Nekat merantau keluar dari desa yang bagai penjara baginya, siapa sangka Nirmala malah terjebak pernikahan dengan pewaris tahta perusahaan raksasa Fernandez Group. Belum lagi ternyata pria bule yang menikahinya ini super rese dan sombong tingkat dewa.
Bagaimana perjalanan bahtera rumah tangga Nirmala dan Danzel? Simak terus!!
Jangan lupa follow Ig author: @stefhany_stef
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Stefhany 22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21
Dengan wajah merengut Deby mondar mandir di ruang tamu kediaman ayah dan ibunya. Hari ini pagi pagi buta, ia kembali mengulangi apa yang ia lakukan beberapa hari terakhir ini. Yaitu datang pagi sekali ke rumah orang tuanya untuk merengek tentang masalahnya.
"Ada apa lagi kali ini?" Arjuna yang merupakan ayah kandung Deby baru saja turun dari tangga, terlihat ketampanannya tak pernah tergerus usia itu tengah mengancingkan lengan bajunya.
"Ayah.." Mulai meluncurkan senjata andalannya yaitu merengek pada ayah Arjuna. Lelaki itu sangat menyayanginya, selalu tak tega kalau keinginannya tak terpenuhi. Apalagi dengan mimik wajah yang seperti itu, Deby yakin seratus persen ayah Arjuna akan mengabulkan permohonannya.
"Jam berapa kamu datang? Sudah makan?" Seperti biasa ayahnya akan menanyakan hal tersebut saat ia datang berkunjung, tak peduli apa yang dikatakan Deby, lelaki itu akan bertanya ia sudah makan atau belum.
"Aku datang lima belas menit lalu dan belum makan." Jawabnya manja. Deby bergabung dengan sang ayah duduk diatas sofa. Ia beringsut mendekat, ingin mengutarakan keinginannya.
"Ayah," Panggilnya kesekian kali.
"Ada apa? Apa yang kamu mau sekarang?" Walaupun nada bicaranya datar, tapi percayalah Arjuna adalah tipe ayah yang penyayang dan sangat peduli pada anaknya.
Mendengar ayahnya bertanya demikian, apalagi sambil mengelus kepalanya, senyum di wajah gadis muda itu merekah.
"Jadi begini, ayah ingatkan kalau apartemen ku yang sekarang ini baru beberapa bulan kutempati?"
"Ya, lalu?"
"Setelah dirasakan, ternyata apartemen itu tidak nyaman. Tetanggaku banyak lelaki lelaki dewasa ayah, aku tidak nyaman kalau berpapasan dengan mereka." Ya, gadis itu selalu tahu pukulan telak yang akan menggoyahkan hati ayahnya. Arjuna paling tidak bisa dan akan khawatir berlebihan kalau sudah menyangkut hal seperti ini. Rasa was was kalau putrinya akan kenapa napa karena laki laki menghantuinya. Bagaimana kalau para lelaki itu macam macam pada putri kesayangannya?
"Apa itu benar?" Nada khawatir tersirat disana.
"Iya ayah! Ayah tahu, saat aku pulang malam dan berpapasan dengan mereka yang sepertinya habis minum - minum, mereka seperti memandangku dengan tatapan aneh. Kan aku jadi takut!" Deby semakin mengompori sang ayah.
"Dan lagi, kamar di apartemen itu juga lebih kecil dari kamarku sebelumnya, aku ingin pindah ayah"
Beberapa menit kemudian lelaki paruh baya itu nampak menimbang nimbang keputusan. Ia seperti tengah berpikir keras. Dengan sabar dan wajah memelas gadis muda yang baru akan memulai kuliahnya itu menunggu.
"Bagaimana kalau kamu pindah ke apartemen yang dekat dengan kantor ayah? Jadi kalau ada apapun, tidak perlu repot." Ujarnya.
"Tapi disana jauh dari kampus Deby nanti, ayah tahukan aku suka terlambat."
