⚠️ PERHATIAN PEMBACA! ⚠️ Ini adalah Part 2 (Season 2) dari novel Petani Sultan: Rahasia Kendi Dimensi. Sangat disarankan untuk membaca Part 1 terlebih dahulu guna memahami alur cerita, intrik karakter, dan sepak terjang sang Petani Sultan!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DipsJr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bukan Kecelakaan!
Kamar VIP mewah Ibu Ratna berada di lantai tertinggi gedung rumah sakit. Jumlah pasien di area ini pada dasarnya tidak banyak, begitu pula dengan jumlah dokter dan perawat. Namun, lorong yang seharusnya sangat tenang itu kini tampak agak berantakan dan tegang. Di depan kedua pintu lift, berdiri pria-pria berwajah serius yang sedang berjaga ketat. Bahkan di dekat pintu keluar darurat pun ada orang yang mengawasi.
Pria-pria ini semuanya terlihat sangat tangguh dan terlatih. Ada dua orang yang bagian pinggangnya tampak menonjol, jelas sekali menyembunyikan senjata api. Setiap kali ada orang yang melintas di depan mereka, orang-orang ini akan mengamati dengan penuh kewaspadaan. Tak peduli apakah yang lewat itu dokter dan perawat berseragam putih, atau anggota keluarga pasien berpakaian biasa, tak ada satu pun yang luput dari tatapan tajam mereka.
Semakin Banyu mengamati, ia semakin merasa ada yang ganjil dengan situasi ini. Ia tak tahan untuk berbisik pada Pak Yapto Liem, "Pak Yapto, situasinya sepertinya kurang beres. Orang-orang di luar sana itu sama sekali tidak terlihat seperti pasien atau keluarga pasien!"
Pak Yapto Liem sama sekali tidak terkejut. Ia hanya membalas bisikan Banyu dengan tenang, "Kau menyadarinya? Mereka semua adalah bodyguard yang kusewa."
Mengetahui bahwa mereka adalah orang-orang suruhan Pak Yapto Liem, Banyu tidak lagi merasa tegang. Ia tertawa kecil dan berkata, "Oh, ternyata begitu. Pantas saja, tadi aku sempat kaget. Tapi... rasanya dulu Bapak tidak sewaspada ini deh. Waktu berkunjung ke Lahan Mustika dulu, bukannya Bapak cuma membawa satu orang sopir?"
Pak Yapto Liem tersenyum getir. "Aku melakukan ini semua demi keamanan istri dan anakku. Ini murni karena terpaksa!"
Banyu mengerutkan kening heran. "Keamanan di Amerika tidak seburuk itu, kan? Masa cuma ke rumah sakit saja butuh pengawalan ketat begini?"
Pak Yapto Liem terdiam sejenak, lalu menatap Banyu dengan serius. "Saudaraku Banyu, karena kita sudah menganggap satu sama lain seperti saudara, aku tidak akan menyembunyikan apa pun darimu. Sejujurnya, aku tidak akan setegang ini dalam kondisi normal. Tapi setelah insiden yang terjadi kemarin... aku terpaksa mengerahkan lebih banyak orang untuk melindungi keselamatan istri dan anakku."
Banyu terbelalak kaget. "Maksud Bapak... insiden yang menimpa Ibu Ratna kemarin itu bukan murni kecelakaan? Melainkan ada seseorang yang sengaja menargetkannya?!"
"Tepat sekali!" Pak Yapto Liem mengangguk dengan wajah kelam dan dingin. "Meskipun berita yang beredar menyebutkan ini hanyalah kecelakaan lalu lintas biasa, tapi aku dan istriku sangat yakin bahwa ini adalah konspirasi pembunuhan berencana! Mobil brengsek itu menabrak istriku dua kali berturut-turut! Kalau saja dia tidak beruntung berlindung di celah antara dua mobil yang terparkir, mungkin istri dan bayiku saat ini sudah..."
Meskipun insiden itu sudah berlalu, mengingatnya kembali masih membuat tubuh Pak Yapto Liem gemetar ketakutan. Tenggorokannya tercekat, tak sanggup meneruskan kalimatnya. Meski Banyu belum berkeluarga, ia sangat bisa memahami gejolak emosi yang dirasakan pria paruh baya itu. Ia menunggu dengan sabar, membiarkan Pak Yapto Liem menenangkan diri sebelum akhirnya bertanya pelan, "Apakah Bapak tahu siapa pelakunya?"
