NovelToon NovelToon
INVESTASI CINTA YANG SALAH

INVESTASI CINTA YANG SALAH

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Fantasi
Popularitas:559
Nilai: 5
Nama Author: AwandaMw

INVESTASI CINTA YANG SALAH

Oleh: AwandaMw

"Dia mengira aku cuma pelengkap, sampai dia sadar seluruh kerajaannya berdiri atas namaku."

Sinopsis:

Demi mendukung impian Reno, Nadia rela menyembunyikan kejeniusannya dan menyerahkan seluruh asetnya untuk membangun Apex Media dari nol. Namun, begitu bisnis bernilai puluhan miliar itu berada di puncak kejayaan, Reno justru berpaling pada Sella—seorang wanita glamor yang menghasutnya bahwa Nadia hanyalah beban.

Dicampakkan dan dihina tanpa harta gono-gini, Nadia memilih pergi tanpa sepatah kata dendam. Reno merasa menang, tanpa tahu satu rahasia besar: Nadia adalah pemilik tunggal PT Cakrawala Capital, pemegang saham mayoritas 60% yang memegang leher bisnisnya.

Saat Reno dan Sella sibuk merayakan kesuksesan semu, Nadia siap melancarkan takeover dingin dan menagih kembali setiap sen yang telah dicuri darinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AwandaMw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

**Bab 3 Topeng yang mulai retak

🌸🌸🌸🌸

Suara klakson mobil menyalak dua kali di depan pagar rumah. Nadia, yang baru saja menyelesaikan analisis portofolio obligasi di ruang kerjanya, segera turun ke lantai satu. Saat pintu utama dibuka, sosok Ibu Risma—ibu kandung Reno—langsung melangkah masuk tanpa menyapa. Di belakangnya, Maya, adik perempuan Reno yang berusia 22 tahun, mengikut dengan langkah bersungut-sungut sambil memegang beberapa kantong belanjaan bermerek.

"Aduh, panas banget di luar! Rumah seluas ini pendingin ruangannya kok nggak dinyalain dari tadi, sih?" keluh Ibu Risma seraya mengipas-ngipas wajahnya dengan kipas lipat sutra. Ia langsung menghempaskan tubuhnya ke sofa kulit di ruang tamu, meletakkan tas tangannya yang berlogo desainer ternama di atas meja.

Nadia berjalan mendekat dengan senyum tipis yang sopan. "Selamat siang, Ibu, Maya. Mau minum apa? Nadia buatkan es sirup atau teh?"

Maya mendengus pelan, melempar tubuhnya ke samping ibunya lalu sibuk memeriksa kuku jarinya yang baru saja di-manicure. "Nggak usah, Mbak. Teh buatan rumah nggak membalas dahaga. Tadi aku sama Ibu udah minum cozy latte di mall. Laguna Cafe, yang segelasnya delapan puluh ribu itu, lho."

Ibu Risma membenarkan posisi duduknya, menatap Nadia dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan pandangan menilai yang tak pernah bersahabat. Nadia hanya mengenakan kaos polos berwarna krem dan celana kain longgar. Sangat kontras dengan penampilan Ibu Risma yang kini gemerlap oleh perhiasan emas dan pakaian impor.

"Nadia, Ibu ke sini mau ngomongin soal acara pengajian dan arisan keluarga bulan depan," kata Ibu Risma dengan nada memerintah. "Ibu mau kali ini acaranya diadakan di ballroom hotel bintang empat, bukan di rumah lagi. Malu sama teman-teman arisan Ibu. Anak Ibu kan sekarang sudah jadi CEO sukses, masuk majalah bisnis, bernilai puluhan miliar! Masak ibunya bikin acara cuma di ruang tamu?"

Nadia menghela napas pelan, berusaha menjaga suaranya tetap tenang dan teratur. "Bu, kalau untuk acara keluarga, rumah ini sebenarnya sudah lebih dari cukup dan lebih hangat. Anggaran untuk sewa ballroom hotel bisa dialokasikan untuk hal lain yang lebih bermanfaat, misalnya investasi jangka panjang atau tabungan cadangan."

Mendengar kata 'anggaran', wajah Ibu Risma langsung berubah keruh. Garis-garis di dahi dan sekitar bibirnya mengencang.

