(Novel sedang dalam tahap perbaikan. Akan ada perbaikan kata dan perubahan bab. Maaf untuk Season 2 yang saya hapus)
Demi membalaskan dendam kematian kedua orang tuanya, Hanan Kourosh, Seorang Ceo pemilik perusahaan terkenal ibukota.
Rela menikahi seorang gadis yang tak ia cintai dan tak sesuai standarnya, Zara Altair. Seorang gadis yatim piatu, putri dari pembunuh kedua orang tuanya. Dengan rupanya yang jauh dari kata cantik dan memiliki tompel besar di pipinya.
Pernikahan tanpa cinta pun dijalani, tak terlihat sedikitpun bahwa pernikahan hanya didasari pada balas dendam
Akankah Zara mendapat kebahagiaannya, atau....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kleo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21 (PESTA)
Untuk beberapa saat lamanya, Zara masih berada di pelukan Hanan, sampai Arfan datang membawa segelas lemon dan membantunya.
“Terima kasih, banyak Paman!”
“Tidak masalah Nona, kalau begitu saya
permisi. Karna masih banyak pekerjaan yang harus saya lakukan”
Ketika Arfan pergi, Zara duduk di sofa kamar. Untuk beberapa saat, Ia memandangi wajah Hanan yang tertidur pulas. Dan setelahnya, timbul sebuah senyum hampa di wajah tirusnya.
“Ketika kau tidur seperti itu ... kau terlihat seperti seseorang malaikat tanpa sayap untuk orang di sekitarmu, tapi sebenarnya ... Kau adalah iblis yang menyembunyikan tandukmu!”
🦋🦋🦋🦋🦋🦋🦋🦋🦋🦋🦋🦋
Ketika Pagi telah menjelang, Hanan bangun dari tidurnya. Ia menggeliat dan melihat ke sekeliling, dilihatnya Zara tengah tertidur pulas di sofa kamar dengan tangan sebagai bantalannya. Untuk beberapa saat, ia menatap lekat pada wajah Zara, dan tanpa pikir panjang Hanan mendekatinya. Ia berjongkok untuk melihat wajah Zara secara dekat. Dan dengan berani Hanan menyingkirkan rambut yang menutupi wajah Zara.
“Cantik...!”
Kata itulah yang tanpa sadar keluar dari mulutnya. Membuatnya segera beranjak dan kembali pada akal pikirannya.
“Aghhh, apa yang kulakukan?” Gerutunya sambil melangkah menuju kamar mandi.
Selesai mandi dan berpakaian, Hanan langsung pergi ke ruang kerja, tanpa memperdulikan lagi Zara yang terlelap akan tidurnya.
Ketika Hanan mencapai ruang kerja, Telepon kantor berdering nyaring menyambutnya.
“Halo...? Apa, Pesta...? Yang benar saja! Baiklah aku akan datang bersamanya”
Hanan mengakhiri telepon, iya meletakan kembali telepon tersebut dengan sedikit kesal.
“Ack, kenapa harus sekarang Teyze(bibi) mengadakan pesta?” Gerutu Hanan
Hanan kesal, karna ia mendapat telepon dari sang Bibi. Yang menyuruhnya untuk datang bersama Zara, ke pesta yang di adakannya malam ini.
Hanan lalu kembali mengambil telepon kantor yang di letakannya, ia menelepon Arfan yang berada di lantai bawah, untuk menyampaikan pesannya pada Zara.
“ya, Halo Tuan?”
“Arfan, berikan pesan ini pada Zara nanti, katakan padanya ia harus bersiap malam ini untuk pergi bersamaku ke pesta yang di adakan Teyze(bibi). Kau mengertikan?”
“Ya, saya mengerti Tuan, saya akan menyampaikannya nanti!”
Hanan mengakhiri pembicaraan, dan meletakan kembali telepon kantornya. Pandangannya kini telah teralih pada beberapa berkas yang tersisa di meja. Ia lalu duduk di kursinya, dan membuka berkas yang tersisa.
Sedangkan di sisi lain, Zara yang terbangun dari tidur nyenyaknya, segera bangkit dan memulai aktivitasnya. Untuk awalnya ia bingung ketika melihat Hanan sudah tidak ada di ranjangnya.
“Aih, apa peduliku!”
Selepas mandi Zara turun ke lantai bawah, memasak makanan, dan pergi bekerja seperti biasanya. Ketika itu Arfan lupa untuk menyampaikan pesan yang di sampaikan Hanan, hingga ia membiarkan Zara pergi begitu saja.
Waktu berlalu, Zara yang telah berada di restorannya terlihat sangat sibuk untuk melayani banyaknya pelanggan yang datang silih berganti. Hingga membuatnya harus lembur dan tutup lebih lambat. Kala ia melihat telepon yang di letakannya di lantai atas, ia terkejut, ada lima belas panggilan tidak terjawab dari Arfan untuknya.
Tumben, Arfan menelepon sebanyak ini. Apa ada masalah di rumah?. Zara
Di saat bersamaan, Arfan menelepon kembali, dan Zara segera mengangkatnya.
“Halo, Paman?”
“Ah, Nona. Akhirnya kau mengangkat. Nona, kau harus pulang secepatnya, malam ini ada pesta yang diadakan di rumah Nyonya. Dan Nona harus datang bersama Tuan ke sana” Jelasnya dengan nada bicara yang sedikit terlihat panik
“Baiklah, pukul berapa caranya dimulai?”
“Pukul 20.00 tepat, Nona”
“Em, ba..!”
Perkataannya terhenti, kala Zara melihat Jam yang tertempel di dinding telah menunjukkan pukul 20.45
“Oh, astaga! Yang benar saja? ”
Dengan di bantu oleh Arfan yang memberitahu letak pesta yang di adakan. Tanpa menunggu lebih lama, Zara segera mengambil tas, dan langsung memutuskan untuk pergi ke pesta yang di adakan Helen.
