Bukan sebuah keberuntungan bagi Linnie di kejar seorang pria tampan yang bergelar seorang Casanova. Meski pria itu terkenal kaya raya dan memiliki kuasa namun Linnie sungguh tidak tertarik dengan pria itu.
Linnie sendiri bekerja di salah satu bar milik Gavin Marva Liam. Seorang pria berusia dua puluh sembilan tahun namun sudah banyak meniduri banyak wanita di negara nya.
Tidak mudah bagi Gavin untuk menaklukkan hati Linnie. Gadis itu terlalu dingin membuat Gavin geram sendiri. Meski pun begitu, Gavin sangat sabar untuk membuat istri nya jatuh cinta pada nya.
Penasaran?? yuk....baca langsung😁
Jangan lupa Rate, Like, Vote and Comment 👍👍
Follow👇🏻
IG:Riani.Vii
Fb:Ni R
Tw:Ni R
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ni R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21.Aku Minta Maaf
Kembali bekerja seperti biasanya, Linnie sedang tidak ada di ruang suami nya karena gadis itu sedang pergi ke meja Resepsionis karena ada masalah kecil yang harus di selesaikan Linnie.
Tanpa sadar, Linnie yang memunggungi pintu masuk tidak melihat jika Veronika masuk begitu saja ke dalam kantor bahkan menuju ruangan Gavin. Veronika masuk dengan bebas karena tidak ada satu orang pun yang mencegah nya.
Veronika tahu di mana ruangan kerja Gavin bahkan di lantai berapa pria itu berada karena ada seseorang yang memberitahu nya. Veronika yang tidak memiliki sopan santun langsung masuk begitu saja hingga membuat Gavin terkejut.
"Bagaimana kau bisa masuk?" tanya Gavin bingung. Namun, bukan nya menjawab pertanyaan Gavin, Veronika malah memeluk pria itu dengan erat nya.
"Aku merindukan mu...!" ucap Veronika. Gavin berusaha melepas paksa pelukan Veronika namun tiba-tiba Linnie masuk ke dalam ruangan itu.
"Linnie....!" ucap Gavin langsung mendorong tubuh Veronika dengan kasar nya.
Veronika langsung terjatuh ke lantai dan di biarkan oleh Gavin.
"Sedang nostalgia...?" tanya Linnie datar.
"Ya,...kami sedang bernostalgia!" seru Veronika sambil berdiri.
"Tidak seperti yang kau lihat. Aku juga tidak tahu bagaimana perempuan ini bisa masuk." kata Gavin hendak meraih tangan istri nya.
"Jangan menyentuh ku....!" ucap Linnie mundur kebelakang.
"Gavin,...kau ini kenapa sih?" tanya Veronika.
Gavin yang melihat ekspresi jijik dari wajah istri nya langsung menarik tangan Veronika keluar dari ruangan nya bahkan menyeret nya langsung keluar dari loby. Veronika yang kesakitan terus berontak namun tenaga nya kalah kuat.
Petugas keamanan yang melihat hal itu langsung ketakutan karena mereka telah lalai dalam bekerja.
Buuukkk....Gavin kembali mendorong tubuh Veronika hingga perempuan itu kembali terhempas ke lantai. "Kalian semua,.....!" suara Gavin menggema di loby perusahaan nya. "Ingat baik-baik wajah perempuan ini, jangan biarkan dia bebas masuk dan berkeliaran di dalam kantor ku." ujar Gavin memberi perintah.
"Kau keterlaluan Gavin...!" ucap Veronika tanpa malu.
"Sampah seperti mu tidak pantas menginjakkan kaki di perusahaan ku!" ucap Gavin kemudian pria itu kembali ke ruangan nya.
Veronika berteriak histeris ketika dua orang menyeret nya keluar. Sedangkan Gavin merasa gelisah sekarang. Pria itu membuka pintu ruangan, mendapati istri nya sedang sibuk dengan pekerjaan nya.
Gavin menghampiri Linnie lalu berkata dengan bingung, "Soal Veronika, aku tidak tahu jika dia bisa masuk ke sini."
Linnie masih sibuk dengan berkas yang ada di tangan nya, tanpa menoleh ke arah suami nya gadis itu berkata. "Aku tau itu. Tidak ada yang perlu di bahas sekarang."
"Linnie,...aku minta maaf." ucap Gavin.
Linnie menghembuskan nafas kasar lalu menatap wajah suami nya. "Sudahlah Gavin, itu urusan mu dan bukan urusan ku. Aku hanya ingin bekerja!" ujar Linnie mulai kesal di ganggu.
"Aku hanya ingin meminta maaf." kata Gavin seperti orang bodoh.
"Gavin,...tidak ada yang perlu di maafkan. Biarkan aku bekerja Gavin...!" ucap Linnie menurunkan nada bicara nya.
"Tapi kau sepertinya marah." Gavin membuat Linnie kesal.
"Siapa yang marah? aku tidak marah! kembalilah bekerja, aku akan melanjutkan pekerjaan ku."Linnie mulai geram.
Entah setan apa yang merasuki Gavin, tiba-tiba pria itu menarik tengkuk Linnie lalu mencium bibir gadis itu. Tangan kekar nya menahan tubuh kecil Linnie yang berusaha berontak. Ketika Gavin sadar, pria itu melepaskan ciuman nya hingga membuat Linnie langsung menampar wajah suami nya.
