NovelToon NovelToon
Obsesi Kakak Tiriku Hyper

Obsesi Kakak Tiriku Hyper

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Romansa Fantasi / Penyelamat
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Fitria callista

"Kak Luis, tolong jangan ... ini menyakitkan!" titah Laura dengan wajah memerah. Bahkan ia memalingkan wajahnya ke arah lain. "Kamu berani menegurku!" Wajah Luis nampak menyeramkan. "Kak Luis ... Maafkan aku ... " Ucapan Laura saat tiba-tiba Luis beralih menciumnya. "Ini adalah hukuman karena kamu berani menentang perintahku Laura Ana ... " Kedua bola mata Laura membelalak sempurna, saat Luis ingin ... Luis Lucian sangat membenci Laura Ana, ia menganggap jika Laura anak haram dari ayahnya yang membuat ibunya pergi. Padahal yang sebenarnya terjadi, saat Lucian berumur 15 tahun, ibunya pergi karena berselingkuh. Sementara Laura anak dari sahabat ayah Lucian yang kedua orang tuanya meninggal saat kecelakaan. Saat umur 16 tahun, Laura dibawa kerumah Lucian dan tinggal disana. Karena kelebihan yang diderita Laura, Lucian mengira Laura pernah hamil dan melahirkan. Dia terus menganggu dan mempermainkan perasaan Laura, walaupun bagi Luis, ia dan Laura saudara satu ayah. Luis akan membuat Laur

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria callista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10.

Pintu ruang inap milik Laura pun terbuka, tapi Luis dengan kilatan mata jahat enggan melepaskan lumatannya.

Walaupun Laura sendiri terus meronta.

"Nigel ... " Celetuk Laura dalam hatinya, saat mendengar ada dokter yang memanggil nama laki-laki itu.

Tapi sesaat kemudian, pintu ruang inapnya malah di tutup kembali.

Luis juga melepaskan lumatan bibirnya. "Apakah kamu takut? Kalau laki-laki yang menghamili mu itu tahu, kamu menjalin hubungan terlarang denganku dan menganggap mu itu murahan," ujarnya.

Laura memejamkan matanya, rasa sedih dan kesal berkecamuk menjadi satu didalam dadanya.

Bagaimana tidak sedih dan juga kesal, Luis selalu menuduhnya pernah melahirkan dan berhubungan badan dengan laki-laki lain bahkan terus menghinanya.

Padahal sebelumnya, ia sudah mengatakan berkali-kali pada pria itu alasannya yang sebenarnya kenapa ia bisa mengeluarkan asi.

Tapi ucapannya seakan hanya angin lalu bagi Luis tidak ada keinginan sekalipun untuk mempercayai ucapannya, hal itu sungguh sangat menyakitkan Laura.

"Kenapa hanya diam?" Tanya Luis, bola mata birunya terus menatap ke arah Laura.

Ntah kenapa semakin hari, ia merasa jika Laura itu sangatlah cantik.

Bahkan sangat sulit baginya untuk memalingkan pandangannya ke arah lain.

Laura menjawab dengan gelengan, ia sudah berusaha melupakan rasa cintanya pada Luis. Tapi kenapa sangat sulit?

Tiba-tiba ponsel Luis berdering, ia mengambil ponselnya yang ada di atas nakas.

Seketika wajahnya langsung berubah masam, saat melihat nama orang yang melakukan panggilan telepon sekarang ini.

Ia mengabaikan telepon itu, sementara Laura ijin ke kamar mandi.

Telepon di ponsel Luis kembali berdering. Ia ingin mengabaikan panggilan telepon dari Emma, mengingat pacarnya sekarang ini sungguh menganggu waktu berdua dengan Laura.

Emma sendiri yang sudah 10 kali melakukan panggilan telepon dan tidak diangkat oleh Luis, lantas mengiriminya pesan.

Luis melirik pesan itu sekilas, mendapati jika Emma mengajaknya makan siang bersama dengan ibunya.

