NovelToon NovelToon
Kebangkitan Kaisar Pedang Yang Terlupakan

Kebangkitan Kaisar Pedang Yang Terlupakan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Istana/Kuno / Fantasi
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: hajdhts

"Seribu tahun lalu, aku adalah puncak dari segala ilmu pedang. Kini, aku hanyalah sampah yang dihina oleh keluargaku sendiri."

Ling Chen adalah seorang pemuda dari keluarga cabang yang lemah dan tidak memiliki bakat dalam kultivasi pedang. Di dunia di mana kekuatan pedang adalah segalanya, ia menjadi bulan-bulanan, dikhianati oleh tunangannya, dan hampir tewas di tangan saudara sepupunya sendiri.

Namun, di ambang kematian, segel kuno di dalam jiwanya hancur. Ingatan sebagai Kaisar Pedang Surgawi, penguasa semesta yang pernah ditakuti oleh para dewa dan iblis, bangkit kembali. Dengan teknik "Sembilan Tebasan Langit" yang telah lama hilang dan pedang karatan yang ia temukan di gudang tua, Ling Chen memulai langkahnya untuk menagih hutang darah.

Satu per satu genius yang sombong akan ia tebas. Kerajaan yang dulu mengkhianatinya akan berlutut di bawah kakinya. Langit mungkin melupakannya, tapi dunia akan segera tahu bahwa sang penguasa telah kembali untuk merebut tahtanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hajdhts, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Penghianatan di Singgasana Palsu

Keheningan yang menyelimuti aula Keluarga Ling terasa begitu menyesakkan, seolah-olah udara itu sendiri telah berubah menjadi logam cair yang berat untuk dihirup.

Ling Chen berdiri di tengah-tengah kehancuran, sosoknya yang compang-camping tampak kontras dengan kemegahan aula yang kini mulai retak di bawah tekanan auranya.

Ling Jian, yang tadinya adalah bintang malam itu, kini tampak seperti tikus yang terpojok.

Tangannya yang memegang pedang perak bergetar hebat hingga menimbulkan suara denting halus yang memilukan.

Di matanya, Ling Chen bukan lagi sepupu yang bisa ia injak-injak; Ling Chen telah berubah menjadi entitas purba yang kehadirannya saja sudah merupakan penghinaan terhadap keberadaannya.

"Kenapa... kenapa kau tidak mati saja?!" teriak Ling Jian, suaranya pecah menjadi lengkingan histeris yang memuakkan.

Tanpa menunggu jawaban, Ling Jian mengerahkan seluruh sisa Qi dalam tubuhnya. Ia tahu, jika ia tidak menyerang sekarang, mentalnya akan hancur berantakan.

"Teknik Pedang Perak Penggetar Langit: Tebasan Cahaya Bulan!"

Ia melompat ke depan. Pedangnya memancarkan cahaya putih menyilaukan, mencoba membelah udara menuju leher Ling Chen. Ini adalah teknik terkuat yang ia pelajari, sebuah serangan yang seharusnya mampu membelah batu besar menjadi dua.

Ling Chen menatap serangan itu dengan pandangan yang kosong, hampir terlihat bosan.

Di mata seorang Kaisar Pedang yang telah melewati jutaan pertempuran di alam dewa, gerakan Ling Jian tampak seperti gerak lambat seekor siput. Terlalu banyak celah. Terlalu banyak energi yang terbuang sia-sia.

"Pedang bukan tentang seberapa terang cahayanya," bisik Ling Chen pelan, namun suaranya terdengar jelas di telinga semua orang.

"Pedang adalah tentang kehendak yang tak terpatahkan."

Tanpa mengubah posisinya, Ling Chen hanya memutar pergelangan tangan kanannya.

Pedang hitam karatan itu bergerak dalam lintasan melingkar yang sangat efisien.

Klang!

Dua bilah logam bertemu. Namun, tidak ada ledakan besar.

Sebaliknya, pedang perak milik Ling Jian seketika meredup cahayanya, seolah-olah seluruh energinya telah ditelan oleh kegelapan pedang Ling Chen.

Dengan satu sentakan kecil, Ling Chen mengirimkan gelombang balik energi yang membuat tulang lengan Ling Jian berderak patah.

"AAAKKKHHH!" Ling Jian terpelanting mundur, tubuhnya menghantam meja perjamuan hingga hancur berkeping-keping.

Buah-buahan dan anggur mahal kini membasahi pakaian sutranya yang kotor.

Para tamu undangan menarik napas serempak.

Mereka menyaksikan bagaimana seorang jenius yang baru saja dipuji-puji, ditumbangkan hanya dengan satu gerakan santai oleh orang yang mereka sebut sampah.