Linnie langsung mengambil tas nya kemudian keluar tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Gavin yang masih linglung hanya bisa diam saja sambil memegang pipi nya, pria itu merasa bersalah dan hendak meminta maaf namun Linnie sudah hilang dari pandangan nya.
"Linnie....!" seru Gavin kemudian pria itu langsung mencari Linnie.
Seperti di telan alam, Linnie langsung menghilang tanpa meninggalkan jejak. Gavin mencari Linnie kemana pun namun gadis itu tidak ada. Gavin menelpon istri nya namun ponsel Linnie mati. Gavin mengambil langsung mengambil mobil nya kemudian pergi mencari Linnie.
Tidak di temui, Gavin beranggapan jika Linnie pulang ke mansion. Pria itu memutar kemudi menuju arah mansion. Setiba nya di mansion, Gavin langsung menuju kamar istrinya dan mengetuk-ngetuk pintu.
"Nona belum kembali tuan...!" ujar kepala pelayan memberitahu.
"Apa kau yakin jika istri ku belum pulang?" tanya Gavin.
"Belum tuan, bukankah nona Linnie berangkat bersama tuan?" tanya kepala pelayan tidak mendapatkan jawaban dari Gavin.
Hari sudah mulai petang, Gavin mulai bingung sekarang. Pria itu kemudian langsung menghubungi Jeff untuk mencari Linnie ke rumah nya namun tetap saja gadis itu tidak ada di rumah lama nya. Gavin membanting ponsel nya, pria itu kembali melajukan mobil nya mencari istri nya.
Memutari setiap jalan, namun gadis itu belum juga di temukan. Gavin dan Jeff saja yang bodoh, karena Linnie memang pulang ke rumah nya hanya saja gadis itu berada di dalam kamar nya untuk sejenak merebahkan diri dan memikirkan apa yang barusan terjadi.
Pukul sepuluh malam, entah kenapa kaki Gavin membawa nya pergi kerumah Linnie. Meski pun Jeff sudah bilang jika Linnie tidak ada di rumah nya, namun Gavin tetap pergi kesana. Gavin menghela nafas lega, ketika melihat lampu rumah kecil itu menyala.
Pria itu berdiri di depan pintu, rasa nya bingung untuk menghadapi istri nya sendiri. Gavin baru saja terpikir, ternyata sangat sulit menaklukan hati perempuan baik-baik dari pada perempuan yang mata duitan. Gavin mengangkat tangan nya, memberanikan diri untuk mengetuk pintu.
"Linnie....ini aku...!" ucap pria itu sambil bersandar pada pintu. Namun tetap saja pintu tidak terbuka karena Linnie yang kelelahan sudah tidur sejak sore tadi. Gavin mengetuk lagi, memanggil nama istri nya hingga berulang kali.
Pada akhirnya, Gavin memilih pergi ke jendela kamar istri nya lalu mengetuk jendela itu. "Linnie,...bangun.Ini aku suami mu...!" ucap pria itu.
Linnie yang mendengar jendela kacanya seperti di ketuk, langsung bangun dan membuka tirainya. Wajah gadis itu kusut karena masih mengantuk. "Gavin....!" ucap nya lirih sambil menguap karena mengantuk.
"Buka pintu nya,biarkan aku masuk." ujar Gavin.
Linnie yang tidak terlalu mendengar namun paham apa yang di maksud oleh suami nya langsung membukakan pintu untuk pria itu. Gavin bisa bernafas lega sekarang, melihat istri nya baik-baik saja.
"Maafkan aku,...maafkan aku Linnie...!" ucap pria itu membuat Linnie sadar tentang kejadian sore tadi.
"Aku sudah melupakan nya...!" kata Linnie.
"Ayo pulang,...aku mencari mu sejak sore.Kata Jeff kau tidak ada di rumah ini." ucap pria itu lembut.
"Aku tidur sejak sore. Aku lelah...!" sahut Linnie.
"Apa kau masih marah?" tanya Gavin melirik wajah istri nya. Meski pun sedang mengantuk dan acak-acakan, namun Gavin tidak bisa jika tidak mengatakan jika istri nya ini memang sangat cantik.
"Aku sudah melupakan nya...!" seru Linnie.
"Ayo pulang bersama ku..!" ajak Gavin kembali.
"Sudah sangat malam, biarkan aku tidur di sini. Aku sangat mengantuk. Jika kau ingin pulang, pulang lah...!" ujar Linnie.
"Kalau begitu, biarkan aku menemani mu disini." kata Gavin.
"Terserah kau saja...!" sahut Linnie kemudian gadis itu masuk ke dalam rumah. Gavin menutup pintu dan mengunci nya, pria itu duduk di sofa ruang tamu. Gavin bingung ingin melakukan apa karena sekarang Gavin butuh air untuk mandi.
"Linnie,...tubuh ku gatal. Aku harus mandi...!" ujar Gavin bingung.
Linnie ingat jika Gavin pernah meninggalkan pakaian nya di sini. "Mandilah,aku masih menyimpan pakaian mu yang kemarin." kata Linnie membuat Gavin sedikit terkejut. Gavin mengira jika Linnie sudah membuang pakaian nya.
"Terimakasih Linnie...!" ucap Gavin. Pria itu senang jika gadis ini ternyata masih perhatian pada nya. Gavin memutuskan untuk mandi, meskipun kamar mandi Linnie sangat sederhana namun Gavin merasa senang mandi di rumah istri nya.