"Investasi lagi, investasi lagi!" cetus Ibu Risma seraya menepuk lengan sofa. "Kamu itu dari dulu pikirannya cupet banget, ya! Selalu ngomongin hemat, tabungan, anggaran! Kamu nggak sadar ya, Reno itu sekarang uangnya berlimpah? Kemarin malam aja pesta perusahaannya megah banget di hotel bintang lima. Kamu kok malah pelit banget sama keluarga sendiri?"

"Betul kata Ibu, Mbak," timpal Maya dengan nada ketus. "Mbak Nadia tuh bikin malu Mas Reno aja. Masa pas perayaan pesta kemarin Mbak cuma pakai baju hitam polos kayak orang mau melayat? Maya aja malu diakui sebagai adiknya Mbak kalau penampilannya begitu. Lihat tuh Kak Sella! Kemarin Kak Sella kelihatan anggun banget, pakai gaun merah mewah, perhiasannya berkilau. Cocok banget bersanding sama Mas Reno."

Nama Sella kembali terlempar di hadapan Nadia, kali ini dari mulut adik iparnya sendiri. Nadia menatap Maya lurus-lurus. Tatapan mata Nadia yang jernih namun dingin membuat Maya sedikit salah tingkah, meski gadis itu cepat-cepat membuang muka dengan congkak.

"Maya," ujar Nadia pelan namun tegas. "Mbak merawat rumah ini dan mengatur keuangan bukan karena pelit, tapi karena Mbak tahu betul bagaimana susahnya merintis bisnis dari bawah. Dulu, waktu kalian masih tinggal di kontrakan sempit dan dikejar penagih utang, siapa yang membiayai kuliah kamu dan membayar cicilan rumah Ibu?"

Wajah Ibu Risma mendadak merah padam. Pertanyaan Nadia tepat menyasar harga dirinya.

"Kamu nggak usah mengungkit-ungkit masa lalu, Nadia!" seru Ibu Risma dengan suara melengking. "Itu kan dulu! Dulu Reno memang lagi apes. Tapi sekarang, keberhasilan Reno itu murni karena kejeniusan dan kerja keras anak saya sendiri! Dia punya bakat jadi orang kaya! Kamu cuma kebetulan aja ada di samping dia waktu itu."

"Lagipula," lanjut Ibu Risma dengan dada membusung sombong, "uang yang dipakai Reno sekarang itu uang hasil keringat dia sendiri. Bukan uang kamu! Kamu itu cuma istri rumah tangga yang numpang hidup mewah di rumah ini. Nggak usah sok mengatur-ngatur uang anak saya!"

Nadia mengepalkan jemarinya di balik lipatan kain celananya. Hatinya tidak terluka oleh makian itu—rasa sakitnya sudah lama kebas. Yang ada di dalam dadanya sekarang hanyalah rasa ironi yang amat dalam. Ibu mertuanya benar-benar lupa—atau sengaja membutakan diri—bahwa modal awal untuk membayar utang keluarga mereka lima tahun lalu adalah uang hasil penjualan emas peninggalan almarhumah ibu Nadia, serta suntikan dana dari PT Cakrawala Capital milik Nadia.

Tanpa bantuan Nadia, Reno mungkin masih menjadi buronan penagih utang, dan Maya tidak akan pernah mengecap pendidikan di perguruan tinggi swasta mahal.

"Oh ya, sekalian," Maya memotong keheningan dengan suara manja yang dibuat-buat, berpaling pada ibunya. "Bu, tadi kan kata Mas Reno aku boleh minta uang buat DP mobil baru. Tadi di mall aku udah nemu mobil yang pas. Mas Reno bilang tinggal minta kesepakatan ke kantor."

Maya lalu menatap Nadia dengan pandangan meremehkan. "Mbak Nadia nggak usah ikut campur ya soal mobil baruku. Mas Reno sendiri yang udah mengizinkan. Lagian, kasihan kan Mas Reno kalau adiknya masih naik mobil rakitan lama?"

"Reno sudah mengizinkannya?" tanya Nadia tenang.

"Iya! Mas Reno kan sayang sama keluarganya, nggak kayak Mbak yang perhitungan!" sahut Maya sinis.

Ibu Risma berdiri dari sofa, merapikan tas mewahnya dengan gerakan angkuh. "Sudahlah, Maya. Nggak usah ngomong panjang lebar sama orang yang nggak paham gaya hidup kelas atas. Ayo kita ke kantor Reno sekarang, sekalian ajak Sella makan siang bareng. Tadi Sella nelpon Ibu, dia mau nemenin Ibu belanja perhiasan baru."