Di sisi lain aula, Yan Ran menatap pemandangan itu dengan tubuh yang kaku. Pikirannya berputar liar.

Bagaimana mungkin? Bagaimana mungkin seseorang bisa berubah secepat ini dalam hitungan jam? Ia ingat betapa Ling Chen dulu selalu menatapnya dengan penuh pengabdian, betapa pemuda itu akan melakukan apa saja hanya untuk melihatnya tersenyum.

Namun sekarang, tatapan Ling Chen padanya tidak memiliki sisa-sisa emosi. Itu adalah tatapan seorang penguasa yang melihat sebutir debu.

Rasa malu dan penyesalan mulai merayap di hati Yan Ran, namun rasa sombongnya jauh lebih besar.

"Ling Chen! Hentikan ini!" teriak Yan Ran, mencoba mendapatkan kembali kendali atas situasi.

"Kau pikir dengan kekuatan misterius ini kau bisa melawan seluruh Keluarga Ling dan Sekte Awan Biru? Jika kau berhenti sekarang, aku mungkin bisa meminta Ayahku untuk mengampunimu!"

Ling Chen menghentikan langkahnya dan menoleh sedikit ke arah Yan Ran. Bibirnya melengkung membentuk senyum dingin yang membuat bulu kuduk Yan Ran berdiri.

"Mengampuniku?" Ling Chen tertawa rendah. Suaranya mengandung getaran yang membuat kaca-kaca di aula retak.

"Yan Ran, kau masih belum mengerti. Di dunia ini, singa tidak meminta pengampunan dari domba. Dan Sekte Awan Biru yang kau banggakan itu... di mataku, mereka tidak lebih dari sekumpulan semut yang bermain di lumpur."

Kata-kata itu merupakan penghinaan berat. Di wilayah ini, Sekte Awan Biru adalah hukum. Tidak ada yang berani menghina mereka, apalagi menyebut mereka semut.

"Berani sekali kau!" tiba-tiba, seorang pria paruh baya dengan jubah abu-abu melompat dari barisan kursi tamu. Ini adalah Penatua Wu dari Sekte Awan Biru, yang hadir sebagai saksi pertunangan.

"Meskipun kau memiliki pertemuan ajaib yang meningkatkan kekuatanmu, kau tidak boleh menghina sekte kami!"

Penatua Wu berada di Alam Fondasi tahap awal. Kekuatannya jauh di atas siapapun yang ada di aula ini. Ia mengeluarkan sebuah belati panjang yang memancarkan aura hijau beracun.

Ling Chen menyipitkan mata. "Alam Fondasi? Baiklah, setidaknya ini sedikit lebih menarik daripada bermain dengan anak-anak."

Penatua Wu bergerak secepat kilat. Ia tidak meremehkan Ling Chen setelah melihat apa yang terjadi pada Ling Jian.

Serangannya ditujukan pada titik-titik fatal—leher, jantung, dan perut. Belati itu menari-nari di udara, menciptakan jaring-jaring energi hijau yang mematikan.

Ling Chen akhirnya menggerakkan kakinya. Ia melangkah maju, masuk ke dalam jangkauan serangan Penatua Wu.

Sring! Sring! Sring!

Setiap kali belati itu hampir menyentuh kulitnya, Ling Chen membelokkannya hanya dengan ujung pedang hitamnya.

Gerakannya sangat artistik, seolah-olah ia sedang menari di antara tetesan hujan tanpa sedikitpun basah.

Teknik Kaisar Pedang: Langkah Bayangan Nirwana.

Tiba-tiba, sosok Ling Chen menghilang dari pandangan mata telanjang.

Penatua Wu terkejut, ia segera memutar tubuhnya untuk melindungi punggungnya, namun ia terlambat.

Sebuah tangan dingin mencengkeram lehernya dari belakang.

"Kekuatanmu terlalu dangkal," bisik Ling Chen di telinga Penatua Wu.

"Kau mengandalkan racun karena kau tidak memiliki keberanian untuk menghadapi pedang lawanmu secara jujur."

Dengan satu tekanan kuat, Ling Chen menghempaskan Penatua Wu ke lantai aula dengan kekuatan yang sangat dahsyat hingga lantai marmer itu hancur membentuk kawah sedalam satu meter.

Penatua Wu memuntahkan darah segar dan jatuh pingsan seketika. Seluruh basis kultivasinya hancur dalam sekejap oleh energi destruktif yang disuntikkan Ling Chen ke dalam meridiannya.

Aula itu kini benar-benar senyap. Bahkan suara napas pun tidak terdengar. Seorang Penatua Sekte yang agung telah dikalahkan seperti lalat.