Di sisi lain, Hanan yang terlebih dahulu sampai ke tempat pesta, terlihat sibuk berbincang dengan tamu lainnya. Ia terlihat sangat berbeda kala itu, tampan dan gagah dengan setelan jas yang dikenakannya.
Para wanita yang melihatnya, tentu sangat terpesona akan ketampanan yang di miliki Hanan. Tak sedikit dari mereka mendekat dan menghampiri, mencoba untuk menggoda atau merayunya, tanpa peduli jika Hanan telah menikah. Sedangkan para wanita lainnya, mereka asyik mencibir dan bergunjing tentang Zara.
“lihat saja, ia sendiri pun tidak membawa istrinya kemari. Itu sudah memperjelas bukan? Bahwa hubungan keduanya, hanya sebatas uang dan jabatan, bahkan ia pun persis seperti yang di rumorkan!” Ucap seorang tamu pada tamu lainnya.
“Hmm tepat sekali. Mana mungkin pria tampan dan sekaya itu mau menikahi seseorang secara percuma. Jika pun, ya. Pasti ia akan memilih seseorang yang benar-benar cantik dan sempurna” Balas tamu lainnya dengan sedikit berbisik.
“Ha, ha. Kau benar. Aku yakin, wanita itu menggunakan uangnya, untuk mendapatkan pria setampan itu”
Ketika musik yang menggema di seluruh ruangan terhenti, para tamu terdiam, dan mengalihkan pandangannya pada asal derap langkah seseorang yang berlari di balik pintu. Ya, siapa lagi jika Zara. Ia berlari menuju mansion Helen, tanpa memperhatikan lagi penampilannya sendiri, yang terlihat basah dan acak-acakan sehabis bekerja.
Saat ia mencapai ruang utama, semua tatapan orang tertuju padanya. Membuatnya sedikit canggung dengan situasi yang ada. Sedang para wanita yang melihatnya, mereka kembali menggunjing dan mencibirnya, tatkala melihat busana yang di kenakan Zara.
“Lihatlah pakaian yang dikenakannya, sangat tidak pantas, bahkan persis seperti seorang pembantu”
“Ya, bagaimana bisa, ia menggunakan pakaian seperti itu ke pesta mewah seperti ini. Jika aku jadi dia aku akan sangat malu, bahkan untuk tersenyum seperti yang ia lakukan”
“Dia benar-benar gadis rendahan, sekarang aku tidak yakin jika ia seorang wanita kaya, mungkin saja ia memikat suaminya dengan ilmu hitam atau sihir”
Zara yang berjalan di dekat para wanita, tentu mendengar gunjingan tersebut. Ia ingin marah pada mereka, ia ingin menjawab semua perkataan para wanita yang mencibirnya. Tapi memutuskan untuk tetap diam, ia tidak ingin merusak pesta Helen, selaku pembuat dan penanggung jawab pesta. Ia terus berjalan di kerumunan yang terus menatapnya dengan sinis. Ia tidak peduli, karna yang ia cari adalah keberadaan Helen di antara para kerumunan.
Untuk beberapa saat, ia tak berhasil menemukan Helen, bahkan keberadaan Hanan sekalipun, ia tidak menemukannya.
Apa benar ini pesta Teyze? Tapi mengapa aku tidak melihatnya, bahkan keberadaan Hanan sekalipun. Zara
Ketika musik telah kembali menyala, Helen datang bersama Hanan di sampingnya. Ia terlihat mengenakan gaun berwarna ungu, dengan renda yang senada menghiasi pinggirannya. Terlihat sangat anggun.
Karena musik yang sempat mati sebelumnya. Helen mengucapkan permintaan maafnya pada para tamu. Dan pada saat pandangannya menangkap Zara, ekspresinya mengeras. Dengan cepat, Helen menghampiri Zara.
“Zara!”
“Ah, Teyze! Maaf jika aku datang terlambat, aku benar-benar sibuk tadinya, sampai aku tidak bisa melihat kabar tentang pesta Teyze” Ucap Zara langsung dengan mata yang berbinar.
“Baiklah! Ini salahku, seharusnya aku mengabari terlebih dahulu, hingga kau bisa menyiapkan dirimu lebih awal!”
“Terima kasih, Teyze! Teyze mau mengerti aku”
Mendengar itu, Helen tersenyum simpul.
“Nah, sekarang... Kau ikut denganku” Balasnya
Helen menyeret lengan Zara, menuju sebuah ruangan. Di ruangan tersebut, Zara dapat melihat dengan jelas, pakaian dan bermacam -macam gaun indah gemerlap memenuhi ruangan tersebut.
“Zara, sekarang pilihlah salah satu gaun yang ingin kau kenakan!”
Zara yang masih menatap penuh takjub pada gaun-gaun tersebut, Hampir tak mendengar perkataan Helen.
“Zara!”
“Ah, ya. Ada apa Teyze?”
Helen tersenyum “pilihlah salah satu gaun yang kau inginkan”
Zara lalu maju dari awal tempatnya berdiri, ia melihat ke sekeliling gaun yang ada, namun tak ada yang sesuai dengan seleranya. Sampai ia menemukan gaun hitam polos berlengan panjang, ia begitu senang ketika melihat gaun tersebut, dan segera meraihnya.
“Teyze, boleh aku memilih gaun ini!”
Helen berbalik, melihat pada gaun yang dipilih Zara, dan ketika ia melihat itu ekspresinya tidak kalah baik dari sebelumnya.....
.
.
.
.
.
.
(JANGAN LUPA LIKENYA 😈)
keren ceritanya
semangat