Ibu Risma menatap Nadia sekali lagi dengan tatapan penuh keangkuhan. "Nadia, kamu di rumah aja. Masak yang bener buat Reno nanti malam. Nggak usah sok ikut campur urusan bisnis atau uang keluarga. Sadar posisi kamu cuma istri yang beruntung bisa dinikahi pengusaha sukses!"

Tanpa menunggu respon dari Nadia, Ibu Risma dan Maya melangkah pergi meninggalkan rumah. Suara sepatu hak tinggi mereka berdetak keras di atas lantai marmer, sebelum akhirnya menghilang di balik pintu yang ditutup kasar.

Rumah besar itu kembali hening secara mendadak.

Nadia berdiri terpaku di tengah ruang tamu. Ia menatap piring bekas dan gelas kosmetik yang ditinggalkan mertua dan adik iparnya di atas meja tanpa dirapikan.

Topeng kesopanan keluarga itu telah retak sepenuhnya hari ini. Dulu, ketika Reno belum memiliki apa-apa, Ibu Risma selalu datang membawakan masakan sederhana dan menangis memohon agar Nadia tidak meninggalkan anaknya. Maya selalu memanggilnya dengan sebutan 'Mbak Nadia yang baik' setiap kali membutuhkan uang saku tambahan. Namun kini, ketika merasa puncak dunia sudah di genggaman, mereka melempar Nadia seolah ia hanyalah kerikil tak berguna di jalanan.

Nadia menghembuskan napas panjang melalui hidungnya. Tidak ada air mata yang menetes. Pandangan matanya perlahan berubah, dari ketenangan yang lembut menjadi ketajaman yang membeku.

Ia berjalan menuju meja telepon, menyambar ponsel pribadinya, lalu menelpon nomor Bimo di kantor Apex Media.

Telepon terhubung pada deringan kedua.

"Halo, Bimo?" suara Nadia terdengar sangat dingin dan terukur.

"Iya, Nadia? Ada apa?" sahut Bimo di ujung telepon.

"Tadi Maya bilang dia mau ke kantor untuk minta pencairan dana DP mobil baru atas persetujuan Reno. Apakah pengajuan itu menggunakan kas operasional perusahaan lagi?"

Bimo terdengar mendesah berat di balik telepon. "Betul, Nadia. Nota pengajuannya baru saja masuk ke meja saya sepuluh menit lalu. Nota dinas pencairan dana sebesar dua ratus lima puluh juta rupiah dari rekening operasional utama, atas perintah lisan Pak Reno."

Nadia memejamkan mata sejenak, mengalkulasi setiap angka di dalam kepalanya. Penggelapan dana halus ini makin hari makin meluas, merusak tatanan arus kas perusahaan demi memanjakan ego keluarga dan wanita lain.

"Jangan tahan pencairannya, Bimo," ujar Nadia tiba-tiba.

Bimo terbelalak di ujung telepon. "Apa? Tapi Nadia, kalau kas terus digerogoti tanpa ada investasi balik, arus kas kuartal depan bisa terkoreksi!"

"Biarkan cair," potong Nadia dengan intonasi tanpa ragu. "Biarkan Reno, ibunya, dan adiknya menikmati semua kemewahan itu sepuasnya. Biarkan mereka merasa sedang berada di atas awan."

Nadia menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan bahaya.

"Setiap rupiah yang mereka tarik dari kas operasional hari ini tanpa persetujuan pemegang saham mayoritas... akan menjadi bukti penggelapan dana yang sempurna di meja hijau nanti. Catat semua transaksinya dengan rinci, Bimo. Jangan ada satu sen pun yang terlewat."

"Baik, Nadia... saya mengerti," bisik Bimo pelan, merinding mendengar ketenangan suara istri pimpinannya itu.

Nadia mematikan sambungan telepon. Ia melangkah menuju jendela besar di ruang tamu, menatap langit Jakarta yang mulai tertutup awan mendung.

Kesombongan keluarga Reno dan bisikan racun Sella baru saja menyulut api. Mereka mengira Nadia adalah wanita lemah yang bisa diinjak-injak sesuka hati. Mereka tidak tahu, bahwa setiap langkah kemewahan yang mereka nikmati hari ini... hanyalah tali jerat yang sedang ditenun Nadia untuk menggantung leher mereka sendiri.

Up malam malam aja lah😆😆

🌸🌸🌸🌸🌸

1
falea sezi
lanjut
Arieee
laki" mokondo yang terlalu percaya diri🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!