NovelToon NovelToon
The Boss I Hate, The One I Can'T Lose

The Boss I Hate, The One I Can'T Lose

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Cinta Seiring Waktu / Action
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Azkaqia

​"Gue benci banget sama lo. Tapi kalau lo pergi... gue bisa hancur."
Ini tentang ego yang sama-sama keras kepala, sampai akhirnya sadar kalau kehilangan itu ternyata jauh lebih nakutin daripada ngakuin perasaan sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azkaqia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pikiran Aneh

Rapat siang itu akhirnya berakhir jauh lebih cepat dari dugaan Senja. Bapak-bapak genit yang tadinya sibuk menatap Senja mendadak berubah jadi super patuh begitu Arsen mulai bicara pakai argumennya yang dingin tapi mematikan. Kontrak proyek perumahan Grand Wijaya pun sukses ditandatangani tanpa banyak drama lagi.

​Tapi, atmosfer canggung justru baru dimulai pas mereka berdua udah balik ke dalam mobil sedan hitam Arsen untuk perjalanan pulang ke kantor.

​Senja memilih diam, bersandar di kursi penumpang sambil menatap ke luar jendela. Dia masih terlalu lelah buat mendebat Arsen, ditambah lagi dadanya masih terasa sesak karena sisa ketakutan dari aksi kejar-kejaran mobil tadi siang ditambah kekesalan karena ucapan genit klien di restoran. Karena kelelahan, posisi duduk Senja agak merosot pasrah.

​Mobil berhenti di tengah kemacetan lampu merah daerah Sudirman. Keheningan di dalam kabin yang kedap itu mendadak terasa luar biasa senyap.

​Arsen, yang sejak tadi fokus menyetir, perlahan menolehkan kepalanya penuh ke arah Senja. Niat awalnya mungkin cuma mau memastikan asistennya tidak pingsan atau berniat mogok kerja. Tapi, begitu mata elang Arsen turun ke bawah, gerakannya mendadak terkunci.

​Karena posisi duduk Senja yang merosot kelelahan dan napasnya yang sesekali masih berembus berat, sabuk pengaman yang melilit diagonal di tubuhnya tertarik sangat kencang. Kain seatbelt yang tebal itu menekan kemeja kerja Senja dengan pas, justru mempertegas lekuk tubuhnya dan memperlihatkan bentuk dadanya dengan begitu utuh di balik pakaian kantornya. Setiap tarikan napas Senja membuat pemandangan itu terasa begitu intens di mata Arsen.

​Arsen terdiam selama beberapa detik. Tatapannya yang biasanya dingin dan tak tersentuh, sempat menggelap sejenak saat mengunci fokus pada lekuk tubuh asistennya itu. Ada kilat insting pria dewasa yang berbahaya yang mendadak melintas di mata Arsen—sesuatu yang jauh dari kesan profesional seorang bos kantor.

​Merasa diperhatikan terlalu lama, Senja akhirnya menoleh. Saat matanya bertemu dengan tatapan Arsen yang sedang tertuju ke arah dadanya, Senja seketika membeku. Sadar posisinya sedang sangat terekspos, wajah Senja yang tadinya pucat langsung berubah merah padam.

​Dengan gerakan cepat yang salah tingkah, Senja membetulkan posisi duduknya agar tegak kembali, mencoba menutupi tubuhnya dengan melipat tangan di depan dada.

​"Liat apa lo, Pak?" semprot Senja, bener-bener ketus karena campur aduk antara malu, kesal, dan gengsi.

​Arsen langsung membuang muka kembali ke arah jalanan di depan dengan gerakan lempeng seolah tidak terjadi apa-apa. "Nggak ada. Cuma memastikan sabuk pengaman kamu terpasang dengan benar."

​Senja cuma bisa mendengus kencang, memalingkan wajah kembali ke jendela sambil merutuki bosnya habis-habisan dalam hati. Sialan, selain tiran ternyata bisa mesum juga.

​Begitu mereka sampai di parkiran basemen kantor Malik Media sekitar pukul empat sore, Senja segera merapikan barang-barangnya tanpa mau melihat wajah Arsen lagi.

​"Pak Arsen, terima kasih untuk makan siangnya. Saya langsung balik ke kubikel," ucap Senja formal begitu mobil berhenti sempurna.

​"Bawa berkas yang sudah ditandatangani itu ke ruangan saya sekarang, Senja. Ada beberapa poin evaluasi yang harus saya catat," jawab Arsen tanpa menoleh, langsung mematikan mesin mobil dan keluar lebih dulu.

