Lahirnya seorang pangeran yang cerdas dan berbakat seharusnya menjadi keberuntungan suatu kerajaan ataupun kekaisaran, tetapi yang terjadi justru keberadaannya dianggap sebagai ancaman nyata oleh berbagai pihak yang mendambakan kekuasaan semu.
Melalui sebuah konspirasi, sang pangeran harus mengalami musibah. Ia yang sebelumnya dikenal cerdas dan berbakat, berakhir menjadi seorang pangeran yang tidak berguna.
Dengan kondisinya itu, sang pangeran diusir dari istana dan dibuang ke Gerbang Timur, tempat di mana para keluarga istana yang dianggap sampah diasingkan.
Namun, di balik musibah yang terjadi, Gerbang Timur menjadi titik balik kebangkitan sang pangeran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muzu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia Gerbang
Dengan penerimaan, ia pun mengangguk, lalu mulai mengamati satu per satu warisan yang didapatkannya. Dari semua warisan yang ditelusurinya secara singkat, Qin Zhao tertarik pada catatan kuno tentang rahasia di Gerbang Timur. Seperti kata pepatah, tak kenal maka tak sayang. Qin Zhao lekas mempelajarinya dengan begitu serius.
Disebutkan dalam catatan kuno, Gerbang Timur yang berlokasi di timur Kekaisaran Qin merupakan surga dan neraka bagi para kultivator pada era keemasan Dinasti Tang kuno sebelum berganti ke era Dinasti Qin.
Gerbang Timur menjadi surga karena merupakan pusat budidaya para kultivator lintas alam. Sebaliknya menjadi neraka karena kebebasan di dalamnya. Satu-satunya aturan yang melekat adalah hukum rimba.
Meskipun masuk ke dalam wilayah administrasi kekaisaran, Gerbang Timur memiliki kedaulatan mutlak sebagai zona bebas. Tidak ada aturan kekaisaran yang melekat di sini. Dari semua itu, yang menarik tentang Gerbang Timur adalah berubahnya fungsi kawasan dari pusat budidaya kultivator menjadi kawasan pembuangan keluarga kekaisaran, khususnya Kekaisaran Qin.
Berubahnya fungsi kawasan merupakan ide yang ditelurkan oleh Kaisar Qin pertama setelah pertempuran akhir untuk mengamankan kawasan gerbang. Adapun tujuan utama sang kaisar mengubah fungsi kawasan tak lain adalah menunggu penerus yang berasal dari garis keturunannya.
“Cukup menarik. Semuanya masuk akal,” gumam Qin Zhao setelah menamatkan seluruh isi dari catatan kuno.
Semangat menggebu mulai merayapi sanubari, Qin Zhao bergegas untuk berkultivasi dengan memanfaatkan sumber daya yang juga diwariskan kepadanya.
Dalam rentang waktu lebih dari tiga bulan lamanya sang pemuda berkultivasi, kini ia membuka mata dan merasakan energi spiritual terkondensasi di lautan spiritualnya.
“Akhirnya aku menembus ke ranah foundation establishment awal,” gumamnya. “Meski naik, fondasiku tidak stabil. Aku harus mempelajari beberapa teknik sebelum menguatkan fondasi kultivasi.” Setelah menguatkan tekad, Qin Zhao mulai memilah teknik yang akan dipelajarinya.
“Teknik Pedang Gerbang Timur. Ha-ha-ha! Sepertinya leluhurku terobsesi dengan tempat ini,” kelakar sang pemuda disertai tawa renyah. “Sebaiknya aku pelajari dulu,” imbuhnya bersemangat.
Ayunan pedang menciptakan kabut merah, membentuk ilusi mengikis jiwa. Bergerak melangkah dalam kekosongan, datang pada titik buta, menebas dalam satu hentakan.
“I … ini hebat! Ha-ha!” Qin Zhao mencobanya sekali dan langsung menguasai. Rupanya bakat serta kecerdasannya kembali seperti semula. Oleh sebab itu pula, ranah kultivasinya berhasil naik ke ranah foundation establishment menengah.
“Ah, akhirnya aku berhasil menguasai teknik Pedang Gerbang Timur ini, tapi …,” Qin Zhao berpikir sejenak, “berlatih tanpa pertarungan tidak cukup untuk menguatkan fondasiku. Aku harus mencari lawan bertarung.”
Dilema mulai membelenggunya. Berada di Gerbang Timur membuatnya pesimis akan keberadaan lawan bertarung. Bagaimana tidak? Bahkan serangga pun tidak ia temui di tempat ini.
Pucuk dicinta, ulam pun tiba. Qin Zhao merasakan keberadaan makhluk hidup dari kejauhan. “Meski manusia tidak ingin menginjak tanah ini, tapi area di luar bukankah bisa dilalui?” Senyumnya mengembang.
Sebelum bergerak mendekati sumber kehidupan, Qin Zhao teringat pesan dari sang kakek. Ia harus pandai bersembunyi dan tidak boleh menunjukkan jati dirinya. Maka dari itu, ia pun kembali menelusuri warisan sang leluhur.
“Ternyata leluhurku sudah menyiapkannya. Pakaian ini cukup membuatku terlihat seperti pasukan rahasia.” Tanpa membuang waktu, Qin Zhao bergegas memakainya.
Tampilan Qin Zhao sekarang bak seorang ninja, mengenakan pakaian serba hitam dengan topeng besi hitam yang melekat di wajahnya, persis seperti prajurit klan iblis. Ia pun mulai melangkah mengendap di tengah selimut malam.
