Setelah menyelesaikan misi terakhirnya, Aurora Veyra, seorang agen pembunuh bayaran, tewas akibat kecelakaan konyol dan terbangun di dalam novel favoritnya. Sialnya, ia bukan menjadi tokoh utama, melainkan Shen Yuxin, istri kejam yang gemar menyiksa suaminya, Lu Zhichen, Raja Mafia paling ditakuti di Beijing.
Mengetahui akhir tragis yang menantinya, Aurora bertekad mengubah jalan cerita. Namun, bisakah ia meluluhkan hati suami yang telah terluka, menghindari takdir kematiannya, dan menulis ulang akhir kisah nya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sang senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
perubahan yang sangat mencurigakan
Tubuh Lu Zhichen tiba-tiba ambruk. Shen Yuxin refleks menangkap tubuh pria itu sebelum benar-benar jatuh ke lantai.
"Zhichen!" seru Shen Yuxin panik. Suaranya menggema di ruang bawah tanah.
Han Mo dan Xiao Bai membeku.
Mereka belum pernah mendengar Shen Yuxin memanggil nama sang Master dengan nada secemas itu.
Shen Yuxin merasakan tubuh pria itu sangat panas.
"Demam..." gumamnya semakin khawatir.
Ditambah lagi, Lu Zhichen kehilangan darah dalam jumlah yang sangat banyak.
"Kenapa kalian masih diam?!" bentak Shen Yuxin sambil memandang tajam Han Mo dan Xiao Bai. "Siapkan dokter sekarang juga!" perintahnya tegas.
Han Mo dan Xiao Bai saling berpandangan. Mereka bahkan sempat mengira telinga mereka sedang bermasalah.
"Kenapa diam saja?! Dengar perintahku atau tidak?" suara Shen Yuxin meninggi. "Cepat!" teriaknya lagi.
"Baik, Madam!" jawab mereka serempak.
Xiao Bai langsung berlari keluar. Sementara itu, Han Mo membantu mengangkat tubuh Lu Zhichen.
Shen Yuxin ikut menopang tubuh suaminya. Saat tubuh mereka bersentuhan, ia dapat merasakan banyak bekas luka lama di balik pakaian pria itu. Bekas cambukan, bekas sayatan, bahkan bekas tembakan.
Dada Shen Yuxin kembali terasa sesak.
"Shen Yuxin yang asli benar-benar monster..." rutuknya dalam hati.
*
*
Beberapa menit kemudian...
Tubuh Lu Zhichen telah dipindahkan ke kamar utama. Dokter keluarga Lu sibuk membersihkan luka-lukanya. Shen Yuxin berdiri di samping ranjang tanpa bergeser sedikit pun.
Han Mo mengamati semuanya dari sudut ruangan.
Tatapannya dipenuhi kecurigaan dan kebencian yang mendalam kepada Shen Yuxin.
"Aneh... Padahal luka-luka itu diciptakan oleh dirinya sendiri. Lalu, untuk apa sekarang berpura-pura peduli?" gumam Han Mo dalam hati.
Ketika Shen Yuxin melihat dokter hendak menuangkan alkohol ke luka yang masih terbuka, ia segera mencegahnya.
"Tunggu," katanya cepat.
Dokter menghentikan gerakannya.
"Ya, Madam?" tanya sang dokter bingung. Ia mengira Shen Yuxin akan kembali melarangnya mengobati Lu Zhichen.
"Hangatkan dulu cairannya," kata Shen Yuxin, membuat semua orang terkejut. "Kalau langsung dituangkan, dia akan semakin kesakitan."
Dokter terdiam.
Han Mo ikut membeku. Bahkan para pelayan saling bertukar pandang.
Sejak kapan Shen Yuxin peduli pada rasa sakit yang dialami Lu Zhichen?
Shen Yuxin baru menyadari semua mata sedang tertuju kepadanya.
"Ehem..." Ia berdeham pelan. "Maksudku... kalau dia terlalu kesakitan, nanti proses pengobatannya akan lebih lama dan sangat merepotkan."
Semua orang mengangguk pelan. Penjelasan itu terdengar jauh lebih masuk akal.
Han Mo mencibir dalam hati.
"Ternyata benar. Nyonya ingin Master cepat sembuh supaya bisa disiksa lagi. Memang benar-benar iblis."
Setelah semua luka dibersihkan, dokter memberikan salep khusus.
Shen Yuxin mengambil sendiri mangkuk berisi salep itu.
"Biar aku yang mengoleskannya," katanya sambil mengambil mangkuk tersebut dari tangan sang dokter.
Dokter hampir menjatuhkan kotak peralatannya.
"Madam... Apa Anda yakin?" tanyanya ragu.
Shen Yuxin mengangguk.
"Iya. Dan kalian semua, keluar."
