Naura diberi kesempatan hidup kedua setelah mati karena kerja dan keluarga yang terus memerasnya. Kali ini, ia menolak jadi ATM untuk orang tua dan adik laki-lakinya. Ia meninggalkan karier bergengsi di dunia keuangan Jakarta, lalu memilih bekerja sebagai pengelola rumah tangga profesional untuk keluarga elite.
Siapa sangka, keputusannya justru membawanya bertemu Arkan Pradipta, CEO dingin yang ditakuti banyak orang, tetapi kacau dalam urusan hidup sehari-hari.
Di antara kontrak kerja, rahasia masa lalu, keluarga toksik, dan perasaan yang makin sulit ditolak, Naura harus memilih: terus bersembunyi, atau merebut hidup yang sejak awal memang miliknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Stellune, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 3
Bab 3
Kabar Naura mengundurkan diri menyebar lebih cepat daripada memo resmi.
Sebelum jam makan siang, hampir semua orang di lantai delapan belas sudah tahu.
Ada yang datang pura-pura mengambil dokumen. Ada yang melongok ke ruangannya sambil tersenyum canggung. Ada yang menatapnya seperti melihat orang gila yang baru saja membakar tiket emas.
Naura tidak menjelaskan apa-apa.
Ia mengumpulkan timnya di ruang meeting kecil.
Dimas, Rika, Jovan, dan dua analis baru duduk mengelilingi meja. Wajah mereka tidak enak dilihat. Seperti anak-anak yang baru diberi tahu wali kelasnya pindah sekolah.
Naura membuka laptop dan menghubungkan layar.
"Kita mulai dari Mandala Food."
Dimas mengangkat tangan pelan. "Mbak, sebelum itu..."
"Nanti."
"Tapi..."
Naura menatapnya.
Dimas menelan ludah. "Baik, Mbak."
Rika yang biasanya paling cerewet hari itu diam. Matanya merah, entah karena kurang tidur atau menahan emosi.
Naura menjelaskan satu per satu proyek. Mana yang bisa dilanjutkan Dimas. Mana yang harus dikembalikan ke Bima. Mana yang butuh catatan risiko tertulis. Mana yang sebaiknya jangan disentuh tanpa persetujuan compliance.
Ia bicara hampir dua jam.
Tidak ada basa-basi.
Tidak ada kalimat dramatis.
Tapi setiap instruksi jelas.
Ketika selesai, Jovan mengangkat tangan.
"Mbak, kalau nanti Pak Bima minta kami hapus catatan risiko?"
Naura menatapnya.
"Jangan hapus. Kalau diminta revisi, minta instruksi lewat email."
"Kalau dia marah?"
"Biarkan."
Rika menggigit bibir. "Mbak bisa bilang begitu karena Mbak mau pergi."
Ruangan hening.
Dimas langsung menyenggol sikunya.
Rika menunduk. "Maaf."
Naura tidak marah.
Ia justru senang Rika berani berkata jujur.
"Betul. Aku bisa bilang begitu karena aku mau pergi. Karena itu sebelum pergi, aku mau kalian tahu satu hal."
Semua mata menatapnya.
"Jangan pernah menggantungkan keselamatan kalian pada kebaikan atasan. Simpan catatan. Minta instruksi tertulis. Jangan tanda tangan apa pun yang kalian tidak pahami. Kalau ada yang salah, jangan diam hanya karena takut dianggap tidak loyal."
Jovan tertawa pahit. "Di sini orang yang terlalu hati-hati sering dianggap susah kerja sama, Mbak."
"Lebih baik dianggap susah kerja sama daripada jadi kambing hitam."
Rika menatapnya lama.
"Mbak benar-benar tidak akan balik?"
Naura menutup laptop.
"Tidak."
Dimas bertanya pelan, "Mbak sudah dapat tempat baru?"
"Belum."
"Terus?"
"Aku mau istirahat dulu."
Kata istirahat terdengar asing di ruangan itu.
Rika bahkan tertawa kecil, seperti mendengar istilah kuno.
