Gracia Eliza wanita karir berusia 27 tahun yang mengalami kecelakaan mobil, hingga mengakibatkan dirinya meninggal di tempat.
Sebelum meninggal ia sempat membaca sebuah novel berjudul 'My Cool Boy'. Siapa sangka bahwa jiwanya akan bertransmigrasi ke dalam novel tersebut.
Lebih parahnya lagi ia menjadi tokoh antagonis yang mengharapkan cinta kepada tokoh utama Pria. Angelicia Marseilious, nama gadis itu.
Tapi dikarena sekarang jiwanya lah yang menggantikan. Ia akan memilih jalannya sendiri. Ingatlah, bahwa dia adalah Gracia Eliza. Wanita cerdas yang tak mudah ditundukkan.
"Tak ada lagi Angelicia si gadis bodoh dan kekanakan yang mengemis cinta. Sekarang hanyalah Angelicia si gadis pintar dan tak mudah ditaklukkan!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani_putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hal Menarik
Erland yang baru tiba di rumah Ovy, langsung mendobrak pintu usang itu. Di sana dia melihat Ovy yang hampir dilucuti pakaiannya. Dengan amarah memuncak Erland menarik pria berbadan besar itu untuk menjauh dari Ovy. Dia menghajar tanpa kenal ampun. Sementara yang lain juga tak tinggal diam, mereka ikut menghajar Erland hingga pemuda itu nyaris pingsan.
Lukanya yang dia dapat dari Zavierro bertambah parah akibat perkelahian ini. Ovy terus menangis, dia ingin membantu, tetapi bisa apa dia? Dia hanyalah gadis lemah yang tak bisa berkelahi.
"Berhenti!"
Salah satu dari mereka yang menjadi bos di antara pengawal itu berteriak. Seketika itu juga mereka langsung berhenti menghajar Erland yang terkapar tak berdaya. Detik itu juga, Ovy berlari dan memeluk tubuh lemah tersebut dengan tangisan yang tak kunjung berhenti.
"Tuan Muda menyuruh kita pergi dari sini. Ayo!"
Mereka akhirnya pergi dari sana meninggalkan dua insan itu.
"Apa kau tidak baik-baik saja?" tanya Ovy dengan wajah penuh air mata.
Di ambang kesadarannya Erland tersenyum tipis. Dia mengatakan sesuatu dengan susah payah sambil berusaha menghapus air mata Ovy. "Jangan menangis, aku baik-baik saja, Ovy."
Tangisan gadis itu semakin keras tak kala Erland menutup matanya.
"Bangun, Erland! Erland!"
Ovy menepuk pipi Erland beberapa kali, tetapi pemuda itu tak kunjung sadar. Dia pun segera berlari tergopoh-gopoh mengambil ponselnya untuk menghubungi Ambulans. Sambil menunggu Ambulans datang, Ovy memangku kepala pemuda itu.
...****************...
Zavierro menutup sambungan teleponnya dan berjalan menuju ruangan Elicia. Gadis itu sudah selesai diobati, kini dia berada di ruangan VVIP. Pemuda itu duduk di kursi samping ranjang tempat Elicia berada. Mata indahnya masih tertutup rapat dengan perban yang membalut kepalanya.
Pemuda itu menggenggam tangan Elicia yang tidak dipasang infus. Mengusapnya dengan lembut seraya menatap wajah pucat Elicia.
"Maaf karena terlambat datang menyelamatkanmu. Jika saja aku lebih cepat, mungkin keadaanmu tidak akan seburuk ini," lirih Zavierro menyesal.
"Tapi kau tenang saja, mereka semua tidak akan aku lepaskan," sambungnya dengan wajah dingin.
Setelah itu, Zavierro membawa tangan Elicia mendekat dan mencium punggung tangan tersebut.
"Cepatlah bangun, Elicia."
...****************...
Ovy menunggu Erland di kursi tunggu. Sejak tadi dia tak berhenti menangis. Hatinya mencemaskan keadaan Erland, dia harap laki-laki itu segera sadar. Mendengar pintu ruang yang terbuka, Ovy langsung berdiri.
"Bagaimana keadaannya? Apakah dia baik-baik saja, Dokter?" tanya Ovy dengan raut wajah yang memperlihatkan bahwa dia begitu khawatir.
Dokter pria itu menurunkan masker wajahnya, "Keadaannya sudah membaik. Anda bisa melihatnya setelah ini."
Perkataan Dokter membuat Ovy menghembuskan napas lega. "Terimakasih, Dokter."
"Sudah kewajiban kami, Nona."
Dokter itu tersenyum profesional, kemudian berlalu dari sana. Sementara Ovy menunggu sampai Erland di bawa ke ruang rawat. Tak berselang lama, pintu terbuka. Para perawat dengan sigap mendorong pasien menuju ruang rawat berada. Ovy mengikuti di belakangnya, tiba-tiba terdengar langkah kaki yang berlari mendekat.
"Akh!" Bahu Ovy ditabrak dengan keras oleh wanita itu. Gadis itu hendak memaki orang yang berani menabraknya. Namun, kala mengetahui siapa wanita itu, dia mengurungkan niatnya dan lebih memilih mengumpat dalam hati.
"Apa yang terjadi kepada putraku?! Kemana kalian akan membawanya?" seru wanita itu yang tak lain adalah Ibu Erland.
