NovelToon NovelToon
ARTHUR

ARTHUR

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: By Magus

Arthur hanyalah bocah tujuh tahun yang ingin hidup tenang di Sektor Tujuh. Namun, dunia tidak mengizinkannya. Di balik tubuh mungil itu, bersemayam jiwa The Sovereign, entitas purba yang mampu menghapus konsep keberadaan hanya dengan satu sentilan.
Arthur tidak butuh ketenaran. Ia hanya ingin memastikan tidak ada yang mengganggu waktu santainya, meski itu berarti dia harus menghancurkan dewa dari bayangan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon By Magus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perjanjian di Atas Awan

Valkyrie 7 bukan sekadar helikopter biasa. Kendaraan ini adalah puncak rekayasa genetika dan mekanika GDC sebuah benteng terbang yang dilapisi logam komposit anti radar dan ditenagai oleh reaktor fusi mini. Di dalam kabin utamanya yang luas, aroma udara terasa begitu steril, seperti berada di ruang operasi rumah sakit. Cahaya biru redup dari panel-panel hologram memantul di wajah para pengawal elit yang berdiri kaku, memegang senjata plasma dengan jari yang siap menarik pelatuk kapan saja.

Di tengah ruangan itu, Arthur duduk di kursi kulit yang dirancang untuk ukuran orang dewasa. Tubuh kecilnya membuat kursi itu tampak seperti singgasana yang terlalu besar. Arthur tidak tampak terintimidasi. Ia justru sedang sibuk berjuang merobek plastik pembungkus sedotan susu stroberinya. Wajahnya berkerut karena konsentrasi penuh, seolah olah membuka sedotan itu adalah misi yang lebih penting daripada nasib Sektor Tujuh.

Di hadapannya, Valerius duduk dengan kegelisahan yang nyata. Pahlawan Peringkat Satu itu baru saja menyadari sesuatu yang mengerikan, tekanan atmosfer di dalam helikopter ini terasa aneh sejak Arthur masuk. Bukan karena sistem kontrol iklim yang rusak, melainkan karena kehadiran eksistensi di depannya yang terlalu padat bagi realitas ini.

"Kau tahu, Paman," Arthur akhirnya bicara setelah sedotannya berhasil menembus kotak susu. Suaranya cempreng, khas anak kecil, namun ada resonansi yang dalam di baliknya. "Pendorong gravitasi di sayap kiri helikopter ini memiliki cacat pada katup energinya. Frekuensinya bergetar di angka 440 hertz. Jika pilot mu tidak segera menurunkan daya sebesar lima persen, dalam tiga menit katup itu akan meledak dan kita akan jatuh menabrak Gedung Arsip di bawah sana."

Valerius terbelalak. Ia tidak meragukan kata-kata itu. Tanpa bertanya, ia langsung menekan panel komunikasi di pergelangan tangannya. "Pilot! Periksa pendorong sayap kiri! Turunkan daya pendorong sebesar lima persen, sekarang!"

Hening sejenak, hanya terdengar suara desis mesin. Tak lama kemudian, suara pilot terdengar melalui interkom dengan nada gemetar. "L...Lapor, Komandan! Sensor kami tidak menangkap apa pun, tapi setelah diperiksa manual... katup pendorong memang hampir mencapai titik lebur! Bagaimana Anda bisa mengetahuinya?"

Valerius tidak menjawab. Ia mematikan interkom dan menatap Arthur dengan keringat dingin yang mengalir di pelipisnya. "Siapa kau... sebenarnya? Dan tolong, jangan beri aku jawaban dongeng tentang reinkarnasi atau eksperimen laboratorium."

Arthur menyesap susunya perlahan, membiarkan bunyi sedotan yang hampir habis bergema di kabin yang sunyi. Ia menyandarkan punggungnya, menatap Valerius dengan mata yang tiba-tiba tampak seperti samudera tanpa dasar.

"Dahulu, sebelum dunia ini mengenal cahaya, aku adalah hukum yang mengatur kegelapan," ujar Arthur pelan. "Aku pernah menghancurkan ribuan galaksi hanya karena aku bosan, Valerius. Tapi keabadian adalah penjara yang sangat sunyi. Jadi, aku memutuskan untuk tidur dan bangun sebagai sesuatu yang paling tidak masuk akal bagi seorang penguasa: manusia biasa."

