“Lepaskan aku! Kalian gila ya?!” Suara Liora menggema di dalam mobil.
Di seberangnya duduk seorang anak kecil, usianya sekitar enam tahun. Wajahnya terlalu tenang dan dingin untuk anak seusianya. Anak itu mengangkat wajahnya sedikit, menatap Liora seperti orang dewasa yang sedang menilai bawahan yang tidak kompeten.
“Aku butuh kamu.” Ucap Keivan.
“Apa maksudmu butuh aku?”
Keivan menyandarkan punggungnya lalu melipat tangan kecilnya. “Kamu akan jadi ibu tiriku, menikahlah dengan Papaku.“
Keivan, bocah jenius dari keluarga Salendra, tumbuh di tengah situasi keluarga yang rumit. Ayahnya... Dewangga, seorang pria 35 tahun mengalami cedera otak yang membuatnya menjadi penyandang disabilitas intelektual (tunagrahita) dan memiliki perilaku seperti anak berusia lima tahun (Idiot). Di tengah perebutan hak waris keluarga Salendra, Liora terseret dalam rencana pernikahan yang tidak pernah ia inginkan.
Akankah Liora bersedia menjadi ibu tiri sekaligus istri bagi pria penyandang disabilitas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter — 15.
"Dewangga!"
Liora berlari keluar ruang kerja, langkahnya menggema di koridor lantai dua rumah utama. Keivan menyusul tepat di belakangnya, sementara Tuan Besar berjalan cepat dengan wajah yang sudah berubah sangat dingin. Teriakan tadi terdengar lagi, kali ini lebih pendek. Lebih mirip suara orang yang sedang ketakutan daripada kesakitan.
Saat mereka berbelok di ujung koridor, langkah Liora langsung terhenti. Dewangga terduduk di lantai, tubuh pria itu sedikit membungkuk. Kedua tangannya menekan kepalanya kuat-kuat. Wajahnya pucat, napasnya tidak teratur, dan sesekali terdengar erangan tertahan keluar dari bibirnya.
"Dewangga!" Liora segera berlutut di depannya.
Pria itu mengangkat kepala perlahan, matanya terlihat panik seperti baru saja melihat sesuatu yang mengerikan.
"Dewangga, lihat aku." Liora memegang kedua bahunya. "Ada apa? Kamu sakit?"
Dewangga tidak menjawab, tubuhnya justru semakin gemetar.
Keivan ikut berlutut. "Papa, siapa yang membuat Papa seperti ini?"
Tak ada jawaban, Dewangga hanya memegangi kepalanya erat-erat.
"Lihat aku." Liora mencoba melembutkan suaranya. "Kamu bisa bicara pelan-pelan."
Namun Dewangga tetap diam, tapi kemudian perlahan ia mengangkat satu tangan. Tangannya menunjuk ke ujung koridor. Semua orang langsung menoleh, koridor itu kosong dan tak ada siapa pun disana. Hanya lorong panjang dengan lampu-lampu dinding yang menyala redup.
"Ada seseorang di sana?" tanya Liora.
Dewangga menatap ujung koridor itu, tubuhnya kembali menegang lalu ia mengangguk kecil.
Keivan langsung berdiri, tatapannya berubah dingin. "Kakek, ada seseorang di sini."
Wajah Tuan besar mengeras, karena ia juga berpikir hal yang sama. Mustahil Dewangga tiba-tiba seperti ini tanpa alasan. Pria tua itu menyipitkan mata, ia tidak menyangka ada orang yang cukup berani melakukan sesuatu terhadap Dewangga di dalam mansion yang dijaga sangat ketat.
"CCTV terpasang di seluruh mansion. Kita akan segera tahu apa yang sebenarnya terjadi," ujar Tuan Besar dengan wajah dingin.
Langkah kaki tergesa-gesa terdengar dari ujung tangga, Codet dan para pengawal pribadi akhirnya muncul. Mereka memang menunggu di luar area ruang kerja sejak awal karena pembicaraan yang berlangsung bersifat pribadi.
Begitu melihat kondisi Dewangga, wajah Codet langsung berubah. Ia segera berlari mendekat.
"Tuan! Apa yang terjadi?"
Tak ada yang bisa menjawab, karena bahkan Dewangga sendiri belum mengucapkan satu kalimat pun. Pria itu hanya memegang kepalanya sambil sesekali mengerang pelan.
Liora mulai merasakan sesuatu yang tidak beres, Dewangga terlihat seperti sedang berusaha mengingat sesuatu. Sesuatu yang membuat pria itu sangat ketakutan.
"Papa." Keivan kembali berjongkok, kali ini suaranya jauh lebih lembut. "Papa lihat siapa?"
Dewangga memejamkan mata, dia memegang kepalanya lebih kuat. Keivan mengepalkan tangannya, sedangkan Liora langsung merasa tidak nyaman. Karena ini pertama kalinya sejak bertemu Dewangga, pria itu terlihat setakut ini. Bahkan saat hujan dan petir sekalipun tidak separah sekarang.
"Kakek." Keivan berdiri, tatapannya beralih kepada Tuan Besar. "Kami harus pulang, Papa tidak boleh berada di sini lebih lama."
Tuan Besar mengangguk. "Aku setuju."
Keivan menatap Dewangga yang masih gemetar. "Cepat! Siapkan mobil!"
Perintah itu langsung membuat para pengawal bergerak cepat, Codet membantu Dewangga berdiri. Namun Dewangga malah memegang lengan Liora dengan sangat kuat seolah takut ditinggalkan.