"Istirahat berapa lama?"
"Sampai tubuhku tidak terasa seperti mesin rusak."
Tidak ada yang tertawa lagi.
Selesai meeting, Naura kembali ke ruangannya. Ia membereskan barang pribadi: mug putih, dua buku catatan, lip balm, obat maag, minyak angin, dan sepasang sepatu datar yang ia simpan untuk malam-malam lembur.
Barangnya tidak banyak.
Aneh. Ia menghabiskan sebagian besar hidup di tempat ini, tetapi yang bisa dibawa pulang hanya satu kardus kecil.
Pukul tiga sore, Lestari dari HR mengirim pesan.
`Mbak Naura, perhitungan awal sudah selesai. Bisa mampir?`
Naura pergi ke ruang HR.
Lestari menyerahkan beberapa lembar kertas.
"Ini pesangon sesuai masa kerja, gaji bulan berjalan, cuti yang belum diambil, dan bonus proyek yang sudah disetujui. Tambahan satu bulan sesuai arahan Pak Surya."
Naura membaca angka-angka itu.
Lumayan.
Lebih baik daripada di kehidupan sebelumnya, ketika ia bertahan sampai tubuh rusak dan keluar dengan rasa kalah.
"Pembayaran kapan?"
"Maksimal tujuh hari kerja. Tapi Pak Surya minta dipercepat."
Naura mengangguk.
Lestari tampak ragu. "Mbak Naura, boleh saya tanya sesuatu?"
"Kalau tidak terlalu pribadi."
"Mbak benar-benar tidak takut?"
Naura menatap perempuan itu. Lestari berusia sekitar tiga puluh lima, punya dua anak, cicilan rumah, dan suami yang bekerja di perusahaan logistik. Naura pernah mendengar ceritanya saat acara kantor.
"Takut."
Lestari terkejut.
"Tapi saya lebih takut kalau tetap di sini dan suatu hari tubuh saya tidak kuat lagi."
Lestari menunduk. "Saya kadang juga merasa begitu."
Naura tidak memberi nasihat kosong. Tidak semua orang bisa pergi. Tidak semua orang punya tabungan, keberanian, atau momen kedua seperti dirinya.
"Kalau belum bisa pergi, setidaknya jaga bukti dan jaga badan."
Lestari tersenyum lemah. "Terima kasih, Mbak."
Saat Naura keluar dari HR, Farid menunggu di dekat lift.
Mantan pacarnya.
Satu tahun mereka bersama. Tidak terlalu hangat, tidak terlalu buruk. Farid dulu membuatnya percaya bahwa hubungan yang tenang sudah cukup.
Sampai keluarganya datang ke kantor dan Farid berkata, "Aku tidak siap masuk ke keluarga serumit itu."
Sekarang ia berdiri dengan kemeja rapi, wajah canggung.
"Naura, bisa bicara sebentar?"
Naura menekan tombol lift.
"Bicara di sini saja."
Farid melirik sekitar. "Di sini?"
"Kalau tidak nyaman, lain kali saja."
Lift belum datang.
Farid menarik napas. "Aku dengar kamu resign."
"Cepat juga kabarnya."
"Kamu yakin?"
Naura menatap angka lift yang turun perlahan.
"Ya."
"Aku tahu beberapa minggu ini berat. Soal keluargamu juga... Aku paham kamu marah. Tapi resign bukan keputusan kecil."
Naura menoleh. "Kamu paham?"
Farid terdiam.
"Waktu keluargaku mempermalukan aku, kamu bilang perlu waktu untuk berpikir. Lalu kamu menghilang tiga hari."
"Aku juga kaget waktu itu."
"Aku juga."
Farid terlihat tidak nyaman. "Naura, aku tidak datang untuk bertengkar."
"Aku juga tidak."
"Aku cuma mau bilang, kalau kamu butuh teman..."
Pintu lift terbuka.
Naura masuk.
Farid menahan pintu dengan tangan.
"Kita masih bisa bicara baik-baik, kan?"
