Shintia Almahira, mahasiswi cantik semester akhir, selalu berusaha membuat kakaknya, Andreas, kembali bahagia setelah ditinggal wafat tunangannya. Saat Andreas diam-diam menemukan cinta baru, Shintia ikut lega.
Namun semuanya berubah ketika wanita itu ternyata mengincar pria lain, seorang direktur hotel muda, tampan, kaya raya, dan super nekat yang justru tergila-gila pada Shintia. Dengan cara-cara kocak dan memalukan, sang direktur terus mengejar hati gadis itu.
Sementara Andreas harus menelan pengkhianatan yang menghancurkan hatinya. Saat hidup terasa runtuh, hadir seorang gadis desa sederhana yang perlahan mengobati lukanya.
Di tengah tawa, air mata, dan kekacauan cinta, mampukah Shintia menerima pria yang selalu membuat hidupnya jungkir balik? Atau justru semua akan berakhir dengan luka baru?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dina Sen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
gara-gara mogok
Shintia tersenyum kecil mendengar nada pasrah kakaknya.
“Nah gitu dong. Berarti nanti malam rumah rame.”
“Asal kamu jangan nyuruh Mama masak banyak.”
“Kalau itu sih… sulit, Kak.”
Andreas menghela napas samar dari seberang sana.
“Kamu sudah makan?”
“Udah.”
“Jangan bohong.”
Shintia langsung nyengir sendiri.
“Tadi makan gorengan.”
“Shintia.”
“Iya iya nanti makan nasi.”
Baru saja Andreas hendak menjawab, suara seseorang terdengar memanggil dari kejauhan.
“Permisi… Shintia Almahira?”
Shintia menoleh refleks. Seorang pria berpakaian rapi berdiri tak jauh darinya sambil membawa map hitam.
“Iya, saya.”
Pria itu mendekat sopan.
“Saya dari Hotel Permata.”
Mata Shintia langsung berkedip bingung.
“Hah?”
Dari sambungan telepon, Andreas langsung bersuara curiga.
“Siapa?”
“Eh… orang hotel,” jawab Shintia pelan.
Alis pria di depannya terangkat tipis mendengar itu.
“Saya hanya ingin memberikan formulir khusus untuk program magang.”
Shintia makin bingung.
“Tapi saya belum daftar.”
“Kami tahu.”
“Terus kenapa saya dikasih?”
“Karena Anda masuk rekomendasi kampus.”
Shintia melongo beberapa detik. Sementara Andreas di telepon mulai terdengar tidak sabar.
“Shintia, siapa itu?”
“Nanti aku jelasin, Kak.”
Pria dari Hotel Permata itu tersenyum profesional lalu menyerahkan map hitam tersebut.
“Direktur kami cukup tertarik dengan kandidat terbaik dari kampus ini.”
Entah kenapa kalimat itu membuat Shintia langsung teringat pria aneh di parkiran tadi pagi.
Jangan-jangan… Ah, tidak mungkin.
“Kalau Anda berminat, besok formulirnya bisa langsung dikirim ke Hotel Permata.”
Setelah mengatakan itu, pria tersebut pergi meninggalkan Shintia yang masih mematung di samping motor.
Tari yang entah datang dari mana langsung muncul heboh.
“YA AMPUNNNN!”
Shintia refleks memegang dada kaget.
“TARI! Bisa gak sih jangan muncul kayak hantu?!”
Namun Tari malah menunjuk map hitam di tangan Shintia dengan mata membesar.
“Itu logo Hotel Permata!”
“Iya… terus?”
“SHINTIA ALMAHIRA!” Tari mengguncang bahu sahabatnya heboh. “Ini bukan CEO romance lagi!”
“Terus?”
“INI TAKDIR!”
Shintia memutar mata malas melihat tingkah sahabatnya yang terlalu heboh.
“Tari, hidup tuh gak semuanya tentang CEO ganteng.”
“Kalau gantengnya sekaya itu, aku rela hidupku jadi sinetron.”
“Kebanyakan drama Korea.”
Tari langsung memeluk map hitam di tangan Shintia dengan tatapan berbinar.
“Coba bayangin… nanti lo magang, terus jatuh cinta sama direktur hotel, terus nikah, terus...”
“Terus gue masuk rumah sakit jiwa karena denger ocehan lo tiap hari.”
Tari ngakak keras sampai beberapa mahasiswa menoleh.
Namun Shintia benar-benar tidak terlalu memikirkan formulir itu. Baginya magang tetaplah magang. Tidak ada yang spesial.
Ia memasukkan map tersebut ke tas motornya lalu mengenakan helm.
“Gue pulang dulu.”
“Heh! Jadi daftar gak?”
“Lihat nanti.”
“Shintiaaaa...”
“Dadah.”
Motor matic putih miliknya melaju meninggalkan kampus sementara Tari masih sibuk berteriak seperti emak-emak kehilangan anak.
Jalanan siang itu cukup ramai. Matahari terasa menyengat meski angin sesekali berembus pelan.
Shintia bersenandung kecil di balik helm sambil menikmati perjalanan pulang.
Namun baru sekitar lima belas menit berkendara...
Brekk…
Motornya mendadak tersendat.
“Hah?”
Shintia mengerutkan dahi lalu mencoba menarik gas lagi.
Bret… bret… bret…
Dan... Mati. Sunyi.
Shintia melotot pelan.
“Jangan bercanda…”
Ia mencoba menyalakan kembali motornya berkali-kali.
