NovelToon NovelToon
Dikhianati Suami, Dicintai Chef Eksekutif

Dikhianati Suami, Dicintai Chef Eksekutif

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh / Crazy Rich/Konglomerat / Penyesalan Suami
Popularitas:15k
Nilai: 5
Nama Author: Tulisan_nic

"Luka ini masih menganga, kata maaf dan khilaf tidak bisa menguburkanya. Pengkhianatan ini terlalu pahit, hingga aku susah untuk lupa!"

Ini adalah kisah Isana, seorang wanita yang dikhianati Andreas dengan begitu pahit, saat sedang mengandung anaknya. Namun menemukan kisah manis dibalik Cupcake kegemarannya, bersama Althaf Rafardhan, seorang chef yang terkenal dingin dan tidak banyak bicara.
Andreas yang terpuruk karna menyadari, cintanya hanyalah untuk Isana, bukan Risa perempuan penggoda. Ingin kembali lagi, memperbaiki hubungan yang kandas. Mencoba membujuk Isana untuk rujuk, dengan dalih sebagai Ayah biologis anak laki-laki mereka.
Akankah Althaf membiarkan wanita yang ia cintai itu kembali pada pria yang sudah mengahancurkanya?
Dan apa keputusan Isana?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tulisan_nic, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kamu Kemana Mas?

*

*

*

Isana menggenggam erat ujung kasur, saat rasa nyeri itu kembali datang, lebih kuat dari sebelumnya. Rasa nyeri itu datang sekali saat ia selesai menunaikan sholat isya. Kemudian kembali lagi, dengan ritme tak beraturan.

Napasnya memburu, sementara keringat dingin mulai membasahi pelipisnya. Perutnya yang membesar terasa mengeras, memaksa tubuhnya berjuang lebih keras membentuk pertahanan.

"Ya Allah..." lirihnya, menahan gemuruh sakit yang menjalar dari pinggang hingga ke perut bagian bawah.

Ia menundukkan kepala, berusaha mengatur napas seperti yang diajarkan dokter. Namun setiap kali kontraksi datang, rasa sakit itu membuat tubuhnya bergetar. Air mata tanpa sadar mengalir di pipinya.

Ia raih ponsel yang layarnya masih terbuka, menampilkan kursor berkedip pada kontak yang ia beri nama, Mas Andreas ♥️

Dicobanya lagi panggilan telpon ke nomor tersebut. Namun nihil, telpon selalu berada dalam notifikasi memanggil. "Kemana kamu Mas? Apa kamu sendang sibuk sekali, hingga mengabaikan panggilan istri yang sedang bertaruh melahirkan anakmu ini?" lirihnya.

Tangannya perlahan mengusap perutnya.

"Nak... sebentar lagi kita bertemu, ya?" bisiknya dengan suara bergetar.

Tak kunjung mendapat jawaban, pada panggilan di nomor suaminya itu, Isana berinisiatif untuk menelpon mertuanya. Karna jarak rumah mereka tidak terlalu jauh, hanya berselang dua rumah saja.

"Assalamualaikum, Ma."

Suara Isana bergetar, saat telpon itu tersambung.

"Wa'alaikumsalam, ada apa Isa? Apa kamu kontraksi?"

Nada cemas dari Dewi, yang sudah menebak saat panggilan telpon dari menantunya itu.

"Iya, Ma. Sejak setelah Isya tadi, kontraksinya semakin lama semakin sering."

"Ya, kamu tunggu dulu ya. Mama sama Papa akan langsung ke sana. Kita ke Rumah Sakit Pusat." Dewi memutuskan telpon itu segera.

Isana menganggukkan kepala, meski itu tidak terlihat oleh Dewi.

Kontraksi berikutnya datang lebih cepat. Isana memejamkan mata rapat-rapat, menggigit bibir bawahnya untuk menahan erangan yang hampir lolos. Dadanya naik turun, berusaha tetap kuat meski rasa sakit seolah meremukkan setiap sendi di tubuhnya.

Deru suara mobil terdengar. Derit pintu pagar, membuat Isana bernafas lega. Sudah di pastikan itu adalah suara mertuanya, yang barusan ia telpon.

"Isa?!"

Dewi berteriak, bahkan langkah kakinya belum sepenuhnya masuk ke dalam rumah.

"Isa? Di mana kamu?!"

Langkah Isana tertatih, dengan sisa tenaga yang terus menipis, ia berusaha bangkit dan berdiri. Namun, saat berdiri, ia merasakan sesuatu keluar dari bawah sana.