Ling Chen kembali berjalan menuju panggung utama, di mana Ling Jian yang terluka parah sedang mencoba merangkak pergi. Ling Chen menginjak punggung Ling Jian, menahannya tetap di tanah.

"Ingat apa yang kau katakan di hutan tadi?" tanya Ling Chen sambil menekan kakinya.

"Kau bilang aku adalah aib keluarga. Kau bilang kematianku adalah pembersihan."

Ling Jian mengerang kesakitan, air mata dan ingus bercampur di wajahnya yang hancur.

"Ampun... Ling Chen... kita bersaudara..."

"Saudara?" Ling Chen menusukkan pedang hitamnya ke lantai, tepat di samping telinga Ling Jian.

"Saudara tidak menusuk jantung saudaranya saat dia sedang sekarat. Saudara tidak mencuri jerih payah saudaranya untuk kepentingan pribadi."

Ling Chen mendongak, menatap seluruh anggota Keluarga Ling yang hadir di sana.

Banyak dari mereka yang dulu ikut menghina dan melempar batu padanya kini menundukkan kepala, tidak berani menatap matanya.

"Mulai hari ini," suara Ling Chen menggelegar ke seluruh penjuru kediaman, "Keluarga Ling tidak lagi memiliki tempat di hatiku. Dan siapapun yang berani menghalangi jalanku, akan berakhir seperti meja ini."

Ling Chen menghentakkan kakinya. Gelombang energi biru meluas secara radial, menghancurkan sisa-sisa meja perjamuan dan panggung utama menjadi debu halus.

Ia mencabut pedangnya, menyarungkannya kembali ke dalam sarung tua yang compang-camping, dan berbalik badan. Ia melangkah keluar dari aula yang hancur itu tanpa menoleh lagi.

Di belakangnya, ia meninggalkan sebuah keluarga yang hancur secara mental, seorang tunangan yang penuh penyesalan, dan sebuah legenda yang baru saja meledak di malam yang dingin itu.

Ling Chen menatap langit malam yang mulai memucat karena fajar.

"Ini baru permulaan. Sembilan Alam... tunggu aku. Sang Kaisar sedang menuju ke sana."

Langkah kaki Ling Chen yang meninggalkan aula kediaman Keluarga Ling tidak hanya meninggalkan jejak di atas salju, tetapi juga meninggalkan luka permanen pada harga diri keluarga tersebut. Ia tidak lagi menoleh.

Baginya, kebencian adalah beban, dan seorang Kaisar tidak membiarkan dirinya terbebani oleh debu-debu masa lalu. Namun, ia tahu bahwa dunia ini tidak akan membiarkannya pergi begitu saja. Sekte Awan Biru pasti akan menuntut balas atas apa yang menimpa Penatua Wu.

...****************...

1
Nanik S
Giliranku menunjukan permainan yang sesungguhnya👍👍👍
Nanik S
Ganggu orang makan saja... Dasar Pak Tua ..ganti baju dulu🤣🤣🤣
Nanik S
Ceritanya bagus tapi gak hidup sama sekali karena susunan kata saja ditulis aja ..banget .... Loh.....harusnya ditulis yang pas Tor
Siti Hodijah: makasih masukannya
total 1 replies
Nanik S
Lanjutkan dan kata katanya banyak kurang pas
Nanik S
Dikit dikit kata banget... cari kata lain yang Pas Tor
Siti Hodijah: contohin dong kak
total 2 replies
Nanik S
Sebagai masukan .. kata subuh dijaman dulu itu tidak ada Tor
Siti Hodijah: jadi sarannya gmnaa kaka
total 2 replies
Nanik S
Kemana lagi Lin Chen dan Mu Rong
Nanik S
Ada kata yang kurang .. salah satunya Oky dan adalagi Tot
Nanik S
Shiiip
Nanik S
Sang Kapten yang mau menyetor Nyawa ke Lin Chen
Nanik S
Jelas Beda Jiwa Kaisar yang berada didalam tubuh Lin Chen
Nanik S
Maaantaap Poooool
Nanik S
IPasukan bayangan yang berkhianat di kekaisaran
Nanik S
Keluarga Kekaisaran...benua Tengah
Nanik S
Kyuuuuu habis semua
Nanik S
Liontin Mu Rong bersonasi dengan batu peninggalan ibunya
Nanik S
Mu Rong... siapa gadis ini sebenarnya
Nanik S
Segel di Liontin Giok
Nanik S
Habis sudah harapan hidup Yan Ran wanita licik dan Munafik
Nanik S
Bantai semua Aliansi
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!