Alya Mahendra, gadis kota yang harus menjalani KKN di Desa Sukamaju, sebuah desa pelosok yang jauh dari kehidupan nyamannya. Karena tingkahnya yang sering mengeluh dan tak terbiasa hidup sederhana, teman-temannya mulai menjulukinya “Nona Kota.”
Di tengah hari-hari KKN yang penuh tantangan, ada Arga Pratama, cowok dingin dan kaku yang diam-diam sering membantu Alya meski wajahnya selalu terlihat tak peduli. Namun saat konflik mulai muncul di posko, mampukah Alya bertahan sampai akhir?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anshuu_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perdebatan Kecil Namun Hangat..
Jalanan sore itu terasa begitu bersahabat. Sedan mewah berwarna midnight blue milik Alya melaju mulus membelah jalanan kota tanpa hambatan berarti.
Mobil keluaran terbaru dengan plat nomor khusus itu bergerak elegan, seolah sama mahalnya dengan seluruh barang belanjaan yang memenuhi bagasi belakangnya.
Tak butuh waktu lama hingga kendaraan itu akhirnya berhenti tepat di depan rumah megah milik keluarganya. Sebuah kamera otomatis yang terpasang di gerbang utama langsung memindai plat nomor mobil Alya.
Beberapa detik kemudian, gerbang besi tinggi bermotif klasik perlahan terbuka, seakan sedang menyambut kepulangan sang putri kecil keluarga itu kembali ke rumahnya.
Dan memang… rumah itu nyaris menyerupai istana modern.
Bangunan utama bergaya modern classic berdiri megah di atas lahan luas, dengan dominasi marmer putih mengilap yang melapisi hampir seluruh fasad bangunan.
Pilar-pilar tinggi menjulang gagah di bagian depan, mengingatkan pada villa-villa aristokrat Eropa, sementara deretan jendela besar semakin menambah kesan elegan sekaligus mewah.
Begitu masuk ke dalam rumah, Alya langsung mendapati suasana ruang keluarga yang ramai.
Di sofa utama, papinya bersama kedua kakak laki-lakinya terlihat sedang bersantai sambil menikmati kopi dan menonton televisi.
Begitu melihat sang putri bungsu datang, wajah Alya langsung berbinar. Tanpa pikir panjang, ia berlari kecil lalu langsung memeluk papinya erat seperti anak kecil yang baru pulang bermain.
“Papiii…” rengeknya manja sambil memeluk pinggang pria paruh baya itu.
Sang papi hanya tersenyum hangat, membalas pelukan putri kesayangannya dengan penuh kelembutan.
Salah satu kakaknya yang duduk tak jauh dari sana menoleh sekilas ke arah tumpukan kantong belanja yang dibawa beberapa asisten rumah tangga dari belakang Alya.
“Habis belanja perlengkapan KKN?” tanyanya santai.
Namun beberapa detik kemudian, kedua kakaknya mulai saling bertukar pandang. Alis mereka perlahan berkerut.
Perhatian ketiganya langsung tertuju pada koper jumbo rose gold yang ukurannya begitu besar hingga tampak mencolok dibanding barang lainnya. Belum lagi puluhan kantong belanja yang terus berdatangan dari mobil.
Alya justru terlihat sangat antusias. Ia segera duduk di samping papinya lalu mulai bercerita tanpa diminta.
“Tadi Alya beli banyak banget. Ada baju berkebun, terus jaket anti panas, baju anti serangga…”
Alya berhenti sejenak, seolah memastikan tak ada satu pun daFtar belanjanya yang terlewat, sebelum kembali melanjutkan dengan nada penuh antusias.
“Oh iya, Alya juga beli baju perlindungan anti lebah. Siapa tahu nanti disuruh ambil madu di hutan.”
Kalimat itu langsung membuat ketiga pria di ruangan itu terdiam beberapa detik.
Ekspresi mereka berubah aneh. Antara ingin tertawa, kesal, sekaligus gemas menghadapi tingkah putri bungsu keluarga mereka.
Elang hanya bisa menghela napas panjang sambil Mengusap wajahnya, seolah sedang berusaha menerima kenyataan bahwa adik kesayangannya memang selalu di luar nalar.
“Tunggu…” katanya pelan. “Kamu mau KKN… atau pindah buat tinggal di hutan Amazon?”
Keano ikut menggeleng pelan, masih berusaha Mencerna daftar belanja adiknya yang semakin lama terdengar semakin tidak masuk akal.
“Baju anti lebah?” ia menatap Alya tak percaya.
“Serius?”
Alya justru mengangguk polos.