Saat Emma membahas ibunya, sontak saja Luis juga teringat Arina. Bohong kalau sampai Luis tidak merindukan ibunya. Ia sejak kecil dekat dengan Arina.

Luis pun langsung menyetujuinya.

Tak berselang lama, Laura pun keluar dari kamar mandi.

Tapi ia bingung, melihat wajah Luis yang tak bersahabat dan tiba-tiba marah kepadanya. Setiap luis teringat ibunya, rasanya ia sangat marah dengan Laura.

"Memangnya apa salahku?" Gumam Laura dalam hatinya.

"Aku sudah mengurus kepulanganmu hari ini. Tapi aku ingin nanti kamu pulang sendiri naik bis, kalau sampai aku melihat Nigel mengantarmu pulang! Jangan harap videomu bersamaku dikamar nggak akan terekspos," ancam Luis.

Saat Luis membahas video, saat dirinya di tindih diatas ranjang, rasanya jantung Laura ingin melompat dari tempatnya

Ia terpaku tanpa bisa mengucapkan sepatah kata.

Sesaat setelah Luis keluar ruangan, Nigel masuk bersama beberapa dokter.

"Laura, bagaimana keadaanmu?" tanya Nigel. Laura berbohong, "Keadaanku sangat baik. Tubuhku bahkan sudah sangat sehat."

Ia berusaha menggerakkan tangan dan kakinya seolah memang sudah pulih sepenuhnya.

Nigel hanya menggelengkan kepala, mengingat Laura tiga tahun lalu saat berada di luar negeri. "Kamu nggak perlu bohong, keadaanmu masih belum stabil. Banyak hasil tes darah yang kurang baik," sahut Nigel.

Laura langsung menghentikan gerakan tangannya yang sedang berolahraga.

Ia menatap Nigel dengan tatapan bersalah. "Yah, ketahuan ya?" Wajahnya tampak lucu dan polos.

Namun, ekspresinya segera berubah murung. Ia belum siap menghadapi konsekuensi dari tindakan Luis, mengingat pria itu bisa sangat nekat jika perintahnya tidak diikuti.

Nigel tersenyum tipis, "tapi kalau memang ingin pulang hari ini tetap boleh."

Laura menatap Nigel dengan tatapan berbinar.

"Tapi ada satu syarat," ujar Nigel.

"Syarat apa?" Tanya Laura.

Nigel menyerahkan uang tunai lembaran seratus ribuan sepuluh lembar pada Laura. "Kalau kamu ingin pulang hari ini, kamu harus menerima uang ini."

Laura tampak sungkan. Baginya, uang itu sangatlah banyak, meskipun sejak dibawa ke keluarga Lucian, Wilson selalu memberinya uang saku sehari sebesar satu juta rupiah.

Namun, uang itu selalu masuk ke kantong Luis, dan sampai sekarang Laura tidak pernah memegangnya sendiri.

Jadi, uang yang diberikan Nigel sekarang terasa benar-benar besar baginya.

Melihat keraguan di wajah Laura, Nigel menambahkan, "Bagaimanapun juga, sebelum kecelakaan kita itu tetangga di luar negeri. Jadi kamu nggak perlu sungkan."

Melihat ketulusan di wajah Nigel, Laura pun menerima uang itu. "Terima kasih banyak, Kak Nigel."

Nigel tersenyum, "Astaga, Laura, ini cuma uang receh. Apa kamu lupa? Dulu waktu tinggal di luar negeri, setiap minggu kamu selalu minta traktir jalan-jalan ke Disneyland, minta es krim, baju, dan boneka. Kalau dihitung-hitung, nilainya sudah lebih dari dua ratus juta."

Laura terkejut, "Apa, dua ratus juta?"

Melihat ekspresi terkejut Laura yang nampak tak biasa, Nigel bisa menebak. Jika kehidupannya di keluarga Lucian memang sangat buruk.

Bagaiman pun juga, Laura adalah putri tunggal dari Steven dan Grace, pebisnis terkemuka di tempat asalnya.