Cairan keruh merembes di antara paha kemudian turun ke kaki jenjangnya. Isa tidak tahu itu apa, hanya saja dari artikel yang pernah ia baca juga penjelasan singkat dari dokter, cairan keruh itu bernama ketuban. Jika cairan itu pecah, berarti pertanda kelahiran sang buah hati semakin dekat.

"Mama, Isa di kamar!" sahutnya, sebisa mungkin bersuara keras.

Dewi yang datang bersama Beni suaminya, tergopoh-gopoh masuk ke kamar sumber suara Isana.

"Ya ... Allah Isa. Ketubannya sudah pecah!" Dewi mendekat, wajah paniknya tidak bergeser sedikit pun.

"Andreas mana?!" Beni yang sejak tadi menegang, tatapannya menyapu ruangan, mencari-cari kemana keberadaaan anak laki-laki nya itu.

"Mas Andreas, sepertinya sedang sibuk Pa. Dari tadi aku hubungi tidak bisa." Isana menjawab sambil meringis, menahan nyeri luar biasa yang ia tidak tahu pusatnya dimana. Karna ia merasakan nyeri itu menjalar ke seluruh tubuhnya.

"Ayo kita ke Rumah Sakit, Pa. Isa harus cepat ditangani."

Beni mengangguk, gegas menuruti perintah sang istri. Meski raut wajah kecewanya tidak bisa ia tutupi, karna anak laki-lakinya justru tidak ada ketika calon cucunya ingin melihat dunia.

Dewi dan Beni memapah Isana menuju mobil yang pintunya sudah terbuka. Anton supir pribadi mereka sudah siap dibelakang kemudi, ketika beberapa perlengkapan bayi dan lahiran Isana sudah ia masukkan ke dalam bagasi.

"Cepat, Ton. Kita harus cepat sampai ke arumah Sakit Pusat !" seru Dewi, yang tak lagi bisa menunggu.

Anton mengangguk, kepiawaiannya mengemudi membawa mobil SUV hitam itu membelah jalan raya Jakarta dengan kemacetannya yang menggila.

Dunia berputar terlalu lambat bagi Isana. Kontraksi berulang yang semakin sering itu menuntut nya untuk terus berjuang habis-habisan. Segala cara ia lakukan, termasuk mengatur nafas, seperti yang dokter Syarifah ajarkan. Dokter spesialis kandungan, yang sejak awal kehamilan, Isana selalu berkonsultasi dengannya.

***

Tangisan bayi memenuhi ruang bersalin.

Dokter Syarifah, menghembuskan nafas lega. Seorang bayi laki-laki lahir. Lengkap, tidak ada kekurangan apa-apa.

"Alhamdulillah Isana, anak kamu laki-laki." ujar Dokter Syarifah, mendekatkan bayi laki-laki ke wajah Isana.

Namun kelegaan diwajah dokter Syarifah itu tidak bertahan lama. Ia mendadak membeku. Melihat Isana kehilangan kesadarannya.

Darah yang mengalir di bawah tubuh wanita itu tidak berhenti. Bahkan semakin banyak. Senyum di wajah para perawat perlahan menghilang. Tangisan bayi yang baru lahir kini terdengar kontras dengan suara alarm monitor yang mulai berbunyi nyaring.

"Dok, tekanan darahnya menurun!" pekik salah satu perawat.

Dokter Syarifah menyerahkan bayi laki-laki yang menangis nyaring itu pada perawat. Serta merta fokusnya beralih pada Isana.

"Isa? Isana, kamu bisa dengar saya?!"

Wajah Isana yang beberapa menit lalu masih mampu berteriak menahan kontraksi, kini berubah pucat seperti kertas. Bibirnya kehilangan warna. Kelopak matanya terlihat semakin berat.

"Isana, tetap buka mata. Dengarkan saya."

Tak ada jawaban. Hanya napas pendek yang terdengar putus-putus.

Jantung Dokter Syarifah berdebar semakin keras. Isana sedang kehilangan terlalu banyak darah.

"Siapkan transfusi sekarang!"

Perintah itu meluncur begitu cepat hingga beberapa perawat langsung berlari keluar ruangan.

Tangan Syarifah mulai dipenuhi darah saat berusaha menghentikan sumber perdarahan. Namun darah itu terus mengalir.