Naura menatapnya. Dulu ia mungkin akan merasa tersentuh. Mungkin ia akan berpikir Farid masih peduli.
Sekarang ia hanya melihat seorang laki-laki yang datang setelah tidak ada risiko.
"Farid, aku tidak butuh teman yang muncul hanya ketika situasi sudah aman."
Wajah Farid memucat.
Naura menekan tombol tutup.
Pintu lift menutup pelan di antara mereka.
Di lobi, security yang dulu menyaksikan keluarganya membuat keributan menatapnya dengan canggung. Naura tersenyum sopan dan berjalan keluar.
Panas Jakarta langsung menyentuh wajahnya.
Ia berdiri sebentar di depan gedung, memegang kardus kecil.
Selama ini ia selalu keluar dari gedung itu dengan kepala penuh pekerjaan. Hari ini, untuk pertama kalinya, ia mendengar suara kota. Klakson ojek online. Penjual kopi keliling. Orang bicara di telepon. Langkah sepatu di trotoar.
Hidup ternyata tidak hanya berisi notifikasi klien.
Ponselnya berbunyi.
Bukan keluarga.
Nomor yang tidak ia simpan.
Naura mengangkat.
"Selamat sore, apakah benar dengan Mbak Naura Ayu Prameswari?"
"Benar."
"Saya dari PrimaCare Home Service. Dulu Mbak pernah punya sertifikat pelatihan housekeeping dan caregiver dasar di tempat kami. Kami sedang memperbarui database pekerja profesional. Apakah Mbak masih tertarik mengambil pekerjaan paruh waktu atau kontrak?"
Naura berhenti berjalan.
PrimaCare.
Ia hampir lupa.
Saat kuliah, ia pernah mengikuti pelatihan itu karena ingin mendapat pekerjaan bersih-bersih apartemen dengan bayaran lebih baik. Dari sana ia belajar standar kebersihan hotel, penanganan lansia, penyimpanan obat, bahkan dasar memasak untuk diet tertentu.
Di kehidupan lalu, sertifikat itu hanya jadi kenangan.
Sekarang, suara perempuan di telepon seperti membuka pintu lain.
"Pekerjaan seperti apa?"
"Untuk sementara ada beberapa keluarga di Jakarta Selatan dan Tangerang yang mencari household manager profesional. Bukan ART biasa, Mbak. Kontrak jelas, gaji bulanan, beberapa live-in, beberapa pulang-pergi. Karena profil Mbak pendidikan tinggi dan punya pengalaman kerja formal, mungkin cocok untuk klien premium."
Naura melihat pantulan dirinya di kaca gedung.
Kemeja putih. Rok hitam. Sepatu kerja. Kardus kecil di tangan.
Orang lain mungkin akan merasa jatuh.
Dari VP corporate finance menjadi pengurus rumah.
Tapi Naura justru merasakan dadanya lapang.
Rumah orang kaya perlu diurus. Orang tua perlu ditemani. Anak perlu diajar. Dapur perlu berjalan. Obat perlu dicatat. Jadwal perlu diatur. Semua itu pekerjaan.
Pekerjaan nyata.
Dan yang paling penting, pekerjaan itu bisa punya batas.
"Saya tertarik," kata Naura.
Pihak PrimaCare terdengar senang. "Kalau begitu, apakah Mbak bisa datang besok untuk update data dan interview ulang?"
"Bisa."
Setelah panggilan selesai, Naura berdiri di tepi trotoar.
Sebuah mobil hitam mewah berhenti di depan gedung. Pintu belakang dibuka oleh sopir. Seorang laki-laki tinggi turun sambil bicara dengan asistennya.
Wajahnya tegas. Dingin. Orang-orang di lobi otomatis memberi jalan.
Naura hanya melihat sekilas sebelum menunduk memanggil ojek online.
Ia belum tahu bahwa laki-laki itu kelak akan menjadi orang yang paling sering membuat hidup barunya berantakan.
Dengan cara yang sama sekali berbeda.
jgn setengah 2 ya