NovelToon NovelToon
Mahkota Bunga Dan Bayangan Hati

Mahkota Bunga Dan Bayangan Hati

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:390
Nilai: 5
Nama Author: AZKA DINARA

Di tengah kemegahan Kekaisaran Langit Permata, di mana kekuasaan berpadu dengan tradisi kuno dan setiap langkah selalu diawasi, lahirlah kisah cinta yang tumbuh perlahan, lembut namun kokoh seperti akar pohon tua yang menjalar dalam tanah.

Liān Huā, putri cerdas dan berjiwa bebas dari keluarga pejabat terpercaya, dipindahkan ke ibu kota bersama keluarganya. Berbeda dari wanita-wanita istana yang berusaha tampil sempurna dan menuruti segala aturan, dia tetap menjaga ketulusan hati dan keberaniannya — sifat yang justru membuatnya menarik perhatian Kaisar Yuán Zhēn, penguasa yang dikenal dingin, tegas, dan tak tergoyahkan oleh siapa pun.

Di mata rakyat dan pejabat, Yuán Zhēn adalah kaisar yang hebat dan jauh. Namun di balik wajah berwibawa itu, tersembunyi hati yang kesepian dan rindu pada kehangatan sejati. Pertemuan pertamanya dengan Liān Huā mengubah segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AZKA DINARA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Aturan dan Keanehan

Hari-hari di dalam istana berjalan dengan irama yang tetap, berulang dan teratur seperti aliran sungai yang dibendung. Setiap pagi terdengar suara lonceng penanda waktu, setiap siang ada jadwal makan yang ditetapkan, setiap sore ada upacara penghormatan atau pelajaran yang harus diikuti. Bagi kebanyakan wanita yang tinggal di sini, kehidupan ini adalah kemewahan terbesar, namun bagi Liān Huā, semuanya terasa seperti buku yang halamannya sudah tertulis sebelumnya — tidak ada ruang untuk mengubah satu kata pun.

Pagi itu, dia duduk di ruang belajar bersama beberapa putri pejabat lain. Mereka sedang diajarkan etika tata krama, cara berbicara, cara berjalan, bahkan cara menundukkan kepala dengan sudut yang tepat. Guru mereka, seorang wanita tua yang sangat teliti bernama Nyonya Zhāng, berjalan bolak-balik sambil memegang tongkat kayu kecil, menegur setiap gerakan yang dianggap kurang sempurna.

“Kaki harus sejajar! Tangan diletakkan tepat di pinggang! Jangan menatap mata orang yang lebih tinggi kedudukannya terlalu lama, itu kurang sopan!” suaranya terdengar tajam dan berwibawa.

Liān Huā berusaha mengikuti segala aturan itu, namun kadang-kadang pikirannya melayang pergi. Dia teringat kembali pertemuan kemarin. Kaisar Yuán Zhēn... dia teringat cara kaisar itu berbicara, nada suaranya yang rendah namun tenang, dan terutama tatapan matanya — tajam, namun ada sesuatu yang lain di sana, sesuatu yang belum bisa dia pahami. Mengapa dia berhenti? Mengapa dia menyebut namanya?

“Nona Liān Huā! Kamu melamun lagi!” suara Nyonya Zhāng tiba-tiba memecah lamunannya.

Liān Huā segera bangkit berdiri tegak, wajahnya memerah karena malu. “Maafkan saya, Ibu Guru.”

Nyonya Zhāng menggeleng pelan, lalu melanjutkan, “Kamu memiliki bakat yang baik, kecerdasan yang terlihat dari matamu. Tapi di sini, kecerdasan saja tidak cukup. Kamu harus belajar menahan diri, menutupi apa yang ada di dalam hatimu. Karena di istana, apa yang kamu tunjukkan bisa menjadi senjata untukmu, atau menjadi pisau yang menggoresmu sendiri.”

Kata-kata itu terdengar berat, dan Liān Huā menyimpannya baik-baik di dalam ingatannya. Dia tahu nasihat itu benar, tapi entah mengapa, dia merasa ada sesuatu dalam dirinya yang menolak untuk sepenuhnya tertutup dan diam.

Saat pelajaran selesai, dia berjalan berkeliling ke arah taman yang lebih sepi, tempat yang jarang dikunjungi orang. Di sana ada kolam kecil dengan air yang jernih, di sekelilingnya tumbuh pohon willow yang rantainya menjuntai ke permukaan air. Dia duduk di pinggir batu, menghela napas panjang.

“Tampaknya kamu tidak terlalu suka dengan aturan-aturan yang ada di sini,” suara yang sudah dia kenal itu terdengar tiba-tiba dari belakang.

Liān Huā melonjak kaget, berbalik dengan cepat. Dan di sana, berdiri Kaisar Yuán Zhēn, sendirian tanpa pengawal, mengenakan jubah berwarna biru tua yang lebih sederhana, namun tetap membuatnya tampak berbeda dari siapa pun yang pernah dia temui. Dia berdiri di bawah bayangan rantai pohon willow, cahaya matahari yang menembus celah daun jatuh menimpa wajahnya, membuat bayangan halus bergerak-gerak di sana.

Liān Huā segera berlutut dengan tergesa-gesa. “Yang Mulia... hamba tidak tahu Yang Mulia ada di sini. Mohon maaf jika hamba mengganggu ketenangan Anda.”

“Bangunlah,” kata kaisar itu santai, melangkah maju sampai berdiri tepat di sampingnya. “Di sini tidak ada orang lain. Dan aku tidak sedang menjalankan tugas negara. Kamu boleh berdiri tegak.”

Gadis itu bangkit perlahan, tetap menundukkan pandangannya. “Bagaimana Yang Mulia tahu hamba tidak suka aturan itu?”

Kaisar Zhēn tersenyum tipis — senyum yang sangat jarang terlihat orang lain, lembut dan sedikit jahil. “Karena saat Nyonya Zhāng berbicara tentang menahan diri, matamu berkilat seolah-olah kamu sedang berpikir bahwa menahan diri sama saja dengan membunuh diri sendiri. Benar bukan?”

Wajah Liān Huā memerah seketika. Dia tidak menyangka bahwa ekspresinya begitu mudah terbaca. “Hamba... hamba hanya berpikir, bahwa setiap orang punya cara sendiri untuk menjadi baik. Aturan memang penting, tapi jika terlalu banyak aturan, takutnya kita malah lupa siapa diri kita sebenarnya.”

Dia berhenti bicara, menyadari bahwa dia baru saja berbicara terlalu berani kepada penguasa seluruh negeri. Dia menundukkan kepala lebih dalam lagi, siap menerima teguran.

Namun yang terdengar justru suara tawa rendah, lembut, dan bergetar menyenangkan.

“Kamu gadis yang aneh, Liān Huā. Berbeda dari yang lain,” ucap kaisar itu pelan, lalu dia melangkah pergi, meninggalkan gadis itu yang masih berdiri kaku di tempatnya, dengan jantung yang kembali berdebar kencang dan pikiran yang berputar kacau.

Di belakangnya, Yuán Zhēn berjalan perlahan sambil tersenyum sendiri. Dia sudah melihat banyak wanita cantik, banyak wanita cerdas, dan banyak wanita yang berusaha menyenangkannya. Tapi belum pernah ada yang berani berbicara seperti itu, belum pernah ada yang menatapnya seolah dia bukan sekadar kaisar, tapi juga manusia biasa. Dan entah mengapa, pemandangan gadis itu yang berdiri di antara bunga dan bayangan pohon itu, mulai terukir jelas di dalam ingatannya, lebih dalam dari sekadar nama atau wajah biasa.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!