Shana percaya bahwa diam saat melihat ketidakadilan adalah sebuah kesalahan.
Itulah yang membuat Shana berani menegur pria asing yang sedang memarahi seorang nenek.
Namun, ia terlalu cepat mengambil kesimpulan. Ia salah paham dengan pria itu.
Beberapa hari kemudian pria itu muncul kembali di kehidupan Shana, sebagai CEO baru di kantornya.
Perlahan kehidupan Shana yang penuh dengan ketenangan, berubah menjadi rumit, panik, rasa malu, dan penuh dengan kejutan yang tak terduga.
Ditengah hubungan bos dan karyawan yang rumit. Keduanya mulai menyadari bahwa terkadang cinta datang dari sebuah kesalahpahaman.
Selamat membaca❤
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kurniasih Paturahman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Asisten Baru Sang CEO
Shana berdiri kaku di depan ruang CEO.
Tangannya sudah terangkat satu menit yang lalu untuk mengetuk pintu, namun keberaniannya juga belum terkumpul.
Kalau saja bisa, ia ingin mengajukan cuti mendadak.
Atau resign.
Atau pindah planet sekalian.
Rasanya kalau resign tidak mungkin, Ia merasa belum cukup punya tabungan yang berlimpah, masih banyak impiannya yang belum ia wujudkan. Apalagi pindah planet, ide anehnya kadang suka muncul tiba-tiba.
Tok... Tok...
"Masuk." Suara Evan terdengar dari dalam. Shana memejamkan matanya sebelum ia membuka pintu.
Perlahan Shana masuk ke dalam. Ia melihat Evan tengah duduk di balik meja kerjanya dengan sebuah dokumen berada di genggamannya. Jas abunya tampaknya sudah terlepas dari tubuhnya, meninggakan kemeja putih dengan lengan yang sudah tergulung hingga ke siku.
Deg..Tampan, sangat tampan, sayangnya itu tak membantu keadaan. Shana tetap gugup tak berujung.
"Silakan duduk." Pinta Evan kemudian dan Shana pun duduk menuruti perintahnya.
Hening seketika, hanya jantung Shana saja yang terlalu berisik saat itu.
Satu menit
Dua menit
Tiga menit
"Apa-apaan ini, kenapa dia diam saja." Gumam Shana kesal.
Setelah menanti beberapa menit. Evan akhirnya meletakkan dokumen yang sejak tadi di genggamannya dan meletakkannya di atas meja bersama dengan dokumen lainnya.
"Jadi."
Shana langusng menegakkan punggung. pandangan mereka bertemu satu sama lain.
"Jadi? " Ulang Shana.
"Kita bertemu lagi.. "
Shana tertawa canggung
"Hehe.. Dunia ternyata sempit ya Pak.. "
"Sangat sempit."
Shana berpikir keras, apa yang harus ia lakukan sekarang. Sepertinya Pak Evan masih menyimpan dendam padanya.
"Maafkan saya Pak." Ucap Shana akhirnya.
"Kamu sudah minta maaf waktu itu."
Shana mengangguk mendengarnya.
"Bapak sudah maafkan saya juga kan?"
"Ya.. betul." Evan tersenyum.
"Berarti masalahnya sudah selesai kan pak? "
Dan kali ini Evan yang mengangguk.
"Selesai"
"Syukurlah." Shana mengenai napas lega.
"Tapi saya belum bilang, kalau saya sudah melupakannya."
"Hah.. Maksudnya?" Seketika napas Shana kembali tertahan. Pasti pria ini sengaja, sengaja ingin membalas dendam padanya. Shana tiba-tiba membayangkan hari-harinya yang akan terlihat sulit sekali.
Evan tidak menjawab pertanyaan Shana. Ia kembali membuka dokumen, kali ini dokumen yang berbeda yang ia genggam.
"Kinerja kamu bagus."
Shana berkedip, perubahan topik yang tiba-tiba membuatnya bingung.
"Terima kasih, Pak."
"Dan.. Mulai hari ini, kamu menjadi asisten saya."
"Apa? "
"Bermasalah? "
"Jelas bermasalah."
Evan mengangkat sebelah alis matanya, meminta penjelasan dari apa yang diucapkan Shana barusan.
"Maksud saya, kenapa saya harus jadi asisten Bapak? Banyak yang lebih berpengalaman di luar sana. "
"Ya, betul banyak sekali."
"Lalu, kenapa harus saya?"
Evan tersenyum tipis. Rasanya menyenangkan melihat kepanikan di wajah Shana.
"Saya nyaman bekerja dengan orang yang berani menegur saya."
Shana tidak percaya satu katapun dari ucapan bosnya itu. Ini pasti alasan untuk balas dendam. Seratus persen balas dendam.
"Pak..tolong dipertimbangkan lagi. "
"Kenapa? Kamu meragukan penilan saya."
"Bukan-bukan itu." Shana menggeleng dengan cepat.
Karena saya pernah memarahi Bapak di tempat umum.
Karena setiap kali melihat Bapak, saya ingin cepat menghilang.
Karena setiap kali bertemu Bapak, jantung saya mendadak tak berirama.
Tentu saja semua itu tidak mungkin diucapkan oleh Shana.
"Karena saya.. " Ucap Shana terbata.
"Shana.. " Nada suara Evan terdengar lebih tegas. Membuat Shana langsung terdiam.
"Ini bukan tawaran, tapi ini perintah."
Evan lalu menyerahkan sebuah dokumen ke Shana.
"Besok kita ada rapat dengan klien utama. "
"Besok? "
"Ya.. "
"Tapi saya belum siap jadi asisten Bapak. "
"Saya juga belum siap dipanggil cucu durhaka oleh orang asing."
Ya Tuhan... sepertinya benar, bosnya berniat membalas dendam ke dirinya.
-My Boss, My Mistake-
dasar CEO kasmaran namun gengsi 🤭