NovelToon NovelToon
Sang Mempelai Pengganti

Sang Mempelai Pengganti

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Romansa Fantasi / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Ummu_Fikri

Hanya satu hari sebelum hari pernikahan, Bayu Andarsono harus kehilangan sang mempelai dalam kecelakaan yang merenggut nyawa Annisa, belahan jiwanya. Keluarga besar dari kedua pihak tidak bisa menanggung malu, maka dengan keputusan tanpa perasaan mempelai wanita diganti, Andin, adik kandung Annisa. Bayu dan Andin menikah tanpa cinta, keduanya membuat kontrak hitam di atas putih. Andin setuju karena hatinya sudah dimiliki Bian Wijaya, kekasihnya yang setia. Bayu pun tak keberatan, sebab baginya, Andin hanyalah pengganti sementara. Namun, dibalik kehidupan pernikahan yang dingin, misteri mulai terkuak, sedikit demi sedikit. Bayu Andarsono bukanlah pria biasa. Ia adalah Alpha dari klan werewolf tertua di Tanah Jawa. Semakin lama kehidupan pernikahan antara Bayu dan Andin, semakin kuat pula ikatan gaib yang tak terlihat. Benarkah gadis yang ia anggap hanya pengganti itu sebenarnya adalah Mate sejati yang ditakdirkan oleh Bulan untuknya? Bisakah pernikahan palsu itu berubah menjadi ikatan a

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu_Fikri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Patah Hati Pertama

Hari Jumat pagi itu dibuka oleh insiden kecil yang menarik.

Andin bangun dengan pipi menempel di dada bidang yang hangat dan kokoh. Bau maskulin yang kuat langsung menyerbu inderanya. Matanya perlahan terbuka, lalu melebar sempurna saat menyadari siapa yang sedang memeluk pinggangnya erat di bawah selimut yang sama.

Suaminya. Bayu Andarsono.

Lelaki itu masih tertidur pulas. Wajahnya tampan dan terkesan dingin walaupun sedang tidur.

Gadis itu langsung panik, perlahan ia berusaha melepaskan diri, tetapi lengan kekar itu malah semakin mengencang.

“M-mas…. Bangun, mas.” Bisiknya gugup.

Bayu perlahan membuka mata, tatapannya mendadak datar, walau ekspresinya menunjukkan sedikit keterkejutan.

“Pagi, Andin,” Ucapnya datar, intonasinya juga berbeda dari mas Bayu yang beberapa hari ini ia kenal.

Bayu bangkit duduk, otot-otot punggungnya terpampang jelas dibawah baju tipis yang dikenakannya.

“Andin,” panggilnya pelan, tapi nada suaranya membuat Andin merinding.

“Jam berapa sekarang?”

“Jam….” Andin tampak mengambil ponselnya yang tergeletak di atas meja samping tempat tidur.

“Oh my God!!! Jam 7.39 mas. A-aku hampir telat.” Paniknya.

“Cepat mandi dan aku antar kamu ke kampus.” Bayu menjawab kepanikan dari sang istri.

Andin menggigit bibir. Rasa hangat yang sempat ia rasakan semalam saat Bayu memeluknya dalam tidur kini lenyap, digantikan oleh rasa malu yang membuncah.

“B-baik, mas.” Gadis itu segera berdiri, gerakannya agak malu-malu, dengan satu tarikan napas ia berlari keluar dari kamar itu. Meninggalkan Bayu sendiri yang heran dengan tingkah istrinya.

.

.

.

Perjalanan menuju kampus berlangsung dalam keheningan. Andin sesekali melirik Bayu yang fokus menyetir. Wajah lelaki itu tampan, tapi selalu terkesan dingin, dimatanya. Rahangnya juga terlihat tegang.

“Mas,” panggil Andin pelan. “Nanti mobilnya berhenti agak jauh dari gerbang fakultas ya. Aku tidak mau ada yang melihat dan berspekulasi macam-macam.”

Bayu tidak langsung menjawab. Tangan yang memegang kemudi semakin erat hingga buku-bukunya memutih.

“Kita ini suami-istri, Andin,” katanya akhirnya, suaranya rendah dan tajam seperti pisau.

