Aku tak ingin seperti ibuku. Mencintai tanpa batas dan diluar logika bahkan rela mati demi cinta. Tapi nasib yang membawaku menjalani hidup bahkan lebih parah dari Ibuku.
~Tiara Purnama ~
Gadis sederhana yang kuliah sambil bekerja membantu Ibunya membesarkan dan menyekolahkan adik - adiknya dan hidup dengan Bapak Tiri yang pemalas, suka mabuk-mabukan dan suka memukuli ibunya.
Melihat Ibunya yang begitu tersiksa dibuat suaminya membuat Tiara bertekad tidak ingin sepertinya Ibunya.
Tapi alangkah malang nasibnya, disuatu acara kampus Tiara di jebak oleh temannya. Mereka mengajak Tiara ke sebuah club malam, memberi Tiara minuman beralkohol dan malam itu Tiara berakhir di sebuah kamar hotel dengan seorang pria.
Bagaimana kelanjutan kisah hidup Tiara??
Lanjutkan kisahnya...
Selamat membaca.. semoga kalian suka 😍😍
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon winda siregar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Harus belajar sendiri
Keesokan harinya Ridho mengadakan perpisahan di Cafe karena hari itu adalah hari terakhir dia bekerja di Cafe. Hari senin Ridho sudah bekerja di sebuah perusahaan.
Sebelum pulang, terlebih dahulu dia berpamitan dan melakukan salam perpisahaan kepada Dian pemilik Cafe.
"Terimakasih ya Mbak, selama aku kuliah Mbak Dian sudah banyak membantu aku dengan menerima aku bekerja di Cafe ini. Aku banyak belajar dengan Mbak" ucap Ridho.
"Sama - sama Dho, kamu pria yang baik, rajin dan bertanggung jawab. Mbak yakin kelak kamu akan menjadi seorang yang sukses asal jangan lupa bersyukur dan pintar jaga diri. Jakarta ini keras, jangan sampai kamu salah jalan dan salah pergaulan. Dunia pekerjaan juga sangat kejam, saling sikat, menjilat, nepotisme dan korupsi sudah merupakan hal yang biasa. Makanya saya lebih memilih membuka usaha seperti ini, lelah dengan kejamnya persaingan tidak sehat " ungkap Dian.
"Iya Mbak, terimakasih atas nasehat Mbak. Satu lagi Mbak, aku ingin titip sesuatu kepada Mbak" balas Ridio.
"Apa itu Dho?" tanya Dian.
"Aku titip Tiara Mbak, tolong kabari aku kalau terjadi sesuatu dengannya" jawab Ridho.
"Sesuka itu kamu padanya?" goda Dian sambil tersenyum.
"Yah begitulah Mbak, tapi dua kali aku sudah di tolaknya mentah-mentah. Tapi masa depan siapa yang tau Mbak, tidak ada yang menduga kalau ternyata memang dia jodohku" tegas Ridho.
"Hahaha.. aku suka melihat semangat kamu, semoga perjuangan kamu berhasil ya dan kelak Tiara akan menerima perasaan kamu" ucap Dian memberi semangat.
"Aamiin.. aku pamit ya Mbak" ujar Ridho.
"Selamat jalan Dho, sukses di tempat yang baru" balas Dian.
Malam itu kembali Ridho dan Tiara pulang bareng. Ini malam terakhir mereka pulang bersama sebagai pegawai Cafe. Mulai besok mereka akan berpisah kerja karena Ridho akan bekerja di kantor yang baru.
Sesampainya di Kosan.
"Kamu langsung istirahat Dho, bukannya besok kamu berangkat kerja pagi?" tanya Tiara.
"Iya Ra, besok tolong bangunkan aku adzan subuh ya Ra. Aku takut telat" jawab Ridho.
"Oke.. aku masuk ke kamar ya. Makasih tumpangannya malam ini" balas Tiara.
Mereka masuk ke kamar masing-masing dan beristirahat.
******
Tibalah hari pertama Ridho bekerja. Sesuai dengan pesan Ridho tadi malam, Tiara membangunkan Ridho setelah dia selesai shalat subuh. Tiara menyiapkan sarapan pagi dan teh untuk Ridho.
"Waaah dapat service nih pagi - pagi. Jadi semangat pergi kerja kalau di manjain kamu seperti ini" goda Ridho.
"Aku tuh hanya ingin kamu lebih semangat aja pergi kerja di hari pertama" ujar Tiara.
"Kamu memang yang terbaik Ra" balas Ridho.
Setelah selesai sarapan Ridho pergi ke kantornya.
"Aku pergi dulu ya Ra, doain hari pertamaku lancar ya" ucap Ridho.
"Iya, yang semangat ya kerjanya. Fighting... " balas Tiara sambil tersenyum.
Ridho membalas senyuman Tiara dan berbisik ke arah perut Tiara.
"Papa pergi kerja ya, kamu jangan nakal sama Mama kamu" ujar Ridho.
"Dhooo.... " cegah Tiara.
"Walau kamu tidak bisa membalas perasaanku, tapi kamu kan sudah berjanji akan membiarkan anak kamu ini menjadi anakku. Jadi saat dia lahir nanti biarkan dia memanggilku Papa" pinta Ridho.
"Iya.. iya... terserah kamu deh. Udah pergi sana, nanti kamu telat lagi" balas Tiara.