“Iya dong. Kita nggak pernah tahu keadaan di sana kayak gimana.”
Mendengar itu, kakak keduanya langsung bersandar di sofa sambil menggeleng berkali-kali.
“Buset…” gumamnya.
“Sekalian aja princess-ku beli lahan pertanian di sana.”
Ucapan Keano sontak membuat suasana ruang keluarga pecah oleh gelak tawa.
Sementara sang papi hanya bisa menghela napas pasrah melihat tingkah anak bungsunya yang sejak kecil memang selalu penuh kejutan.
Dengan senyum lembut, pria itu mengangkat tangan lalu mengusap pelan rambut Alya penuh kasih sayang.
“Apa nggak repot, sayang, bawa barang sebanyak itu nanti?” tanyanya lembut.
Alya langsung menggeleng mantap.
“Nggak, Papi.” jawabnya serius.
“Ini semua perlengkapan wajib, Papi. Alya nggak tahu nanti bakal menghadapi apa di sana.”
Mendengar jawaban itu, Elang dan Keano akhirnya tak sAnggup lagi menahan tawa mereka.
“Bertahan hidup katanya…” salah satu dari mereka terkekeh.
Yang lain ikut menimpali sambil menunjuk koper jumbo milik Alya.
“Kayak mau ikut ekspedisi berbulan-bulan aja, bukan KKN.”
Alya justru memeluk papinya lagi dengan wajah penuh keyakinan.
Ia sadar, bagi orang lain persiapannya mungkin tampak seperti sesuatu yang terlalu berlebihan untuk sekadar KKN.
Namun Alya sama sekali tidak peduli. Baginya, lebih baik bersiap untuk segala kemungkinan daripada menyesal ketika sudah berada di lokasi nanti.
Biarlah mereka menertawakannya hari ini. Sebab ketika saat itu benar-benar tiba, Alya yakin hanya dirinya yang sudah siap menghadapi apa pun yang menunggu di sana.
Dan di dalam pikirannya, keyakinan itu terdengar sangat masuk akal.
Sementara itu, beberapa asisten rumah tangga masih sibuk membawa sisa belanjaan dari mobil ke dalam rumah. Tumpukan paper bag berbagai merek ternama kini memenuhi sudut ruang keluarga.
Keano menatap pemandangan itu cukup lama, lalu menghela napas sambil menunjuk koper jumbo rose gold milik adiknya.
“Aku serius nanya, ya…” katanya pelan.
“KKN kalian cuma beberapa minggu, kan?”
Alya yang sejak tadi menempel di sisi papinya hanya mengangguk santai, seolah pertanyaan itu bukan sesuatu yang perlu dipikirkan serius.
“Iya. Memangnya kenapa?”
Dari tempat duduknya, Elang akhirnya menoleh lalu ikut Menanggapi dengan nada tenang.
“Karena koper kamu itu ukurannya kayak orang mau pindahan.” katanya datar.
Alya mendecak pelan, lalu menyilangkan Tangan di depan dada dengan ekspresi protes.
“Kalian tuh lebay.” protesnya.
“Aku cuma lagi berjaga-jaga.”
“Berjaga-jaga apanya?” Keano bertanya sambil tertawa kecil.
Tak terima dibantah, Alya langsung menegakkan tubuhnya lalu mulai merinci semuanya dengan jari yang terangkat satu demi satu.
“Kalau ternyata cuacanya panas ekstrem, aku udah siap. Kalau banyak serangga, aku juga aman. Kalau ada kegiatan outdoor, aku punya baju khusus.”
Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan dengan nada penuh keyakinan.
“Dan kalau ternyata tempatnya nggak nyaman buat tidur… aku udah beli daster satin baru.”
Keheningan langsung memenuhi ruangan.
Papinya sampai berhenti meminum kopi, sementara Elang dan Keano saling menatap beberapa detik sebelum akhirnya bersamaan menggeleng pasrah.
Papinya tak bisa menahan senyum melihat tingkah ketiga anaknya. Dengan lembut, pria itu kembali mengusap rambut panjang Alya yang sejak tadi duduk menempel manja di sampingnya.
Namun di balik semua itu, Alya sudah memiliki satu pemikiran yang sejak awal tidak pernah berubah.
Ketika nanti peserta lain mulai kerepotan menghadapi kondisi di lokasi KKN, hanya dirinya yang akan tetap tenang karena sudah mempersiapkan semuanya sejak awal.
Dan dengan pikiran itu, Alya merasa keputusan belanja hampir setengah hari tadi adalah keputusan terbaik yang pernah ia buat.
Setidaknya… untuk sekarang, ia benar-benar percaya demikian.