Seluruh ruangan langsung kosong.
Hanya tersisa Shen Yuxin, Lu Zhichen yang masih belum sadarkan diri, dan Han Mo yang tetap berdiri di dekat pintu.
Shen Yuxin meliriknya.
"Kamu juga."
Han Mo menggeleng.
"Maaf, Madam. Saya diperintahkan untuk melindungi Master," tolaknya dengan nada datar.
Shen Yuxin mengembuskan napas pelan.
"Baiklah. Kalau begitu, tetaplah di sana."
Han Mo sama sekali tidak mengalihkan pandangannya.
Dalam benaknya hanya ada satu pikiran.
"Aku tidak boleh lengah. Dulu Nyonya pernah berpura-pura merawat Master. Begitu semua orang lengah... Nyonya malah membakar seluruh gudang senjata organisasi."
Kerugian saat itu mencapai ratusan juta yuan. Belum lagi kekacauan besar yang ditimbulkan.
Belum selesai masalah itu, beberapa bulan kemudian Shen Yuxin kembali membuat ulah. Ia menghamburkan miliaran yuan di klub malam selama satu minggu penuh.
Bahkan ia menyuruh para penari menyebarkan uang dari lantai dua hanya karena merasa bosan.
Namun, anehnya Lu Zhichen sama sekali tidak marah. Beliau hanya membayar semua kerugian itu sambil tersenyum.
Yang paling membuat Han Mo hampir muntah darah adalah...
Suatu hari Shen Yuxin berhasil membobol brankas pribadi Lu Zhichen. Brankas yang bahkan para peretas kelas dunia pun kesulitan membukanya.
Seluruh uang tunai, emas, dan berbagai batu permata bernilai tinggi dibawa pergi untuk selingkuhannya, Gu Yichen. Dokter munafik itu.
Master hanya berkata pelan setelah mengetahui semuanya.
"Asal Yuxin bahagia... tidak apa-apa."
Zhichen bahkan tidak berani menyentuh dokter itu. Ia takut jika dirinya menyakiti Gu Yichen, Shen Yuxin akan semakin membencinya.
Saat mengingat semua kejadian itu, Han Mo mengepalkan kedua tangannya.
"Master terlalu mencintainya. Kalau begini terus, cepat atau lambat beliau akan mati di tangan wanita monster itu."
Han Mo tidak pernah mengerti mengapa Master-nya bisa mencintai wanita iblis itu sedalam ini.
Di dalam kamar, Shen Yuxin terlihat sangat hati-hati mengoleskan salep ke seluruh luka Lu Zhichen.
Bahkan ia meniup luka-luka itu perlahan.
Tindakan tersebut membuat Han Mo mengucek matanya berkali-kali karena mengira dirinya baru saja salah melihat.
Namun, Shen Yuxin mengabaikan keberadaan Han Mo.
Ia merawat Lu Zhichen dengan telaten, mengompres dahinya dengan handuk hangat, lalu mengelap keringat dingin yang membasahi tubuh pria itu.
Han Mo memicingkan mata penuh kecurigaan.
"Trik seperti apa lagi yang sedang dimainkan wanita iblis ini? Jangan-jangan dia sengaja berpura-pura baik agar bisa membunuh Master dengan lebih mudah."
Dalam hati, Han Mo bertekad kuat.
Ia harus melindungi Lu Zhichen dari kekejaman Shen Yuxin.
*
*
Menjelang malam, Lu Zhichen perlahan membuka matanya.
Pandangan pertamanya langsung tertuju pada sosok yang tertidur di samping ranjang.
Wanita itu duduk sambil menyandarkan kepalanya di tepi ranjang.
Lu Zhichen kemudian menyentuh dahinya. Sebuah handuk hangat masih menempel di sana.
Ia mengambil handuk itu, lalu memandang Shen Yuxin dengan tatapan tidak percaya.
"Apa aku bermimpi?" gumamnya pelan.
"Anda tidak bermimpi, Tuan. Ini kenyataan," kata Han Mo yang tiba-tiba menjawab gumaman Lu Zhichen.
Lu Zhichen mengernyit melihat Han Mo yang masih setia berdiri di depan pintu.
"Apakah Yuxin yang merawatku?" tanyanya dengan nada penuh keraguan.
Han Mo mengangguk.
"Sayangnya benar, Tuan. Entah rencana jahat apa lagi yang sedang ia siapkan untuk menyiksa Master dengan cara yang lebih kejam," jawab Han Mo dengan nada penuh ketidakpercayaan terhadap perubahan sikap Shen Yuxin yang begitu mendadak.
di novel aja ya, kalau di RL hus... hus... jauh" serem
berarti emng dia ga ada perasaan apa" sama zhichen ya...
😁😁😁😁😁