Akhirnya dokter pun mulai melakukan pemeriksaan, setelah hasilnya selesai tiga dokter itu pamit keluar seraya melirik ke arah Nigel.

Nigel mengangguk.

Laura yang merasa tubuhnya memang baik -baik saja dengan wajah riang, nampak mengemasi barangnya.

"Laura, aku keluar sebentar. Aku akan mengambil beberapa obat milikmu," ujar Nigel penuh perhatian.

Laura mengangguk.

Nigel melangkah keluar dari ruang inap Laura dengan wajah yang masih diliputi kecemasan.

Di ujung lorong, tiga dokter yang memeriksa Laura tadi sudah menunggunya, ekspresi mereka campuran antara kelelahan dan kekhawatiran.

Nigel segera menghampiri, menatap tajam pada mereka, suaranya tegas namun penuh harap, "Bagaimana keadaannya?"

Salah satu dokter, dengan tangan yang gemetar sedikit menahan beban berita, mulai menjelaskan. "Nona Laura dalam kondisi sangat buruk, Tuan. Gula darahnya sangat rendah, trombosit juga menurun drastis, dan hasil tes lainnya menunjukkan ketidakseimbangan yang serius."

Mendengar itu, Nigel mengerutkan kening, tetapi matanya menyala dengan tekad. "Bisakah kalian memberikan suplemen terbaik dan termahal untuk Laura?" tanyanya dengan nada penuh keyakinan.

Para dokter saling bertukar pandang, seolah menimbang risiko dan harapan.

Akhirnya, salah satu dari mereka menghela napas panjang sebelum berkata, "Maaf, Tuan Muda, tapi harganya bisa persepuluh butir mencapai seratus juta rupiah."

Tanpa ragu, Nigel mengangguk mantap. "Nggak masalah, aku akan beli tiga botol, " jawabnya singkat, suara yang menyiratkan tekad bulat untuk melakukan apapun demi keselamatan Laura.

Setelah itu, Nigel berbalik dan melangkah kembali ke ruang inap dengan langkah yang lebih mantap, meskipun dalam hatinya bergolak kecemasan yang tak kunjung reda.

Sementara didalam ruangan, Laura dengan wajah riang selesai berkemas.

"Mau aku antar atau ... ?" Tanya Nigel.

Laura menjawab, "aku naik bis saja."

Nigel mengangguk tanpa banyak protes. Walaupun ia merasa enggan, bagaimana pun dulunya Laura putri tunggal pasangan kaya. Hidupnya penuh kemewahan bak seorang putri.

Laura bergumam dalam hati, "memang orang yang sangat pengertian. Jauh dibandingkan dengan Luis."

Sementara itu, Luis yang sudah mandi dan berganti pakaian bersiap pergi ke rumah Emma nampak bersin berkali-kali.

Luis berdiri di parkiran, memilih mobil dengan hati yang campur aduk.

Ingatannya melayang pada kata-kata Laura yang pernah mengaku mencintainya.

Karena itu, ia memilih mobil terbaik, berencana mengunggah foto mesra bersama Emma untuk membuat Laura cemburu sakit hati.

Apalagi pagi tadi, tatapan mata hazel Laura masih penuh cinta, membuat Luis yakin bahwa Laura benar-benar masih mencintainya.

Setelah selesai memilih mobil, Luis memulai perjalanan menuju rumah Emma.

Satu jam kemudian, ia memarkir mobilnya di basement apartemen Emma.

Namun, saat keluar dari mobil, Luis terkejut melihat ibunya keluar dari mobil lain dengan membawa banyak barang belanjaan.

Ia terpaku, ingin menghampiri, tapi di sisi lain takut ibunya justru mengusirnya. Empat tahun sudah berlalu tanpa kunjungan atau kabar dari ibunya.

Luis bertanya-tanya, apakah Arina tidak hanya membenci suaminya yang selingkuh, tapi juga dirinya?

Tiba-tiba ia melihat barang belanjaan Arina terjatuh, dengan ragu ia berjalan mendekat.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!