Suasana ruang bersalin berubah mencekam. Tak ada lagi senyum. Yang terdengar hanyalah langkah kaki terburu-buru, suara alat medis, dan tatapan cemas setiap orang yang berada di dalam ruangan.

"Tekanan darah turun lagi, Dok!"

Kalimat itu menghantam dada Syarifah seperti palu. Ia menoleh. Angka pada monitor membuat tenggorokannya kering kerontang. Rasa takut mulai merayap masuk.

Rasa takut melihat seorang ibu muda yang baru saja berjuang membawa kehidupan ke dunia, justru kehilangan hidupnya sendiri di hadapan mereka.

Keringat dingin merembes di pelipisnya. Sarung tangan yang ia kenakan sudah basah oleh darah. Di tengah bunyi monitor yang semakin tidak menenangkan, satu kenyataan yang membuat napasnya terasa sesak.

Isana tergeletak tanpa ada gerakan sedikit pun. Perjuangan antara hidup dan mati dari seorang perempuan berstatus istri, demi panggilan Ibu dari mulut kecil yang lucu.

Saat dimana kehadiran seorang suami, begitu diharapkan menemani setiap prosesnya. Namun Isana tidak mendapatkan itu semua, bahkan Isana tidak tahu ... di mana suaminya berada.

*

*

*

~Salam hangat dari Penulis 🤍

1
Black Swan
Hadeuh jangan bilang itu isana yang masih penasaran sama andreas
mawar merah
Sakit ya andreas...makanya jadi suami itu yang bersyukur🤭🤭🤭🙏
_Nic: Denger tu Andreas, kamu sih nggak bersyukur🤭
total 1 replies
neny
gpp ketemu sm risa jg,,isana kan baik,,gk bakal berantem,,suami nya ajh di kasih sm isana ke risa,,🤭
_Nic: Iya ya kak, tungguin cerita selanjutnya ya🤭
total 1 replies
_Cherryl🍒
Udah pasti si Risa lah, siapa lagi mana mungkin Isana. angkut tuh barang bekas Risa, Isana nggak butuh.
_Cherryl🍒
aku pengen gampar balik bu Dewi, sumpah, berani banget nyentuh Isana ku. tapi tiba-tiba marahku mereda saat Isana mendapatkan perhatian dari Althaf.
Black Swan
Althaf jangan bujuk isana buat balikan sama Anreas ya
Black Swan
Ya elah Isa jangan melembek please. Althaf udah nunggu kamu tuh
mawar merah
Alhamdullilah Isana menerimanya, semoga dengan bekerja dia bisa melupakan sakit hatinya.
_Nic: Aamiin semoga ya ka
total 1 replies
mawar merah
Semoga pernikahan Khafi dan Gendhis SAMAWA ya🤭🤭🤭
neny
gk ush nyalahin orang,,itu semua murni kesalahan km,,althaf hanya menggambil jodoh nya yg dititipkan sebentar ke kamu🤣🤣
neny: klau lama mah bukan titipan kak,,nanti jd hak milik🤣🤣
total 2 replies
neny
cie,,cie,,yg bs lebih deket sm calon istri🤭🤭
neny
sang pangeran yg akan membahagiakan mu isana🤭🤭
mawar merah
Selamat Isana sudah menjadi janda yang terhormat...
_Nic: Janda terhormat buat Mas Althaf 🤣
total 1 replies
mawar merah
Jangan-jangan laki-laki yang akan dijodohkan dengan Isana itu Althaf ya
_Nic: Jangan-jangan iya, duh
total 1 replies
_Cherryl🍒
kamu memang terlalu baik Isana. Jadi aku yang akan mewakili kamu tertawa jahat disini melihat kondisi Andreas. hahahaha mampus.
_Cherryl🍒
Kata aku mah cuekin aja bang, anggap aja Abang nggak liat apa-apa, ayo tutup matanya 🙈
_Nic: pura-pura nggak liat
total 1 replies
Black Swan
Mohon kerja samanya ya Mas Khafi, jangan kasih tau Isana atau siapapun juga😏😏😏
_Cherryl🍒
boleh nggak sih ketawa diatas penderitaan orang lain.
Black Swan
Saya bantu cari tukang gali kubur ya Risa
_Cherryl🍒
ngapain sih pake nyusulin segala nggak tau malu banget. Itu lagi ular Keket memang susah ya bikin geram saja nanti aja kalau udah selesai sama Isana tinggal giliran kamu pepet si Andreas biar nggak kabur kaburan Mulu.
_Nic: Mau klarifikasi hasil zina kek nya🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!