Di malam persalinannya, Aisha diusir oleh suami dan mertuanya yang kejam setelah bayinya dinyatakan meninggal. Luntang-lantung di tengah hujan dengan dada yang sesak karena terus memproduksi ASI, Aisha pingsan di jalanan.
Di sisi lain, Adrian—seorang CEO dingin—sedang frustrasi karena bayinya yang baru lahir kritis dan menolak semua susu formula.
Takdir mempertemukan mereka. Saat bayi Adrian didekap oleh Aisha, sang bayi langsung tenang dan mau menyusu. Adrian akhirnya mempekerjakan Aisha sebagai ibu susu rahasia lewat kontrak ketat. Namun, seiring berjalannya waktu, Aisha mulai menyadari sebuah rahasia kelam: bayi yang ia susui memiliki ikatan batin yang sangat kuat, mirip dengan darah dagingnya sendiri yang hilang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aera_yong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 23: Runtuhnya Kerajaan Angkuh
Pagi itu, distrik bisnis Sudirman diguncang oleh berita yang tak terduga. Tanpa ada desas-desus sebelumnya, Arkan Group secara resmi mengumumkan pemutusan seluruh hubungan kerja sama dan penarikan dana likuid besar-besaran dari bank swasta milik keluarga Valerie. Keputusan sepihak ini bak hantaman gada besi yang seketika membuat nilai saham bank tersebut terjun bebas dalam hitungan jam.
Di dalam ruang kerja mewah di lantai teratas gedung bank milik keluarganya, Valerie menatap layar televisi yang menyiarkan berita anjloknya saham perusahaan mereka dengan wajah pias, nyaris tanpa darah. Ponsel di genggamannya terus bergetar hebat—ratusan panggilan dari investor yang panik diabaikannya begitu saja.
Brak!
Pintu ruang kerjanya didobrak kasar. Ayah Valerie masuk dengan napas memburu dan wajah merah padam karena murka.
"Apa yang sudah kamu lakukan, Valerie?!" bentak ayahnya, melemparkan bundelan laporan keuangan ke atas meja. "Adrian Arkan baru saja menghancurkan fondasi bisnis kita! Kolega internasional menarik modal mereka karena mengikuti langkah Arkan Group. Apa kamu menyinggungnya di acara gala dinner semalam?!"
Valerie gemetar hebat. Ia tidak menyangka bahwa gertakan Adrian di atas panggung semalam bukan sekadar basa-basi untuk menyelamatkan muka pelayan itu. Adrian benar-benar mengobarkan perang terbuka yang mempertaruhkan stabilitas bisnis demi seorang Aisha.
"Aku... aku hanya ingin memberi pelajaran pada pelayan itu, Ayah... Tante Farida yang merencanakannya," ucap Valerie terbata-bata dengan air mata kepanikan yang mulai merembes.
"Bodoh!" raung ayahnya. "Adrian tidak pernah peduli pada ibunya jika menyangkut otoritasnya! Sekarang, dalam waktu tiga puluh hari, keluarga kita bisa bangkrut total karena kebodohanmu!"
Sementara itu, di kediaman Arkan, suasana justru berbanding terbalik. Paviliun belakang tampak begitu hangat. Sinar matahari pagi menembus celah gorden, menyinari Aisha yang sedang duduk di sofa sembari menyusui Kael, sementara Fatih tertidur lelap di kereta bayi di sampingnya.
Pernyataan Adrian di dalam limosin semalam—tentang bagaimana pria itu membutuhkannya dan menganggapnya sebagai bagian dari hatinya—terus berputar di benak Aisha. Ada rasa manis sekaligus takut yang bergejolak di dadanya. Ia tahu, statusnya kini bukan lagi sekadar pekerja, namun melangkah ke hubungan yang lebih intim dengan seorang Adrian Arkan berarti ia harus siap menghadapi badai yang lebih besar.
Tok, tok, tok.
Pintu paviliun terbuka, dan Adrian melangkah masuk. Pria itu sudah tidak mengenakan tuksedo semalam; ia hanya memakai kemeja putih dengan lengan yang digulung hingga siku, memberikan kesan santai namun tetap memancarkan karisma yang kuat.
Melihat Adrian, Aisha refleks membetulkan letak kain penutup menyusuinya dengan canggung. "Tuan Adrian... Anda tidak ke kantor hari ini?"
Adrian berjalan mendekat, lalu duduk di sisi sofa yang kosong, tepat di samping Aisha. Jarak yang dekat itu membuat Aisha bisa menghirup aroma maskulin cendana yang menenangkan dari tubuh sang CEO.
"Hendra yang mengurus kantor hari ini. Aku ingin memastikan kamu dan anak-anak baik-baik saja setelah semalam," ucap Adrian, suaranya bariton lembut, matanya menatap Kael yang tampak sangat tenang di pelukan Aisha.
Adrian mengulurkan tangan kanannya, lalu dengan perlahan, jemari kokohnya mengusap rambut hitam Aisha yang dibiarkan terurai pagi ini. "Apakah tidurmu nyenyak semalam, Aisha?"
Sentuhan lembut itu membuat pipi Aisha merona merah. Ia menundukkan kepalanya sedikit, mencoba menyembunyikan detak jantungnya yang kembali berpacu liar. "Iya, Tuan... terima kasih. Karena Anda ada di sini, saya merasa aman."
Adrian tersenyum tipis—sebuah senyuman tulus yang kini semakin sering ia tunjukkan hanya di depan Aisha. "Mulai hari ini, panggil aku Adrian jika kita sedang berdua di paviliun ini. Singkirkan kata 'Tuan' itu. Aku ingin menjadi pria yang melindungimu karena inginku sendiri, bukan karena status kontrak."
Aisha mendongak, matanya yang bulat jernih menatap dalam ke dalam manik mata elang Adrian. "Tua—maksud saya... Adrian... apakah semua ini tidak salah? Bagaimana dengan pandangan orang-orang di luar sana?"
Adrian meraih tangan kiri Aisha yang bebas, menggenggamnya dengan erat dan hangat. "Dunia luar adalah urusanku, Aisha. Tugasmu hanya ada di sini, memberikan kehangatan untukku dan anak-anak. Aku sudah menyelesaikan Valerie dan ibuku. Mereka tidak akan pernah bisa mengusikmu lagi."
Di bawah atap paviliun yang sejuk oleh semilir angin pagi, dua hati yang sama-sama pernah terluka oleh masa lalu itu kini perlahan-lahan mulai bertautan tanpa sekat kasta lagi. Namun, di balik ketenangan yang baru mereka bangun, sebuah bayangan dari masa lalu yang mengintai dari dalam sel tahanan bersiap mengirimkan riak baru dalam kehidupan mereka.
---
Bersambung