Bercerita tentang Kisah cinta Beda usua.
Bandung, pria berusia empat puluh tahun, telah lama menutup hatinya setelah masa lalu yang pahit membuatnya percaya bahwa cinta bukan lagi bagian dari hidupnya. Hingga ia bertemu Luna, guru muda berusia dua puluh empat tahun yang masih memiliki seorang tunangan. Pertemuan mereka perlahan menumbuhkan benih cinta yang tak pernah mereka akui. Saat akhirnya Bandung menyatakan perasaannya, Luna hanya mengangguk dan memberikan satu syarat: buktikan cintamu dengan seribu kata cinta dalam tiga bulan. Bandung pun memulai tantangan itu, meski ia tak pandai merangkai kata romantis. Namun setelah mengirim kata cinta ke-999, Luna tiba-tiba menghilang tanpa membaca atau membalas pesan tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agung Khan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
GURU BARU
Hari itu menjadi hari pertama Luna mengajar.
Pagi masih terasa cukup tenang. Suara anak-anak yang sesekali bercanda terdengar dari dalam kelas, bercampur dengan suara langkah kaki para guru yang berlalu-lalang di depan ruangan.
Luna berdiri di depan kelas sambil tersenyum.
Dia memandang satu per satu wajah murid yang duduk di bangku mereka.
“Selamat pagi, semuanya.”
“Selamat pagi, Bu!”
Jawaban anak-anak terdengar hampir bersamaan, meskipun beberapa suara terdengar lebih keras daripada yang lainnya.
Luna tersenyum.
“Hari ini kita mulai dengan perkenalan dulu, ya. Ibu mau kenal sama kalian semua.”
Beberapa anak langsung terlihat antusias. Ada yang duduk tegak, ada yang malah masih sibuk memainkan pensil, bahkan ada yang saling berbisik dengan teman di sebelahnya.
Luna kemudian membuka buku absensi.
Dia mulai memanggil nama murid satu per satu.
“Rafi?”
“Hadir, Bu!”
“Salsa?”
“Hadir!”
“Dimas?”
“Hadir, Bu!”
Satu demi satu nama dipanggil.
Sampai akhirnya Luna berhenti pada satu nama.
“Oreo?”
Seorang anak laki-laki yang duduk agak di belakang langsung berdiri.
“Siap, Bu.”
Luna menatapnya.
Entah kenapa, sejak tadi matanya memang beberapa kali tertuju pada anak itu.
Oreo adalah salah satu murid dengan pakaian paling lusuh di kelas. Rambutnya juga terlihat agak panjang dan berantakan. Dibandingkan murid-murid lain yang datang dengan pakaian lebih rapi, penampilan Oreo cukup mencolok.
Namun cara dia berdiri dan menjawab justru terlihat santai.
“Nama kamu Oreo, kan?”
“Iya, Bu.”
“Umur kamu berapa?”
“Sepuluh tahun, Bu.”
Luna sedikit mengernyitkan dahi.
“Sepuluh tahun? Kok baru kelas dua SD?”
Oreo menggaruk kepalanya sebentar.
“Oh, saya pindahan dari Bandung, Bu.”
“Dari Bandung?”
“Iya.”
Oreo kemudian duduk kembali, tetapi Luna masih penasaran.
“Terus kenapa sempat berhenti sekolah?”
Oreo kembali berdiri.
“Waktu itu kondisi orang tua saya sedang ada sedikit masalah, Bu. Jadi saya terpaksa membantu menggantikan pekerjaan ayah saya.”
Luna menutup buku absensinya sebentar.
“Menggantikan pekerjaan ayah?”
“Iya, Bu.”
“Memangnya ayah kamu kerja apa?”
“Dagang.”
“Dagang apa?”
“Saya punya beberapa lapak mainan anak-anak. Terus ada grosir barang perabot dan barang pecah belah di kawasan Asemka, Kota Tua, Jakarta Pusat.”
Luna terdiam sejenak.
Dia memandang anak di hadapannya.
Anak sepuluh tahun punya lapak sendiri?
Luna lalu tersenyum kecil.
“Kamu memang suka berdagang?”
“Hobi saya memang berdagang, Bu.”
Jawabannya begitu ringan, seolah memiliki beberapa lapak dagangan merupakan hal yang biasa bagi anak seusianya.
Luna kemudian memperhatikan penampilan Oreo dari atas sampai bawah.
