Kupikir setelah Dev sadar dari koma, dia sudah berubah menjadi seseorang yang tidak lagi mengekangku.
Namun justru, perubahan sikapnya menjadi lebih gila...
"Kita akan menikah hari ini."
"Aku tidak mau!"
"Jika kamu tidak mau, aku akan mengakhiri hidupku sekarang juga."
NB: Season 2 dari Obsession
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lasti Handayani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 3
Malam turun perlahan, membawa udara yang lebih dingin dari biasanya. Lampu taman menyala redup, memantulkan cahaya ke permukaan kolam yang tenang. Airnya berkilau seperti kaca hitam, memantulkan bayangan bulan yang menggantung setengah malu di langit.
Dari balik pintu kaca, aku melihat Dev. Ia duduk di kursi rotan dekat kolam, satu kaki disilangkan santai. Layar ponselnya memantulkan cahaya kebiruan ke wajahnya. Ekspresinya serius, alisnya sedikit berkerut—wajah yang biasa ia pakai ketika sedang berpikir.
Aku berdiri beberapa detik di ambang pintu—Dengan ragu. Pertanyaan itu sejak tadi berputar di kepalaku. Tentang album, tentang foto, tentang benda kecil berwarna merah di dalam laci. Tentang Viona.
Aku menarik napas panjang, lalu melangkah mendekat. Langkah kakiku terdengar pelan di atas lantai kayu. Dev mengangkat wajahnya ketika menyadari kehadiranku. Ekspresinya langsung berubah lembut.
“Hai.” Ia tersenyum tipis. “Kenapa belum tidur?”
Aku berdiri di sampingnya. “Kamu sedang apa?”
“Menikmati angin malam saja.” Ia mematikan layar ponselnya dan meletakkannya di meja kecil. “Aku kira kamu sudah istirahat.”
“Aku belum mengantuk.”
Angin malam menyibakkan sedikit rambutku. Hening sejenak, hanya terdengar suara gemericik air kolam.
“Kalau kamu butuh sesuatu, bilang saja padaku,” ujarnya pelan.
Kalimat itu lagi. Ia selalu mengatakannya. Seolah aku tamu yang harus ia pastikan merasa nyaman. Seolah aku sesuatu yang rapuh dan bisa pecah kapan saja. Dan anehnya… perhatian-perhatian kecil itu justru membuatku betah berada di sisinya.
“Dev,” panggilku pelan.
Ia menoleh sepenuhnya sekarang. Tatapannya fokus, sabar.
“Iya?”
Aku menggenggam jemariku sendiri, mencoba mencari keberanian. “Boleh aku tanya sesuatu?”
Ia terdiam sepersekian detik. Lalu menghela napas pelan, hampir tak terdengar.
“Tanya apa?”
Pertanyaan itu terasa berat di ujung lidahku.
“Kamu dan Viona se—”
“Nara.”
Namaku terucap tegas, memotong kalimatku sebelum selesai—Aku membeku. Tatapan Dev berubah. Tidak marah, tapi tegas. Seperti dinding yang tiba-tiba berdiri di antara kami.
“Kita sudah membahas ini berkali-kali,” katanya pelan namun jelas. “Jangan mengungkit masa lalu lagi. Kita sudah berjanji.”
Aku menunduk. Ujung jariku terasa dingin.
“Maaf,” bisikku.
Hening kembali turun di antara kami.
Beberapa detik kemudian, kursi rotan berderit pelan ketika Dev berdiri. Ia melangkah mendekat dan tanpa banyak kata—berlutut di hadapanku. Tangannya meraih kedua tanganku.
“Nara,” suaranya lebih lembut sekarang, hampir seperti bisikan. “Aku tidak ingin kamu memikirkan hal-hal yang hanya akan menyakiti kamu.”
Aku menatapnya.
“Aku tidak ingin kamu punya beban lagi,” lanjutnya. “Aku tidak ingin melihat kamu bersedih karena sesuatu yang sudah selesai.”
Selesai?
Kata itu terasa aneh.
Selesai untuk siapa?
Aku mencoba tersenyum. Bibirku terangkat, tapi rasanya berat. Sangat berat.
“Aku hanya bertanya,” ucapku pelan. “Bukan untuk memperdebatkan.”
“Aku tahu.” Ia mengusap punggung tanganku pelan. “Tapi beberapa pertanyaan tidak perlu dijawab. Karena jawabannya tidak akan mengubah apa pun.”
Tidak akan mengubah apa pun, mungkin benar. Atau mungkin justru akan mengubah segalanya.
Aku mengangguk kecil, seolah mengerti.
Padahal kepalaku masih penuh tanda tanya.
Aku dan Dev memang sudah berjanji. Tidak ada lagi masa lalu. Tidak ada lagi Viona dalam percakapan kami. Tidak ada lagi hal-hal yang bisa memicu luka lama. Kami sepakat untuk bergerak maju.