Valerius merasa udara di sekitarnya seolah membeku. Ia adalah pahlawan yang pernah menghadapi monster setinggi gunung, namun di hadapan bocah tujuh tahun ini, ia merasa seperti semut yang menatap matahari dari jarak dekat. Keberadaan Arthur terlalu absolut.

"Lalu kenapa kau membantuku?" tanya Valerius dengan suara serak. "Kenapa kau memberiku kredit atas pembunuhan monster itu?"

"Karena menjadi pusat perhatian adalah hal terakhir yang kuinginkan," jawab Arthur sambil memainkan kotak susunya yang kosong. "Jika dunia tahu seorang bocah bisa menghancurkan kiamat dengan satu sentilan, hidupku akan berakhir. Aku akan dikejar media, dipuja oleh orang-orang bodoh, dan yang paling buruk... aku akan terus menerus diganggu oleh GDC untuk menjadi senjata mereka."

Arthur menatap keluar jendela, ke arah awan yang memutih. "Aku hanya ingin sekolah, bermain game, dan minum susu stroberi setiap sore tanpa harus khawatir ada jurnalis yang memanjat jendela kamarku. Kau, Valerius, adalah tameng yang sempurna. Kau butuh reputasi untuk menjaga egomu dan stabilitas dunia, dan aku butuh ketenangan."

Valerius terdiam, mencoba memproses logika gila di hadapannya. Ia adalah simbol harapan dunia, namun sekarang ia menyadari bahwa posisinya hanyalah sebagai boneka bagi entitas purba yang ingin menikmati masa kecilnya.

"Tapi GDC tidak bodoh," ujar Valerius lagi, mencoba mencari celah. "Mereka memiliki sensor energi yang bisa melacak anomali terkecil sekalipun. Kemarin, kau melepaskan energi yang cukup untuk membelah bulan. Mereka akan mencari mu, Arthur. Mereka tidak akan berhenti sampai anomali itu ditemukan."

Arthur tersenyum sebuah senyum yang terlihat terlalu dewasa dan sedikit licik. "Itulah tugasmu, Paman. Kau adalah pahlawan peringkat satu. Gunakan pengaruh mu. Katakan pada mereka bahwa ledakan itu adalah sisa dari teknik rahasiamu. Manipulasi datanya, hapus rekaman satelitnya, atau lakukan apa pun yang kau bisa sebagai orang berpengaruh. Jika kau gagal menjagaku tetap normal, maka aku tidak punya pilihan selain menghapus GDC dari muka bumi ini."

Ancaman itu diucapkan dengan nada yang sangat santai, seolah olah Arthur hanya sedang membicarakan tentang membuang sampah. Valerius tahu, Arthur tidak sedang menggertak.

Helikopter mulai melambat, melakukan manuver pendaratan di atas atap Markas Pusat GDC sebuah gedung pencakar langit berbentuk piramida terbalik yang mendominasi cakrawala Sektor Tujuh. Angin kencang menyambut mereka saat pintu geser kabin terbuka.

Arthur melompat turun, tas ransel dinosaurusnya bergoyang di punggungnya. Ia berjalan menuju pinggir landasan pacu, menatap pemandangan kota di bawah sana yang mulai dipenuhi lampu neon saat senja tiba.

"Setiap minggu," ujar Arthur tanpa menoleh. "Kau harus mengirimkan satu boks susu stroberi edisi terbatas ke apartemenku. Pastikan tidak ada label pemerintah di atasnya. Dan ingat, jika kau berani membawaku ke tempat seperti ini lagi, aku akan membuat gedung ini menghilang dari koordinat geografis."

Valerius hanya bisa mengangguk pasrah. Ia merasa seperti seorang pelayan bagi seorang tuan kecil yang sangat berbahaya. Namun, sebelum negosiasi itu benar-benar selesai, sebuah kilatan cahaya merah menyambar di langit kejauhan.

Suara sirine kiamat meraung raung dari menara pengawas. Ini bukan lagi sirine level Calamity. Ini adalah nada frekuensi rendah yang hanya digunakan untuk satu hal: Level Apocalypse.

Layar hologram raksasa di tengah kota mendadak berubah menjadi hitam, sebelum menampilkan peringatan dengan huruf merah tebal yang berkedip cepat.