“Aku tahu, Mas. Tapi teman-temanku di kampus tidak tahu. Mereka tahunya aku pacarnya Bian.”

Senyum Bayu muncul, tetapi bukan senyum hangat seperti biasanya. Senyum yang dingin, sinis, dan sedikit meremehkan.

Andin tersentak kala melihat langsung perubahan ekspresi Bayu. Ekspresi yang pertama kali dilihatnya.

“Pacar Bian,” ulangnya pelan, mengulang pelan.

“Baiklah.”

Andin merasa dadanya tiba-tiba sesak. “K-kamu marah, mas?”

Bayu menoleh sekilas. Matanya yang tajam seolah menembus Andin.

“Marah?” Ia tertawa kecil, tanpa humor.

“Tidak, Andin. Kita kan memang akan bercerai setelah dua tahun.” Bayu menjawab datar.

Mobil kemudian berhenti di pinggir jalan, cukup jauh dari gerbang Fakultas Kedokteran. Andin hendak turun, tapi Bayu menahan lengannya sebentar.

“Pulang sore, saya jemput.”

“Baik, mas.” Andin menjawab patuh, lalu turun dari mobil.

Bayu tidak langsung pergi. Ia menatap punggung Andin yang menjauh dengan tatapan gelap. Tangannya masih mencengkeram kemudi kuat-kuat.

Sore harinya, setelah rapat panjang dengan direksi Andarsono Grup, ponsel Bayu bergetar.

Datang ke pack sekarang Bayu. Ada hal penting yang harus kita bicarakan.

Itu adalah pesan singkat yang diterima Bayu dari kakeknya. Setelah menyelesaikan rapat berjam-jam bersama jajaran direksi perusahaan Andarsono Grup, Bayu segera memacu mobil mewahnya jauh menuju daerah pinggiran Jakarta, menelusuri hutan dan tiba di Packnya.

Lelaki itu tanpa basa-basi langsung masuk ke rumah besarnya. Di ruang tamu, Kakeknya sudah duduk bersama seorang yang Bayu sangat kenali, Kakek Dani.

Lelaki tua itu adalah sahabat karib kakeknya dari zaman dulu, sebelum masa kemerdekaan. Dua sekawan itu bisa dibilang pahlawan kemerdekaan, sebab mereka aktif berjuang bersama para pejuang dahulu. Seharusnya wajah mereka terpampang sebagai pahlawan nasional di sekolah-sekolah, tetapi keduanya memilih bungkam demi menutup rapat kisah tentang manusia serigala dari dunia luar.

“Bayu, kamu sudah sampai, nak.” Kakeknya yang pertama menyapa.

“Baru saja, kek.” Balasnya, sembari mengambil duduk di single sofa diantara dua tetua itu.

“Anak muda, bagaimana kabarmu?” Kakek Dani menyapa hangat, bibirnya menyunggingkan senyum manis.

“Baik kek. Baik sekali.”

“Syukurlah, nak.”

Pembicaraan itu pun mengalir hangat, hingga tiba saat Kakek Dani menayakan satu hal yang sensitif bagi Bayu.

“Bagaimana perasaanmu setelah kehilangan mate-mu, nak?” Kalimat itu mengalir penuh kehati-hatian, takut menyinggung perasaan sang Alpha.

Jeda beberapa saat.

Bayu diam, hanya helaan napas berat yang terdengar samar.

“Sejujurnya, aku hampir gila, kek. Gadis yang telah terkubur itu adalah wanita yang disiapkan Moon Goddess hanya untukku. Dan naas-nya aku harus menguburnya, dengan tanganku sendiri tanpa bisa berbuat apapun.” Jawab Bayu pilu.

“Bagaimana dengan tubuhmu? Apakah ada bagian tertentu yang sakit?”

“Dadaku, adalah bagian paling menyakitkan.”

“Nak, aku akan bertanya beberapa hal lagi. Ini mungkin akan lebih sensitif bagimu.” Kakek Dani berkata lagi.

“Baik, kek.”

“Apa kamu yakin bahwa gadis itu adalah mate-mu?”

Deg. Jantung Bayu berdegup sangat menyakitkan kala mendengar hal itu, tapi ia tetap menjawab tegas.