Liora menggenggam tangan Dewangga dengan lembut, ibu jarinya mengusap pelan punggung tangan pria itu. Meski Dewangga tidak mengucapkan apa pun, ia bisa merasakan kegelisahan yang sedang berusaha disembunyikan pria itu. "Aku tidak akan ke mana-mana, jadi kamu jangan takut.
Baru setelah mendengar itu Dewangga terlihat sedikit lebih tenang.
Perjalanan pulang berlangsung dalam suasana yang tidak biasa. Di dalam mobil, Dewangga duduk di samping Liora. Tangannya tidak pernah melepaskan genggaman tangan wanita itu. Sesekali pria itu memejamkan mata, lalu membuka matanya dengan napas berat. Namun dia tak mengatakan apa pun.
Keivan yang duduk di kursi depan terus memperhatikan ayahnya melalui kaca spion. Semakin lama wajah bocah itu semakin dingin. Liora bahkan mulai merasa ngeri melihat ekspresi anak kecil itu, karena itu bukan ekspresi wajah anak enam tahun. Wajah Keivan saat ini, seperti wajah seseorang yang sedang menyusun sesuatu yang buruk di dalam kepalanya.
"Aku akan mencari tahu siapa yang mendekati Papa tadi." Akhirnya Keivan bicara, nada suaranya terdengar tajam.
Bocah itu tidak akan membiarkan kejadian malam ini berlalu begitu saja, seseorang pasti telah mengatakan atau melakukan sesuatu. Mungkin sesuatu yang memicu ingatan Dewangga tentang kecelakaan. Dan jika dugaan itu benar, maka orang yang berada di balik kecelakaan setahun lalu mungkin mulai merasa terancam.
Malam sudah sangat larut saat akhirnya mobil memasuki gerbang Mansion milik Dewangga. Namun bagi Keivan, malam ini baru saja dimulai. Karena setelah setahun penuh mencari petunjuk, Ayahnya akhirnya menunjukkan reaksi terhadap masa lalu yang selama ini hilang. Dan Keivan tidak akan berhenti sampai menemukan siapa yang membuat hidup ayahnya hancur.
Malam itu tidak berakhir sampai di sana. Setelah Dewangga berbaring di atas ranjang, pria itu akhirnya membuka suara untuk pertama kalinya sejak kejadian di rumah utama.
"Liora, peluk aku. Aku mau tidur dipeluk kamu... boleh?" Nada rengekannya terdengar seperti biasa, tetapi ketakutan di wajah pria itu masih belum hilang sepenuhnya.
Liora sebenarnya ingin menolak, tapi setelah mengingat bahwa ia sudah setuju menjadi istri pria itu, hatinya pun melunak. Pada akhirnya ia menghela napas pelan, lalu naik ke atas ranjang dan berbaring di samping Dewangga.
"Hanya boleh peluk... tidak boleh macam-macam, oke?"
Dewangga langsung mengangguk sambil tersenyum kecil. Begitu Liora selesai berbaring, pria itu tanpa aba-aba langsung memeluknya erat. Tubuh Dewangga bergeser mendekat hingga hampir tidak menyisakan jarak di antara mereka.
Liora terkejut, ini pertama kalinya ia berada sedekat ini dengan seorang laki-laki. Apalagi Dewangga memeluknya seperti gurita. Salah satu kaki pria itu menindih kaki Liora, sementara lengan panjangnya melingkar erat di pinggang Liora, membuatnya sulit bergerak.
Jantung Liora langsung berdegup tidak karuan, tetapi Dewangga tampak tidak menyadari apa pun. Pria itu hanya memejamkan mata sejenak sebelum kembali membukanya dan menatap Liora dengan rasa ingin tahu.
"Liora..."
"Hm?"
Dewangga tiba-tiba meletakkan telapak tangan besarnya di atas dada Liora. "Kok ada getarannya di sini?"
Mata Liora langsung terbelalak, tubuhnya seketika menegang. Dalam hati, ia sudah menangis meraung-raung. Pipinya sudah dicium berkali-kali, sekarang bagian privasi-nya juga jadi sasaran.
Ya Tuhan... sabar, Liora. Ingat, dia tidak normal. Dia tidak mengerti apa yang sedang dilakukannya, kamu harus berbesar hati!
Perempuan itu terus mengulangi kalimat tersebut dalam hati sambil berusaha menahan dirinya. Lalu dengan susah payah, Liora menarik napas panjang lalu menjawab. "Itu namanya... detak jantung."
"Oh." Dewangga tampak mengerti, tapi beberapa saat kemudian pria itu kembali bertanya, "Kenapa detak jantung Liora cepat?"
Liora hampir mengumpat dengan keras, ia kembali menghela napasnya. "Karena aku mau tidur..."
"Oh."
Untungnya Dewangga tidak bertanya lagi. Pria itu kembali memeluk Liora erat, lalu memejamkan matanya dengan tenang. Sementara Liora hanya bisa menatap langit-langit kamar dengan pasrah. Sepertinya malam ini yang paling sulit tidur bukan pria itu, melainkan dirinya sendiri.
pasti bekerja sama dgn ibu tirinya Liora
untk menekan hati dan mental Liora yang paling salam adalah ibunya🤔🤔🤔
antara siapa yang melakukan kecelakaan
dan bagaimana sikap Liora jika tau dewangga sudah sadar sepenuhnya
tau jika ada perubahan dari ayahnya
karna mengingat semuanyaa
sengaja akan dibunuh kembali
atau ada obat yang tukar🤔🤔
dihadapan tetua 🏃
kalo emnk si ibu tiri terlibat baik dg liora maupun dewangga ,, berarti masalah ny gx semudah yg di bayang kn ,,
malu ny sampe ke ubun2 ,, 😒😒😒😒😒😒😒
semoga kamu akan kembali pulih seperti sedia kala