Namun nihil.
Dua detik kemudian, wajahnya berubah pasrah.
“Ya ampun…” gumamnya pelan sambil menepuk jidat sendiri. “Bensinnya habis…”
Ucapan Andreas pagi tadi langsung terngiang di kepalanya.
Motor kamu bensinnya hampir habis.
Dan sekarang ia benar-benar kehabisan bensin di tengah jalan.
“Aku memang manusia berbakat cari masalah.”
Dengan napas panjang, Shintia akhirnya turun dari motor lalu mulai mendorongnya pelan di pinggir jalan.
Untung pom bensin tidak terlalu jauh. Meski begitu, matahari siang tetap sukses membuatnya menggerutu sendiri.
“Bagus banget hidupku hari ini. Pagi dikejar dosen, siang dikejar takdir, sekarang dorong motor…”
Beberapa kendaraan lewat begitu saja di sampingnya.
Sampai tiba-tiba… Sebuah mobil hitam mewah melambat tepat di dekatnya. Shintia melirik sekilas malas.
“Wah hebat. Mobil orang kaya lewat.”
Namun mobil itu justru berhenti. Kaca jendelanya perlahan turun.
Dan... Shintia langsung mengenali wajah itu.
Pria aneh di parkiran kampus tadi pagi.
Kini pria itu terlihat jauh lebih santai. Ia mengenakan kemeja hitam sederhana dengan lengan tergulung rapi sampai siku. Rambutnya sedikit berantakan tapi malah membuat wajah tampannya semakin mencolok.
Raffa menatap motor Shintia lalu tersenyum kecil.
“Motor mogok?”
Shintia langsung mendecakkan lidah.
“Bukan. Lagi aku ajak jalan kaki.”
Raffa terkekeh pelan.
“Galak juga.”
“Capek.”
“Boleh saya bantu?”
“Gak usah.”
“Kenapa?”
“Takut nanti disuruh bayar parkir.”
Raffa tertawa lagi. Jujur saja, ia mulai menikmati cara bicara gadis itu yang selalu jutek padanya.
“Pom bensin masih lumayan jauh.”
“Aku masih punya tenaga.”
“Kalau pingsan gimana?”
“Ya tinggal rebahan.”
Raffa menggeleng pelan sambil menahan senyum.
“Naik aja. Motornya saya bantu.”
Shintia langsung menyipit curiga.
“Kok baik banget?”
“Saya memang baik.”
“Biasanya cowok yang bilang dirinya baik itu justru red flag.”
Raffa spontan tertawa cukup keras sampai membuat Shintia melirik heran.
Entah kenapa, baru kali ini ada perempuan yang bicara padanya sejujur dan seketus ini.
Biasanya wanita-wanita langsung berubah lembut begitu tahu siapa dirinya.
Sedangkan Shintia?
Jangankan ramah. Menganggapnya penting saja tidak.
“Tenang,” ucap Raffa santai. “Saya bukan orang jahat.”
Shintia melipat tangan di dada.
“Mentang-mentang pakai mobil mewah jangan sombong.”
Raffa mengangkat alis.
“Sombong?”
“Iya. Orang kaya biasanya suka pamer bantuan.”
Bukannya tersinggung, Raffa malah kembali tertawa geli.
“Ini mobil bos saya.”
“Hah?”
“Saya cuma sopir… eh maksudnya orang kepercayaan.”
Shintia langsung menatap mobil hitam mahal itu lagi.
“Serius?”
“Serius.”
Padahal itu jelas mobil miliknya sendiri.
Namun entah kenapa Raffa justru sengaja menyembunyikan identitasnya.
Ia ingin tahu bagaimana Shintia memperlakukannya tanpa embel-embel direktur muda Hotel Permata.
“Oalah…” Shintia mengangguk pelan. “Pantes.”
“Pantes apa?”
“Kalau direktur hotel muka sama auranya pasti lebih nyebelin dari kamu.”
Raffa sampai terdiam sepersekian detik sebelum akhirnya tertawa tak percaya.
“Wah. Saya baru dihina sehalus ini.”
“Bukan hinaan. Pendapat.”
“Kalau begitu saya penasaran.” Raffa menyandarkan siku di jendela mobil. “Menurut kamu saya ini apa?”
Shintia berpikir beberapa detik.
“Kayak cowok tengil yang kebanyakan waktu luang.”
Raffa mengulum senyum tipis.
Menarik.
Sangat menarik.
Sudah lama hidupnya terasa datar karena semua orang terlalu berhati-hati di depannya. Tapi gadis di depannya sekarang berbeda.
Tidak jaim.
Tidak takut.
Dan sama sekali tidak tertarik padanya.
Justru itu yang membuat Raffa makin penasaran.
“Nama kamu Shintia, kan?” tanyanya santai.
Shintia langsung mengernyit.
“Kok tahu?”
“Kan tadi di kampus ada yang teriak manggil.”
di tunggu updatenya ya Author kesayangan kuuu tetap semangat Sayyy quuu 💪🥰🤗
seandainya Shintia tahu Raffa masih hidup...
duhhh Shintia jangan khawatir yg kecelakaan itu bukan Raffa 🥲🥲
jadi teringat Raffa dan Sutra yaaa...
di tunggu updatenya ya Author kesayangan kuuu tetap semangat Sayyy quuu💪🥰🤗
Raffa jahil banget sama Shintia 😄😄