Pak Yapto Liem menggeleng pelan dengan wajah pucat menahan amarah. Sambil menggertakkan giginya ia berdesis, "Pelakunya kabur, dan mobil yang digunakannya ternyata mobil curian. Tapi aku bersumpah, aku pasti akan mengusut kasus ini sampai tuntas! Aku ingin tahu siapa bajingan yang begitu dendam pada keluarga Liem ini!"
Banyu tak kuasa menahan diri untuk bertanya, "Pak Yapto, apakah belakangan ini Bapak menyinggung seseorang dalam persaingan bisnis?"
"Aku juga memikirkan hal yang sama. Tapi selama ini, aku selalu menjalankan bisnis dengan taat hukum dan bersaing secara fair. Aku tidak merasa pernah memupuk dendam kesumat pada siapa pun sampai ke tahap ini!" amarah Pak Yapto Liem kembali meledak. "Kalaupun aku memang tanpa sengaja menghalangi jalur rezeki orang lain, harusnya mereka mengincarku secara langsung! Kenapa mereka harus menyerang istriku?! Dendam bisnis pantang melibatkan keluarga!"
Menyadari emosi taipan itu sedang sangat tidak stabil, Banyu menepuk bahunya untuk menenangkan. "Masalah ini harus diselidiki perlahan, Pak. Sepintar-pintarnya bangkai ditutupi, baunya pasti akan tercium juga. Cepat atau lambat kebenarannya pasti terungkap. Yang paling penting sekarang, Bapak tidak boleh gegabah atau kehilangan akal sehat. Ibu Ratna dan anak Bapak yang belum lahir itu sangat mengandalkan Bapak sebagai pilar utama keluarga!"
Merasakan ketulusan dan kepedulian dalam nasihat Banyu, Pak Yapto Liem merasa sangat tersentuh. Ia mengangguk dan berterima kasih, "Terima kasih banyak atas pengingatmu, Banyu."
Keduanya berbincang ringan sejenak sebelum Pak Yapto Liem pamit untuk beristirahat. Sejak kecelakaan menimpa istrinya, urat saraf taipan itu terus menegang tanpa henti. Kini, setelah kondisi istri dan bayinya dinyatakan stabil, rasa lelah yang terakumulasi akhirnya menumbangkannya.
Menyadari fajar akan segera menyingsing, Banyu memutuskan untuk merebahkan diri seadanya di ruang tunggu rumah sakit selama beberapa jam, menunggu jam kerja dokter utama Ibu Ratna dimulai. Karena kondisi kritis Ibu Ratna kemarin, sang dokter langsung datang melakukan pemeriksaan intensif sesaat setelah jam kerjanya dimulai. Namun, hasil pemeriksaan medis pagi itu sukses membuat sang dokter melongo tak percaya. Awalnya, seluruh tim medis sudah angkat tangan dan memvonis bahwa bayi di dalam kandungan Ibu Ratna mustahil dipertahankan. Ajaibnya, hanya dalam semalam, kondisi janin tersebut berubah menjadi sangat stabil, tanpa ada sedikit pun tanda-tanda ancaman keguguran. Andaikan tim dokter tidak menyaksikan sendiri seberapa kritisnya kondisi pasien kemarin, mereka pasti tidak akan percaya bahwa wanita hamil ini nyaris saja kehilangan bayinya.
Keajaiban pemulihan Ibu Ratna benar-benar menjadi misteri medis yang membingungkan seluruh dokter yang menanganinya. Bagaimana mungkin sebuah vonis pasti bisa berbalik seratus delapan puluh derajat hanya dalam waktu semalam?!
Tentu saja, suami-istri Liem yang telah diwanti-wanti oleh Banyu menutup mulut mereka rapat-rapat mengenai "ramuan suplemen" tersebut. Karena tak ada petunjuk logis, para dokter bule itu memeras otak sampai botak pun tak menemukan jawaban ilmiahnya. Pada akhirnya, mereka hanya bisa merangkum fenomena itu dengan satu kesimpulan pasrah: "Kekuatan bertahan hidup dan potensi manusia memang tak terbatas."