"Nyonya, kami akan memindahkan putra Anda ke ruang rawat. Keadaannya sudah membaik, tinggal menunggu beberapa jam lagi putra Anda akan siuman, Nyonya," jelas wanita perawat itu dengan suara sopan.
Maureen menatap teduh wajah putranya yang penuh luka, kemudian mengalihkan pandangannya ke arah mereka. "Bawa dia ke ruangan VVIP."
"Baik, Nyonya." Serentak mereka mengangguk dan berseru. Kemudian, para perawat itu kembali membawa Erland menuju ruang inap.
Maureen mengalihkan pandangannya ke arah gadis yang tak sengaja dia tabrak bahunya tadi, "Bukankah kau sepupu Angel?"
Ovy dengan kaku mengangguk, sementara Maureen memicingkan mata curiga. "Untuk apa kau kemari?"
"Ah, sa- saya--"
"Nyonya, tadi saya melihat orang tua Nona Angelicia di sini."
Seorang pria paruh baya yang menjabat sebagai supir pribadi Maureen datang menghampiri mereka dan menyela ucapan Ovy.
"Benarkah? Dimana kau melihat mereka?" tanya Maureen mengalihkan perhatiannya ke arah sang supir sepenuhnya.
"Di bagian resepsionis, Nyonya. Mereka bertanya letak ruangan Nona Angel."
Maureen dan Ovy terkejut, "Angel di rawat di rumah sakit ini?"
"Benar, Nyonya." Supir itu mengangguk.
"Apa yang terjadi dengannya?" Maureen tak dapat menutupi rasa cemasnya. Sementara supir itu menggeleng pelan.
"Saya juga tidak tahu, Nyonya."
"Ayo ke sana."
Maureen berjalan lebih dulu bersama sang supir melewati Ovy yang terpaku. "Angel di sini juga? Apa yang terjadi padanya? Apakah rencana Erland berjalan lancar?"
Memikirkan hal itu, Ovy tersenyum senang. Jika benar, bukankah hidup Angel sudah hancur? Dia tak sabar melihat kehancuran gadis itu. Ovy memutuskan untuk pergi dari sana, dia tak bisa berlama-lama di sini bersama Ibu Erland. Apabila wanita itu bertanya, dirinya tak tahu harus menjawab apa. Jadi, jalan yang tepat adalah pergi dari sini. Lagipula, keadaan Erland sudah baik-baik saja.
Kepergian gadis itu ternyata dilihat oleh sepasang mata tajam yang sedari tadi mengawasinya. "Berbahagialah untuk saat ini, karena sebentar lagi, badai akan datang menerjangmu, wanita licik."
Sosok itu berlalu pergi menuju ruang rawat Elicia untuk menemui orang tua gadis tersebut. Sesampainya di sana, dia menyapa dengan sopan kepada Ayah Elicia.
"Bukankah kau Putra Bastian?" tanya Gerald mendapati sosok yang dikenalnya berjalan menghampirinya.
Istrinya sudah berada di ruang rawat putri mereka. Sementara dia keluar karena mendapat telepon penting dari salah satu koleganya. Dirinya tak ingin menganggu sang putri, jadi memutuskan untuk berbicara di luar saja. Tak Gerald sangka dirinya akan bertemu dengan Zavierro.
Zavierro mengangguk, meski dia tak sudi dicap sebagai putra dari pria itu. Namun, fakta tak bisa ditolak, dia memang putra kandung Bastian Arlando.
"Benar. Saya Zavierro Arlando."
Gerald mengangguk. "Sedang apa kau di sini?"
Zavierro tak langsung menjawab, dia memilih untuk melirik ruang Elicia dari balik kaca. Agaknya Gerald memahami hal itu meski sedikit tidak percaya.
"Apa kau yang menelepon kami?"
Zavierro mengalihkan pandangannya, lantas mengangguk.
"Ah, jadi kau yang membawa putriku ke sini."
"Sebenarnya apa yang terjadi? Istriku mengatakan jika Elicia berangkat bersama tunangannya. Tapi kenapa jadi seperti ini?" Gerald menatap sendu sang putri yang terbaring di ranjang.
Zavierro mengikuti pandangan mata Gerald, untuk beberapa saat dia hanya membisu. "Tuan Marceilious, jika boleh saya beri saran, sebaiknya anda memutuskan pertunangan mereka."
Belum sempat Gerald memberikan reaksi, Maureen yang baru tiba di sana dibuat marah oleh perkataan pemuda itu.
"Siapa kau berani memutuskan hal itu, hah!" bentak Maureen.
Dia memang wanita anggun dan memiliki sifat lembut, tetapi jika ada yang mengusiknya. Maureen tak akan segan untuk bertindak, dan perkataan pemuda itu menyulut emosi dalam hatinya. Wanita itu sangat menyukai Angelicia, berharap bahwa gadis tersebut akan menjadi menantunya. Karena hanya gadis itulah yang paling cocok dengan putranya.
Zavierro menyunggingkan senyum kecil, "Nyonya Imanuel?" sapanya yang dibalas tatapan tajam oleh wanita itu.
Sepertinya hal menarik akan segera terjadi hari ini. Hal yang mungkin akan membuat salah satu dari mereka terperosok ke arah jurang curam. Semakin dalam dan semakin jauh.
To be continued...
Gimana gimana jantung kau masih aman kan??!!!,🤣🤣🤣🤣