Seorang Ceo tampan berkharisma Georgie Vandeles, harus merubah jati dirinya menjadi Harlan seorang pria biasa yang mencari cinta sejati tanpa melihat dirinya dari harta, kedudukan dan kekuasaannya.
Siapakah wanita beruntung itu...?
Yuk ikuti kisahnya....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon enny76, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mulai ada Rasa
"Silahkan duduk Nona Lupita!" perintah Harlan.
Lupita langsung tersentak saat Presdir itu berbicara padanya, jangankan untuk bertatapan muka, bahkan untuk berbicara pada seorang Presdir pemilik perusahaan Asing saja sangat sulit, Lupita merasa dirinya sangat beruntung bisa masuk kedalam ruangan Presdir dan bertemu langsung dengan pemiliknya.
Lupita mendudukkan tubuhnya disofa, ia kaget saat melihat wajah Presdir Georgie tertutup masker dan kacamata hitam.
kenapa juga wajahnya ditutupi, apakah wajah Ceo ini buruk? pikirnya dan bergumam dalam hati.
"Bagaimana aku mau melihat wajahnya? sedangkan rupanya saja tertutupi semua, bahkan matanya pun tertutupi kacamata hitam! masih bergumam dalam hati, terlihat kekecewaan di raut wajah Lupita yang tertutupi dengan senyuman tipis.
"Ehem..! Harlan berdehem untuk membuyarkan pikiran Lupita. "Mana konsep desain yang kau buat." bertanya dengan sopan.
"Ohh iya ini tuan!" menyerahkan sebuah Makalah yang sudah di kliping hingga menjadi buku."
Harlan menerimanya dan membuka satu persatu isi dari makalah itu, ia melihat sketsa gambar desain Lupita secara detail, bagaimana Lupita membuat konsep dari desainnya itu menjadi lengkap, susunan satu-persatu yang ia buat sangat bagus, dari kamar tidur, dapur, ruangan keluarga, ruangan tamu, teras, taman bahkan kolam renang, ada sebuah ruangan kerja khusus dan tangga terselip didalam ruangan yang menghubungkan langsung ke lantai dua dan tiga, tangga itu bisa terbuka dan tertutup secara otomatis yang akan Harlan buat, dan tangga itu bisa digunakan dalam keadaan darurat. Dalam hati Harlan sangat mengagumi dan memuji kecerdasan Lupita.
"Kau memang gadis yang berbakat Lupi" pujinya dalam hati.
"Baiklah akan aku pelajari semua Desain ini, jadi apa konsep dalam villa yang kau buat."
Setelah saya membaca proposal dari tuan, dimana Tuan adalah orang Belanda jadi saya memberikan konsep minimalis tapi ada tekstur gaya eropa modern, saya memberikan sentuhan pada bangunan utamanya di sini." Lupita membuka sebuah makalah dan mulai memberikan penjelasan secara mendetail, yang diberi penjelasan bukanya mendengarkan malah menatap wajah dan bibir tipis Lupita yang terlihat begitu menggoda."
"Apa Tuan sudah mengerti sampai disini?! Lupita menoleh pada Harlan yang terlihat sedang menatapnya.
"Ehh.. apa tuan Georgie memandangiku ya? aah.. ku rasa tidak! dia kan memakai kacamata hitam, bagaimana aku bisa berfikir tuan Vandeles menatapku, aku saja yang ke gr-an." batinnya terkekeh.
"Tentu saja aku sudah paham, sebelum kau ceritakan aku sudah tau konsep dan desain buatan mu."
"Hah! Lupita terkejut "Darimana Tuan bisa tau konsep desain yang saya buat? sebelumnya saya belum pernah membuat desain ini." ujar Lupita terlihat bingung.
"Astaga aku keceplosan! batin Harlan
"Maksudku bukan seperti itu, maksudnya aku sudah mengerti dan paham apa yang sudah kau sampaikan tadi."
"Kalau sudah tahu kenapa nyuruh aku menjelaskannya lagi! gerutu Lupita dalam hati.
Terdengar suara ketukan pintu dari luar pintu, pintu dibuka setelah harlan memberikan izin untuk masuk.
"Siang Tuan presdir! makan siang sudah datang."
"Segera persiapkan!"
"Baik Tuan!
Sekretaris Meta membawa berbagai macam hidangan dan menaruhnya diatas meja tamu, Lupita yang melihat hidangan makanan diatas meja tercengang, ia begitu bingung dengan banyaknya makanan, setelah selesai Meta mengundurkan diri.
