Jiang Hao hanyalah pemuda yang lugu dan polos , jujur dan sedikit konyol , kehidupan sehari harinya seperti kebanyakan pemuda pada umumnya.
Memiliki cita cita keluarga yang bahagia dan keinginan untuk menjadi kaya .
Tapi kehidupan yang di idam idamkan di dalam pikirannya, tidak ada sama sekali.
Tatkala adik kandung yang baru pulang dari dinas militer masuk ke kehidupannya.
Merebut tunangan yang di mana dalam satu minggu akan ia nikahi, serta sikap dan sifat keluarganya yang berubah dengan memutuskan semua hubungan darah termasuk tunangan dan keluarganya.
Juga ia mendapat fitnah keji , sehingga tubuh dan jiwanya hampir mati, namun itu menjadi berkah tersembunyi, darah dan bakat bela dirinya keluar setelah 20 tahun tersegel.
Saat itu juga dunia bela diri kuno terguncang dan nama Jiang Hao menjadi legenda yang di takuti lawan serta kawan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon erik riswana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 3 fitnah yang keji
Jiang Hao merasakan tubuhnya terkena pukulan sesuatu yang sangat keras.
Ia masih sadar dan melihat bahwa itu dilakukan oleh wanita yang menjadi tunangannya .
" kamu , Huanger ... apa yang ... kamu .. !"
Wajah cantik dewasa Lin Huanger begitu meremehkan, di tangannya tergenggam sebilah pisau yang tajam .
Tatapan matanya tidak lemah seperti sebelumnya, melainkan memiliki aura niat membunuh yang samar namun terasa jelas oleh pandangan Jiang Hao yang putus asa .
Dari arah pintu utama, muncul beberapa pria dan wanita paruh baya , mereka memiliki ekspresi yang gembira .
Namun saat memandang ke arah halaman, ekspresi beberapa pria wanita paruh baya itu langsung berubah dan secepat kilat bergegas ke tempat kejadian.
" apa yang terjadi... !"
Lin Huanger terkejut luar biasa , wajahnya yang kejam seketika itu juga dipenuhi dengan aura kesedihan yang dibuat buat .
Tubuhnya yang subur jatuh tidak berdaya , bergetar pelan diiringi dengan tangis yang dibuat sedemikian rupa .
" ibu calon mertua , hikh..hikh... kakak Hao mau memperdaya diriku, Huanger tidak tahan , padahal tinggal satu minggu lagi kita berdua menjadi pasangan suami istri " serunya diiringi tangis kesedihan yang luar biasa .
Wanita paruh baya yang masih memiliki sisa sisa kecantikan masa muda itu langsung berubah wajahnya, matanya menatap tajam ke arah pemuda yang tergeletak tak berdaya di depannya.
" Jiang Hao apa yang dikatakan oleh Huanger apa benar..!"
Jiang Hao berusaha mengangkat kepalanya, namun terasa berat , ia merasakan pusing luar biasa , hal itu diakibatkan oleh pukulan bertubi tubi yang dilakukan oleh Lin Huanger.
Ia hanya bisa membantah tanpa bisa mengangkat kepalanya yang terasa berat ," tidak ibu kedua , Huanger berbohong, aku dipukul menggunakan tongkat kayu itu .. " kata Jiang Hao sedikit menggerakan tangannya.
Wanita yang disebut ibu kedua itu menoleh ke arah pemuda yang tampak santai duduk di kursi malas di dekatnya.
" putraku , apa yang dikatakan oleh Jiang Hao apa benar?" Tanya sang wanita paruh baya dengan lembut ke arah pemuda yang sangat santai itu.
Jiang Tian tersenyum tipis , wajahnya yang tampan begitu kontras dengan Jiang Hao yang sudah penuh dengan debu kotor , sangat menyedihkan.
Perlahan kepalanya menggeleng " tidak ibu , kakak Hao yang melakukannya, dia memaksa kakak ipar Huanger untuk melayaninya, tapi karena sikap dan sifat kakak ipar yang suci dan ketat terhadap aturan , kakak ipar melawannya, menolak untuk melakukannya " jelas Jiang Tian tanpa jeda , nadanya tenang dan tidak ada rasa kasihan di matanya saat melihat keadaan kondisi Jiang Hao yang menurut hubungan darah adalah kakak kandungnya.
Hanya saja beda ibu , ibu Jiang Hao telah meninggalkan kediaman Jiang dan dianggap sebagai penghancur kehidupan rumah tangga orang lain .
Walaupun itu tidak terbukti kebenarannya.
" bagus Jiang Hao , sekarang juga klan Jiang akan mengadakan musyawarah untuk mufakat dengan keadaan ini ,"
" pelayan, bawa pemuda yang tidak memiliki moral ini ke ruang utama klan , saya akan melaporkan kepada patriak klan ,bahwa Jiang Hao telah mencemari nama baik klan " seru Yu Pingyi , ibu kedua yang mulai berkuasa di klan Jiang.