Arjuna tampak berpikir lagi beberapa saat ,ia bingung memilih tempat hunian yang sekiranya cocok untuk putrinya. Yang pastinya aman dari gangguan. Dari kecil Deby terbiasa hidup dengan orang tua. Semua kebutuhannya tercukupi dan disiapkan, ia selalu aman dan nyaman. Hanya saja, saat putrinya akan memasuki bangku perkuliahan ia meminta tinggal sendiri. Katanya ingin belajar mandiri. Arjuna awalnya kaget dengan hal itu, Deby dari kecil adalah gadis manja yang apapun bergantung padanya, kini tiba tiba ingin mandiri. Walaupun ia senang, tapi juga was was, tak ada yang menjamin keamanan sang putri diluar sana. Bahkan ia menolak dicarikan bodyguard.
"Emm, begini saja. Bagaimana kalau aku pindah ke apartemen Xxx. Disana ada orang yang mau menjual apartemennya. Lagipula, ayah tak perlu khawatir dengan keamananku kalau disana, sebab ada kak Danzel. Aku bisa minta tolong padanya kalau ada sesuatu." Akhirnya niat awal Deby kemari tersampaikan.
"Danzel?" Dahi Arjuna berkerut, apa ini siasat anaknya untuk lebih dekat dengan sepupunya itu. Ia tahu kalau Deby mengagumi Danzel. Tapi Danzel sekarang sudah punya istri, ia tak mau Deby merecoki pengantin baru itu nanti.
"No Deby! Tidak di apartemen itu, kamu nanti malah akan merepotkan Danzel." Deby tersentak akan perkataan ayahnya.
****
Sedangkan di tempat lain, kedua insan yang sama sama polos tersebut terlihat sangat romantis dengan posisi berpelukan, dengan cahaya matahari yang mulai memasuki kamar lewat jendela yang lupa ditutup semalam. Senyum nampak terbit samar di wajah Mala, perempuan itu tengah mengarungi alam mimpi yang indah. Ia belum sadar apa yang telah terjadi.
Beberapa menit berlalu, keduanya masih saling memeluk. Perempuan itu bahkan semakin menenggelamkan kepalanya pada dada bidang yang amat nyaman baginya. Aromanya yang maskulin khas lelaki membuat Mala suka menghirup baunya berlama lama, kemudian tersenyum dengan mata terpejam. Agaknya perempuan yang baru saja menyerahkan hal berharga pada suaminya semalam tersebut masih dikuasai alam mimpi.
Perlahan Mala mengerjapkan mata, ia agak terganggu oleh silaunya cahaya mentari yang mengusik retina mata. Ia menggeliat, meregangkan badannya yang terada remuk karena pertempuran semalam yang tiada habisnya. Mala sudah sadar, namun matanya masih enggan membuka, ia agak meringis saat menggerakkan kakinya. Rasanya perih, terutama bagian pangkal pahanya. Saat kedua mata indah itu terbuka sempurna, sontak perempuan itu membulatkan matanya. Ingatannya kembali ke semalam, ia ingat saat Danzel menciumnya rakus, memuknya, hingga memasukinya yang membuatnya kesakitan.
Menoleh kearah sang suami, lelaki itu masih tertidur pulas. Bahkan lengannya masih melingkar erat di pinggang istrinya. Enggan melepaskan. Mala terdiam sejenak, ia bingung. Apa yang akan ia lakukan selanjutnya. Apa yang akan ia katakan pada Danzel saat ia bangun nanti. Oh, Mala benar benar malu. Ia bahkan masih ingat bagaimana bisikan bisikan mesra suaminya yang memuji tubuhnya. Ya walaupun Danzel dalam pengaruh alkohol.
"Eurghh!" Danzel membuka matanya. Mereka bertatapan lama dengan posisi masih berpelukan. Mala merasa malu, ia lalu menurunkan pandanganya. Tapi ada sesuatu yang aneh dibawah sana, seperti ada sesuatu yang keras, sesuatu yang berada di tengah pahanya. Karena penasaran, tanpa sadar tangan Mala meraba dan menggenggam benda aneh tersebut.
"Ah!"