob, dan duduk di ranjang di hadapan pria itu. Ia menatap wajah Jacob, betapa wajah Jacob terlihat sangat lelah, guratan-guratan halus mulai terlihat di sekitaran wajahnya. Wajah yang selalu membuat hatinya bahagia, dengan hanya menatapnya saja. Wajah yang sangat dicintainya dulu. Haruskah aku kembali padamu Jacob? Demi kebahagiaan kedua anakku. Dan demi melihat wajahmu yang selalu membuat jantungku berdetak dua kali lebih cepat dulu. Jacob, bolehkah jika aku masih menyimpan namamu di hatiku?
Lizzy tersenyum dan mengangguk sebagai tanda setuju.
"Tentu saja Jacob, kau ayah mereka. Tidak ada yang bisa menyangkal itu. Darahmu mengalir dalam tubuh mereka, kau berhak atas mereka Jacob. Kau tidak perlu meminta izinku untuk bisa bersama mereka. Mereka juga milikmu Jacob, selamanya. Tidak akan ada yang bisa mengambil mereka darimu. Mereka adalah separuh dirimu, tidak ada yang berhak memisahkan kalian meskipun orang itu adalah aku."
Jacob menangis, air matanya turun tak terbendung lagi. Sungguh, ia merasa menjadi pria paling bodoh sedunia sekarang. Ia telah menyia-nyiakan wanita sebaik Lizzy hanya demi wanita murahan dan demi kesenangan sesaat. Lizzy tidak pantas untuk disakiti, wanita itu terlalu baik untuk dibuat menangis. Ia merasa menjadi seorang pria yang paling brengsek di dunia, karena kemarin mengulang kesalahan yang sama meskipun tidak dengan situasi dan kondisi yang sama.
Lizzy, maafkan aku. Maafkan aku yang dulu dengan begitu bodohnya telah menyakitimu. Maafkan aku sayang, izinkan aku untuk menyembuhkan lukamu, mengganti airmatamu dengan kebahagiaan, mengganti lukamu dengan rasa cinta yang membuncah. Izinkan aku untuk berdiri di sisimu, lagi. Aku berjanji, aku akan membahagiakanmu dan anak-anak kita sampai hembusan nafas terakhirku. Aku berjanji akan mencintaimu dengan segenap hati dan seluruh jiwaku, hingga cinta itu tak lagi bersisa untuk wanita lain bahkan untuk diriku sendiri. Izinkan aku untuk menjadi pemujamu disepanjang sisa usiaku, hingga raga ini tak lagi bernyawa.
Daniel melihat Lizzy dan Jacob yang saling memandang dengan tatapan penuh kerinduan. Meskipun mereka tak lagi bersama namun tak dapat dipungkiri, jika Jacob masih sangat mencintai wanita itu. Dan Lizzy berada dalam kebimbangan yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Wanita itu seperti berada di sebuah jembatan panjang, yang membuatnya harus memilih ujung jembatan dengan tepian masa lalu atau ujung jembatan dengan tepian masa depan.
**Andaikan aku bisa berada di ujung jembatan dengan tepian masa depanmu Lizzy, aku akan menggenggam tanganmu seerat mungkin, membuatmu tidak ingin lagi menatap masa lalu. Mambuatmu melupakan segala kesedihan dan beban di hatimu. Aku akan menggenggam tanganmu, menjadi sandaran bagimu, melindungimu dan menjadi tujuan pulangmu dari segala perjalanan kehidupan yang membuatmu lelah. Aku ingin menjadi rumahmu Lizzy. Rumah yang akan selalu kau rindukan karena kehangatan dan cinta di dalamnya. Rumah yang akan melindungimu dari segala hal yang mengganggumu, yang juga akan menjadi tempat peristirahatanmu kelak saat kau menutup mata.
Aku ingin menjadi duniamu Lizzy.
.
.
.
.
.
.
.
**Special thanks buat Rhae, gambarnya aku pake ya.
Mamacih Rhae sayang 😘😘😘😘**
1. My Innocent Girl (up)
2. I Love You Badly (masih new)
jangan lupa mampir ya guys, aku tunggu loh ya like, komen, dan juga vote okeeyyy? okey dongg wkwkk :v🙏
kenapa harus like dan komen?
-yaa karena like dan komen kalianlah yang bisa bikin Author semangat🤗
Sekian dan terimakasihh luvv🙏💛✨🤗