*Arsenio Yudhistira*, CEO muda yang memimpin Yudhistira Group dengan tangan besi, mewarisi karisma dingin dan reputasi intimidatif sang ayah. Tumbuh dalam dinasti yang kaku, Arsenio meyakini bahwa dominasi adalah kunci mutlak untuk menaklukkan segala hal—termasuk wanita.
Namun, superioritasnya goyah saat berhadapan dengan *Kiera*, seorang gadis pragmatis yang kebal terhadap pesona gelap sang tiran. Alih-alih terintimidasi oleh taktik posesif kaum elite, Kiera dengan blak-blakan justru menuntut realitas: menyodorkan kertas tagihan sewa tempat tinggalnya yang menunggak. Keangkuhan sang pewaris pun runtuh, memaksanya bertekuk lutut menjadi sosok yang penuh obsesi jenaka demi menjinakkan sang pemberontak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3. Jebakan Sang Iblis
Langkah kaki Kiera Anandita terasa sangat berat saat ia menyusuri lorong panjang berlantai marmer mengilap menuju ruang kerja utama CEO Yudhistira Group. Di dalam dekapannya, sebuah map cokelat baru yang isinya masih agak lembap karena terburu-buru dicetak ulang di tempat fotokopi seberang jalan, didekapnya erat-erat bagai sebuah perisai pelindung.
Entah mengapa, atmosfer di lantai teratas gedung pencakar langit ini terasa begitu menekan. Udara dari pendingin ruangan yang berembus pelan terasa sedingin es, namun anehnya, keringat dingin justru mulai membasahi telapak tangan Kiera. Jantungnya benar-benar berdegup kencang, bertalu-talu dengan ritme liar yang tidak beraturan di dalam rongga dadanya. Ada rasa cemas yang teramat sangat, bercampur dengan firasat buruk yang terus-menerus mengetuk pintu kesadarannya. Kiera mencoba menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan diri. *“Ayo Kiera, ini cuma wawancara kerja. Kamu sudah latihan di depan cermin ratusan kali. Jangan memalukan,”* bisiknya menyemangati diri sendiri.
Setelah sekretaris pribadi sang CEO membukakan pintu kayu jati berukir megah itu dengan gerakan yang sangat formal, Kiera melangkah masuk dengan ragu. Langkahnya tertahan sesaat ketika pintu di belakangnya tertutup rapat dengan bunyi klik yang halus, mengisolasinya di dalam ruangan yang luasnya hampir setara dengan rumah tipe 36 miliknya.
Saat pertama kali menginjakkan kaki di dalam ruangan itu, hal pertama yang langsung tertangkap oleh indra penglihatannya adalah sesosok laki-laki berbadan tegap yang berdiri membelakanginya di dekat jendela kaca besar yang menampilkan pemandangan seluruh kota Jakarta dari ketinggian. Laki-laki itu sedang memegang sebuah cangkir porselen putih kecil, tampaknya sedang menyesap teh hangat untuk menenangkan diri.
Kiera memicingkan matanya sedikit. Jantungnya yang tadi sudah berdegup kencang, kini rasanya seperti melompat ke tenggorokan. Postur tubuh itu—bahu yang lebar, punggung yang tegap dan kokoh terbalut setelan jas hitam yang tampak sangat mahal, serta tinggi badan yang menjulang—membuat Kiera merasa familier. Menurutnya, ia seperti pernah melihat postur tubuh ini di suatu tempat, dan itu belum lama berselang. Otaknya berputar keras, mencoba mencocokkan siluet pria di depannya dengan ingatan-ingatan jangka pendeknya. Namun, karena tingkat stres dan kepanikan akibat insiden di lobi tadi masih mendominasi pikirannya, Kiera tidak benar-benar ingat di mana ia pernah melihat punggung seindah itu. *“Ah, sudahlah. Mungkin semua bos kaya di Jakarta emang punya postur tegap kayak gini karena hobi main golf,”* batin Kiera berusaha rasional.
Pria di depan jendela itu sama sekali tidak bergerak ataupun berbalik, seolah-olah menganggap kehadiran Kiera di dalam ruangannya hanyalah sebutir debu yang tidak penting. Merasa tidak sopan jika terus diam mematung seperti patung selamat datang, Kiera memberanikan diri untuk mengambil inisiatif. Ia maju dua langkah, menjentikkan jemarinya yang dingin ke sisi rok formalnya, lalu membungkuk hormat dengan sopan.
