Menikahi seorang duda beranak tiga dipikirnya akan membawa kebahagiaan baru, namun kenyataan menjadi ibu tiri ternyata jauh lebih rumit dari yang dibayangkan. Di balik pintu rumah yang tampak sempurna, ia harus berhadapan dengan penolakan halus, bahkan kasar, serta dinamika tiga anak dengan karakter yang bertolak belakang.
Mampukah Ayu meluluhkan hati anak-anak tirinya dan mempertahankan rumah tangganya, atau justru menyadari bahwa ketulusan saja tidak pernah cukup?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 3: Malam Pertama di Rumah Baru
Malam jatuh dengan cepat. Suasana rumah besar itu terasa makin sunyi dan asing bagi Ayu.
Setelah membantu Bibi Minah, asisten rumah tangga yang sudah bekerja di sana selama lima tahun untuk menyiapkan makan malam, Ayu berdiri di samping meja makan yang megah.
Makanan sudah tertata rapi, ada ayam goreng mentega, sup iga kesukaan Yoga, dan tumis buncis. Namun, dari tiga anak, hanya Moana yang duduk di kursinya sambil mengunyah makanan dengan tenang.
"Bibi, Kenzo sama Lea tidak makan?" tanya Ayu pada Bibi Minah yang sedang merapikan piring kotor di dapur.
Bibi Minah meringis canggung. "Anu, Bu... Den Kenzo tadi sudah pesan makanan dari luar lewat aplikasi. Kalau Non Lea... tadi pas Bibi ketuk pintunya, dia bilang gak lapar dan melarang Bibi ganggu."
Ayu menghela napas pelan. "Biar saya saja yang antarkan makanan ke kamar Lea, Bi."
"Eh, usah tak usah, Bu Ayu. Non Lea kalau lagi emosi susah dihadapi," cegah Bibi Minah khawatir.
"Gak apa-apa, Bi. Mas Yoga kan sedang ada telepon kerjaan di ruang kerja, jadi biar Ayu yang coba pendekatan."
Dengan cermat, Ayu menyusun piring berisi nasi, ayam mentega, dan semangkuk sup hangat di atas nampan kayu. Ia melangkah menaiki tangga melingkar menuju lantai dua, dan mencari kamar dengan papan nama kecil berdekorasi serba merah muda bertuliskan 'Lea's Room - DO NOT ENTER'.
Ayu menghela napas panjang untuk mengumpulkan keberanian sebelum mengetuk pintu kayu tebal itu dengan pelan.
Tok... tok... tok.
"Lea? Ini Ibu... Maksud Ibu, Tante Ayu. Tante bawakan makan malam untuk Lea," panggil Ayu lembut dari luar.
Hening, dan tidak ada jawaban dari dalam.
"Tante taruh makanannya di depan pintu ya, Lea. Makanannya masih hangat. Nanti kalau Lea lapar, dimakan ya..."
Ayu hendak membungkuk untuk meletakkan nampan di lantai depan pintu, namun tiba-tiba pintu terbuka dengan kasar.
Lea berdiri di ambang pintu dengan mata memerah karena menangis dan wajah penuh amarah. Tanpa mengucap sepatah kata pun, tangan kecilnya mengibaskan nampan kayu yang dipegang Ayu dengan sangat keras.
PRANG!
Piring porselen pecah berkeping-keping di atas lantai marmer. Kuah sup iga yang panas terpercik dan mengenai punggung tangan serta lengan Ayu. Makanan pun berhamburan mengotori karpet lorong.
Ayu meringis karena menahan perih yang membakar kulit lengannya. "Aww!"
"Aku udah bilang, aku gak butuh makanan dari Tante! Pergi dari rumah ini!" teriak Lea histeris sebelum kembali membanting pintunya keras-keras dan menguncinya dari dalam.
Suara pecahan piring yang nyaring membuat langkah kaki terburu-buru terdengar dari arah tangga. Yoga berlari naik bersama Bibi Minah.
"Ayu! Ada apa ini?!" seru Yoga kaget melihat kekacauan di depan kamar Lea, serta Ayu yang sedang berlutut memegangi tangannya yang memerah.
"Ya Allah, Bu Ayu!" Bibi Minah menutup mulutnya panik.
"Mas... tidak apa-apa, saya cuma kurang hati-hati," bisik Ayu yang berusaha menyembunyikan rasa sakitnya, baik di lengan maupun di hatinya.
Yoga menghampiri Ayu, dan melihat kulit lengan istrinya yang melepuh merah terkena kuah panas. Wajah Yoga membiru menahan murka. Tanpa henti, ia berjalan menuju pintu kamar Lea dan memukulnya keras-keras.
"LEA! KELUAR KAMU! BUKA PINTUNYA!" teriak Yoga dengan suara menggelegar penuh amarah yang belum pernah Ayu dengar sebelumnya. "KAMU SUDAH SANGAT KURANG AJAR! KELUAR!"
"Mas, sudah, Mas! Jangan bentak Lea!" Ayu panik, kemudian berdiri dan memegang lengan Yoga, dan mencoba menahan suaminya. "Dia cuma kaget, dia belum siap menerima saya. Tolong jangan dimarahi, Mas. Ini akan makin memperburuk keadaan."
"Tapi dia sudah melukaimu, Ayu! Ini tidak bisa dibiarkan!" tegas Yoga, dengan napas yang berburu keras.
Dari pintu kamar sebelah, Kenzo keluar dengan wajah dingin. Ia bersandar di pintu kamarnya, dan melihat pemandangan itu tanpa rasa bersalah sedikit pun.
"Baru hari pertama aja rumah ini udah kayak neraka," gumam Kenzo sinis lalu kembali masuk dan menutup pintunya pelan.
Bersambung...