"karena kau sudah mendesain villa ini dengan sempurna dan aku sangat menyukainya, aku memberikan hadiah untukmu makanan ini, makanlah semua yang kau sukai."
"Hah! makanan sebanyak ini buat saya tuan? menatap wajah Harlan tak percaya.
Harlan tersenyum sumringah, walau senyumnya tidak terlihat, karena senyuman itu tertutup dengan masker, lupita hanya melihat pipinya mengembang.
Harlan beranjak dari duduknya.
"Apa Tuan tidak makan juga?
"Tidak, aku berikan itu untukmu, makanlah aku masih banyak pekerja yang harus aku lakukan."
"Tapi tuan makanan sebanyak ini mana mungkin bisa saya habiskan."
"Terserah kau saja, kalau tidak habis bisa kau bawa pulang, Kalau kurang aku belikan lagi."
"Tidak perlu Tuan, tapi saya takut mengganggu bila makan disini? lebih baik saya makan bersama teman-teman saja di bawah."
"Lupita hatimu terbuat dari apa? mereka sudah mengolok-olok dan terus menghinamu, tapi kau masih peduli pada mereka!
"Tidak! kau tetap harus makan disini, ini perintah!"
"Ba__baik Tuan"
Lupita mulai menikmati makan siangnya sendiri. Sementara Harlan duduk di kursi Presdirnya sambil membuka laptop dan mengetik jarinya di atasnya keyboard, sesekali pandangannya menoleh pada Lupita yang sedang makan dengan wajah tertunduk, ia terlihat begitu malu-malu.
"Sebenarnya aku ingin sekali makan bersamamu, aku teringat pada saat kita makan pecel lele waktu itu, tapi aku tidak bisa makan denganmu sebagai Harlan, di kantor aku adalah seorang Vandeles, aku akan tetap menjaga rahasia ini sampai aku yakin pada diriku sendiri, bila saatnya tiba aku akan jujur padamu Lupi."
"Maaf Tuan, saya sudah selesai makannya, saya akan bereskan."
"Tidak usah, biar Meta saja yang membereskan nya, teruskan saja bekerja di ruangan mu."
"Tapi Tuan, saya tidak bisa kalau tidak membereskan ini dulu, masa habis makan ditinggalkan begitu saja, kan tidak sopan."
"Sudah tidak apa-apa, kau ini karyawan ku,
Tuts!
Meta tolong semua makanan didalam kantor kau bereskan."
"Baik Tuan!"
"Tak lama Meta masuk ke dalam ruangan bersama seorang pelayan untuk membereskan makanan yang tidak semuanya di makan Lupi, setelah meja dibersihkan mereka berdua keluar ruangan.
"kalau gitu saya juga permisi Tuan, saya mau ke ruangan kerja." saat lupita ingin pergi Harlan memanggil.
"Lupita!
"Ya Tuan."
"Sebentar, bisa kau ambilkan makalah yang tadi kau berikan padaku? pinta Harlan.
"Baik Tuan!
Saat Lupita sedang mengambil makala diatas meja, Harlan mengambil air putih didepannya, karena takut ketahuan buru-buru ia meminumnya, tiba tiba air itu tumpah kebawah walau tidak banyak, dengan cepat ia menutup maskernya kembali.
Lupita berjalan kearah meja kerja Harlan sambil tersenyum manis, saat sudah mendekat dan berjalan kearah samping, tiba-tiba lupita kepeleset air sisa tumpahan Harlan tadi, sebelum terjatuh ke lantai dengan cepat Harlan menangkap tubuh Lupita dan... wajah mereka sangat dekat, mata keduanya saling bersitatap, detak jantung mereka saling berirama, darahnya berdesir dari atas sampai bawah, rupanya Harlan lupa memakai kacamata hitamnya. 🤭
"Sepertinya aku mengenal mata ini, mata coklat dengan bulu mata agak lebat, apakah dia....
Ceklek!
"Ehem!
Tiba-tiba Wiliam masuk kedalam ruangan, sadar ada yang datang, Harlan melepas Lupita dengan anggun, mereka berdua langsung merubah posisinya.
"Maaf tuan mengganggu, karena ada berkas yang harus di tandatangani."
Harlan mengangguk.
Lupita tertunduk malu "Maaf Tuan kalau begitu saya keruangan kerja dulu."
"Silakan!"
Lupita keluar dari ruangan Harlan dengan perasaan aneh, setelah ia menutup pintu itu Lupita memegangi dadanya yang masih berdebar-debar, la berjalan menuju pintu lift, dan masuk setelah lift terbuka.
'
'
'
'
'
'
@Bersambung....