“Tapi kalau Ibu perhatikan, kenapa pakaian kamu lusuh sekali? Terus rambut kamu juga gondrong.”
Oreo menjawab santai.
“Beberapa hari ini saya belum sempat ke laundry, Bu.”
Beberapa anak langsung tertawa.
Luna ikut tersenyum.
“Lho, memangnya kamu nggak punya baju lain?”
“Ada, Bu.”
“Terus kenapa yang dipakai yang ini?”
Oreo mengangkat bahu.
“Yang ini paling nyaman.”
Luna menggelengkan kepala sambil tersenyum.
Kemudian pandangannya turun ke kaki Oreo.
Dia baru menyadari sesuatu.
“Kok kamu cuma pakai sandal jepit? Sepatu kamu mana?”
Oreo menunjuk ke sudut kelas.
“Itu sepatu saya, Bu.”
Luna mengikuti arah telunjuknya.
Di dekat dinding terlihat sepasang sepatu yang diletakkan begitu saja.
Namun bukannya langsung tertarik pada keberadaan sepatu itu, mata Luna justru terpaku pada logo yang tertera di bagian sampingnya.
Luna sedikit membelalakkan mata.
Dia mengenal merek tersebut.
Sepatu itu bukan sepatu biasa.
Harganya bahkan bisa mencapai puluhan juta rupiah.
Luna kembali menatap Oreo.
“Itu sepatu kamu?”
“Iya, Bu.”
“Kenapa ditaruh di situ?”
Oreo menunjuk ke pintu kelas.
“Kalau pintunya kena angin, suka kebuka sendiri, Bu.”
“Terus?”
“Kalau kebuka, pintunya sering membentur dinding. Suaranya keras banget. Kadang kita lagi belajar tiba-tiba bruk! Semua kaget.”
Beberapa anak langsung mengangguk setuju.
Oreo melanjutkan dengan wajah polos.
“Jadi kata teman-teman, karena sepatu saya yang paling jelek, sepatu saya dipakai buat ganjal pintu.”
Beberapa murid langsung tertawa.
Luna kembali melihat sepatu itu.
Paling jelek?
Dia hampir tidak percaya.
Sepasang sepatu yang bagi anak-anak di kelas itu dianggap paling jelek justru terlihat seperti barang yang sangat mahal.
Luna menunjuk ke arah sepatu tersebut.
“Kalau begitu sekarang pakai sepatu kamu.”
Suasana kelas langsung berubah.
“Jangan, Bu!”
“Jangan dipakai!”
“Nanti pintunya bunyi!”
Beberapa anak langsung bersorak.
Luna menahan tawa.
“Lho, kenapa?”
“Nanti pintunya bunyi terus, Bu!”
“Ya sudah. Kalau pintunya bunyi, nanti kita cari cara lain.”
Anak-anak masih mengeluh.
Sementara Oreo hanya menghela napas kecil.
“Ya sudah, Bu.”
Dia berjalan menuju sudut kelas, mengambil sepatu mahal yang sejak tadi dijadikan ganjal pintu, lalu memakainya.
Setelah itu dia kembali duduk.
Luna memandangnya beberapa detik.
Ada sesuatu yang membuatnya penasaran.
Bukan hanya soal sepatu.
Anak ini terlihat lusuh, memakai sandal jepit, rambutnya panjang dan berantakan, tetapi bisa berbicara tentang perdagangan dengan begitu santai.
Dan yang paling aneh, dia sama sekali tidak terlihat malu dengan keadaan dirinya.
Luna akhirnya kembali ke depan kelas.
“Ya sudah. Sekarang kita mulai belajar.”
“Siap, Bu!”
Pelajaran pun dimulai.
Luna sesekali tersenyum melihat tingkah murid-muridnya. Ada yang bertanya dengan serius, ada yang memberikan jawaban aneh, ada pula yang malah membuat teman-temannya tertawa.
Untuk pertama kalinya sejak menginjakkan kaki di sekolah itu, Luna merasa suasana kelas tidak seburuk yang dia bayangkan.
Hari itu berjalan cukup lambat.
Begitu lambatnya sampai anak-anak berkali-kali melihat jam, berharap jarum waktu segera bergerak menuju jam pulang.
Dan tanpa Luna sadari, di antara semua murid di kelas itu, ada satu anak yang justru meninggalkan tanda tanya paling besar di kepalanya.
Oreo.