NovelToon NovelToon
DEKEKOUI

DEKEKOUI

Status: sedang berlangsung
Genre:Spiritual / Matabatin / Vampir
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: Muka Kanvas

Ketika penyihir dan Pemburu Penyihir bertemu dalam satu wilayah yang tak pernah mereka sangka. Satu berburu dan yang lain diburu, bagaimana jika akhirnya mereka jatuh cinta?

Dua makhluk Kekal bertikai sejak berabad-abad silam dan tak pernah mampu berdamai, berperang, bersembunyi dan akhirnya tertangkap, berulang tanpa pernah istirahat.

Apakah pada akhirnya mereka mampu bersatu? atau malah menjadi alasan peperangan terjadi lagi, seperti dulu Dekekuoi hancur lebur.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muka Kanvas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3 : Dani

Dani sampai di rumahnya, rumahnya sangat kaya, Dani akhirnya sampai di rumahnya.

Rumah itu berdiri megah di balik pagar besi hitam yang tinggi, jauh lebih menyerupai sebuah kediaman bangsawan daripada rumah keluarga biasa. Bangunan utamanya memadukan arsitektur rumah-rumah mewah Indonesia dengan sentuhan klasik Bulgaria. Pilar-pilar besar berwarna krem menopang teras depan yang luas, sementara ukiran kayu khas Nusantara menghiasi pintu utama yang dibuat dari kayu jati tua. Di atasnya terdapat lampu gantung bergaya Eropa klasik yang menyala redup, memberikan kesan hangat sekaligus sedikit menyeramkan.

Halaman rumah dipenuhi pepohonan tua dan taman yang tertata sempurna. Sebuah kolam panjang dengan patung batu bergaya klasik berada di tengah halaman, dikelilingi bunga-bunga putih dan merah tua. Tidak ada lampu yang terlalu terang. Keluarga itu lebih menyukai cahaya temaram.

Begitu Dani masuk, kemewahan di dalam rumah terasa semakin jelas.

Lantai marmer mengilap membentang. Karpet Persia tua menutupi sebagian lantai, sementara dindingnya dihiasi lukisan keluarga dari beberapa generasi. Beberapa lukisan bahkan terlihat sangat tua, seolah dibuat ratusan tahun lalu. Lemari kaca berisi porselen antik, vas kristal, jam berdiri besar, serta berbagai benda koleksi dari Eropa dan Indonesia memenuhi sudut-sudut ruangan.

Di tengah ruang utama tergantung sebuah lampu kristal besar.

Sofa beludru berwarna merah tua mengelilingi meja kayu mahoni yang berat. Tirai panjang berwarna gelap menjuntai dari langit-langit hingga lantai, membuat cahaya dari luar hampir tidak pernah masuk sepenuhnya.

Rumah itu mewah, namun ada sesuatu yang berbeda.

Rumah itu terlalu sunyi.

Tidak terdengar suara televisi, suara anak-anak, atau suara aktivitas rumah tangga seperti rumah keluarga pada umumnya.

Dani baru saja melepaskan menaruh tasnya di sofa merah tua itu, dia duduk sembari memandangi tulisannya, di sangat suka menulis. Ketika terdengar suara langkah pelan dari tangga, Seorang perempuan turun dari lantai atas. Ibunya.

Perempuan itu tampak anggun dengan gaun panjang berwarna merah marun yang menjuntai hingga menyentuh lantai. Model gaunnya klasik, dengan lengan panjang dan detail renda halus di bagian kerah. Rambut hitam panjangnya disanggul sederhana, memperlihatkan wajah pucat yang nyaris tanpa cela.

Ia tersenyum ketika melihat Dani.

“Aku sudah mendengar dari pamanmu, gadis itu benar-benar hebat menutupi baunya dari kita, aku pernah bertemu dengannya bukan?”

Sang ibu berjalan mendekatinya dengan langkah tenang.

Di bawah cahaya lampu kristal, kulitnya tampak terlalu pucat untuk ukuran manusia. Matanya juga terlihat lebih tajam daripada seharusnya.

Tidak ada taring terlihat saat dia bicara, karena mereka memang bukan vampire, mereka adalah pemburu Dekekuoi.