Jiang Hao berusaha meronta , namun ia hanya pemuda biasa tanpa kekuatan garis darah , matanya yang polos mulai tidak ada warnanya, sudah pasrah akan nasibnya yang malang itu .
" tampaknya kehidupan kedua ini akan berakhir, semoga saja aku bisa terlahir kembali di bumi , aku merindukan ibu yang asli " gumamnya dalam hati.
Tak lama kemudian, Jiang Hao yang digotong oleh dua pelayan tiba di ruangan yang memiliki nuansa berwarna putih .
Di kanan kiri , sebanyak dua puluh pria paruh baya dan beberapa pemuda tampak berdiri menatap ke arah Jiang Hao yang sudah terbaring di tengah tengah orang yang berdiri itu.
Selain kursi untuk para penatua atau jenius muda , ada satu kursi , khusus untuk ketua klan atau patriak klan yang memiliki kedudukan luar biasa , baik di dalam klan maupun luar klan .
Kursi itu ditempati oleh seorang pria paruh baya yang memiliki rambut berwarna putih keperakan ,matanya yang dalam seperti tidak terpengaruh oleh suasana di sekitarnya.
" selir terkasih Yu apa yang anda lakukan dengan Haoer ?" Tanya sang patriak, Jiang Ningguo dengan nada tenang tanpa tergesa gesa.
Yu Pingyi langsung berlutut di hadapan sang patriak " suamiku ,putra pertama Hao telah melanggar kode moral klan Jiang kita ,dia memaksa tunangannya untuk melayaninya "
Jiang Hao yang terbaring tak berdaya masih bisa mendengar dan berbicara " tidak ayah , aku tidak memaksanya, Lin Huanger dan adik Tian telah berbuat tidak baik di depan mataku , aku sebagai pria merasa marah dan menegur mereka, aku tidak memaksa Lin Huanger untuk melayaniku, malah mereka yang berbuat tercela di depan mataku " jelas Jiang Hao sedikit terengah engah.
Ia merasakan sakit di kepalanya semakin menjadi jadi , matanya perlahan terpejam , mencoba menahan rasa sakit yang datang terus menerus .
Seluruh tubuhnya dipenuhi dengan keringat dingin dan ia merasakan sesuatu yang berbeda dengan tubuhnya.
Saat ia akan mencoba untuk membuka mata , teriakan keras terdengar di sampingnya.
" calon ayah mertua , kakak Hao berbohong, di halaman belakang banyak saksinya, untung saja adik ipar Tian menahan dan menolong Huanger dari paksaan kakak Hao " seru Lin Huanger diiringi dengan tangis yang luar biasa .
Para penatua dan jenius generasi muda mulai berbisik satu sama lain ,tatapan mata mereka menatap ke arah Jiang Hao mulai berubah, rasa jijik dan meremehkan mulai tumbuh .
Tatapan menghargai sebelumnya terhadap Jiang Hao sudah hilang tak tersisa, yang muncul mulai datang ucapan tidak enak yang begitu kotor.
Sang patriak sekaligus dari ayah Jiang Hao langsung muram , matanya tidak bisa tidak mengeluarkan niat membunuh yang kuat terhadap pemuda yang terbaring tidak berdaya di tengah tengah aula pertemuan klan .
" putra pertama , semua saksi menuduh bahwa kamu telah memaksa tunanganmu sendiri untuk melayani , apa kamu tidak sabar untuk segera menikah hah .. !" Nada Jiang Ningguo mulai menusuk , tidak lagi memiliki nada seorang ayah pada anaknya.
Melainkan seperti menginterogasi penjahat tercela yang sangat berat .
" ayah , aku tidak melakukan apapun , mereka yang melakukannya "
" diam ... , ayah sungguh kecewa dengan sikap dan sifatmu ,pantas saja ibumu pergi meninggalkan rumah, ternyata kelakuanmu sama saja dengan ibumu !" Geram patriak Jiang Ningguo dengan melontarkan hinaan terhadap istri pertamanya yang hilang entah kemana .
Jiang Hao untuk pertama kalinya mengeluarkan air mata kesedihan, tubuhnya yang kekar bergetar hebat " ayah .. jangan bawa nama ibu , ibu tidak bersalah, ibu tidak meninggalkan keluarga Jiang, "
" sudah cukup putra pertama... , ini adalah terakhir kali ayah menyebut dirimu sebagai putra pertama , mulai hari ini , sampai seterusnya, kamu Jiang Hao dicabut sebagai indentitas putra pertama dan di usir dari kota Jiangnan,"
Sang patriak berbalik dan berkata pelan " awalnya aku ingin menjadikan dirimu sebagai penerus klan Jiang, karena garis darah milikmu telah di satukan dengan putra kedua , namun sekarang itu tidak akan ada lagi .. !"
" Segera bawa sampah tidak berguna itu dari kediaman klan Jiang, aku tidak sudi melihatnya !"