Dia mencoba memperkenalkan diri, meskipun laki-laki itu belum berbalik badan sama sekali. "Selamat siang, Pak. Perkenalkan, nama saya Kiera Anandita. Saya adalah kandidat untuk posisi Asisten Pribadi yang dijadwalkan untuk menghadiri wawancara langsung dengan Bapak hari ini. Terima kasih atas kesempatan yang telah Bapak berikan kepada saya." Voice Kiera terdengar sedikit bergetar, namun ia berusaha keras menjaga agar artikulasinya tetap terdengar profesional dan percaya diri.
Begitu suku kata terakhir dari nama "Kiera Anandita" keluar dari bibir gadis itu, tubuh tegap pria di depan jendela tampak menegang sesaat. Sudut bibir pria itu berkedut, mengembang menjadi sebuah senyuman licik yang penuh kemenangan. Perlahan, dengan keanggunan yang sengaja dibuat-buat untuk mengintimidasi, laki-laki itu mulai memutar tubuhnya untuk berbalik badan menghadap Kiera.
Dan saat laki-laki itu berbalik badan sepenuhnya, Kiera langsung terkejut setengah mati. Matanya membelalak sempurna, map cokelat di dekapannya hampir saja merosot jatuh ke lantai untuk kedua kalinya. Jantungnya yang tadi berdegup kencang kini rasanya berhenti berdetak sesaat.
Pria itu... pria galak, sombong, gila hormat, dan bermulut pedas yang baru saja ia siram dengan kopi sasetan di lobi satu jam yang lalu! Pria yang ia panggil 'Mas-mas tantrum' dan ia selipkan nomor telepon lecek di saku kemejanya! Dia... dia adalah CEO Yudhistira Group yang legendaris itu?! *“Mampus kamu, Kiera. Tamat sudah riwayat hidupmu hari ini,”* jerit Kiera histeris di dalam hatinya, wajahnya mendadak pucat pasi seperti kain kafan.
Tapi di seberang ruangan, Arsenio pun tak kalah terkejut. Sepasang mata tajam milik sang CEO yang tadinya sudah memancarkan kilat balas dendam yang membara, mendadak melebar tak percaya. Arsenio yang saat itu baru saja menyesap teh chamomile hangatnya untuk menunjukkan wibawa, langsung tersedak dengan hebat.
"Uhuk! Uhuk... uhuk!" Arsenio terbatuk-batuk, buru-buru meletakkan cangkir porselennya ke atas meja dengan bunyi denting yang agak keras, merusak seluruh skenario kemunculan teatrikalnya yang sudah ia susun di kepala. Wajah tampannya sempat memerah sesaat karena air teh yang salah masuk saluran pernapasan.
Bagaimana Arsenio tidak terkejut? Perempuan yang berdiri di hadapannya sekarang benar-benar sangat berbeda dengan makhluk berantakan, berjaket denim longgar, dan berbau kopi murah yang tadi ia temui di lobi dengan penuh emosi. Kiera yang sekarang tampak jauh lebih rapi. Rambut cokelat pekatnya yang tadi acak-acakan kini sudah diikat sanggul modern yang rapi di belakang kepala, menampilkan leher jenjangnya yang putih bersih. Ia mengenakan kemeja kerja putih yang pas di tubuh, dipadukan dengan rok hitam formal di bawah lutut. Tidak ada lagi kesan 'gembel premium' yang tadi melekat padanya.
Di mata Arsenio, penampilan Kiera yang sekarang membuatnya terlihat jauh lebih manusiawi dan... cantik. Sialan. Kulit wajah gadis itu tampak bersih, dengan rona merah alami di pipinya yang muncul akibat rasa panik. Ada kesan anggun, polos, sekaligus tegas yang terpancar dari wajah bulat dengan mata besar itu. Pikiran itu melintas begitu saja di otak Arsenio, dan detik berikutnya, sang CEO langsung merutuki dirinya sendiri. Ah, sungguh memalukan untuk Arsenio memikirkannya saja! Bagaimana bisa seorang perfeksionis sepertinya sempat memuji kecantikan gadis yang sudah menginjak-injak harga dirinya di depan umum? Itu adalah penghinaan besar bagi egonya!