Tapi entah kenapa… aku merasa seperti sedang berjalan di atas lantai kaca yang retak. Aku belum benar-benar selesai. Ada bagian dalam diriku yang ingin tahu. Ingin memahami. Ingin memastikan bahwa aku bukan sekadar bayangan dari seseorang yang pernah ia cintai.
Namun, apakah semua hal memang harus diketahui? Atau ada kebenaran yang justru lebih aman jika tetap tersembunyi?
Dev berdiri kembali, menarikku pelan agar duduk di kursi di sampingnya. Ia merangkul bahuku ringan.
“Aku di sini,” katanya.
Aku bersandar pada bahunya, hangat dan nyaman. Tapi di balik kenyamanan itu, pertanyaan yang sama masih berbisik pelan di kepalaku—Jika memang semuanya sudah selesai… kenapa aku masih merasa seperti orang yang datang terlambat dalam cerita mereka?
Dev mengangkat daguku, membuatku mendongak kepadanya. Tatapannya lama, seolah sedang berbicara tentang sesuatu yang tidak kupahami. Perlahan wajahnya mendekatiku, nafasnya mulai bisa kurasakan.
"Maaf jika karenaku, kamu kehilangan dirimu," katanya pelan. "Tapi bukan berarti kamu sepuhnya hilang, kamu tetaplah dirimu."
Aku menelan ludah, memperhatikan setiap kalimatnya.
"Perempuan yang pernah kuselamatkan malam itu, perempuan kesepian yang pernah ingin mengakhiri hidupnya."
Dev mengusap lembut bibirku.
"Kini perempuan itu, sedang menatap pria yang akan memberinya bahagia, dunia dan seisinya."
Wajahnya semakin mendekat, aku memejamkan mataku. Bibirku basah oleh hangatnya bibirnya, kecupannya lembut. Membuatku sesaat melupakan rasa sakit yang kurasa.
Dev terhanyut dalam kecupannya, membuatku mulai merasa tidak nyaman. Nafasku terasa sesak, aku mencengkeram bahunya, wajahku berusaha berpaling namun ia tetap tidak melepaskanku.
"Dev," rintihku.
Pria itu tidak menggubrisku, kecupannya semakin dalam, semakin membuatku risih. Aku memukul bahunya, menarik rambutnya. Tetap saja usahaku sia-sia. Aku mencoba mencakar lengannya dengan kuat.
"Ahh... Nara... sakit," ucapnya.
Akhirnya ia melepaskanku. Aku mengatur kembali nafasku, mengusap bibirku yang basah.
"Kamu kenapa sih?" tanyanya.
"Kamu yang kenapa?" balasku.
"Ini hanya ciuman," katanya lagi dengan ekpresi bingung.
Aku tertunduk, ingin mengatakan namun ragu.
"Aku... tidak biasa."
Dev tertawa kecil, "kalau begitu aku akan membuatnya terbiasa." Dev menyingkap helai rambutku.
Dadaku tiba-tiba berdegup mendengar ucapannya. Apakah pria memang begitu? Mereka lebih egois perihal seksual. Sial... tiba-tiba aku teringat kembali alat kontrasepsi itu. Ingin sekali aku menanyakannya tapi aku tidak siap atas jawabannya.
Tapi sepertinya Dev bukan orang yang seperti itu, aku yakin. Dia pria yang gentleman, dia tidak mungkin melakukan hal-hal seperti itu. Dari sikapnya yang selalu lembut padaku, seolah aku ini adalah sesuatu yang berharga miliknya.
"Dev."
Ia menoleh.
"Apa kamu sangat mencintaiku?"
Alisnya mengkerut. "Apa aku terlihat meragukan?"
"Aku percaya," kataku pelan.
"Lalu maksud dari pertanyaan itu, apa?"
"Kalau begitu, kamu akan menjagaku kan?" Aku menoleh padanya, menatap matanya seolah mencari suatu kebenaran darinya.
Dev tidak langsung menjawab, seolah ia sedang berpikir sesaat.
"Aku pasti akan menjagamu dari apapun."
"Termasuk... dari dirimu sendiri?"
Tiba-tiba suasana menjadi hening, kami saling menatap. Aku tahu dia sedang berusaha mencerna kalimatku, bahkan aku sendiri pun tidak menyangka akan mengatakan itu.
"Dariku?" tanyanya.
Aku hanya mengangguk.
"Memangnya aku kenapa?"
Aku menghela nafas, sekarang bahkan aku bingung harus menjawab apa.
"Nggak apa-apa." Aku tersenyum tipis padanya, berusaha mengalihkan pembicaraan.
Tiba-tiba Dev menyentuh pipiku. "Aku tahu kamu belum sepenuhnya percaya padaku, tapi aku akan membuktikan bahwa aku akan lebih baik."
Kecupan itu pun kembali terjadi, dan... itu menyebalkan.