Ridho tersenyum dan segera naik ke atas sepeda motornya, kemudian melaju menuju kantornya yang baru.
Tiara menatap kepergian Ridho sampai jauh dan bayangan Ridho menghilang dari pandangannya.
Haaah.. jadi sepi, biasanya ada Ridho yang selalu menemaniku kemana-mana. Di kos, cafe bahkan ke Dokter kandungan. Tapi ini memang harus terjadi. Aku tidak boleh terlalu bersandar padanya. Perlahan - lahan aku harus bisa sendiri karena tidak selamanya dia bisa selalu ada di sisiku. Lagian dia sudah punya kehidpy baru, mungkin sudah saatnya juga dia menemukan orang lain yang lebih baik dariku. Batin Tiara.
Kita harus kuat ya nak.. Hanya kamu yang Ibu punya di dunia ini. Ibu akan memperjuangkan kamu sampai akhir walaupun nyawa jadi taruhannya.
Tiara mengelus lembut perutnya dan dia merasakan tendangan anak yang ada di dalam kandungnya.
Haruskah dia kamu panggil Bapak nak? Dia bukanlah Bapak kamu. Bapak kamu bernama Bintang Prakasa. Tapi apakah Ibu salah tidak memberi tahu keberadaan kamu pada Bapak kamu yang sebenarnya?
Kita harus belajar menjalani ini semuanya berdua ya sayang dan kita akan selalu menguatkan.
Tiara menghapus air matanya yang jatuh di pipi. Kemudian mulai membersihkan kamarnya. Sudah kebiasaan Tiara tidak bisa duduk diam walau dia hanya tinggal di kosan kecil.
Mulai hari ini Tiara bertekad untuk memulai hidupnya tanpa Ridho yang selalu membantunya.
Siang harinya Tiara berangkat ke Cafe dengan menggunakan ojek online. Dengan semangat baru, ingin hidup lebih mandiri tanpa Ridho.
"Sudah datang Ra, sama siapa kamu ke sini?" tanya Dian.
"Sendiri Mbak, naik ojek online" jawab Tiara.
"Iya ya, Ridho kan udah mulai kerja hari ini" balas Dian.
"Iya Mbak, tadi pagi - pagi sekali dia udah semangat pergi kerja" sambut Tiara.
"Sepertinya dia akan menjadi orang sukses ara, Mbak yakin itu. Melihat semangat dan kerja kerasnya. Apa tidak sebaiknya kamu terima saja perasaannya. Dia kan sayang banget sama kamu dan anak yang ada di dalam kandungan kamu bahkan Mbak pernah dengar dia ingin dipanggil Papa ketika anak kamu lahir" ungkap Dian.
"Aku tidak ingin dia menjadi anak durhaka Mbak" jawab Tiara.
"Maksud kamu?" tanya Dian bingung.
"Saat dia wisuda bulan lalu, ayah dan Ibunya datang dari kampung dan mereka tidak suka melihat Ridho dekat denganku. Aku juga tau diri Mbak. Akh tidak pantas bersanding dengan Ridho. Dia berhak mendapatkan wanita yang lebih baik dari aku" ungkap Tiara.
"Ya ampuuuun, maafkan Mbak ya Ra. Mbak gak tau kalau seperti itu ceritanya. Pasti kamu sedih banget mendapat perlakuan yang tidak suka dari orangtua Ridho?" sambung Dian.
"Sudah biasa Mbak, dengan keadaan aku uang yang seperti ini, aku sudah terbiasa mendapatkan pandangan mengejek, memaki dan membenci diriku. Aku harus bagaimana Mbak? Apakah aku harus marah kepada mereka? Nggak kan, karena apa yang mereka katakan memang benar. Aku hamil di luar nikah, anakku akan lahir tanpa Bapak" ujar Tiara.
"Kamu tetap tidak berniat memberi tahu pria yang menghamili kamu Ra? Bagaimanapun membesarkan anak seorang diri besar biayanya, belum lagi kalau anak kamu sudah besar dan mendengar omongan orang tentang statusnya yang di anggap anak haram. Apa kamu tidak pernah memikirkan nasib anak kamu nanti? Dia juga butuh sosok ayah Ra?" nasehat Dian.
"Aku sudah memikirkannya Mbak. Mungkin aku bekerja di sini hanya sampai anakku lahir. Setelah itu aku akan pergi jauh dari kota ini Mbak. Sehingga tidak ada lagi yang menghina aku dan anak - anakku. Di kota lain aku akan katakan kalau Bapak dari anakku sudah mati. Itu akan melindungi anakku dari omongan para tetangga" jawab Tiara.
Dian terdiam dan berfikir sejenak.
"Mudah - mudahan apa yang kamu rencanakan dapat berjalan dengan mulus dan lancar ya Ra. Jangan lupa kalau butuh bantuan, pinta saja sama Mbak. InsyaAllah Mbak akan bantu kamu" tegas Dian.
"Terimakasih Mbak. Saya mulai kerja yang Mbak, sudah waktunya kita buka Cafe" pamit Tiara.
"Oke, kita mulai kerja kita hari ini" sambut Dian tersenyum.
.
.
BERSAMBUNG
🤣🤣
top bgt si roy
tunjukan siapa dirimu.