​Mau tidak mau, Senja melangkah mengekor di belakang pria itu menuju lantai teratas gedung. Dia mengetuk pintu ruangan Arsen, lalu melangkah masuk setelah mendengar gumaman pelan dari dalam.

​Arsen sudah melepas jas mewahnya, menyisakan kemeja hitam yang lengannya digulung hingga siku. Pria itu tampak sedang berdiri membelakangi meja, menatap ke luar jendela besar.

​"Ini berkasnya, Pak," kata Senja, menaruh map tebal itu di atas meja marmer hitam.

​Arsen berbalik perlahan. Alih-alih langsung memeriksa berkas, pria itu justru menatap Senja dengan pandangan menuntut. "Tadi di restoran... kamu sengaja?"

​Senja mengerutkan kening. "Sengaja apa, Pak?"

​"Sengaja membiarkan orang-orang seperti Baskoro menatap kamu seperti itu? Kamu tidak bisa tegas menolak?" tanya Arsen, nadanya terdengar seperti interogasi.

​Mendengar itu, harga diri Senja langsung tersenggol. "Maksud Bapak apa? Saya bersikap sopan karena mereka itu klien besar kita, Pak! Bapak sendiri kan yang bilang kalau perusahaan ini cuma butuh profit dan efisiensi, bukan perasaan? Saya cuma melakukan tugas saya. Lagian, kenapa Bapak yang sewot?"

​Arsen melangkah mendekat, memangkas jarak di antara mereka hingga Senja bisa mencium lamat-lamat aroma parfum maskulin bercampur aroma kopi dari tubuh bosnya.

​"Saya tidak sewot, Senja," ucap Arsen rendah. "Saya cuma mengingatkan kamu. Di bisnis ini, bersikap terlalu ramah pada serigala bisa bikin kamu berakhir jadi santapan mereka. Jangan murahan cuma demi selembar kontrak kerja."

​"Pak Arsen!" Senja mengepalkan tangannya, benar-benar tidak terima dengan kata 'murahan' yang keluar dari mulut pria itu.

​Tepat saat Senja bersiap untuk meluapkan amarahnya, Arsen mendadak meringis tipis. Gerakan pria itu tertahan, dan tangan kanannya refleks memegang sisi kiri pinggangnya sendiri dengan sedikit tekanan. Wajah tampan Arsen sempat menegang selama sedetik sebelum kembali datar seperti semula.

​Senja yang peka langsung menangkap perubahan ekspresi itu. Pandangannya turun ke arah pinggang Arsen. Kemeja hitam yang dipakai pria itu agak tertarik ke atas, dan di sela-sela lipatan kain kemejanya, Senja melihat sesuatu yang ganjil.

​Ada lilitan perban putih yang agak tebal di balik kemeja Arsen, tepat di area perut samping. Dan ada setitik noda merah pekat yang perlahan merembes di perban tersebut, menembus kain kemeja hitamnya.

​Itu... darah? Pikir Senja kaget. Dia terluka? Sekahat apa dia menahan sakit dari pas nyetir gila tadi siang?

​Arsen yang menyadari arah pandangan Senja langsung membetulkan posisi kemejanya dengan gerakan cepat, lalu mundur satu langkah untuk kembali memberi jarak.

​"Keluar, Senja. Urusan kita selesai hari ini," perintah Arsen, suaranya kembali sedingin es, seolah-olah momen rapuh barusan tidak pernah terjadi.

​Senja terpaku di tempatnya selama beberapa detik. Rasa marah yang tadi membakar dadanya mendadak surut, berganti dengan rasa bingung yang luar biasa. "Pak Arsen... Bapak nggak apa-apa?"

​"Bukan urusan kamu. Keluar," usir Arsen tanpa mendongak sama sekali.

​Senja menggigit bibir bawahnya, merasa dongkol sekaligus penasaran setengah mati. Tanpa sepatah kata lagi, dia berbalik dan melangkah keluar dari ruangan itu. Sumpah demi apa pun, Arsen Malik jelas-jelas bukan sekadar direktur agensi kreatif biasa. Pria itu menyimpan rahasia besar yang berbahaya, dan sialnya, Senja mulai merasa terjebak di dalam pusarannya.

1
Arya Suluran
bagus banget jalan ceritanya
Protocetus
jika berkenan mampir ya ke novelku Remontada
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!