“ Tentu saja, kek. Aku selalu memimpikannya dulu, sebelum kami bertemu.”

“Bolehkah orang tua ini tahu, isi mimpi itu?”

“Mimpi itu…sebenar tidak spesifik menunjukkan wajah Annisa kepadaku. Tetapi, ada satu tanda yang selalu ku mimpikan.”

“Tanda??”

“Iya. Tanda bulan sabit. Dan Annisa memilikinya, di pergelangan tangan kanannya.”

Hening lagi. Dua orang tua itu manggut-manggut.

“Tapi nak. Bagaimana perasaanmu saat pertama kali bertemu gadis itu? Apakah jantungmu berdetak kencang? Atau ada hal lain?”

“Aku bisa mencium aroma tubuhnya, bahkan sebelum melihat wajahnya. Saat mata kami bersinggungan untuk pertama kalinya, aku… aku merasa seperti waktu berhenti, dan…–”

“Sudah cukup anak muda.” Kakek Dani menyela.

“Nak, aku ingin bercerita suatu hal. Maukah kalian mendengarnya?”

Bayu dan Kakeknya mengangguk bersamaan.

“Mungkin ini hal yang mustahil bagi kalian. Namun, aku kenal seseorang yang kehilangan akal sehatnya dan hampir merenggang nyawa karena mencoba lompat ke dalam kawah gunung berapi yang masih mendidih. Tetapi sebuah keajaiban terjadi. Lelaki itu entah bagaimana kembali menemukan belahan jiwanya yang lain.”

Bayu yang sedang meminum kopinya, tersedak dan langsung menjatuhkan gelas itu.

“Apa maksud kakek?” Ia bertanya, suaranya bergetar pelan.

“Aku tidak bermaksud apa-apa, nak. Hanya sekedar menceritakan sebuh kisah.”

Bayu menggigit bibirnya pelan. Perasaannya campur aduk. Sebelum sempat berpamitan dengan benar, ia segera sediri.

“Saya… butuh udara segar kek. Permisi.”

Dengan tangan gemetar, lelaki itu menuju mobilnya dan tancap gas menuju satu-satunya tempat yang menurutnya bisa meredakan amarahnya. Makam Annisa. Belahan jiwanya.

Di makam itu, Bayu hanya duduk diam. Tatapannya lurus menatap batu Nisan, sesekali bibirnya tersenyum aneh. Kondisi ini berlangsung berjam-jam. Bayu tetap disana, duduk diam, tak berkata sepatah katapun.

Pukul 17.34 Bayu memutuskan untuk kembali, sebab ia harus menjemput Andin.

Di perjalanan menuju kampus, tiba-tiba mobilnya dihentikan oleh sekelompok orang yang ia kenal jelas. Mereka adalah manusia serigala terbuang yang tidak tergabung dalam pack manapun.

"Kenapa orang-orang gila ini menghalangi jalanku yang seorang Alpha?" Bisiknya sendirian.

"Ckckckck. Dasar pencari perhatian." Gumamnya lagi, kali ini dengan senyum menyeramkan di wajahnya.

Sementara Andin di kampus, sudah menunggunya sejak tadi. Ia menolak segala ajakan pulang bersama teman-temannya. Karena Bayu sudah bilang akan menjemputmunya. Tetapi hingga waktu menunjukkan pukul 20.03, lelaki itu tidak juga muncul.

Andin masih tetap duduk disana, menunggu dengan kedinginan dan kelaparan.

Malam itu, bersama turunnya hujan, gadis mungil itu menangis terisak. Patah hati pertamanya ternyata adalah Bayu Andarsono.

“Kamu ternyata pembohong ya mas.” Bisiknya ditengah gemuruh hujan yang dingin.

1
merdi Yanto
villain nya mulai nampak
merdi Yanto
Mana Update nya thor
merdi Yanto
kisah manusia serigala yang fresh banget
merdi Yanto
semangat Update thor🙏
Kim Borahae
hi, saya pembaca baru. Semangat terus ya buat novelnya.

btw, saya pun baru mula menulis novel. kalau ada masa boleh tinggalkan komen di novel saya. hanya tekan profile, terima kasih 🤭/Grin/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!