“Aku juga tidak pernah menyangka kalau dialah Dekekuoi, meski penampilannya selalu aneh, memakai syal dan selalu ketakutan. Aku justru awalnya kasihan, kukira dia korban KDRT di rumahnya, berusaha menutupi lehernya dengan syal agar tak terlihat kita semua luka yang ditimbulkan karena KDRT itu.

Tapi ternyata syal itu mungkin dimantrai oleh keluarganya, makanya mampu menutupi bau tubuh mereka yang busuk itu.”

“Dia cantik, tapi sayang harus dibakar dengan ritual oleh keluarga kita.”

“Kau pikir dia cantik?”

“Ya tentu saja, aku melihatnya saat ... sebentar kuingat-ingat, oh! Saat mengambil rapot, sebenarnya aku enggan, aku tahu kau pasti rangking 1 lagi, sudah 30 kali aku mengambilnya bukan? Ditingkat yang sama, wajahmu itu lama sekali menua, selalu terlihat 17 tahun, makanya kita berpindah terus beralasan kalau kita akan meneruskan kuliahmu.

Saat itu aku hanya ingin keluar dan melihat sekitar, maka setelah mengambil rapot, aku melihat Lira, ya kau benar, dia menunduk, rambutnya panjang ikal, rahangnya tegas tapi terlihat lembut dan cantik. Ah, sayang sekali, aku pikir dia bisa menjadi orang yang kita bantu, tapi ternyata dia adalah musuh kita.”

“Kupikir dia hebat, keturunan penyihir itu selalu dibilang kuat dan sangat jago bertarung, tapi tadi bahkan dia hanya berlari, jujur aku menggiringnya seperti anak domba yang ketakutan, saat lehernya kucabik, dia tetap diam saja, bodoh sekali, apa dia kaget kalau kita ini pemburu bu?”

“Bisa jadi, tapi apa kau tidak merasa kasihan sedikit pun padanya, Dan?”

“Kenapa aku harus kasihan? Dia adalah keturunan pembunuh! Dia bahkan sekumpulan keluarga yang jahat. Aku harus tanya Paman, apakah mereka sudah membantai keluarganya.”

Dani lalu pergi untuk mandi dan bersiap les gitar di studio miliknya sendiri, rumah itu memang sangat besar, semua kebutuhan Dani selalu dipenuhi, mereka perlu menikmati hidup dengan umur yang panjang bukan?

Ibunya menatap punggung Dani, dia terlihat termenung, ada rasa takut yang dia rasakan seketika, dia takut kalau pembantaian yang Dani lakukan barusan akan membuat peperangan itu terjadi lagi.

Dekekuoi bukan manusia yang bisa dihadapi dengan mudah.

“Dani masuk kamar, dia lalu mandi di kamar mandi kamarnya, setelah mandi, dia memakai baju yang sudah disiapkan asisten rumah tangganya, selalu begitu, asisten rumah tangganya harus tahu jadwal baju yang Dani pakai setiap harinya, tak boleh ada yang salah, tak boleh ada yang terlewati. Lagi pula, asisten rumah tangganya tak akan pernah salah.

Dani memakai kaus berwarna hitam dan celana hitam, ya, dia hanya punya baju dengan warna hitam, kecuali seragam sekolah tentunya.

Dia kembali keluar untuk berjalan ke studio, tapi saat dia akan turun, dia melihat pintu kamar ibunya terbuka, dia hendak bertanya apakah gurunya sudah datang, tapi saat akan mengetuk dia mendengar ibunya sedang menelpon.

[Gadis itu bagaimana?]

[Kau yakin? Tidak bisakah kita melepaskannya saja?]

[Tidak, aku hanya .... takut.]

“Ibu! Kenapa kau berkata begitu!” Dani masuk ke kamar itu tanpa mengetuk, biasanya keluarga mereka selalu menjaga etika, karena keluarga bangsawan, tidak boleh bersikap arogan itu tidak baik, selain mencabik Dekekuoi dengan gigi taringnya, sisanya haruslah tetap sesuai norma dan etika.

“Dani, ibu hanya tidak ingin kalau kita harus berperang lagi, keluarga mereka takkan tinggal diam, Lira bahkan masih muda, entah berapa umur aslinya tapi mungkin mirip denganmu, aku hanya!”

“Ibu kau tidak menghargai perjuanganku untuk bisa menangkapnya, ini bukan kejadian yang bisa terjadi setiap saat bu! Bahkan syal itu jatuh saja sebuah keajaiban dan membuatku melihat simbol di lehernya! Ibu benar-benar telah melanggar aturan keluarga kita, aku sangat kecewa padamu!”