Pada langkahnya itu ia tidak menyadari kemampuan yang tersembunyi di balik pakaian yang dikenakannya itu. Gerakannya begitu halus tanpa menimbulkan suara. Bahkan, deru napasnya tersembunyi di balik topeng besi.
“Manusia mana yang berani datang tengah malam begini?” Qin Zhao bersembunyi di balik dinding gerbang. Mendengarkan dengan seksama langkah-langkah kaki orang yang berjalan dari kejauhan.
Hampir satu dupa ia menunggu, langkah kaki yang terdengar semakin jelas dan mendekat ke arahnya.
“Foundation establishment puncak. Ini sempurna, meski satu tingkat di atasku, aku akan mencoba teknik terbaruku,” gumamnya begitu bersemangat.
“Waspadalah! Naluriku merasakan ada bahaya di sekitar kita,” ujar seorang pria yang mulai memperlambat langkah dan memasang kewaspadaan tinggi.
“Kita memasuki area Gerbang Timur. Yang kau rasakan biasa dialami siapa pun yang melintas,” timpal pria satunya, terlihat ia sudah terbiasa melewati gerbang.
“Baiklah, tapi aku lebih percaya pada naluriku.” Ia melanjutkan langkah tanpa mengurangi kewaspadaannya.
Beberapa pria lainnya ikut waspada, menghindari sesuatu yang tak terduga. Mereka berjumlah lima orang. Dari pakaiannya yang seragam, mereka terlihat seperti murid sebuah sekte.
Sementara itu, Qin Zhao masih berada di posisinya. Ia mengamati satu per satu orang-orang yang makin mendekat dan berhenti tepat di depan ambang gerbang. Salah satunya berceloteh, “Konon tempat ini merupakan surga para kultivator. Apakah kalian tahu maksudnya itu?”
“Banyak sumber daya, tapi sudah lama dijadikan tempat pembuangan mayat oleh Kekaisaran Qin. Sudahlah, kita tidak ingin mengambil risiko memasukinya,” timpal orang di sampingnya.
“Siapa pula yang ingin masuk? Aku hanya memberi tahu sejarahnya.”
Perdebatan keduanya membuat seorang pria muda yang berdiri paling belakang tampak begitu antusias. Diam-diam ia mengamati gerbang, lalu tatapannya beralih ke dalam area luas dan terhenti di bangunan gubuk yang tampak menyeramkan.
“Kalau tidak ditelusuri, kita tidak akan tahu apa yang tersembunyi di dalamnya,” celetuk sang pemuda membuat keempat pria lainnya menoleh dengan kening mengernyit.
Meski ada keraguan di hati, rasa penasaran yang tinggi membuat keempatnya berniat memasuki area gerbang. Kompak saja, keempat pria itu mengangguk setuju untuk memasuki gerbang. Dipimpin oleh seorang pemuda, langkah mereka tertuju memasuki gerbang.
Lebih dari sepuluh langkah kelimanya memasuki area gerbang, Qin Zhao berbalik dan diam-diam menghampiri. Ia ayunkan pedang membentuk kabut merah pekat.
Slash!
Tebasannya berhasil menggorok leher seorang pria paling belakang. Dengan gerak cepat dan cekatan, Qin Zhao melempar jauh kepala orang yang ditebasnya sekaligus menyembunyikan tubuh si pria.
Suara gedebuk dari jatuhnya kepala seorang pria membuat keempat pria lainnya merinding ketakutan.
“Kalian mendengarnya?” tanya pria di belakang si pemuda.
“Ya,” jawab yang lainnya serempak. Qin Zhao ikut menjawab, meyakinkan mereka tidak curiga kehilangan seorang rekan.
“Jangan takut! Itu hanya benda jatuh,” timpal si pemuda menenangkan hati.
Beberapa langkah selanjutnya, seorang pria mulai menyadari kejanggalan. Ia tidak melihat adanya pohon di antara gubuk-gubuk tua di sekitarnya.
“Ada yang aneh?” ucapnya pelan setelah memperhatikan area di sekitarnya.
“Aura di sini memang menyeramkan, dipenuhi aura negatif. Kita tidak bisa menyangkalnya,” kilah si pemuda kembali meyakinkan.
Tiba-tiba saja terdengar suara benda jatuh yang keras, dekat dari keberadaan mereka. Kini jumlah mereka tinggal tiga orang. Ketiganya saling melirik dengan tubuh bergetar.
“Ki … kita hanya bertiga?” tanya heran seorang pria begitu menyadarinya.
Serentak ketiganya menghunuskan pedang seraya memasang formasi segitiga untuk saling melindungi. Di situlah Qin Zhao mulai menampakkan diri. Topengnya yang seram membuat ketiga pria menggigil ketakutan melihatnya.
“Si … siapa kau? Kami tidak pernah bermusuhan denganmu,” ucap sang pemuda berani bersuara.
Tidak ada jawaban yang terlontar dari mulut Qin Zhao. Aura tubuhnya yang terpancar cukup membuat ketiga pria terkunci di tempat. Ia pun lekas menebas leher ketiganya sekaligus tanpa adanya perlawanan.
Slash! Slash! Slash!
“Ini terlalu mudah,” gerutu Qin Zhao seraya menyarungkan kembali pedangnya.
Setelah membantai mereka, Qin Zhao mengambil barang berharga dari kelima tubuh mereka. Kini ia menggenggam banyak harta berharga, dan tercetus sebuah ide untuk membangun usaha di dekat ambang gerbang.
“Aku harus membangun sebuah bangunan sebagai tempat istirahat para pelancong. Ini akan membuatku kaya sebelum meninggalkan Gerbang Timur. Ha-ha!” cetusnya lalu menghilang ditelan kegelapan.