Mengetahui bahwa bayi dalam kandungan istrinya kembali sehat walafiat, kebahagiaan Pak Yapto Liem dan Ibu Ratna meroket ke langit. Rasa syukur dan terima kasih mereka pada Banyu tak lagi bisa diungkapkan dengan kata-kata. Saking emosionalnya, Pak Yapto Liem hanya bisa terus menggenggam tangan pemuda itu, kehabisan kosakata untuk memujinya. Sementara Ibu Ratna kembali menangis, namun kali ini adalah air mata kebahagiaan yang meluap-luap.
Dibandingkan pasangan suami-istri yang dilanda euforia itu, Banyu tampil jauh lebih tenang. Sambil tersenyum ia berkata, "Pak Yapto, meskipun kondisi Ibu Ratna sudah stabil, saya akan tetap tinggal di sini selama dua hari ke depan untuk berjaga-jaga memantau perkembangannya. Kalau semuanya sudah seratus persen aman, saya akan segera terbang kembali ke Indonesia. Bagaimana menurut Bapak?"
Mendapat jaminan pengawalan dari "Tabib Dewa" seperti Banyu, tentu saja Pak Yapto Liem sangat bersyukur. Ia mengangguk mengiyakan tanpa henti. Namun, insting keibuan Ibu Ratna ternyata lebih peka. Ia buru-buru mengingatkan suaminya yang masih kegirangan bahwa Banyu sudah melek semalaman suntuk. Ia meminta suaminya untuk segera membawa Banyu pulang agar bisa beristirahat dengan layak.
Pak Yapto Liem yang suasana hatinya sedang mekar langsung menyetujui. Ia memutuskan untuk mengantar sendiri dewa penolongnya itu kembali ke vilanya di wilayah Orange County, sembari kembali untuk menyelesaikan beberapa urusan bisnis darurat. Dulu, sang taipan membeli vila tersebut karena tergiur dengan lingkungan dan iklim Los Angeles yang sangat mendukung untuk tempat istrinya mengistirahatkan kandungan. Ia sama sekali tidak pernah membayangkan bahwa sang istri justru nyaris terbunuh di tempat yang ia kira aman ini. Andai saja ia tahu akan ada musibah seperti ini, ia pasti tidak akan sudi membuang uangnya untuk membeli vila sialan itu.
Mengingat status musuh dan niat mereka masih menjadi misteri, Pak Yapto Liem pantang menurunkan kewaspadaannya. Sangat mengkhawatirkan keselamatan anak dan istrinya, ia menempatkan mayoritas pasukan bodyguard-nya untuk berjaga di Rumah Sakit Swasta Santa Maria. Ia sendiri hanya membawa tiga orang pengawal dan seorang sopir untuk mengawalnya dan Banyu turun menuju tempat parkir bawah tanah rumah sakit.
Begitu masuk ke dalam mobil, Pak Yapto Liem langsung meminta maaf, "Aduh, maaf ya Banyu. Karena situasinya mendadak, aku hanya bisa menggunakan mobil operasional sembarangan dari kantorku di sini. Kuharap kau tidak keberatan."
Bagi konglomerat pencinta otomotif sekelas Pak Yapto Liem, menjemput tamu sepenting Banyu 'hanya' dengan menggunakan Mercedes-Benz van terasa sangat merendahkan martabatnya. Namun, Banyu justru merasa hal itu sama sekali bukan masalah. Ia tertawa pelan. "Bapak ini terlalu sungkan! Naik Mercy saja sudah sangat mewah buatku!"
Kelima pria itu akhirnya meluncur meninggalkan rumah sakit menggunakan dua buah mobil. Banyu, Pak Yapto Liem, sang sopir, dan satu bodyguard berada di dalam van Mercedes-Benz, sementara dua bodyguard sisanya mengikuti erat dari belakang menggunakan mobil lain.
Vila mewah milik Pak Yapto Liem terletak di area pinggiran kota. Perjalanan dari rumah sakit memakan waktu lebih dari setengah jam. Iring-iringan dua mobil itu melaju beriringan keluar dari pusat keramaian kota. Namun, belum lama berselang, sebuah insiden mendebarkan yang tak pernah disangka-sangka oleh Banyu mendadak terjadi di depan mata!