Dani keluar dari kamar itu dengan marah, dia sudah berumur sangat tua meski terjebak dalam wajah anak 16 tahun menuju 17 tahun, bukan umur aslinya tapi dia selalu merasa berumur itu karena harus mengulang lagi dan lagi sekolah dengan tingkat yang sama.

Dani urung ke studio untuk latihan gitar, padahal gurunya sudah datang, tapi dia tak memiliki keinginan untuk berlatih lagi.

“Aku tidak ingin latihan, hari ini cancel, kau akan tetap dibayar.” Dani hanya berkata begitu pada pelatihnya, seorang pria tampan berumur 21 tahun yang memakai pakain rapi untuk melatih Dani, dia sedang mengumpulkan uang untuk menyelesaikan kuliahnya, selama ini dia memang melatih piano dan gitar anak-anak orang kaya.

“Dan, kenapa?” Dani tak menjawab, dia hanya melewatinya saja.

Dani berjalan menuju taman, bukan taman terbuka, tapi taman tertutup di mana koleksi bunga ibunya berada.

Dani berjalan menuju bagian belakang rumah, melewati lorong panjang yang dindingnya dipenuhi lukisan keluarga dari masa lalu. Di ujung lorong terdapat sebuah pintu kayu besar berwarna cokelat gelap. Pintu itu berbeda dari pintu ruangan lainnya. Permukaannya dipenuhi ukiran sulur tanaman dan bunga yang begitu rumit, sementara gagang pintunya terbuat dari kuningan tua.

Dani mendorongnya perlahan.

Di balik pintu itu terbentang taman milik ibunya.

Bukan taman terbuka seperti yang berada di halaman depan, melainkan sebuah taman tertutup yang luas, dibangun menyerupai rumah kaca bergaya klasik Eropa. Kerangka bangunannya terbuat dari besi hitam dengan ukiran lengkung, sementara sebagian besar dinding dan atapnya menggunakan kaca tebal berwarna sedikit gelap. Cahaya matahari yang masuk tidak pernah terlalu kuat karena kaca tersebut dibuat khusus untuk menyaring sinar ultraviolet.

Udara di dalamnya terasa berbeda dan dipenuhi aroma bunga yang begitu pekat.

Lantainya terbuat dari batu alam berwarna abu-abu gelap, dengan jalan setapak dari marmer putih yang membelah taman menjadi beberapa bagian. Di sepanjang jalan berdiri pot-pot besar dari porselen Eropa, batu alam, dan keramik tua buatan tangan. Beberapa di antaranya bahkan tampak seperti benda antik yang sengaja dijadikan tempat menanam bunga.

Namun yang membuat taman itu begitu istimewa bukan kemewahannya.

Melainkan koleksi bunga yang tumbuh di dalamnya.

Ibunya memiliki bunga-bunga yang tidak pernah dijual di toko bunga biasa. Beberapa jenis hanya bisa ditemukan melalui kolektor tanaman langka dan dilelang dengan harga yang sangat mahal. Ada anggrek hitam dengan kelopak hampir sepenuhnya gelap, mawar biru tua yang warna kelopaknya tampak seperti tinta, serta anggrek langka berwarna merah kehitaman yang hanya berbunga beberapa kali dalam setahun.

Di salah satu sudut terdapat bunga yang paling dijaga ibunya.

Sebuah tanaman dengan kelopak putih pucat dan bagian tengah berwarna merah gelap. Bentuknya menyerupai bunga lili, tetapi ukurannya jauh lebih besar. Tanaman itu tumbuh di dalam wadah kaca khusus, terpisah dari koleksi lainnya.

Bunga itu tidak boleh terkena cahaya matahari langsung.

Bukan hanya karena mudah layu, tetapi karena harga satu tanaman dewasa bisa mencapai ratusan juta rupiah.

Beberapa bunga lainnya bahkan memiliki nilai yang lebih tinggi. Ada tanaman yang didatangkan dari pegunungan terpencil, bunga mutasi langka yang hanya dimiliki beberapa kolektor di dunia, serta tanaman yang membutuhkan suhu dan kelembapan tertentu agar dapat bertahan hidup.