"RETAKAN DIMENSI TIPE S TERDETEKSI DI SEKTOR EMPAT. ESTIMASI ANCAMAN: PENGHANCURAN TOTAL SEKTOR. SELURUH PAHLAWAN PERINGKAT S DIHARAPKAN SEGERA MENUJU TITIK KOORDINAT!"

Valerius memucat. Sektor Empat adalah distrik industri yang padat penduduk. Jika retakan itu terbuka sepenuhnya, jutaan nyawa akan hilang dalam hitungan menit. Ia menatap Arthur dengan tatapan memohon.

"Arthur... itu... itu terlalu cepat," bisik Valerius.

Arthur menghela napas panjang, bahunya merosot menunjukkan rasa bosan yang luar biasa. Ia melihat jam tangan plastiknya yang bergambar kartun. "Sekarang jam 17:15. Serial animasi Mecha Knight favoritku mulai jam 18:00. Jika aku tidak sampai di rumah dalam empat puluh lima menit, aku akan sangat marah, Valerius." Tanpa aba-aba, Arthur melompat dari tepi gedung setinggi seratus lantai itu.

Valerius berlari ke tepi landasan, jantungnya hampir copot. Namun, ia tidak melihat tubuh Arthur hancur di aspal. Sebaliknya, ia melihat sebuah garis putih tipis membelah udara di antara gedung-gedung. Arthur bergerak begitu cepat hingga gesekan udaranya menciptakan awan kecil di sekeliling tubuhnya.

"Pahlawan Peringkat Satu, ya?" Valerius mendesah, lalu memakai helm emasnya. "Lebih tepatnya, aku adalah asisten dari bocah kematian."

Ia segera mengaktifkan pendorong di sepatunya dan terbang menyusul, mencoba mengejar sosok kecil yang kini sudah berada beberapa kilometer di depannya.

Di Sektor Empat, langit tampak seolah-olah sedang robek. Sebuah lubang hitam dengan pinggiran ungu bercahaya mengeluarkan tangan raksasa yang terbuat dari material seperti krom cair. Tangan itu baru saja menekan satu blok apartemen hingga rata dengan tanah, menimbulkan suara jeritan dan ledakan gas yang mengerikan.

Para pahlawan peringkat menengah mencoba menembakkan meriam laser mereka, namun serangan itu hanya memantul seperti butiran air di atas kaca. Keputusasaan mulai menyebar di antara para tentara dan warga.

Lalu, di tengah kekacauan itu, seorang bocah kecil mendarat dengan tenang di atas sebuah mobil polisi yang terbalik. Arthur berdiri di sana, menatap tangan raksasa dari dimensi lain itu dengan pandangan malas. Ia mengeluarkan sebuah permen karet dari saku celananya, membukanya, dan mulai mengunyah.

"Kau menghalangi jalan pulang ku," ujar Arthur datar.

Ia mengangkat tangan kanannya, melipat jari tengahnya di bawah ibu jari. Ia tidak butuh tenaga kuda. Ia tidak butuh sihir. Ia hanya perlu memberikan "tekanan" kecil pada satu titik koordinat ruang di depan jarinya.

"Konsep Kehampaan: Titik Nol," bisik Arthur.

Tik.

Sentilan itu dilepaskan. Udara di depan Arthur tidak meledak udara itu justru seolah olah terhisap ke dalam sebuah vakum instan sebelum meluncur keluar dengan kekuatan yang mampu membelah inti planet.

Dampaknya tidak hanya menghancurkan tangan monster itu, tapi juga menghisap kembali retakan dimensi tersebut secara paksa, seolah olah ada tangan raksasa yang jauh lebih kuat yang menjahit kembali langit yang robek. Dalam satu detik, ancaman level Apocalypse itu hilang, meninggalkan langit sore yang tenang seolah olah tidak pernah terjadi apa-apa.

Arthur segera berbalik, berlari menuju stasiun kereta bawah tanah terdekat. "Tinggal tiga puluh menit lagi. Aku harus cepat," gumamnya, mengabaikan Valerius yang baru saja mendarat dengan wajah penuh debu dan ekspresi yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.

1
Zem Pioneer
Izin nabung kak
M Agus Salim: siap💪
total 1 replies
Nur Hidayati
cerita keren tapi belum banyak yang tau
Evlogìmenes Psychès: dfZ0d zzssvFS67~
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!