Arsenio segera berdehem keras, berusaha menguasai kembali ekspresi wajahnya yang sempat goyah. Ia menegakkan punggungnya, menatap Kiera dengan pandangan yang kembali sedingin es kutub utara. Tapi amarahnya kembali menyeruak dengan sangat hebat saat ingatan di otaknya kembali memutar adegan memalukannya tadi di lobi. Rasa basah dari tumpahan kopi, bau susu sasetan murah, rasa sakit di perutnya saat lutut gadis ini menekannya, dan yang paling parah—kalimat lancang gadis ini yang menyebut egonya sedang tantrum seperti anak TK—semuanya kembali berputar seperti film horor beresolusi tinggi di kepalanya.
"Jadi..." Arsenio melangkah perlahan mendekati meja kerjanya, menumpukan kedua telapak tangannya di atas permukaan kayu jati sambilcondong ke depan, menatap Kiera seolah gadis itu adalah buronan internasional yang akhirnya tertangkap basah. "Hal penting yang kamu maksud sampai-sampai tidak punya waktu untuk mendengarkan saya di lobi tadi... adalah untuk mengemis pekerjaan di perusahaan SAYA?!"
Suara bariton Arsenio menggema rendah, penuh dengan penekanan yang mengintimidasi. Aura tiran yang melekat pada dirinya keluar sepenuhnya, membuat atmosfer ruangan semakin terasa mencekik.
Kiera menelan ludahnya dengan susah payah. Ia tahu posisi tawarnya sekarang berada di titik minus tak terhingga. Namun, sifat pemberontak di dalam dirinya menolak untuk membuat Kiera langsung berlutut menangis meminta ampun. Ia mencoba menegakkan kepalanya, menatap langsung ke dalam manik mata hitam Arsenio yang berkilat penuh amarah.
"Saya tidak mengemis pekerjaan, Pak Arsenio," jawab Kiera, berusaha menjaga suaranya tetap stabil meskipun lututnya gemetar di balik rok hitamnya. "Saya ke sini untuk melamar kerja secara profesional berdasarkan kompetensi saya. Dan mengenai kejadian di lobi tadi... saya benar-benar tidak tahu kalau Bapak adalah pemilik gedung ini. Saya sudah meninggalkan nomor telepon saya untuk ganti rugi, bukan?"
Arsenio tertawa sinis, sebuah tawa kering yang sama sekali tidak terdengar ramah di telinga. "Kompetensi? Berani sekali kamu bicara soal kompetensi setelah apa yang kamu lakukan pada jas saya dan harga diri saya di bawah sana? Kamu pikir selembar kertas lecek dengan nomor telepon murahanmu itu bisa membayar kerugian yang saya alami hari ini, Kiera Anandita?!" Pria itu menyebut nama lengkap Kiera dengan penekanan yang tajam, seolah-olah nama itu adalah daftar hitam di dalam hidupnya.
Arsenio perlahan menegakkan tubuhnya, berjalan memutari meja kerjanya yang besar, lalu melangkah mendekati tempat Kiera berdiri. Setiap ketukan pantofel kulitnya di atas lantai marmer terdengar seperti hitungan mundur menuju hari kiamat bagi Kiera. Jarak di antara mereka semakin mengikis, hingga Kiera bisa kembali mencium aroma parfum maskulin mahal bercampur sedikit aroma sabun antiseptik dari tubuh sang CEO—sebuah bukti nyata dari kepanikan higienis pria itu pasca-tragedi kopi tadi.
Arsenio berhenti tepat satu langkah di depan Kiera, membuat gadis itu harus sedikit mendongak untuk menatap wajah tampannya yang kini dipenuhi senyuman penuh kelicikan. Pria itu menundukkan kepalanya sedikit, berbisik tepat di dekat telinga Kiera dengan nada yang sangat rendah namun mematikan.
"Kamu sudah masuk ke dalam wilayah saya, Rebel kecil. Dan di gedung ini, sayalah iblis yang memegang kendali penuh atas nasibmu."