Karena itulah taman tersebut harus selalu tertutup.

Tidak sembarang orang boleh masuk.

Sistem pengatur suhu bekerja sepanjang hari. Alat penyemprot kabut halus menjaga kelembapan udara, sementara tirai otomatis pada bagian atas kaca akan menutup apabila cahaya matahari terlalu kuat. Bahkan beberapa tanaman ditempatkan di dalam ruang kaca tersendiri dengan pengaturan suhu yang berbeda.

Bagi orang lain, taman itu mungkin terlihat seperti koleksi tanaman milik seorang perempuan kaya.

Taman tertutup itu memungkinkan ibunya merawat bunga-bunga kesayangannya tanpa harus membuka seluruh area pada siang hari.

Dani melangkah semakin dalam.

Rino terus mengikutinya dari belakang.

“Dan, kenapa sih?”

Ini kali pertamanya Dani terlihat marah dan tak terkendali.

“Aku sudah bilang kita tak latihan hari ini, jadi kau pulang saja, aku akan tetap membayarnya.”  Dani tidak ingin bercerita, lagi pula bagaimana dia bercerita tentang Lira, gadis yang baru saja dia cabik dengan taringnya dan ibunya takut kalau perang akan terjadi.

Rino hanya manusia biasa yang mencari nafkah dan terkadang dia terlalu baik bagi Dani.

“Bertengkar dengan ibumu? Aku tahu kalau terkadang ibu itu selalu mengecewakan, tapi apa yang mereka lakukan selalu untuk kebaikan kita, Dan.”

“Kau nggak usah ikut campur, kau pergilah sebelum aku meminta security menarikmu keluar!”

Dani yang biasanya menjaga etika harus bersikap sangat arogan, Rino akhirnya mengalah dan meninggalkannya.

Rino mengambil motornya dan keluar melewati gerbang, saat sudah keluar dan cukup jauh dia berhenti dan menelpon.

“Sepertinya Lira tertangkap, aku mendengar Dani bertengkar dengan ibunya, kita harus cepat, Lira pasti dalam bahaya.”

1
Vie Vie Sue
/Good/
Muka Kanvas: Terima kasih
total 1 replies
Betri kardina
berarti jagabaya kasipin jahat ya
Muka Kanvas: nah, akhirnya ada yang ngeh
total 1 replies
Tini Nurhenti
alurnya maju mundur ea thor,😁🤭💪💪💪
Muka Kanvas: Iya nih, stuck di 1965 dulu yaaaa
total 1 replies
Tini Nurhenti
penuh misteri 👍💪💪💪
Tini Nurhenti
hadir thor, cepy story lanjutane to ??
Tini Nurhenti: ok kk
total 2 replies
Arla
mungkin Dani atau orangtuanya
Muka Kanvas: bukan kok, bukan.
total 1 replies
Dea Suci
zombie ya kak
Muka Kanvas: Hampir
total 1 replies
Dea Suci
mei
Dea Suci
wadidaw,,, ternyata ohhh ternyata,, Dani pun sama.
Zakia
sambil nunggu PKJ3 baca ini dulu, sebenarnya heran kok eps beda karena sebelumnya sudah aku baca semua thor
Muka Kanvas: Sudah ganti judul, setelah melalui pertimbangan yang cukup berat, akhirnya aku memutuskan membawa kisah Dekekuoi jadi novel yang panjang.
total 1 replies
Arla
kenapa dihapus kak thor,, pantesan error tadi pas aku mau like🤭
Yosh Pontoh: Pantesan barusan aku cari di rak buku gak ada.
total 2 replies
Damn Nwtch
curiga sama pamannya,Napa Dani g boleh ikut
Muka Kanvas: Lanjt ya, udah ada part selanjutnya
total 1 replies
Tini Nurhenti
/Sob//Sob//Sob//Sob//Sob//Sob/
Arla
kasihannya dokter itu
Arla
ngeri jiwa psikonya...
Ayuk Witanto
hiii serem
Ayuk Witanto
gila dia
Ayuk Witanto
bagus
Ayuk Witanto
seru sih...tapi gantung🤭
Wahyu ningsing: lha yaitu...gak enak digantung....pastinya sakit
total 3 replies
Tini Nurhenti
kek cerpen kk👍💪💪
Muka Kanvas: Iya betul, tapi lebih tepatnya antologi horor
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!